Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 72; Two Weeks Before Inaguration



“Are you okay?”


Itulah yang di tanyakan oleh Seo Jin begitu aku mengangkat panggilannya. Aku baru saja selesai mandi dan meringkuk di atas tempat tidurku saat Seo Jin melakukan panggilan video.


“Ehm... Im okay. Tapi kenapa kita menggunakan bahasa Inggris?”  aku terkekeh sendiri saat mendengarnya.


“Anehkah?”


“Tidak...” aku meletakan ponselku di atas nakas dan menyenderkan bagian belakangnya pada lampu tidur yang ada di atasnya. Aku bergelung menyamping agar bisa menatap wajah Seo Jin, “Oppa baru pulang latihan?” tanyaku begitu melihat Seo Jin masih ada di dalam mobilnya.


“Iya, aku harus berlatih lebih banyak untuk mengejar ketinggalanku. Kau sudah makan?”


“Sudah, Oppa?”


“Aku juga sudah. Apa semuanya berjalan baik hari ini? Meetingmu?”


“Ya, semua baik-baik saja...” aku sengaja tidak mengatakan bahwa hari ini adalah meeting untuk pemilihan presdir di Mirae Grup.  Inagurasi baru akan dilaksanakan dua pekan setelah pemilihan itu. Aku harus mengurus beberapa dokumen peralihan kepemimpinan dan juga menyelesaikan beberapa kontrak sebelum melanjutkan kontrak yang baru.


“Lalu Hoon?” Seo Jin terlihat ragu saat menanyakannya.


“Dia sudah berpamitan, aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan padanya. Terima kasih kau telah mengirimnya padaku...” walau mereka tidak mengatakan apapaun, tapi aku memiliki firsat bahwa Seo Jin dan Hoon telah bertemu lebih dahulu. Entah Seo Jin yang menyarankannya atau Hoon yang meminta pendapat Seo Jin terlebih dahulu.


“Aku tidak melakukannya...”


“Bohong... aku yakin Oppa ingin memastikan bahwa hubungan kami benar-benar berakhir tanpa ada perasaan apapun yang tertinggal...” aku bisa mendengar suara tawa Seo Jin yang renyah di ujung telpon.


“Aku tertangkap basah...” katanya.


“Tapi, aku benar-benar berterima kasih...”


“Aku hanya ingin kalian tidak berpisah dengan cara yang tidak baik. Aku tahu kalian memiliki cerita yang mungkin tidak akan aku mengerti, oleh karena itu aku ingin kalian benar-benar membicarakannya. Itu juga alasanku, hanya saja aku juga seorang lelaki yang egois. Aku tidak ingin kau memikirkannya saat kau bersamaku...” ia mengatakannya dengan serius. Tidak mudah mengijinkan wanitamu bertemu dengan lelaki lain yang memiliki ikatan spesial dalam waktu yang cukup lama.


“Aku mengerti, Oppa...”


“Apa kau sudah ngantuk? Ingin istirahat?” tanyanya sambil mengamati wajahku.


“Tidak, aku masih kesulitan tidur sampai saat ini Oppa...” aku memang mengatakanya dan itu masih sering terjadi padaku. Namun tak beberapa lama kemudian aku sudah terlelap. Entah kapan aku tertidur, tapi paginya saat aku membuka pesan milik Seo Jin aku menemukan fotoku saat tidur dan Seo Jin mensreenshot layarnya sendiri. Ia juga mengirimkan pesan yang membuatku mau tidak mau tersenyum lebar.


“I miss you...lain kali aku akan menemanimu lagi jika kau kesulitan untuk tidur, Sayang...”


***


Aktifitasku selama kurang lebih dua pekan sebelum inagurasi hanya berpusat sekitaran kantor, tempat meeting dengan client, dan  homestay. Aku berangkat pagi dan pulang begitu larut. Aku tidak menyangka bahwa banyak sekali yang aku urus dan banyak dokumen yang harus aku baca dan aku selesaikan dalam waktu singkat. Pekerjaan ini lebih variatif dan rumit daripada yang aku pikirkan. Ada lima sekretaris dengan bidang yang berbeda yang menemaniku sedangkan Hye Sung adalah orang yang mengatur setiap jadwal dan juga mengingatkan deadline pekerjaan.


Aku bahkan belum bertemu dengan Seo Jin lagi setelah sekian lama. Ia rajin meneleponku setiap malam dan menungguku sampai aku tertidur. Melihat sikapnya yang seperti itu membuatku sadar bahwa yang dikatakan Hoon memang benar. Ia hanya meneleponku, menanyakan kabarku dan hal-hal umum lainnya namun itu memberiku banyak  energi positif. Aku pelan-pelan mulai bercerita tentang keseharianku.


“Tadi aku bertemu dengan Mo Tae Dong untuk membicarakan kontrak dan rencana join venture yang akan kami lakukan untuk membangun rumah sakit tradisional...” kataku di suatu malam saat Seo Jin meneleponku.


“Semoga bisnis kalian lancar. Aku tidak tahu bagaimana Mo Tae Dong itu sebenarnya, tapi aku memiliki perasaan yang kurang baik terhadapnya. Tetap hati-hati dan jangan lengah...” pesannya.


“Tentu saja, aku selalu bersama Hye Sung saat bertemu dengannya...” aku sebisa mungkin berada di posisi yang aman. Aku tidak mau dia kawatir padaku.


