Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 71; a 'Good' Bye



“Zoey!”


Aku langsung mencari sumber suara itu. Sudah lama aku tidak mendengar panggilan itu. Hoon berdiri beberapa langkah di hadapanku. Ia tampak berbeda dengan stelan jas yang ia kenakan. Tampilannya yang rapi seperti orang kantoran pada umumnya membuatku tak mengenalinya.


“Hoon!” aku langsung berjalan menghampirinya. Apa yang ia lakukan di sini?


“Masih sibuk?” tanyanya sambil melihat ke sekelilingku.


“Aku rasa tidak...” aku menjawabnya langsung sekaligus memberikan kode perintah pada Hye Sung untuk mengosongkan semua agendaku.


“Ada yang ingin aku bicarakan...” Hoon berkata tanpa berani menatap mataku secara langsung.


“Aku tahu. Kita ke atas?” aku mendahului Hoon berjalan menuju lift. Di bagain teratas kantor gedung pusat Mirae Grup disulap seperti halnya rumah kaca milik Juna. Terdapat bangku-bangku untuk meeting ataupun beristirahat para pegawainya. Di sana terdapat juga sebuah counter yang menyediakan minuman dan makanan ringan untuk pegawai. Walaupun rooftop ini berkonsep indoor, namun kita bisa merasakan seperti sedang berada di luar ruangan karena mayoritas ruangan menggunakan kaca yang cukup tebal.


Aku langsung memesan dua gelas kopi dan satu sandwich untukku begitu kami sampai, “kau mau?” tawarku ke Hoon.


“Tidak...” jawabnya pelan sambil menerima gelas kopi yang aku berikan.


“Aku lapar, apa aku pesan dua ya?” aku menimbang-nimbang pesananku lalu menggeleng. Aku memilih menghabiskannya terlebih dahulu sebelum memesan yang kedua. Kami memilih bangku yang sedikit jauh dari pintu masuk dan diujung gedung yang dibatasi oleh kaca tebal. Pemandangan dari sini tidak kalah menarik dari restoran di hotel bintang lima, hanya saja suasananya lebih santai dan nyaman. Walau tidak banyak orang di sini, tapi kami membutuhkan tempat yang paling jauh dari kerumunan.


“Aku jadi ingat waktu kita bertemu restoran depan Norte-Dame-des-Champs Chruch. Benar-benar sudah lama sekali ya...” aku memandang jauh ke arah cakrawala. Walaupun yang aku lihat saat ini adalah kota seoul dengan seluruh gedung pencakar langitnya, tapi hal yang teringat olehku adalah waktu yang kami habiskan dulu di Paris.


“Zoey...”


“Tidak ada yang aku sesali...” aku memotong kalimat Hoon. Sejak ia memanggil namaku, sejak ia memintaku untuk berbicara, aku sudah paham. Seluruh tubuhnya sudah memberitahu bahwa ia merasa bersalah dan wajahnya penuh dengan penyesalan.


“Aku tidak pernah menyesali pertemuan kita Hoon. Apapun alasannya. Waktu-waktu yang aku lalui bersamamu, entah kau sadar atau tidak adalah waktu dimana kau memberiku semangat dan keberanian. Kau mungkin berfikir aku sangat berlebihan, namun itulah kenyataannya...” aku berkata dengan sungguh-sungguh. Mungkin kalau Hoon tidak muncul di saat-saat terburuk hidupku, aku tidak akan pernah menjadi Zoey yang saat ini. Ia adalah orang yang berharga dan akan selamanya seperti itu.


“Terima kasih. Jika kau menganggapku demikian aku benar-benar terima kasih Zoey...” Hoon terlihat sedang memikirkan sesuatu sambil terus memutar gelas kopinya. Aku memilih diam untuk menunggu apa yang akan ia katakan.


“Dulu, waktu aku memutuskan untuk menemuimu di belakang sekolah itu. Aku masih anak-anak yang penuh dengan amarah. Aku ingin mengagalkan perjodohan yang sangat di elu-elukan oleh keluarga Hwang itu. Kau tahu? Aku mendapatkan marga Hwang sebelum aku masuk dan menjadi murid di sekolah itu...”


“Sebelumnya, aku hanya anak dari seorang pengrajin kramik di Icheon. Ayahku dan ibuku saling jatuh cinta, namun keluarga besar Hwang tidak merestuinya. Ayah dijodohkan dan dinikahkan dengan orang pilihan kakek nenek sampai kemudian mereka berdua tidak dapat memberikan keturunan pada keluarga Hwang. Saat itulah, kakek dan nenek mencari kami. Ah... bukan, tapi mencariku. Mereka merebutku dari ibuku...”


“Tiba-tiba saja aku mendapatkan marga baru, tinggal bersama ayahku namun aku hanya bisa menemui ibuku di akhir pekan. Ketidakadilan dan perlakuan kakek nenek pada ibuku membuatku marah dan aku mendengar tentang perjodohan itu. Aku ingin sekali menghancurkannya. Aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu selamanya setelah itu...”


