Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 28; RISE Entertaiment



Aku menatap baju-baju yang kini tergantung rapi di sudut studio dengan tatapan puas. Pekerjaanku sudah diselesaikan oleh asisten yang direkrut oleh Lucas beberapa hari yang lalu. Ia terkejut saat aku memberitahunya bahwa aku mendapat luka di tanganku dan harus digips selama kurang lebih satu bulan. Ia langsung mencari orang untuk bisa membantu pekerjannya. Waktu aku datang kemarin, aku hanya perlu mengecek dan menambahi detail yang diperlukan. Kini kami berempat menunggu stylist dan juga manajer RISE Entertaiment yang akan mengambil baju itu untuk fitting besok.


“Kapan kau kembali ke Paris?” tanyaku pada Lucas dan juga Mia yang ikut datang ke studio menemaninya.


“Lusa...” Lucas kemudian menoleh pada Asisten Kim yang duduk dengan tidak nyaman sendari tadi, ia terlihat gusar ingin mengatakan sesuatu, “kau akan kami bayar penuh Asisten Kim...” kata Lucas membesarkan hatinya.


“Apa kau sudah memiliki pekerjaan?” tanyaku penasaran. Aku baru mengenalnya kemarin jadi belum tahu banyak tentang dirinya.


“Saya part time dibeberapa tempat...” katanya sopan.


“Siapa namamu tadi?”


“Kim Soo Ah...”


“Kalau begitu Soo Ah-ssi, kau mau bekerja menjadi asistenku?” tanyaku kemudian. Aku teringat bahwa Ayah sudah memberiku ijin untuk merintis usahaku. Aku membutuhkan orang yang akan membantuku dan aku lihat pekerjaan Asisten Kim cukup memuaskan.


“Benarkah?” mata perempuan itu berbinar.


“Ya...” jawabku mantap.


“Ada apa?” Lucas yang tidak tahu apa yang sedang kami bicarakan ikut antusias melihat perubahan wajah dari Soo Ah.


“Aku akan mempekerjakannya di studio kita, tentunya dengan beberapa orang lainnya. Ayahku memberikan persetujuannya dan aku akan mencari studio di daerah Cheongdamdong...” jelasku dengan bahagia. Akhirnya peluang kami terbuka di Korea.


“Benarkah?” Lucas benar-benar terkejut dengan berita yang aku berikan. Ia tahu benar usahaku untuk menjadi seorang desainer. Ia menepuk bahuku pelan sambil mengucapkan kata selamat.


“Terima kasih...”


Seseorang mengetuk pintu. Kami langsung menoleh dan melihat Manajer Jo datang bersama beberapa rekannya.


“Ada yang akan ke perusahaan kami besok?” tanya Manajer Jo begitu ia selesai mengemas semua baju itu.


“Aku akan pergi ke sana...” aku mengajukan diri. Ini proyek pertama kami di Korea dan aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri karya itu benar-benar sesuai dengan yang aku harapkan.


“Benarkah? Suatu kehormatan bagi kami kalau Zoey-ssi langsung yang ke perusahaan...” Manajer Jo langsung memberikan kartu namanya padaku.


“Tidak, aku juga ingin memastikannya sendiri. Aku juga masih dalam masa penyembuhan jadi tidak banyak yang bisa aku kerjakan...” aku mengangkat tanganku dan menunjukkannya pada Manajer Jo.


“Anda kenapa? Terakhir kita bertemu, Anda tidak memiliki luka itu...” ia terlihat khawatir dengan keadaanku.


“Kecelakaan lain...” kataku sambil tersenyum.


“Semoga Anda lekas sembuh. Besok silahkan ke resepsionis, saya akan meninggalkan notes di sana. Pegawai kami akan mengantarkan Anda ke ruang rapat...” Manajer Jo kemudian pamit setelah menjelaskan lokasi dan jam pertemuan kami besok.


“Mau menemaiku Soo Ah-ssi?”


“Oh, Ya jika Anda menginginkannya...”


“Oke...”


***


“Kau benar tidak ingin ikut masuk bersama kami Hye Sung-ssi?” tanyaku pada pengawal sekaligus asisten pribadi yang disewa oleh keluargaku. Aku tidak tahu seberapa hebat dia tapi kini ia akan selalu bersamaku. Itu syaratnya, tanpa pengecualian.


“Tidak Nona, saya akan menunggu saja, saya yakin di dalam pengamanannya lebih aman...” jawabnya tanpa menoleh ke arahku sekalipun. Ia sangat tegas dengan anturan yang diberikan oleh Ayahku.


“Tidakah kau ingin melihat artis-artis itu? lihat Soo Ah-ssi saja sudah keringat dingin dari tadi...” aku menggoda Soo Ah yang terlihat semakin puncat begitu mobil kami mulai mendekati gedung perusahaan.


“Tidak Nona, saya sedang bekerja...” jawabnya dingin.


“Saya akan melakukannya jika ada orang lain yang mendengarnya sehingga Anda tidak perlu malu akan hal itu...” mobil sudah sampai di depan perusahaan, Hye Sung buru-buru keluar dari mobil dan membukakan pintu untukku setelah memastikan situasi sekitar aman.


“Kau tidak perlu berlebihan seperti itu...” aku kembali menghela nafas pasrah dengan kekakuan Hye Sung.


