
“Bagaimana Hyung tahu kalau aku ada di sini?”
“Temanku yang menghubungiku. Katanya ia melihatmu di sini...”
“Lalu kau ke sini? Kenapa?”
“Kenapa apanya? Tentu saja aku terkejut mendengar kabar kau ada di rumah sakit! Tapi waaahhh... apa yang aku lihat saat ini lebih mengejutkan lagi...kau mengenal anak ini?”
“Ehm...”
“Sejak kapan kalian kenal?”
“Sudah dari sekolah... lalu kami bertemu lagi di Paris...”
“Waaa...aku benar-benar tak menyangka. Kau menyukainya?”
“Ya...”
“Jangan-jangan kalian pacaran?”
“...”
“Pulanglah, sampai kapan kau akan terus hidup seperti itu? Kalau kau pulang permasalahan ini selesai, aku tidak perlu pusing memikirkannya...”
“Hyung...”
“Apa kau tidak menganggap kami ini keluargamu?”
“Bukan begitu...”
“Karena ibumu?”
“Hyung tahu kan permasalahannya...”
“Apa kau rela melepaskan apa yang bisa kau miliki demi sesuatu yang sudah tidak bisa diubah? Pikirkan baik-baik Hoon...sebesar apapun kekuatan yang kau miliki tak akan bisa mengubah masa lalu. Tapi kau bisa mengubah masa depanmu, dan masa depan anak ini.”
“Aku tak mau mengkhianati Ibu...”
“Terserah, tapi perlu kau tahu, saat ini kau sedang mengkhianati dirimu sendiri...”
“...”
“Senang melihatmu baik-baik saja. Aku pamit, pikirkan baik-baik kalimatku tadi...”
Aku mendengar suara pintu yang tertutup, entah Hoon berbicara dengan siapa. Aku tak tahu, aku tak mengerti maksud pembicaraan mereka.
Sudah beberapa menit yang lalu aku tersadar, tapi aku masih belum kuasa menggerakan tubuhku. Obat bius itu membuat tubuhku terasa mati rasa. Aku berfikir sudah berapa lama aku tak sadarkan diri.
Tangan Hoon yang dingin menyentuh pipiku, tanpa aku sadari aku mengerjapkan mataku karenanya.
“Zoey-ya...” panggilan Hoon terdengar antara terkejut dan penuh syukur. Ia kembali menyentuh pipiku dan menekan tombol panggilan darurat di samping tempat tidur, “syukurlah kau kembali...”
“Hoon...” aku memanggil namanya, “Hoon-ah...” tiba-tiba saja perasaanku menjadi kacau saat melihat wajah Hoon. Aku pikir aku tak bisa lagi melihatnya.
“Ada apa? Kau kenapa? Ada yang sakit?” Hoon justru panik melihat air mata yang mengalir dari sudut mataku. Ia kebingungan dan memencet tombol panggil itu berulang-ulang. Selang beberapa menit kemudian seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke dalam ruang inapku. Mereka buru-buru memeriksaku dan menghembuskan nafas lega.
“Ia tidak apa-apa, Nona Zoey sudah melalui masa kritisnya, tolong beritahu kami kalau ia kembali demam atau mual...” setelah mengatakan hal tersebut dokter itu pamit meninggalkan ruangan.
“Kenapa kau menangis, hmm?” Hoon duduk di sampingku dan mengusap air mataku, “kenapa kau jadi cengeng begini?”
“Aku tidak tahu...” ya aku tidak tahu kenapa hatiku terasa begitu lemah saat ada di hadapannya. Aku memalingkan wajahku.
“Apa kau mau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?”
“...”
“Baiklah... nanti, kalau kau sudah siap mengatakannya aku akan mendengarkannya...” Hoon meraih tanganku, “asal kau tahu, tidak hanya dirimu yang hampir mati, aku juga hampir mati saat mendengar kondisimu...”
“Maafkan aku...” Hoon menggengam tanganku lebih erat, membuatku menoleh padanya. Tatapan kami bertemu, lagi-lagi air mataku mengalir melihat mata Hoon yang bulat itu telihat seperti kaca saat menahan tangisnya, “aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi seperti malam itu...aku sangat menyesal melakukannya, aku hampir saja kehilanganmu untuk selamanya...”
“Aku tahu...”
“Aku takut Hoon, aku takut...” aku tak bisa menahan tangisku. Ruangan yang awalnya hening kini penuh dengan suara tangisku. Aku jelas-jelas meningat kejadian tadi malam.
“Aku tak punya pilihan lain... aku tak bermaksud melibatkan Seo Jin dalam masalah apapun. Aku tak mengira mobil yang aku tabrak adalah mobilnya...”
“Seo Jin sudah tak apa-apa, ia akan baik-baik saja berkatmu...” Hoon mencoba menenangkanku.
“Aku takut, laki-laki yang menusukku itu...” tubuhku ngeri membayangkan wajahnya yang tersenyum malam itu. Ia tersenyum namun bulu kuduku merinding ketakutan. Auranya sangat tidak menyenangkan.