“Waktu itu, setelah ayahku meninggal, aku dan ibu memutuskan untuk meninggalkan Korea dan keluarga Hwang lalu pindah ke Prancis. Aku tidak menyangka aku akan bertemu denganmu di sana. Pertemuan kita memang tidak di sengaja, tapi anehnya aku bisa langsung mengenali wajahmu...” Hoon menerawang jauh masuk ke dalam memori masa lalu kami.


Aku juga melakukan hal yang sama, hanya saja aku menatap wajah Hoon yang terlihat lembut sekaligus sendu. Pemandangan ini membuat hatiku terasa sakit, apa seberat itu cobaan yang dihadapi oleh Hoon?


“Aku juga...” aku menunggu Hoon menatapku sebelum melanjutkan kalimatku, “aku juga langsung mengenalimu begitu kita bertemu. Kau memiliki mata yang sangat indah Hoon...” baru kali ini aku mengatakannya. Selama ini aku hanya menyimpannya dalam hati tapi aku rasa Hoon berhak mengetahuinya.


“Matamu seperti sebuah kaca yang merefleksikan seluruh hatimu. Entah hanya perasaanku saja atau tidak, tapi aku merasa bisa melihat dirimu. Aku bisa melihat kau begitu peduli padaku, aku bisa melihat kau menyukaiku tapi anehnya, tatapanmu selalu menyimpan kedalaman yang tidak aku mengerti sampai aku mengetahui apa yang telah terjadi pada masalalumu. Itulah kenapa aku menghormati segala keputusanmu untuk pergi. Aku tidak ingin kau menatapku seperti itu, karena aku tahu di atas semua rasa cinta yang kau miliki kau menyimpan kenangan pahit yang akan selalu muncul ketika kau melihatku...” kalimatku terhenti ketika melihat buliran air mata yang mengalir dari sudut mata Hoon. Hoon sendiri juga sepertinya tidak sadar kalau dirinya menangis.


“Aku tidak akan menyalahkanmu, aku tidak akan menyesali pertemuanku denganmu. Kau selalu berharga dalam hidupku Hoon. Kau juga tidak perlu meminta maaf padaku karena tidak ada yang perlu dimaafkan. Kau tidak memiliki tanggungjawab apapun terhadapku dan yang paling penting, Kau berhak bahagia Hoon...” aku mengulurkan tisu ke arah Hoon dan barulah ia sadar bahwa air matanya sudah mengalir.


“Maafkan aku...” hatiku begitu pedih saat mendengar suara Hoon yang tercekat di tenggorokannya, “maafkan aku karena aku begitu pengecut. Aku terlalu memikirkan diriku sendiri. Aku selalu saja seperti itu dan menyalahkanmu. Maafkan aku...”


“Tidak, kau tidak pengecut dan aku tahu kau tidak hanya memikirkan dirimu sendiri...” aku menepuk-nepuk bahunya pelan.


“Aku benar-benar mencintaimu Zoey, tapi rasa cinta yang aku milki tidak sebesar keberanianku. Aku benar-benar paham ketika kau bertemu dengan Seo Jin Hyung. Aku tahu kau adalah orang yang berani dan kuat, tapi aku justru mengabaikan itu semua dan tidak melihat sisi dirimu yang anehnya hanya bisa dilihat oleh Seo Jin Hyung. Aku baru sadar bahwa kau tidak membutuhkan orang yang akan maju dan berkorban untukmu karena kau bisa melakukannya sendiri. Tapi kau membutuhkan orang seperti Hyung yang akan menjadi pendengar yang baik dan akan selalu menjadi tempat berpulang jika kau lelah...”


“Aku sadar aku tidak bisa menjadi orang itu. Itulah mengapa aku tidak memiliki rasa sesal apapun saat mengetahui bahwa Seo Jin Hyung bersamamu. Aku berharap hubungan kalian berjalan dengan baik...”


“Terima kasih...” akku mengatakannya dengan penuh penghargaan. Aku juga mengharapkan hal yang sama. Aku juga ingin bahagia.


Kami terdiam dengan pikiran kami masing-masing seolah inilah yang kami butuhkan saat ini untuk saling mengintropeksi diri. Aku sudah sejak lama memutuskan untuk menghormati segala keputusan Hoon semenjak ia pergi dari Korea. Aku tidak akan menanyakan alasannya kenapa pada waktu itu karena aku tahu sejak awal bahwa hubungan kami seperti halnya duri dalam daging. Tidak terlihat mata namun sakitnya bisa dirasakan oleh seluruh indera.


“Kali ini aku benar-benar pamit Zoey...” Hoon berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangannya padaku.


Aku menyambut tangan itu dengan perasaan aneh, ada rasa sedih karena aku tidak akan lagi bertemu dengannya seperti dulu namun ada juga perasaan lega karena melihatnya bebas dari perasaan bersalah itu.


“Selamat jalan, jaga dirimu baik-baik. Sempatkanlah menghubungi kami...”


Hoon tersenyum dan berbalik pergi meninggalkanku. Aku menatap punggung itu sekali lagi untuk terakhir kali.


Kau harus bahagia Hoon, pergilah ke tempat di mana kau tidak berat mengepakan sayap.


***