“Hubungi saya jika ada yang mencurigakan Zoey-ssi...” ia lalu masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan kami berdua di depan perusahaan.


Aku menatap lobby perusahaan yang terlihat seperti hotel bintang lima, mereka benar-benar membangun gedung ini dengan luar biasa, seolah-olah melambangkan keringat dan tangis artisnya dalam berkarir.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya security yang menjaga pintu masuk gedung.


“Saya Zoey Park dan ini asisten saya, saya ada meeting pukul 14.00...” security itu mengangguk dan mengantarkan kami ke meja resepsionis. Begitu aku menyebutkan namaku, pegawai itu memberikan kartu pengunjung dan mengantar kami ke lantai tiga.


“Apa Anda sudah pernah ke sini?” tanya Soo Ah tiba-tiba. Aku tertawa mendengarnya.


“Aku belum ada dua bulan di Korea Soo Ah-ssi. Tentu saja tidak pernah.”


“Ah...” ia kembali diam. Aku bisa dengan jelas melihat kegugupannya hingga ia lupa kalau aku sudah lama tidak di Korea. SG idol, yang akan kami temui saat ini adalah boygrup yang debut lebih dari limabelas tahun yang lalu. Hampir sama lamanya dengan kepergianku dari Korea. Tidak mengejutkan jika mereka masih di kenal hingga genarasi sekarang karena keaktifan mereka di berbagai acara TV Korea. Soo Ah termasuk pengemar mereka, saat pertama kali ia tahu bahwa desain yang dikerjakannya adalah untuk grup itu ia tak bisa berhenti memujanya. Aku sampai bisa tahu apa yang mereka kerjakan saat ini karena Soo Ah tak berhenti membicarakan mereka selama bekerja.


“Silahkan...” pegawai itu menyilakan kami masuk. Aku mengangguk dan masuk ke ruang rapat berukuran 5x8 meter itu. Baju yang akan dicoba oleh member SG idol sudah tergantung rapi di ujung ruangan. Aku berjalan mendekatinya dan mengecek kembali baju itu untuk kesekian kalinya.


“Selama siang...” aku menoleh dan melihat seorang laki-laki yang cukup tinggi masuk ke ruangan diikuti beberapa orang yang terlihat seperti staffnya. Aku menganggukan kepalaku sedangkan Soo Ah sudah membeku ditempatnya.


“Siang...”


“Perkenalkan saya Key...” ia mengenalkan dirinya. Aku langsung tersenyum dan mengambilkan baju miliknya.


“Perkenalkan saya Zoey Park. Saya adalah salah satu desainer dari La Red De Alice, dan dia adalah asisten saya Kim Soo Ah-ssi”, aku meletakkan mengulurkan baju itu pada Key, “jika ada masalah dengan bajunya silahkan katakan saja...”


“Anda datang sendiri dari Prancis? Saya tak menyangka Anda pandai berbahasa Korea...” keterkejutan Key sudah tidak asing lagi. Tidak hanya dia yang bingung namun semua orang yang bertemu dengannya mengatakan hal demikian.


Tak lama berselang setelah Key datang, muncul secara bersamaan J, Subin, Yun, dan member lainnya. Mereka semua terlihat begitu kharismatik sehingga membuat Soo Ah ingin pingsan saat itu juga. Aku hanya menahan tawa tiap kali gadis itu tidak bisa menahan ekspresi bahagianya.


“Mereka sudah datang dari tadi?” aku mendengar seseorang membuka pintu dengan cukup keras. Membuat semua orang menoleh padanya, “ZOEY! Kenapa kau ada di sini?” begitu ia mengatakan hal itu, orang-orang beralih menantapku.


“Bukankah sudah seharusnya?” aku menjawab setenang mungkin.


“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau Zoey ada di sini!” ia mendengus pelan ke arah Manajer Jo yang terkikik melihat Seo Jin salah tingkah. Ia hampir saja keluar dari ruangan meeting tapi Manajer Jo mendorongnya kembali ke dalam.


“Hi...” ia menyapaku canggung.


“Apa Anda baik-baik saja?” tanyaku saat melihatnya bergerak tidak nyaman. Ia hanya menggunakan celana cargo selutut dan kaos santai berwarna putih. Ia juga tidak menggunakan make up seperti saat-saat aku bertemu dengannya selama ini sehingga ia semakin menarik dalam topi yang dikenakannya.


“Tentu saja...” ia menggaruk lehernya canggung namun sudut matanya menangkap sesuatu, “Zoey-ya apa yang terjadi padamu!” Seo Jin meletakkan kopinya sembarangan di atas meja dan bergegeas berjalan ke arahku. Aku menatap sekitar dengan gusar, tidak tahu apa yang harus aku lakukan ketika Seo Jin memanggilku dengan bahasa nonformal dan ia memegang lengan kananku penuh kekhawatiran seperti ini.


“Seo Jin-ssi...” panggilku gugup melihat semua orang menatap kami dengan pandangan penuh tanya. Jangan sampai mereka tahu apa yang terjadi padaku atau Seo Jin dalam masalah nantinya.


“Seingatku waktu itu...”


“OPPA!”


Seo Jin terkejut, semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.


Matilah aku...


***