
“Maka dari itu aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan ayahku...” kali ini Tae Dong menunjukkan kalimatnya padaku. Aku mengalihkan wajahku darinya. Sulit sekali memahaminya jika teringat apa yang sudah ia lakukan padaku selama ini.
“Apa aku terlihat begitu picik?”
“Apa kau pikir perkataanmu itu bisa membenarkan apa yang telah kau lakukan padaku?” aku menjawabnya dengan ketus.
“Tidak, aku tidak akan mengharapkan maaf darimu Zoey...aku sudah memiliki misi lain...” Mo Tae Dong lalu mengambil sebuah gulungan yang ternyata peta Seoul. Ia lalu menujukan sebuah titik yang dilingkari dengan spidol warna merah.
“Ini adalah lokasi tempat Park Da In meninggal. Sampai saat ini lokasi itu masih terbengkalai...” lokasi yang ditunjukkan oleh Tae Dong adalah sebuah wilayah pinggiran kota Seoul di daerah Mapo-gu, “tanah inilah yang menjadi alasan kenapa kau harus mengalami perjodohan yang seharusnya tidak kau lakukan...”
Aku mengangkat wajahku begitu Tae Dong menyebutkan titik permasalahan dari kekacauan hidupku. Aku lagi-lagi meminta penjelasan padanya. Ia menghela nafas dengan putus aja.
“Zoey...aku sudah mengatakannya kan? Ahli waris satu-satunya Keluarga Park itu Pak Da In dan anak Park Da In itu cuma Park Dany. Apa kau sudah mulai paham?” Tae Dong menjatuhkan dirinya sendiri di sofa ketika kau menatapnya dengan bingung.
“Ayahku?” aku mencengkeram tepi meja dengan erat. Setengah hatiku tidak kuat untuk mendengarkan kebohongan ataupun fakta lain tentang keluargaku.
“Ayahmu hanya anak yatim piyatu yang diangkat oleh keluarga Park. Tapi mereka berdua malah jatuh cinta dan menikah. Lalu aku tanya padamu, jika ayahmu itu menikahi orang lain, yang tak lain adalah ibumu, apa kau pikir darah Keluarga Park mengalir padamu? Apa wasiat itu masih berlaku jika kau yang menikah dengan Keluarga Hwang?” kali ini Tae Dong yang terlihat putus asa. Ia tak menyangka bahwa dirinyalah yang harus menceritakan masalah keluargaku padaku.
“Kau bercanda...” aku tertawa keras. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tae Dong. Aku terus tertawa sampai aku sadar bahwa Tae Dong menatapku dengan penuh simpati. Aku reflek melempar buku ke arahnya.
“Apa kau ingin menangis sekarang?”
“Apa kau pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapanmu! Kali ini kau tidak akan berhasil mengelabuhiku lagi...” aku menatapnya tajam sambil mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku sendiri. Ingat Zoey, kau sekarang sendirian.
“Dengarkan saja, aku hanya ingin kau tahu. Kau tidak perlu percaya kalau itu hanya akan membuatmu terluka...”
“Lucu sekali...”
“Maka dari itu aku sudah menyuruhmu pergi dari awal kan? Tapi kau sendiri yang datang padaku...”
“Lalu kenapa? Menurutmu kenapa aku harus mengalami semua ini?” aku menjatuhkan diriku di atas kursi dan menatap langit-langit ruangan dengan perasaan hampa, “ini benar-benar lelucon besar dalam hidupku...”
Tae Dong membiarkanku tenggalam dalam pikiranku. Aku masih berusaha untuk menyusun semua kepingan-kepingan itu menjadi sesuatu yang masuk akal. Cih, bahkan aku tidak tahu apakah yang dikatakan oleh keluargaku adalah sebuah fakta. Aku tidak memiliki orang lain untuk aku percaya kecuali diriku sendiri.
“Rencana apa yang kau punyai?” tanyaku pada Tae Dong. Ia seolah menunggu aku menanyakan hal ini dari tadi.
“Ayo kita bertempur...” ia menatapku mantap, “Kau dan aku, ayo kita sama-sama keluar dari perang ini...”
“Kenapa aku?” tanyaku hati-hati. Aku harus tahu benar apa yang ada di dalam pikirannya.
“Karena kau dan aku sama-sama menjadi tumbal mereka...” Tae Dong berdiri dan meraih board marker lalu mulai menjelaskannya padaku.
