Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 64; Uncle Suthley Decision



“Mari kita lakukan rapat pemegang saham dan memilih Presiden baru untuk Mirae Grup!”


“Suthley, apa maksudmu?” Ayah meraih lengan Uncle Suthley utuk meminta kejelasan maksudnya, “kau tidak bisa melakukan ini padaku!”


“Kakak juga melakukan hal yang sama padaku. Bagaimana bisa Kakak berinventasi pada pesaing bisnisku. Dan bagian terburuknya, Kakak menggunakan uang dari keuntungan Mirae.” Kalimat Uncle membuat beberapa orang yang tadinya berdiri di sisi Ayah pelahan mundur dan satu persatu meninggalkan ruangan. Berangsur-angsur hallroom mulai sepi, meninggalkan beberapa anggota keluarga. Mereka menyadari pihak manapun yang menang tidaklah masalah asal tetap menguntungkan mereka.


“Kau salah sangka...”


“Aku punya buktinya Kak. Lebih baik Kakak nikmatilah masa tua Kakak dengan Leona. Biarkan yang muda mengurus perusahaan...” Uncle menepuk bahu Ayah untuk menenangkannya, “Aku akan membersihkan orang-orang kotor itu kalau perlu.”


“Suthley!” teriak Ayah kalap, “kau pikir kau bisa dengan mudah merebut Mirae dariku? Aku yang membangunya, aku yang membuatnya sebesar ini. Aku tidak akan membirakan orang lain merebut Mirae dariku!”


“Kakak, aku tidak akan merebut Mirae dari siapapun. Aku hanya mengatakan kalau sudah sepantasnya Mirae di pimpin oleh orang yang lebih muda...” Uncle Suthley menatapku dengan tajam. Ayah seketika paham dengan apa yang dimaksud oleh Suthley.


“Kakak tidak menganggap Zoey orang lain kan? Dia anak Anda juga...” Uncle Suthley kemudian mengakhiri kunjungan dadakannya karena ia memiliki janji di tempat lain.


Ia menghampiriku dan berbisik, “Stay strong Princess, jika kau berhasil berdiri di atas puncak piramid, otomatis kau akan sendirian. Siapkan dirimu baik-baik...” Uncle Suthley lalu mengecup pipiku sebagai tanda perpisahan, “see you soon, Dear...”


Aku menatap kepergian Uncle Suthley yang datang seperti badai yang mempora-porandakan seluruh kerajaan dalam satu kali hentakan. Hening. Hanya ada aku, Dany Oppa, Hwang Joon, Hoon dan beberapa asisten kami yang masih ada di dalam ruangan namun kami semua sama-sama terdiam. Suara pintu terbuka dan Ibu masuk setelah mengantarkan adik sepupunya pergi.


“Apa kau mengetahuinya Leona?” Ayah langsung menghampiri Ibu dengan tatapan tidak terima.


“Mengetahui apa? Dia memang keluargaku, tapi apa kalian pernah melibatkanku dalam urusan perusahaan? Kenapa ketika seperti ini kau ingin menyeretku?” aku bisa melihat Ibu yang kembali berakting di hadapan ayahku.


Aku menghampiri mereka berdua dan berusaha melepaskan cengkeraman Ayah dari kedua bahu Ibu. Tapi tanpa aku duga Ayah melayangkan gengaman tangannya ke arah wajahku. Membuatku terhuyung mundur saking kuatnya pukulan itu. Telingaku berdenging keras seiring dengan rasa perih yang  mulai terasa di tulang pipi kiriku. Tapi rasa sakit itu tidak lebih parah dari rasa syok yang aku terima karena tidak menyangka Ayah akan melakukanya padaku.


“Appa!” aku bisa mendengar teriakan seseorang. Entah Dany Oppa atau Juna.


