Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 56; Tentang Park Juna



“Ren!” Ren meloncat di depan kami dengan menggunakan piyama berwujud kangguru.


“Kau akan terbiasa nanti.” Elsa menepuk bahuku lalu berjalan melewatiku yang masih melotot melihat Ren yang kali ini meloncat-loncat sambil tertawa senang karena berhasil membuatku terkejut.


Aku berjalan mengikuti Ren dan kami sekarang ada di ruangan Toby. Laki-laki itu hanya melambaikan tangannya sekilas tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor yang ada di hadapannya.


“Nuna sini, Zoey cepat!” Ren memanggilku dan menyuruhku untuk duduk di kursi yang sudah ia tarik tepat ke sampinya, “aku menemukan sesuatu!”


Aku duduk di sampingnya dan mulai memperhatikan beberapa layar monitor berukuran raksasa di hadapan kami. Aku tidak tahu harus melihat yang mana sehingga aku memutuskan untuk diam dan menunggu Ren.


Tangan Ren gesit sekali menari di atas keyboard dan layarnya menampilkan entah kode apa yang tidak aku mengerti sama sekali. Suara ketukan keyboard-nya sudah seperti suara peluru yang saling serang hingga menemukan target dan sasaran yang tepat dalam waktu yang singkat atau kalau tidak, dia sendiri yang akan terkena oleh peluru itu dan mati di tempat.


“YES!” Ren tiba-tiba berdiri dan melonjat senang karena sepertinya ia yang memenangkan pertarungan kode biner itu. Tak beberapa lama kemudian printer yang ada di ujung ruangan berbunyi.


“Zoey, kemari!” Elsa memanggilku agar mendekat padanya. Aku berdiri dan berjalan mendekati Elsa yang sudah membawa tumpukan dokumen di tangannya. Ia lalu meletakkan dokumen itu di atas meja besar yang ada di tengah ruangan, “kau ingin aku menjelaskannya?”


“Tidak...” dari semua dokumen yang aku lihat, ada satu foto yang membuatku tercengang. Tanganku gemetar meraih kertas itu.


“Apa...ini...” aku menutup mulutku.


“Ah, itu catatan pembelian kaki robotik terbaru yang Juna beli beberapa bulan yang lalu...”


“AKU TAHU!” tanpa sadar aku berteriak, membuat Ren yang tadi masih meloncat-loncat senang karena berhasil menemukan informasi untukku berhenti tertawa dan Toby menoleh sekilas, “aku tahu, tapi kenapa? Kenapa Juna membelinya? Untuk siapa?”


Aku sudah tahu jawabannya. Melihat wajah Elsa yang menatapku penuh simpati membuatku semakin sadar bahwa apa yang aku pikirkan saat ini adalah kenyataan pahit lainnya yang harus aku terima. Aku menjatuhkan diriku di atas kursi saat Elsa mendorong kertas lain ke arahku.


[Putra Kedua Keluarga Park Mengalami Kecelakaan Maut yang Menewaskan Kekasihnya]


Berita itu di tulis lima tahun silam. Aku meremas kertas itu dengan tanganku. Aku tak sanggup membacanya. Hatiku terasa ngilu saat tahu bahwa Juna telah kehilangan kaki kirinya dari lutut ke bawah karena kecelakaan itu. Tapi lebih dari itu, bagaimana perasaan adikku itu saat ia tidak hanya kehilangan kakinya tapi juga kekasihnya?


“Apa kau akan melanjutkan membaca semua ini Zoey?” Elsa memegang bahuku untuk menyadarkanku. Aku menatap bekas itu dengan penuh kekhawatiran. Aku harus tahu tapi aku juga takut dengan kenyataan lain yang bisa saja membuatku terjun bebas ke lubang keputusasaan.


Elsa seolah mengetahui apa yang aku pikirkan, ia menumpuk lagi semua berkas itu untuk disimpan. Aku menarik lengannya. Tidak. Aku harus membacanya saat aku memiliki kesempatan. Tidak mudah untukku kembali lagi ke sini.


Aku menarik nafas dalam-dalam dan mulai membuka kertas itu satu demi satu. Informasi umum seperti identitas, pekerjaan dan lain sebagainya. Benar, Juna sudah menjabat sebagai Direktur IT Mirae Grup sejak dia menyelesaikan gelar masternya.


Dalam masa perjuangannya yang singkat itu ia ditemani oleh cucu dari perusahaan IT terkenal di Korea. Keduanya saling jatuh cinta dan melaksanakan pertunangan setahun setelah Juna menjadi Direktur dan pemegang saham di Mirae Grup. Reputasinya di bidang IT juga terkenal luas dan ia juga menjadi penanam modal di beberapa perusahaan baik asing maupun domestik. Juna berada dipuncak karirnya saat semua kecelakaan itu terjadi.


Aku menatap Elsa yang duduk tepat di hadapanku.