“Posisimu ada di sini Zoey...” Tae Dong melingkari namaku dengan spidol merah, “secara hukum kau adalah putri keluarga Park. Rencana mereka adalah menikahkanmu dengan Hwang Joon, dengan begitu masalah wasiat di lahan Mapo ini akan selesai dan proyek mereka akan berjalan lancar. Jika proyek ini berjalan lancar...” Tae Dong berpindah melingkari peta tepat di sebelahnya, “maka poperti Perusahaan Mo akan terancam. Di sini lah pusat aktifitas mereka baik legal maupun ilegal...”
“Aku sudah pernah mengatakan kan kalau Perusahaan JH ini adalah usaha yang aku rintis sendiri? Aku membawahi ribuan karyawan dengan banyak cabang baik di Korea atau di luar negeri ini. Tapi karena persaingan kedua bisnis ini, seluruh karywanku terancam...”
“Aku sangat marah sekali ketika malam itu kau tiba-tiba mucul di sana dengan rumor kau akan menikah dengan Hwang Joon. Aku meradang hingga melakukan hal itu padamu. Aku hanya ingin kau pergi dari sini...”
“Kau kenal Hoon?” aku memotong kalimatnya.
“Tentu saja, dia justru terkejut ketika ia sadar bahwa orang yang dia tangkap adalah diriku. Aku memberinya waktu untuk membawamu pergi atau aku sendiri yang akan membunuhmu...” Tae Dong menggaruk lehernya, “aku bahkan memberimu sedikit ancaman kan malam itu?”
“Kau gila, kau bisa saja merubah dirimu jadi korban menjadi tersangka dengan membunuhku...” aku jirih melihatnya. Ia seolah-olah memiliki darah seorang pembunuh.
“Aku tidak akan setega itu membunuhmu Zoey, setidaknya menyingkirkan satu orang untuk menyelamatkan ribuan orang itu tidak terlalu berlebihan...”
“Hah...” aku mendengus kesal, karena jauh di dalam hatiku aku setuju dengan pemikirannya, tapi bagaimana ia bisa dengan mudah membicarakan seberapa berharganya nyawaku di depanku.
“Hwang Yi Hoon, aku tidak bisa menyalahkan dia ketika ia pergi sendirian...”
“Cih, kau bahkan tahu kalau dia pergi...” aku bahkan tidak lagi terkejut jika ia tahu lebih daripada aku. Sudah bukan hal yang aneh.
“Dia sadar bahwa ia tidak ingin terlibat lebih jauh dalam peperangan ini. Ayahnya telah mati, ia tidak ingin satu-satunya keluarga yang ia miliki juga pergi...” Tae Dong menatapku dengan prihatin, “jangan kau salahkan dia, dia juga sangat menderita saat keluarga besarnya memaksanya untuk menikahimu setelah tahu kalian dekat...”
Aku memilih diam sambil mendengarkan ucapan Tae Dong. Aku sudah tidak bisa berkata apapun apalagi saat ia mengatakan kalimat lainnya, “aku juga terpaksa menyakiti artis itu, atau keluargamu yang akan melakukannya, ia jelas menjadi penghalang bagi mereka...”
Apa kalian pikir itu masuk akal? Bagaimana bisa aku menerima semua penjelasan yang lebih mirip dengan hasutan ini. Helloo... semuanya, yang ia bicarakan itu adalah keluargaku!
“Hyung!” suara Toby membuat kami berdua menoleh.
“Ada apa?”
“Tuan besar datang!” Tae Dong buru-buru berdiri dan berjalan melewatiku. Ia menghapus papan tulis yang ia gunakan untuk menjelaskan semuanya padaku, menggulung peta, kemudian mengambil sepatu, bajuku, lalu terakhir menarik tanganku. Ia menarik buku yang merupakan panel ke ruangan lain. Rak buku itu bergeser dan ada tangga turun menuju lantai bawah, “kau turun, ikuti saja jalan ini. Jangan pergi kemanapun tanpaku, mengerti?” ia lalu menutup pintu itu tanpa menunggu jawabanku.
Aku masih termenung di lorong itu saat pintu sempurna menutup. Aku mendengar keributan di luar sana. Ada seseorang yang datang yang langsung membuat kegaduhan. Aku menelan ludahku. Apa yang sebenarnya terjadi?
“SEBENARNYA APA YANG KAU INGINKAN! DASAR ANAK TIDAK TAHU DI UNTUNG!”
Teriakan itu diikuti oleh suara beda lain, aku hanya bisa termangu mendengar suara itu. Kakiku membeku membayangkan apa yang terjadi di luar sana.
“KAU TARUH DI MANA OTAKMU ITU!”
Aku berjalan naik satu tangga ketika seseorang menyentuh bahuku pelan. Aku menoleh dan melihat Elsa sudah berdiri di sana. Ia memberiku isyarat untuk mengikuti langkahnya.
Aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya.
***