Aku juga bertemu dengan ayahku beberapa kali namun beliau justru terlihat mengabaikanku. Ayah masih bekerja di Mirae namun beliau cenderung lebih sering di kantor cabang daripada kantor pusat setelah aku berada di sana dan menempati kantornya. Orang yang sering aku temui adalah Dany Oppa dan dia justru memberikan banyak informasi tentang pekerjaan yang sedang ditangani oleh Mirae.


Tidak ada yang aneh ataupun jangal dengan semua ketenangan ini. Aku fokus dengan pekerjaanku dan semuanya berjalan dengan lancar.


“Apa kita bisa meminta mereka datang langsung keperusahaan?” aku memiliki pendapat lain tentang hal ini. Aku yakin semuanya cantik dan pantas untuk menjadi face dari perusahaan, aku hanya ingin memastikan bagaimana sifat asli mereka dan kesungguhan mereka untuk bergabung dengan Mirae.


“Tentu saja...”


“Kalau begitu suruh mereka semua datang ke kantor...” perintahku lalu sekeretarisku meminta ijin untuk undur diri.


“Nona, apa Anda sudah memberitahu Tuan Seo Jin bahwa Anda adalah presdir di sini?” tanya Hye Sung begitu sekretarisku keluar ruangan.


“Untuk apa....akh!” aku meremas rambutku sendiri karena aku lupa akan hal itu. Aku lupa bahwa orang yang akan aku temui nanti tidak lain adalah Seo Jin, “bagaimana ini?”


“Apa tidak sebaiknya Anda menghubunginya terlebih dahulu?” saran Hye Sung. Aku buru-buru mengambil ponselku dan meneleponnya namun ponselnya tidak dapat dihubungi. Aku ingat bahwa ia memiliki jadwal shooting hari ini. Aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan pesan untuk menghubungki begitu ia membacanya pesannya.


Dua jam sebelum meeting dengan Seo Jin, ia menghubungkiku.


“Aku sedang dalam perjalanan ke kantormu. Aku punya jadwal meeting hari ini dan aku masih punya waktu sekitar satu jam untuk bertemu denganmu. Apa kau bisa melakukannya?” tanyanya.


“Tentu saja, Hye Sung akan menemuimu dan mengantarmu ke ruanganku karena aku masih mengerjakan sesuatu...” kataku sedikit berbohong.


“Baiklah. Sampai bertemu nanti...” ia mengakhiri panggilannya.


“Apa Anda akan berbicara dengannya di lantai atas?” tanya Hye Sung begitu aku meletakkan ponsellku.


“Tidak, bawa Oppa ke ruanganku. Aku rasa di sini lebih aman daripada tempat manapun di Mirae. Lebih sedikit mata yang melihat semakin bagus. Toh tujuan Oppa juga kemari”, walaupun aku berkata dengan nada pasrah namun aku tidak bisa mengabaikan kekhawatiranku. Aku tidak bisa fokus ke pekerjaanku saat menunggu kedatangan Seo Jin.


“Selamat sore...” sapa Seo Jin begitu ia sampai di ruanganku. Ia masih belum menyadari kenapa aku ada di ruangan presdir, “di mana ayahmu?” tanyanya hati-hati saat melihatku datang menghampirinya.


“Ehmm, beliau sedang tidak ada di sini...” jawabku jujur, itulah kenyataanya.


“Lalu kau memanfaatkan posisimu sebagai anak untuk memanfaatkan ruangannya agar bisa dengan leluasa berbicara denganku?” Seo Jin merentangkan tangannya, memintaku untuk memeluknya. Walau aku sempat ragu karena ada Hye Sung di sana namun aku memutuskan untuk menyambutnya. Tak masalah.


“Tidak, bukan seperti itu, tapi....” belum selesai aku menjelaskan segalanya, Seo Jin sudah menghentikan kalimatku.


“Sebentar!” teriaknya membuatku terkejut.


“Ada apa?”


“Kenapa namamu ada di sana? Zoey? Presdir Cohen Zoey!” Seo Jin tenyata melihat papan nama yang ada di atas meja. Ia lalu melepaskan pelukkannya agar bisa menatapku untuk meminta penjelasan.


“Ya Oppa benar. Akulah orangnya...” Seo Jin masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


“Benar-benar tidak masuk akal...” gumamnya, “aku pikir margamu Park...”


“Aku juga berfikir hal yang sama sampai Ibu memberitahu segalanya tentang margaku yang sebenarnya...”


“Aku tidak menyangka bahwa itu kau karena hanya tertulis Cohen Z. di dalam surat itu. Kau sengaja melakukannya?” selidik Seo Jin.


“Tentu saja tidak Oppa. Aku ingin menceritakan semuanya namun belum saatnya. Aku juga berniat tidak akan lama-lama berada di posisi ini. Aku juga belum resmi karena inegurasi baru akan dilaksanakan lusa...” aku benar-benar tidak ingin dia terlalu memikirkan masalah ini sehingga aku memutuskan untuk tidak mengatakannya dari awal, “maafkan aku...”


“DAEBAK! Kau benar-benar luar biasa, aku tidak menyangka kaulah yang akan menjadi atasanku...” Seo Jin tertawa untuk mengusir keterkejutannya. Kami lalu duduk bersama menikmati kopi yang disajikan oleh Hye Sung sambil bercerita secara langsung setelah sekian lama tidak berjumpa.


***