
Kita hanya bisa merencanakan hidup. Tapi kehidupan itu sendiri adalah misteri, kita tidak akan pernah tahu dimana kita akan berlabuh.
-Zoey-
Cepat atau lambat siapa yang akan menjadi calon istri Seo Jin akan terekspos oleh publik dengan sendirinya. Aku tidak ingin terlalu memikirkannya dan fokus ke acara inagurasi yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan. Aku mendapat telpon dan pesan dari keluargaku serta beberapa kenalanku. Mereka memastikan apakah orang yang dimaksud dalam berita itu adalah aku. Aku hanya membenarkannya dan menolak untuk menjelaskan kenapa bisa dan kapan itu terjadi. Aku belum ingin memikirkannya sebelum masalahku sendiri selasai.
Tidak baik membiarkan masalah menumpuk. Lebih baik kerjakan satu persatu sebelum melangkah untuk hal lainnya.
Inagurasi akan dilaksanakan dua hari kedepan. Aku selalu pulang malam karena banyak hal yang harus dipersiapkan dan banyak undangan yang harus dikirimkan. Selain agenda utama, aku memiliki agenda lain di malam inagurasi itu. Sehari yang lalu aku berkunjung ke kediaman Dany Oppa. Ia terlihat terkejut melihat aku datang ke rumahnya bersama dengan Hye Sung dan Pengacara Bae yang merupakan bagian dari firma hukum yang menangani segala urusan keluargaku.
“Kenapa kau tiba-tiba berkunjung seperti ini?”
“Mampir, kebetulan kami bertiga lewat sini tadi. Di mana keponakanku?” tanyaku mengalihkan topik pembicaraan. Tidak lama kemudian dua keponakanku muncul dengan senyumannya sambil berlari menghampiriku.
“Zoey!” teriak mereka berdua. Aku menyambut pelukan kedua bocah kecil itu, Anne dan Eddy dengan hangat.
“Jangan panggil Tante kalian seperti itu!” tegur Ji Hyun Eonni begitu berhasil menyusul anak-anaknya, “Zoey, apa kabar?”
“Baik Eonni...” aku berdiri dan memeluk kakak iparku. Setelahnya aku bermain dengan Anne dan Eddy sebelum mereka memasuki jam malam. Sudah cukup larut ketika aku mampir ke rumah mereka. Anne dan Eddy sempat mengamuk begitu ibunya menyuruh mereka untuk masuk ke dalam kamar dan tidur.
“Ada yang ingin kau bicarakan kan, Zoey?” Dany Oppa langsung bertanya begitu aku berhasil membujuk kedua ponakanku untuk beristirahat.
“Benar...” aku duduk dihadapannya, “Aku akan menyerahkan perusahaan pada Oppa di malam inagurasi”, kataku langsung dipokok pembicaran.
“Kenapa?” Dany Oppa terlihat bingung dengan keputusanku.
“Tentu saja karena perusahaan itu bukan milikku. Aku dari awal tidak menginginkannya dan aku tidak mau hidup di sini. Aku akan pergi ke Paris ataupun kalau aku di sini aku tidak ingin berada di perusahaan itu. Oppa lupa? Keinginanku dari awal hanya itu. Aku ingin kembali ke Paris.” Aku tidak tahu kenapa keluargaku sampai lupa dengan apa yang aku inginkan dari awal. Aku hanya ingin kebebasanku dan aku tidak meninginkan semua harta ini. Mereka yang menjebakku dan melibatkanku.
“Lalu kenapa kau sampai melangkah sejauh ini?”
“Karena aku ingin bebas. Jika aku tidak seperti ini, Appa akan terus memaksaku. Aku hanya ingin Appa tahu bahwa selama ini aku hanya memilih untuk diam. Aku tidak menginginkannya, tapi jika aku tidak merebutnya seperti ini, Appa tidak akan sadar bahwa semua ini tidak ada artinya...” aku meraih tangan Dany Oppa dan memohon padanya, “maafkan aku dan tolong lepaskan aku, Oppa. Hanya Oppa yang bisa melakukannya dan Oppa adalah satu-satunya orang yang tepat untuk memimpin perusahaan itu...”
Dany Oppa terlihat ragu dan memandang Pengacara Bae untuk meyakinkan dirinya sendiri. Inilah tujuanku membawanya. Meyakinkan Oppa sekaligus membuat keinginanku ini legal secara hukum.
“Baiklah...” kata Oppa akhirnya.
“Sungguh? Terima kasih!” aku memeluk Oppa dengan penuh penghargaan. Ini sekaligus membuang rasa bersalahku padanya karena sempat berperilaku buruk terhadapnya.