“Laki-laki?” Hoon bingung, tapi sedetik kemudian dia sadar. Ia langsung berdiri dan memelukku yang terbaring di tempat tidur. Aku mencengkram punggungnya dengan erat, isak tangisku kembali pecah mengingat kejadian demi kejadian yang menimpaku.
“Semuanya akan baik-baik saja, Sayang...” Hoon mengusap kepalaku, “kau aman sekarang...maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf...” aku bisa merasakan rasa bersalah Hoon karena membiarkanku pergi malam itu. Ia tidak mengira akan ada kejadian seperti ini.
Setelah aku lebih tenang, Hoon menemaniku dalam diam. Sepanjang hari ia ada di rumah sakit dan menjagaku. Tidak banyak yang ia katakan namun aku yakin banyak yang ia pikirkan. Keningnya terus terlipat.
“Kau tidak kerja?” tanyaku memecah keheningan.
“Jangan khawatirkan aku. Aku cuti beberapa hari...” jawab Hoon sambil kembali memegang tanganku, “apa kau pikir aku bisa bekerja dengan pikiranku yang terus ada di sini?” ia menelungkupkan kepalanya di tempat tidur.
Tanganku ragu-ragu hendak meraih pucuk kepalanya. Tapi tiba-tiba saja pintu terbuka. Seseorang masuk dengan wajah yang tak kalah pucatnya dengan Hoon saat melihatku malam itu.
“Zoey!” ia berjalan cepat ke arahku dan memelukku. Aku termangu melihatnya memperlakukanku begitu. Ini pertama kalinya ia memelukku setelah hampir 20 tahun berlalu. Tak ada kata-kata yang sanggup keluar dari mulutku.
“Aku akan membunuh laki-laki itu...” kalimatnya terdengar sungguh-sungguh.
“Oppa...”
“Tidak ada yang boleh menyakitimu...”
“OPPA!” aku berteriak, membuatnya melepaskan pelukannya, “lalu apa yang kau lakukan kepadaku selama ini?”
“Apa maksud semua ini? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” aku menatap kakakku dengan tatapan tidak mengerti.
“Kenapa kau seperti ini! Jangan berubah dengan tiba-tiba seperti ini! Bagaimana aku harus bersikap jika kau seperti ini!” aku menatap Dany Oppa dengan perasaan yang tak menentu. Apa maksudnya perhatiannya kali ini? Apa niat sebenarnya?
“Zoey...”
“Kau membenciku kan? Kalau kau bersikap baik seperti ini apa yang harus aku lakukan!” aku memejamkan mataku. Sebenci-bencinya aku padanya, aku tidak bisa memungkiri perasaan rindu yang tersimpan jauh di hatiku. Melihatnya seperti ini membuatku ingin berlari ke pelukannya lagi. Membuatku ingin kembali berlindung padanya. Tapi aku belum bisa memaafkannya, “pergi...”
“Zoey-ya, dengarkan aku...” Dany Oppa melihat ke arah Hoon dengan canggung.
“Aku keluar dulu...” Hoon yang menyadari ini masalah keluarga kami, pamit undur diri.
“Kau bilang kau tak akan melepaskan tanganku lagi! Apa yang kau katakan itu semuanya bohong?” aku ikut meluapkan emosiku ke Hoon. Ia berdiri dengan bingung sambil menatap Dany Oppa.
“Bukan seperti itu maksudku Zoey...”
“Oppa yang pergi...aku tak ingin berbicara apapun denganmu hari ini...” aku menyuruh Dany Oppa untuk pergi, “kumohon...”
“Baiklah, aku pergi... tenangkan dirimu, aku akan memastikan dia tidak menganggumu lagi...”
“Jangan lakukan apapun...” aku menatapnya sungguh-sungguh, “yang Oppa lakukan hanya akan menambah dendamnya padaku. Jangan lakukan apapun!” aku muak dengan persaingan seperti ini. Tidak ada yang puas apabila salah satunya belum mati. Aku menatap Oppa dengan sungguh-sungguh kali ini.
“Baiklah, kali ini kau boleh percaya padaku...” Oppa membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kami tanpa menoleh lagi.
Aku menatap punggungnya yang penuh penyesalan itu dengan hati yang hancur. Sosok yang begitu aku rindukan. Sosok yang begitu aku sayangi dan aku hormati. Berpuluh-puluh tahun ia menjadi sosok yang dingin dan kejam, tapi hari ini aku melihat Oppa yang aku kenal.
Tangan Hoon yang mengusap air mataku menyadarkanku. Ia menatapku dengan lembut.
“Kau ternyata begitu menyayanginya...”
Satu kalimat yang mewakili semua rasa cinta dan benci itu membuatku tak mampu berkata-kata. Rasa benci itu menguap begitu saja, yang ada hanya kerinduan akan sosoknya lagi. Air mataku semakin deras mengalir.
Hari ini aku begitu banyak menangis, tapi anehnya, air mata itu tak pernah habis...
***