Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 13; Perasaan Apa Ini?



“Hoon-ah” panggilku saat Hoon hendak membukakan pintu untuk ibunya.


“Sudah terlambat untuk menolak...” ia mengabaikanku dan membuka pintu.


“Eomoni...” Hoon yang hendak memeluk ibunya diabaikan karena wanita paruh baya itu lebih terkejut melihatku. Tentu saja.


“Ya Tuhan!” barang bawaan terjatuh dari genggamannya dan ia langsung mendekapku.


“Aigoo...” wanita itu mengusap punggungku layaknya putrinya sendiri yang sedang mengalami kejadian buruk itu.


“Eomoni, bukankan ini keterlaluan, kenapa kau mengabaikanku?” Hoon berpura-pura merajuk.


“Aigoo... sebenarnya ada apa ini?” Ibu Hoon masih terus mendekapku.


“Maafkan aku Eomoni...” Hoon meraih tangan wanita itu dan mengusapnya.


“Kenapa kau meminta maaf, aku sangat berterimakasih kau mau menghubungku di saat seperti ini...” wanita itu memukul bahu Hoon perlahan. Aku melihat ada hal yang tidak wajar di sini. Kenapa Ibu Lee Hoon bersikap begitu sopan pada anaknya?


“Perkenalkan saya Zoey, maaf merepotkan Anda...” kataku sambil sekali lagi menundukkan tubuhku.


“Tidak...tidak...” ia kembali menggeleng, “Ibu sangat senang bisa membantu, Nak. Nama Ibu Kim Hae Jo, kau bisa memanggilku sesukamu...”


Hoon meraih tas yang awalnya di bawa ibunya dan meletakkannya di atas meja. Ibu Kim mulai membuka tasnya dan mengeluarkan berbagai banchan dan juga beberapa baju yang kemudian ia serahkan padaku.


“Eomoni, kau bahkan tidak pernah membelikanku baju sebanyak ini...” Hoon yang melihat itu protes, ia terlihat seperti cemburu.


“Kau kan bisa beli sendiri. Kenapa kau tidak mengatakan padaku kalau Zoey tinggi? Aku tidak yakin celananya akan pas...” Ibu Kim sibuk memasangkan baju-baju itu padaku.


“Tidak apa-apa Eomoni, terima kasih...” aku terseyum menerima kebaikannya.


“Aigoo, dia cantik sekali...” ia mengusap wajahku yang lebam dengan sedih, matanya berkaca-kaca, “pasti berat sekali kan?”


Aku berbohong dengan menggeleng, “semuanya akan baik-baik saja, Eomoni...”


“Eomoni...” panggil Hoon sebelum suasanya kembali memburuk, “Eomoni tidur di kamar utama dengan Zoey dan menemaninya beberapa hari ini...”


“Ibu bisa tidur di mana saja, kasihan kalau Zoey harus berbagi tempat tidur dengan ibu...” Ibu Kim menolak.


“Hoon meminta tolong karena Hoon tidak mungkin menemainya tidur Eomoni, Zoey tidak bisa tidur sendiri di atas tempat tidur selebar itu...” kata-kata Hoon membuatku menoleh, bagaimana ia bisa tahu?


“Apa?” Ibu Kim juga kaget.


“Zoey tidak bisa tidur sendiri...” jawab Hoon lagi.


“Bagaimana kau bisa tahu?” tanyaku heran.


“Apa aku harus bilang kalau semalaman kau tak melepaskanku dan menangis kalau kau tidak bisa tidur sendirian?” Hoon berganti memandang ibunya dengan, “alasannya karena kasurnya terlalu besar, Eomoni...” Hoon terkekeh geli.


“Kalian tidur bersama?” mata Ibu Kim membulat, aku bisa melihat binar bahagia di matanya.


“Eomoni...” protes Hoon.


“Maafkan aku...” aku ikut berbicara. Aku tidak sadar saat mengatakannya. Aku bahkan tidak sadar kalau aku dan Hoon tidur bersama tadi malam. Aku melirik mereka  berdua yang menatapku dengan putus asa. Hoon lalu berdiri dan meraih mantelnya dari atas kursi.