“Kau pikir kau bisa merebut Mirae dari tanganku, hah?!” Ayah menarikku agar ia bisa mengatakannya langsung di wajahkuku. Tangannya mencengkeram erat kedua lenganku, “dengarkan baik-baik Zoey! Aku tidak akan membiarkan Mirae jatuh ketangan orang lain kecuali Dany. Mirae itu bukan milikmu!”


“Mirae juga bukan milih Appa!” aku mendapat keberanian itu dan membalas ucapannya, “Mirae milik semua orang yang mendedikasikan hidup dan waktunya di sana. Appa hanya mendapat kepercayaan untuk memimpinnya!”


“Anak tak tau diuntung! Berani kau menguruiku!” Ayah hendak melayangkan pukulannya lagi ketika Dany Oppa menangkap tangan Ayah tepat sebelum meneganiku.


“Appa kumohon...” Dany Oppa melepaskan tangan Ayah dari bahuku, “pergilah Zoey...”


“Pergi, kau benar-benar penghianat! Itulah kenapa aku tidak suka anak perempuan dari awal. Ia mudah sekali dipengaruhi...” walau Ayah mengatakannya sambil menggerutu aku masih bisa dengan jelas mendengarkannya.


“Apa Anda pikir aku suka memiliki Ayah sepertimu? Jangan besar kepala!”


“ZOEY!” kali ini Dany Oppa yang menegurku.


Ayah yang mendengar kata-kataku mendidih dibuatnya. Ia berjalan cepat ke arahku dan detik berikutnya hanya ada teriakan yang bercampur dengan suara keramik yang jatuh berserakan di atas lantai.


PRANG!


Vas bunga yang ada di meja itu berpindah cepat dari atas meja, tangan ayahku lalu ke arah kepalaku.


KYAA!


Semua orang terkejut melihat apa yang terjadi padaku. Hye Sung sudah berlari ke arahku dan menangkap kedua bahuku untuk menopang tubuhku. Aku bisa merasakan cairan merah hangat itu mengalir dari kepala kemudian ke pipi dan leherku. Warna merahnya bercampur sempurna dengan dress yang aku kenakan.


“Tega-teganya kau! Dia juga anakmu, dia anakku juga!” Ibu sudah menerjang Ayah dan mendorongnya, “aku tidak akan memaafkanmu! Kau akan menyesal telah membuat kedua anakku celaka!”


“Hye Sung bawa Zoey ke rumah sakit sekarang!” teriak Dany Oppa. Tanpa menunggu lagi Hye Sung segera menyeretku keluar dari ruangan. Aku tidak bisa mendengarkan apapun sekarang. Telingaku berdenging lebih keras dari sebelumnya dan aku tidak bisa mendengarkan apapun dari telinga kiriku selain suara dengingan itu.


“Apa yang terjadi?” Seo Jin meraih kedua pipiku dan menarik wajahku agar aku menatap kedua matanya. Aku hanya bisa menatapnya dengan tatapan kosong, “katakan sesuatu padaku...Ya Tuhan!” aku melihat jemari Seo Jin berlumuran darah. Seo Jin buru-buru mencari sapu tangannya dan menekan lukaku dengan kuat. Ia meraih tangan kiriku dan meletakkannya di atas sapu tangan itu, menyuruhku untuk menekannya sendiri.


“Aku baik-baik saja...” kataku pelan.


“Aku tidak melihatnya seperti itu! Kalau kau tidak kuat aku bisa menyuruh orang lain untuk membawamu...”


“Tidak, aku masih bisa jalan sendiri...”


“Good! Aku juga tidak rela jika orang lain menyentuhmu.” Seo Jin lalu melepaskan jasnya dan menutupnya hingga sempurna menutupi kepalaku. Ia membimbingku berjalan dalam dekapannya. Aroma khas yang tercium dari jasnya membuat pikiranku menjadi lebih tenang.


