
[ Masih sibuk? ]
Aku akhirnya memberanikan diri mengirim pesan pada Seo Jin. Aku mengetuk-ngetuk layar ponselku dengan cemas menunggu balasannya. Apa sopan jika aku menanyakan tentang Hoon pada Seo Jin? Tapi dia kan juga teman Hoon?
Suara ketukanku semakin cepat, aku tiba-tiba menyesal mengirim pesan pada Seo Jin. Bagiamana caraku menanyakan? Sangat tidak etis kan kalau aku bertanya begitu saja? Ah, aku buru-buru meraih ponselku dan kembali mengetikkan pesan, namun sebelum aku menyelesaikannya, ponselku berdering.
“Ah...!” teriakku kaget dan refleks aku mengangkat panggilan itu, “ha...haloo...”
“Kenapa justru kau yang terkejut? Bukannya kau yang menghubungiku terlebih dulu?” suara Seo Jin bercampur dengan derai lembut tawanya.
“Bu...bukan seperti itu. Aku kaget... aku kira Oppa masih sibuk...” aku pindah duduk di sofa yang ada di kaki tempat tidur. Aku berusaha membuat diriku senyaman mungkin untuk menghilangkan rasa gugupku.
“Ehm... aku baru selesai...” aku bisa mendengar suara pintu mobil yang ditutup setelah jeda cukup lama, “aku baru mau pulang”, katanya lagi.
“Setiap hari seperti ini?” aku melirik jam dindingku yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Aku tiba-tiba merasa bersalah karena aku sendiri juga lupa kalau ini sudah terlalu malam untuk menghubungi seseorang, “maafkan aku karena menganggu waktu istirahatmu, Oppa...”
“Tidak!” jawabnya cepat, “kau sama sekali tidak menganggu, aku senang mendengar suaramu. Aku dalam perjalanan pulang, jadi kau sama sekali tidak menganggu...”
“Kenapa kau belum tidur? Aku kaget melihatmu mengirimiku pesan, kejadian yang bisa dibilang sangat langka...” tanyanya lagi setelah kami sama-sama diam.
“Bukan, ah... tidak papa...”
“Tidak mungkin kan tidak ada apa-apa?” Seo Jin jelas-jelas tidak percaya dengan ucapanku.
“Ehm...” aku kesal dengan diriku sendiri yang tiba-tiba merasa canggung untuk berbicara dengannya.
“Mau ketemu langsung?” tanya Seo Jin akhirnya. Ia seolah bisa membaca keraguanku.
“Apa bisa begitu? Aku bisa mati di tangan fansmu jika mereka melihatmu berdua denganku...” aku tidak mau mengambil resiko itu. Seo Jin adalah idol sekaligus aktor yang sudah lama bekerja di industri entertainment Korea. Banyak sekali yang mengenalinnya dalam sekali lihat. Berdua dengannya hanya akan menambah masalah.
“Kau hanya ingin berbicara berdua?” aku tersedak oleh ludahku sendiri saat Seo Jin menyimpulkan bagian lain dari kalimatku.
“Bu..bukan! Aku...” aku kesal mendengar suaranya. Ia terdengar puas sekali dengan reaksiku.
“Kita bertemu besok, di rumah ibuku...” katanya setelah ia berhasil meredam tawanya, “aku hanya memiliki jadwal pagi, besok aku akan pergi ke rumah ibuku. Kita bertemu di sana. Aku sudah lama tidak mengunjunginya...”
“Apakah itu sopan? Oppa bilang kalau Oppa lama tidak ke sana, bagaimana bisa aku mengganggu waktu Oppa bersama keluarga?” bukan itu yang sebenarnya aku khawatirkan. Bagaimana aku mengatakannnya pada Direktur Ahn kalau aku akan ke rumahnya? Tidak lucu kan kalau aku mengikutinya atau ikut pulang dengannya begitu saja.
“Aku akan melepon ibuku besok pagi...” lagi-lagi Seo Jin seperti bisa merasakan kekhawatiranku, “Ibu akan senang jika kau mau main ke rumah...” katanya lagi meyakinkan.
“Apa benar tidak apa-apa?” aku kembali memastikan.
“Hmm, nggak papa. Jika aku diberitakan denganmu pun malah justru aku yang senang...” Seo Jin kembali tertawa.
“Itu tidak lucu...”
“Benar, aku juga tidak sedang melucu...” Seo Jin berdeham pelan, “tidur sana, perasaanmu sudah lebih baik kan?” senyum tersungging dibibirku ketika ia menanyakan perasaanku. Kalimat itu bagaikan obat penawar kegelisahanku.
“Baiklah...”
“Hmm, terima kasih. Selamat tidur...”
Aku menutup telponku setelah aku mengucapkan selamat malam. Aku berdiri dan melemparkan tubuhku sendiri ke atas tempat tidur. Aku mencoba membuang semua pikiran negatif dari dalam diriku dan mengirim diriku sendiri ke alam mimpi.
***
Aku meremas tanganku yang berkeringat. AC mobil ini sangat dingin namun hal itu tidak bisa mendinginkan tubuhku yang langsung panas dingin begitu masuk ke dalam mobilnya. Biar bagaimanapun juga, kunjunganku yang tiba-tiba ke rumahnya sudah sangat aneh. Apalagi aku datang ke rumahnya untuk bertemu dengan putranya. Aku merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
“Boleh aku memanggilmu Zoey-ssi?” tanya Direktur Ahn.
“Tentu saja Direktur Ahn!” jawabku cepat.
“Kalau begitu kau juga boleh memanggilku Eomma atau Eomoni, terserah kau bagaimana enaknya...” Direktur Ahn tersenyum senang, “aku tidak menyangka Seo Jin memintamu untuk bertemu di rumah Eomma, ini benar-benar kejutan!”
