Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 42; Keluarga Kim



Aku memandang keluar jendela menikmati eloknya pemandangan yang menentramkan hati. Dedaunan yang berwarna-warni menyambut musim gugur membuatku tersenyum. Aku suka ketika musim gugur datang, suhu udara tidak terlalu dingin dan juga tidak terlalu panas. Hujan masih datang sesekali dan itu membuat aroma dedaunan kering serta jamur terbang di udara. Aku menurunkan kaca mobilku ketika Hye Sung menegurku.


“Saya tidak mau Anda sakit Zoey-ssi. Udara sudah mulai dingin dan dalam waktu dekat Anda ada acara penting...” ia mengomeliku tanpa sekalipun mengalihkan pandangan dari jalan di depannya. Aku mengajak Hye Sung untuk mengantarkanku ke Icheon. Aku sudah berjanji untuk menjemput Seung Hee dan mengajaknya tinggal di Seoul.


Mobil yang kami kendarai sudah masuk ke wilayah Icheon dan kami berbelok kiri keluar dari jalan utama menuju kawasan Shindun-myeong. Aku menunjuk galeri sekaligus rumah yang menjadi tujuan perjalanan kami pada Hye Sung.


“Ikut aku turun, ingat, kita sedang tidak bekerja...” pesanku pada Hye Sung. Wanita itu hanya mengangguk dan mengikutiku keluar mobil, benar-benar irit sekali bicaranya.


“Zoey....” teriak Ibu Kim begitu ia melihatku membuka pintu kaca galeri. Beliau langsung memelukku erat. Pak Kim yang melihat kedatangan kami ikut menghampiri kami dengan senyum lebar di wajahnya. Ah aku sangat menyukai kehangatan keluarga ini.


“Sudah lama sekali Nak...” Ibu Kim memegang kedua pipiku dengan tangannya. Ia memperhatikan wajahku dengan teliti, “kau telihat lebih cantik sekarang...”


Aku tersipu malu mendengarkannya. Aku ingat saat aku bertemu dengan beliau untuk pertama kalinya, wajahku sama berantakannya dengan nasipku waktu itu. Setidaknya saat ini hidupku lebih baik daripada sebelumnya, mungkin...


Aku mengenalkan Hye Sung yang datang bersamaku sebagai temanku. Kami lalu mengobrol banyak hal tentang keramik dan juga apa yang aku lakukan setelah pergi dari sini. Tentunya aku tidak menyebutkan semuanya, cukup berita baik saja yang aku kabarkan ke orang-orang berhati lembut ini.


“Hoon... saya mendengar bahwa ia pulang ke Paris, Eomoni. Apa itu berarti rumah Hoon bukan di sini?” aku bertanya dengan hati-hati.


Ibu Kim terlihat ragu saat akan mengatakan sesuatu. Beliau menoleh pada suaminya untuk meminta persetujuan. Aku melihat kekhawatiran itu dari mereka berdua.


“Ini rumah Hoon, Zoey...” kata Pak Kim akhirnya, “kami yang menumpang di sini?”


Aku memperhatikan keduanya bergantian. Tidak ingin menyimpulkan apapun. Aku sudah mengira bahwa hubungan Hoon dengan keluarga ini tidaklah biasa. Hoon tidak memiliki nama keluarga dari Kim dan jusru bermarga Lee.


“Kami hanya orang tua angkat Hoon. Kami yang dulu mengasuhnya dari kecil. Workshop dan galeri ini adalah milik keluarga Hoon...” Ibu Kim meremas tepian apron yang digunakannya, “Hoon dan Ibunya sudah pindah ke Paris sejak tujuh tahun yang lalu. Hanya saja Hoon masih sering bolak-balik ke Korea...”


Tujuh tahun, itu berarti sebelum aku bertemu dengan Hoon di Paris, ia sudah lama tinggal di sana. Aku hanya termangu menyadari sesuatu. Hoon berbohong padaku waktu itu. Ia tidak kehilangan dompet atau apapun itu. Ia sudah tinggal di sana terlebih dulu dan itulah mengapa ia bisa berbahasa Prancis dengan lancar.  Tapi kenapa ia berbohong?


Aku semakin tidak mengerti kenapa Hoon melakukannya padaku.


“Kalau boleh tahu, di mana Ayah Hoon, Eomoni?” tanyaku hati-hati.


“Ayahnya sudah meninggal. Tak lama setelahnya, ibunya membawa Hoon pergi ke Paris...” cahaya di mata Ibu Kim terihat redup ketika membicarakan mendiang ayahnya Hoon. Aku memilih menunggu dan tidak lama setelahnya, Ibu Kim berdiri. Ia terlihat sedang mencari sesuatu.


“Eonni sudah di sini?” Seung Hee muncul dari pintu belakang galeri.


“Sangat aneh mendengarmu memanggilku dengan sebutan Eonni...” aku terkekeh. Anak itu semakin lama semakin menggemaskan dan luruh egonya. Sudah beberapa hari ini komunikasiku dengannya membaik dan cukup sering. Ia perlu menyiapkan apa saja yang harus ia bawa ke kota.


“Apa Eonni lebih suka aku panggil Ajumma?” ia mencebikkan bibirnya dan berjalan mendekatiku.


“Apa benar tidak apa-apa Seung Hee tinggal bersamamu?” tanya Ibu Kim khawatir.