“Tae Dong Oppa tidak memiliki hubungan apapun dengan kecelakaan itu!” kata Elsa tegas saat ia menyadari kecurigaanku. Pikiran itu terbesit begitu saja di otakku. Ada indikasi bahwa kejadian itu bukan murni sebagai kecelakaan. Keluarga Mo menjadi salah satu kandidat yang paling bertanggung jawab atas kecelakaan itu.  Kedua Grup ini saling memperebutkan tender perusahaan IT dan karena kecelakaan itulah keluarga Park kehilangan kuda hitamnya. Tender perusahaan itu dimenangkan oleh Keluarga Mo. Hal ini membuat kecurigaan pada keluarga Mo semakin tinggi. Namun karena Mo Tae Sik masih ada dalam penjara dan tidak ada bukti yang kuat yang mengarah ke satu orang. Pengadilan itu selesai tanpa hasil yang memuaskan.


“Baiklah...” aku kembali melihat berkas lain. Nilai saham dan data perusahaan yang dikelola Juna, proyek, bahkan data tentang informasi pembelian barang-barang pun bisa ada di sini. Aku mencoba melihat itu dengan seksama dan menoleh pada Ren. Apa yang ingin disampaikan oleh anak itu?


Aku lalu mencemati beberapa pesan dan email spam yang masuk. Walau nomornya berubah-ubah tapi semua nomor dan alamat email  ini berasal dari lokasi IP yang sama. Pesannya terkesan acak dan tidak jelas.


“Ada seseorang yang mengubungi Juna saecara berkala. Ini seperti pesan rahasia...” tanpa sadar aku bergumam.


“Bingo!” teriak Ren dari mejanya. Ia lalu meng-enter kayboard-nya dan tiba-tiba muncul sebuah titik di layar besar yang ada di hadapanku. Titik yang berkedip lemah itu ada di Damyang, Provinsi Jeollanam. Aku hanya tahu itu ada di ujung selatan Korea tapi aku belum pernah ke sana.


“Dia ada di sana...” kata Ren lagi. Aku sudah paham. Wanita bernama Go Ae Reum itu masih hidup. Ada yang sengaja membuatnya seolah-olah sudah meninggal. Aku bisa mengerti, mungkin saja semua usaha itu bisa membuatnya selamat dari persaingan bisnis yang tidak ada habisnya itu. Aku menelan ludahku menyadari bahwa Go Ae Reum juga bukan dari keluarga sembarangan. Status sosialnya seharusnya bisa melindunginya dari semua malapetaka ini. Tapi lihatlah, ia memilih menarik dirinya sendiri dan tinggal di pinggiran kota kecil. Lalu bagaimana denganku nanti?


Apa Juna juga melindungi gadis itu?


Ren mendatangiku dan menatapku dengan mata kanak-kanaknya. Aku tidak tahu berapa usianya tapi tingkahnya tidak seperti orang normal pada umumnya. Aku tersenyum penuh rasa terima kasih karena ia telah membantuku memperoleh informasi ini.


“Zoey.” Saat Ren memanggilku seperti itu pun aku merasa tidak tersinggung sama sekali, “wanita bernama Go Ae Reum itu juga cedera. Ia kehilangan separuh penglihatannya. Kau juga sudah memiliki keponakan darinya...” tambah Ren simpatik.


Aku sudah tidak bisa berkata apapun mendengar semua penjelasan Ren. Entah aku harus bahagia atau bersedih. Hatiku begitu perih membayangkannya semua kenyataan yang baru aku ketahui ini. Aku benar-benar merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.


Apakah tidak ada cara mencintai yang lebih mudah?


Tidak bisakah mencintai orang dengan lebih sederhana?


Aku tidak tahu lagi kepentingan mana yang harus aku utamakan. Aku merasa keputusan yang akan aku ambil melibatkan nyawa banyak orang. Begitu banyak yang harus dikorbankan. Apa iya aku harus memilih kambing hitam lain agar aku tidak dijadikan kambing hitam itu sendiri? Kini kepalaku ikut sakit rasanya.


“Aku akan mengantarmu kembali ke rumah sakit Zoey.” Elsa memberikan sebotol air mineral padaku sebelum ia meraih kunci dan tasnya. Aku melihat jam di tanganku dan menyadari bahwa ini sudah saatnya aku kembali.


Aku berdiri dan berjalan mengikuti Elsa masuk ke dalam pintu rahasia. Saat aku hendak menuruni tangga, tangan Ren menarik ujung bajuku. Aku menoleh dan menatapnya bingung.


“Kau harus mewaspadai ayahmu Zoey.” Ren melepaskan pegangannya dan menutup pintu itu pelan.


Aku hanya menghela nafas dengan berat. Udara pengap bawah tanah membuat dadaku sesak merasakan semua kepenatan ini.


Masalah ini bagaikan gelombang ombak di laut lepas.


Tiada akhir dan selalu meninggalkan luka yang berbekas


***