“Hoon kau ikut bersama kami!” teriakan Seo Jin menyadarkanku. Aku lupa bahwa Hoon juga ada di sini. Aku mengeratkan peganganku di pinggang Seo Jin, untung saja aku tidak harus melihat wajahnya saat ini karena kepalaku tertutupi  jas milik Seo Jin.


Kami berempat masuk ke dalam lift, tidak ada yang bersuara salama perjalanan turun dari lantai 70 gedung ini. Aku memeluk Seo Jin erat begitu merasakan grafitasi yang tiba-tiba saja membuatku pusing.


“Ada apa? Kau mual?” tanyanya lembut. Aku memilih tidak menjawab dan mengeratkan pelukanku.


“Hye Sung-ssi, ada klinik beberapa blok dari sini, kau tahu?”


“Ya. Kita ke sana Tuan?”


“Ya...”


Aku mendengar suara pintu lift terbuka dan Seo Jin kembali membimbingku. Hye Sung sudah berlari terlebih dahulu untuk mengambil mobil.


“Hyung, lebih baik aku pergi...” kata Hoon pelan.


“Tidak, kau harus tetap bersama kami. Jika kau pergi, aku tidak akan memaafkanmu! Kau berhutang penjelasan pada kami...”


Begitu Hye Sung datang kami langsung pergi meninggalkan hotel. Aku duduk di kursi penumpang bersama Seo Jin sedangkan Hoon duduk di samping Hye Sung. Tidak ada percakapan apapun di antara kami hingga kami sampai di klinik.


“Hye Sung-ssi. Maafkan aku, tugasmu kini adalah memastikan orang itu tidak kabur ke mana pun.” Perintah Seo Jin begitu kami turun dari mobil.


“Apa Anda akan baik-baik saja?” Aku tahu apa yang dikhawatirkan oleh Hye Sung sehingga aku melepaskan peganganku dan mendorong tubuhnya menjauh.


“Biar aku dan Hye Sung yang pergi. Kalian berdua yang tunggu di sini...”


“Apa itu penting sekarang!” bentak Seo Jin, aku tergagap di buatnya, “kau sudah cukup membuatku gila malam ini!” tanpa berkata lagi Seo Jin langsung membawaku masuk ke dalam klinik. Tidak banyak orang malam itu karena sudah cukup larut dan hanya beberapa perawat yang berjaga.


“Ke arah sini...” perawat yang melihat kehadiran kami langsung mengarahkan kami ke IGD dan melakukan pengecekan sebelum dokter yang menanganiku datang. Ia mulai bertanya banyak hal sekaligus membersihkan darah yang di sekitar lukaku.


“Aku akan mengurus administrasi sebentar...” ia lalu keluar dai IGD dan meninggalkanku bersama dokter yang saat ini sedang menjahit luka di atas telingaku.


“Apa yang terjadi pada kalian? Aku tidak melihat wajah Seo Jin semengerikan itu?” aku melirik nama dokter yang sedang merawatku. Han Seong Mi.  Ia memiliki nama keluarga yang sama dengan dengan Seo Jin, “tepat sekali, aku kakaknya...”


“Sedikit kecelakaan saat pesta...” kataku lirih begitu mengetahui bahwa dokter ini masih kerabat Seo Jin


“Hmm...” dokter Han tidak banyak berkomentar dan membalut lukaku dalam diam. Ia juga mengoleskan krim di wajahku yang membengkak karena pukulan Ayah.


Tiba-tiba saat mengingat Ayah hatiku terasa begitu ngilu.


Sosok ayah yang selama ini aku kenal perlahan memudar dari dalam diriku.


Ia yang terasa begitu dekat sedekat nadi tapi dalam kenyataannya ayah adalah sosok asing di dalam hidupku.


Aku memejamkan mataku sambil memeluk lututku sendiri di atas tempat tidur begitu Dokter Han selesai merawatku dan meninggalkanku di IGD. Aku berulang kali menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku dari semua rasa penerimaan yang begitu menyakitkan ini.


***