“Tidak apa-apa Eomoni. Seung Hee sebenarnya tidak tinggal bersamaku. Ia akan tinggal bersama asisten dan beberapa temanku yang lain. Kami menyewa sebuah homestay, ada yang akan mengurus mereka setiap hari. Jadi Eomoni tidak perlu khawatir...” aku mencoba menenangakn Ibu Kim. Seung Hee adalah anak mereka satu-satunya. Sebenarnya, mereka berat berpisah dengan Seung Hee. Tapi kemauan anaknya itu terlalu besar sehingga sulit bagi mereka untuk menghalangi mimpi anaknya.


“Jangan buat ibumu menari ucapannya. Jaga sikapmu di depan Eonnimu, biar bagaimanapun kau ada dalam tanggungjawabnya sekarang...” pesan Pak Kim yang diiringi oleh ancaman mata yang tajam. Aku terkekeh melihat Seung Hee yang terlihat begitu ciut di hadapan ayahnya.


“Kalau aku sudah sukses aku akan sering-sering pulang!” Seung Hee langsung memegangi kepalanya begitu Pak Kim menjitak kepala anaknya.


“Kalau kau tidak sukses atau lelah tinggal di sana, justru kau harus segera pulang. Di sini bahkan kekurangan orang kenapa kau malah tinggal di sana kalau hanya mencari pekerjaan!”  beliau terlihat geram dengan sikap anaknya yang kekanak-kanakan.


“Kalau dia bertingkah, kau paketkan saja dia kembali ke sini...” pesan Pak Kim padaku. Aku menatap punggung beliau yang berjalan menaiki tangga menuju rumah mereka, “makan dulu sebelum pergi...”


***


“Eonni benar-benar tidak pacaran dengan Oppa?” Seung Hee bertanya sambil membongkar kopernya di kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya selama di Seoul. Aku bersandar di dinding sambil menyilangkan tanganku.


“Tidak...”


“Tidak ingin?”


“Kenapa kau justru heran saat aku tidak berpacaran dengannya? Bukankah kau sendiri yang awalnya tidak menyukainya?” Seung Hee masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab olehku. Kenapa ia seolah mengenalku begitu ia bertemu denganku untuk pertama kalinya.


“Karena Oppa jadi aneh...”  Seung Hee menghentikan aktivitasnya, “Oppa terlihat sering melamun dan seolah tertekan dengan sesuatu. Aku penah menyelinap di kamarnya dan yang aku temukan adalah foto kalian berdua di Paris. Aku pikir dia berpisah dengan Eonni atau semacamnya yang membuat Oppa patah hati waktu itu. Jadi saat melihat Eonni ada di rumah, tiba-tiba saja aku jadi marah...”


“...aku tidak senang melihat Oppa bersedih apalagi melihat orang yang menyakitinya tiba-tiba muncul begitu saja dihadapanku. Maka dari itu...” Seung Hee menatapku dengan sungguh-sungguh, “maafkan aku...”


“Aku tidak pernah berpacaran dengannya. Aku hanya bertemu dengannya di Paris tanpa sengaja. Kami menghabiskan dua hari berjalan-jalan mengelilingi kota Paris dan setelah itu kami berpisah sampai kau bertemu denganku itu...” aku hanya mengela nafas panjang. Aku yakin Seung Hee juga tidak tahu alasannya kenapa Hoon bisa bersikap seperti itu. Laki-laki itu ternyata memang sangat tertutup bahkan dengan adik atau keluarga yang mengasuhnya selama ini.


“Apa kepergian Oppa kali ini juga ada kaitannya dengan Eonni?” selidik Seung Hee.


“Aku juga tidak tahu Seung Hee-ya...” aku duduk di pinggiran tempat tidurnya, “ia tidak mengatakan apapun padaku, kecuali satu hal. Dia yang berkata tidak akan pergi tapi dia sendiri kini sudah menghilang tak tahu ke mana ujungnya...”


“Aku pikir Eonni adalah cinta pertama dan terkhir Oppa...”


“Apa kau pikir hidup ini seindah fairy tail?” aku berdiri dari dudukku, “tidak semudah itu untuk mengubah sikap Oppamu . Aku ingin sekali memastikannya tapi saat ini aku tidak sedang berada di zona nyaman yang membebaskanku bergerak ke mana saja...” aku menepuk pundak Seung Hee.


“Istirahatlah, besok bawa proposalmu ke padaku. Aku ingin tahu apa yang ingin kau lakukan selama di sini”, aku melambaikan tanganku dan menutup pintu kamar Seung Hee pelan.


“Bagaimana aku  bisa beristirahat jika kau memberikan banyak sekali tugas! YA! Eonni!” aku mengabaikan panggilannya dan kembali ke ruang tamu untuk mengajak Hye Sung pulang.


Aku menyandarkan kepalaku di bantalan kursi penumpang. Hari ini aku menemukan ‘temuan’ baru. Entahlah sampai kapan ujian kesabaranku ini berlangsung. Aku harus menelursuri semuanya satu-satu. Lagi dan lagi tanpa boleh merasa putus asa dan mundur sedikitpun.


Aku juga harus mendapatkan cerita dari Mo Tae Dong. Tapi mengingat namanya saja membuatku jerih. Aku memejamkan mataku dan mencoba sekali lagi mengusir semua mimpi buruk itu.


***