“Maafkan saya Eomoni...” aku menundukkan kepalaku penuh rasa bersalah.
“Tidak-tidak, bukan begitu...” Direktur Ahn menepuk bahuku pelan, “aku lebih tenang jika ia mengajakmu bertemu di rumah. Itu menujukkan ia benar-benar memikirkan statusmu yang bukan dari public figure. Rumah Eomma adalah pilihan yang paling tepat karena privasimu akan terjaga...”
“Kau tahu Zoey, menjadi seorang public figure itu tidaklah mudah. Kau orang baik dan berasal dari keluarga yang terhormat, namun di mata public semua fakta itu bisa berubah menjadi sesuatu yang negatif...” aku mengangguk mendengar cerita Direktur Ahn tentang Seo Jin. Beliau lantas bercerita tentang Seo Jin yang pernah mendapatkan kritikan karena ia menjadi ambassador dari perusahan Mirae. Grup Idolnya sempat dilarang tampil di beberapa perusahaan yang memiliki koneksi dengan pesaing grup Mirae. Kerja keras mereka seolah tidak dianggap saat terseret dalam persaingan bisnis perusahaan.
“Kau sudah lama kenal dengan Seo Jin?” Direktur Ahn mengganti topik pembicaraan kami yang tiba-tiba terasa begitu suram.
“Belum... baru beberapa bulan ini Eomoni...”
“Eomma hanya berharap hubungan kalian akan bertahan lama dan tidak ada masalah kedepannya...” ucapan Direktur Ahn membuatku tergagap.
“Kami tidak memiliki hubungan seperti itu...”
“Kamu pikir hubungan seperti itu, itu hubungan yang seperti apa? Eomma tidak mengatakan apapun loh...” Direktur Ahn terkekeh dan meninggalkanku yang masih termenung di dalam mobil karena syok dengan candaan beliau. Aku tidak siap digoda seperti itu apalagi oleh orang yang umurnya jauh lebih tua. Terlebih lagi beliau adalah atasannya.
“Zoey! Kau tidak turun?” suara riang Seo Jin menyadarkanku. Aku menoleh ke kanan-kiri dan menyadari bahwa aku sudah berada di halaman rumah Direktur Ahn.
Aku keluar dari mobil dan melihat ibu dan anak itu berpelukan melepas rindu. Mataku lalu beralih mengelilingi kediaman Direktur Ahn yang cukup unik. Rumah itu memilki gaya neo-klasik dengan hanok megah yang ada di bagian depan rumah. Sedangkan bagian belakang rumah berbentuk rumah modern berlantai dua yang didominasi oleh kaca besar yang lansung tembus ke taman di belakang rumah.
“Kita ke halaman belakang...” Seo Jin menyentuh bagian belakang kepalaku dan membimbingku masuk ke ruang tengah. Mataku masih takjub dengan desain rumah ini sehingga sesekali aku tidak sempat memperhatikan sekitar. Setelah kami berkeliling, ia mengajakku untuk ke halaman belakang rumah. Mataku langsung membulat begitu kami sampai di taman. Aku bisa melihat lampu-lampu perkotaan dari tempat ini. Rumah ini berada di daerah perbukitan di sebelah utara dari pusat kota Seoul, tepat di lereng bukit yang masih menjadi bagian dari Gunung Bukhan (Bukhansan).
“Sini...” Seo Jin menaruh dua cangkir coklat di atas meja yang ada di beranda rumah. Aku mengabaikannya dan berjalan ke ujung pagar agar bisa melihat pemandangan indah itu dari dekat. Aku duduk di ayunan yang menggantung di pohon cherry blossom besar yang ada di ujung halaman.
“Hati-hati....” suara Seo Jin mengagetkanku. Ia kini sudah berdiri di sampingku, “ayunan itu sudah lama, kenapa Eomma tidak menyuruh orang untuk membuangnya sih...” keluh Seo Jin sambil memegangi rotan yang digunakan sebagai tali ayunan.
“Ini masih bagus kok...” aku duduk di atasnya dengan nyaman dan merasa aman.
“Apa Eomma sudah menggantinya?” lagi-lagi aku mengabaikan pertanyaan itu dan mulai mengayunkan kakiku agar ayunan itu bergerak.
“Apa kau anak-anak?” Seo Jin bertanya begitu ia melihatku tertawa bahagia saat mencoba mengayunkan ayunan dengan tubuhku. Ia terus berdiri di sampingku sambil memastikan bahwa aku baik-baik saja.
“Aku belum pernah menaikinya lagi...” aku menjejakkan kakiku di tanah setelah berayun beberapa kali, “aku pernah jatuh dari ayunan dan setelah itu Oppaku melarang aku menaikinya lagi...”
Tanpa aku sangka Seo Jin mengusap kepalaku, “ayo...” lalu tangannya meraih tanganku, ia kembali membimbing langkahku kembali ke beranda. Mataku tidak bisa aku alihkan dari tangan kiriku yang kini bertautan dengan tangan Seo Jin. Perasaan aneh itu merambat dari kehangatan tangannya, mengalir pelan ke lengan, bahu, dan mempengaruhi kerja otak dan jantungku.
OH SHIT!
Aku ingin melepaskan tangannya, tapi sebelum aku melakukannya, Seo Jin sudah melepaskan gengaman tangannya terlebih dulu dariku. Membuat perasaan hangat itu menguap dengan cepatnya. Ada kekosongan di sana sehingga tanpa aku sadari aku menatap tangan kiriku yang kini sudah tidak lagi dalam gengamannya.
“Zoey, kau baik-baik saja?”
***