“Baiklah, saatnya aku berangkat kerja...” Hoon melangkah ke arah pintu. Ia lalu berbalik dan melambaikan tangannya padaku, menyuruhku mendekat.


“Pikirkan baik-baik apa yang kau inginkan, aku akan membantumu sebisaku...” Hoon menyentuh ujung rambutku, “minta tolong Eomoni untuk merapikannya...”


“Ehm...” aku mengangguk, ia lalu meninggalkanku setelah menepuk dahiku pelan.


Aku kemudian mendekati Ibu Kim, hendak membantunya membereskan barang bawaannya. Beliau menolak dan menyuruhku duduk di kursi tamu.


“Mau aku rapikan rambutmu?” tanyanya begitu selesai. Aku langsung mengangguk cepat dan berjalan menghampri beliau.


“Zoey masih sekolah atau sudah kerja?” tanyanya sambil sibuk melihat rambutku, memikirkan model apa yang cocok untukku.


“Sudah bekerja Eomoni...”


“Benarkah? Apa yang kau lakukan?” aku diam sebentar kemudian memilih jawaban yang aku sukai.


“Desainer baju...”


“Benarkah? Kalau begitu Ibu juga mau dibuatkan baju oleh Zoey...” katanya memulai memotong rambutku.


“Tentu saja...”


***


Klik klik klik


Aku mendengar suara pintu dibuka, jam di dalam kamar sudah  menujukkan angka satu. Aku bangun perlahan agar tidak membangunkan Ibu Kim yang tertidur pulas. Aku mengendap pelan dan membuka pintu kamar.


Hoon menyandarkan tubuhnya di sofa-bed yang ada di ruang tamu, matanya terpejam, dan di dahinya terlipat.


“Apa aku membangunkanmu?” tanyanya menyadari kehadiranku. Aku menggeleng dan duduk di sampingnya.


“Mau aku buatkan kopi atau teh?”


“Boleh, teh...” begitu ia menjawab, aku langsung berdiri dan menuju ke dapur.


“Kenapa pulang begitu larut?” tanyaku sambil meletakkan teh itu di nakas samping sofa dan kembali duduk di sampingnya.


“Ada tamu VVIP...” jawabnya singkat. Hoon membuka mata, ia menoleh dan menatapku tanpa mengatakan apapun.


“Ada apa?”


“Kau lihat sendiri kan? Aku tak apa-apa...” aku menarik tangan Hoon dari pipiku, berniat menurunkannya namun Hoon justru memegang tanganku erat. Ia kembali memejamkan matanya tanpa melepaskan tanganku.


“Sebentar...” Hoon menyandarkan kepalanya di bahuku, “aku lelah sekali...” katanya sambil menghembuskan nafasnya yang terasa berat.


Aku ikut menyandarkan tubuhku di sofa dan menatap langit-langit ruangan. Keheningan ini begitu menentramkan, rasa damai dan hangat mengalir perlahan ke dalam diriku yang beberapa hari ini terus bergemuruh. Kehangatan ini meredam badai yang ada di hidupku.


“Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi...” kataku lirih.


“Aku pikir juga begitu, kenapa kau ke Korea? Kau bilang kau akan selamanya di sana?”


“Aku pulang bukan karena aku mau, saat aku tersadar, aku sudah ada di Korea...”


“Wow, mereka keren sekali...” Hoon terkekeh.


“Mereka kembali memaksaku untuk menikah dengan Hwang Joon...” begitu aku mengatakan nama itu, Hoon bangun dan menatapku dengan tatapan yang tak aku pahami.


“Hwang Joon?” ia memastikan bahwa pendengarnnya tidak keliru.


“Iya...”


“Hwang Joon sudah menikah, Zoey!” kata Hoon kaget.


“Aku juga tahu...”


“Kau mau?”


“Tentu saja tidak!” aku menatap Hoon tajam.


“Kenapa kau selalu berputar di lingkaran yang sama sih? Bukannya kau sudah bisa mandiri? Apa kurangnya engkau hingga harus dijadikan istri ke dua di keluarga itu?” nafas Hoon terlihat memburu saat mengatakan itu semua.


“Aku juga tidak tahu, aku bahkan tidak mengerti keluargaku sendiri...” aku menunduk dan menatap tangan kami yang masih bertautan. Aku menghela nafas.


“Orang kaya memang aneh...” Hoon menyesap tehnya untuk menenangkan dirinya sendiri, “Apa kau bisa bertahan tanpa keluargamu?”


“Mungkin?” aku tersenyum tidak yakin. Aku sudah berhasil menghubungi Lucas berkat bantuan Lee Hoon. Dia meminjamkan tab-nya yang dulu ia gunakan di Paris. Lucas akan ke Korea bulan depan. Begitu mendengar kabar dariku, ia mengubah tujuan bulan madunya Ke Korea.


“Orang suruhan keluargamu sudah tidak ke sini lagi, setelah mereka puas mengecek CCTV berulang kali akhirnya mereka tidak kembali lagi beberapa hari ini. Walau aku tidak bisa menjamin keadaanmu selanjutnya, setidaknya kau bisa keluar dari hotel ini jika kau mau...”


“Kau sudah muak kan menampungku?”


“Tidak Zoey...” Hoon melihatku dengan penuh penyesalan, “aku tidak akan menyangka kalau aku akan benar-benar menampungmu. Aku dulu hanya bercanda, tapi aku benar-benar tidak berharap kejadiannya akan seperti ini...”


“Kau masih ingat?” aku kagum dengan ingatannya.


“Laki-laki tidak boleh melupakan apa yang dikatakannya...”


“Idih, jijik...” aku mengangkat alis kananku, risih dengan kata-kata manisnya. Aku tahu Hoon memang jahil, tapi ini kali pertamanya ia kembali menjailiku setelah pertemuan kami.


“Hoon-ah”


“Hmm”


“Apa aku boleh pindah ke rumah mu?” begitu aku menanyakan itu Hoon menegakan badannya.


“Icheon?”


“Iya...”


“Eomoni yang mengajakmu ke sana?”


“Kalau kau mengijinkanku...” aku mencoba menabak apa yang dipikirkan Hoon saat ini, “aku pikir aku bisa membantu banyak hal dan juga berlajar banyak hal sana. Jika aku di sini aku pikir aku tidak bisa menghasilkan apapun...”


“Kau tak perlu mendapat ijin dariku, Zoey. Eomoni benar, kalau kau di sana kau akan bisa belajar banyak hal...”


“Kau menginjinkanku?”


“Tentu saja, kau boleh ke sana, kau juga boleh memakai kamarku”, aku memeluk Hoon karena terlalu senang.


“Jangan khawatirkan tentang itu...” aku melepaskan pelukan itu dengan cepat.


“Tenang, tempat tidurku single kok...” Hoon tertawa menyadari jalan pikiranku, “kenapa sih? Ketakutanmu itu aneh tau nggak...”


“Aku nggak takut, cuma rasanya sepi, dan aku merasa jadi tidak percaya diri, menjadi lemah, pikiranku penuh dengan pikiran-pikiran yang...”


“Kau butuh teman jadinya...” Hoon mengangguk-angguk, “kau sudah siap menikah sepertinya...”


Aku memukul bahunya, “aku nggak mau bercanda masalah itu!”


“Baiklah... aku harap kau segera menemukan cintamu itu Zoey...” Hoon beranjak berdiri dan meninggalkanku yang termenung di sofa.


Aku merasakan ada lubang aneh yang muncul di hatiku. Lubang ini gelap dan dingin. Anehnya, lubang ini tumbuh bersamaan dengan satu perasaan baru yang juga muncul di hatiku. Aku menatap nanar pintu tempat Hoon menghilang dan menyadari sesuatu.


Bahwa harapan tumbuh banding lurus dengan kekecewaan.


***


Eomoni : Ibu (lebih formal daripada Eomma)


Aigoo : Ungkapan kekecewaan, sedih, empati, simpati. Biasanya diucapkan jika kita menghadapi/menemui  kejadian buruk yang tidak mengenakan hati.


banchan : side dish atau makanan pendamping makanan utama. Salah satunya Kimchi