“Kalau begitu mohon Tuan Dany membaca dan menandatangani ini...” Pengacara Bae mengeluarkan dokumen yang telah disusunnya terlebih dahulu bersamaku.
“Apa maksudmu?” tanya Dany Oppa begitu selesai membaca isi dari perjanjian itu, “kau? Apa yang kau lakukan?”
“Aku melakukan hal yang benar...”
“Tapi nilai ini tidaklah kecil Zoey. Bagaimana kau dengan mudahnya memberikan saham itu pada anak-anakku?” Ya. Aku bahkan memberikan sahamku kepada dua keponakanku agar aku benar-benar lepas dari perusahaan itu.
“Aku tidak memberikannya pada anak-anakmu Oppa. Aku memberikannya pada keponakanku. Aku rasa aku tidak membutuhkannya.” Aku memang tidak membutuhkannya dan sahamku di Emerland serta usahaku di La Red de Alice cukup untuk membiayai hidupku.
“Apa kau telah membicarakannya dengan Eomma dan Juna?” tanya Oppa memastikan sesuatu sebelum menandatangani surat di tangannya.
“Ya, mereka juga akan pergi setelah acara inagurasi selesai...” pernyataan ini membuat Oppa lebih terkejut lagi.
“Aku tidak tahu Oppa. Itu adalah keputusan mereka berdua. Aku sebenarnya sedih melihat keluarga kita menjadi terpecah seperti ini. Tapi setelah semua yang terjadi, hidup berdampingan justru akan membuat kita sama-sama terluka”, Oppa tidak bisa menyangkal perkataanku karena itu sepenuhnya benar. Lebih baik kami semua hidup dengan pilihan kami masing-masing dan saling bertukar kabar sesekali untuk tetap menjaga persaudaraan di antara kami.
Akhirnya Oppa menyetujui surat perjanjian itu dan kami memutuskan untuk pulang menakhiri hari ini.
“Zoey, dalam hidupku. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai adik tiriku. Aku tidak tahu sampai mana kenyataan yang kau percayai, namun ketahuilah. Aku benar-benar menyayangimu...” aku hanya memberikan Oppa pelukan sebelum pergi meninggalkan kediamannya. Aku baru menyadari ucapannya sungguh-sungguh keluar dari dalam hatinya tiga hari kemudian dalam malam inagurasi itu.
Malam itu aku membiarkan Seo Jin menjemputku. Kami memutuskan berangkat bersama dan bersiap memberikan press conference setelahnya jika wartawan menyadari bahwa akulah orang yang menduduki headline surat kabar mereka beberapa hari ini. Aku juga memberitahu rencanaku untuk melepaskan semua yang aku miliki di Korea malam ini. Seo Jin tidak mengatakan apapun dan hanya menarikku dalam pelukannya.
Seo Jin tiba-tiba menarik tanganku ketika kami hampir sampai di hotel tempat inagurasi dilaksanakan.
“Malam ini, kau akan menjadi seorang selebriti. Aku tahu kau sudah cantik, tapi aku ingin melihatmu bersinar walaupun diserang oleh flash wartawan. Apa kau siap?” tanyanya sambil menyunggingkan senyum di kedua sudut pipinya seolah inilah hal yang dinantikannya.
“Tentu saja...” jawabku mantap.
Senyum Seo Jin merekah dan ia mengecup pelan bibirku sambil mengucapkan mantra, “Saranghae...” (aku mencintaimu)
Aku masih termenung di kursiku ketika Seo Jin sudah turun terlebih dahulu. Ia berlari ke sisi sebelahnya dan membukakan pintu untukku. Untuk pertama kalinya aku menyambut tangannya di depan publik dan di situlah, flash kamera wartawan bisnis bercampur dengan wartawan infotaiment menghujai kami berdua. Aku mempertahankan senyumku hingga akhir dan menyimpan momen ini selamanya di dalam hati dan ingatanku. Ini adalah pengalaman pertama yang membuatku menjadi wanita Seo Jin satu-satunya sekaligus momen di mana banyak hati di luar sana terluka. Aku akan sangat menghargai cinta yang mereka berikan untuk Seo Jin selama ini dan berjanji akan menjadi wanita terbaik untuknya.
Tapi sepertinya Tuhan memiliki rencana lain malam itu. Acara inagurasi berjalan dengan lancar, sampai tiba saatnya aku memberikan speech di atas podium untuk mengucapkan terima kasih sekaligus secara resmi memberikan posisi ini pada Dany Oppa. Namun, belum sempat aku mengutarakan niatku, suara hening di dalam ruangan terpecah oleh teriakan Dany Oppa yang duduk beberapa meter di depanku.
“TIDAK! ZOEY! NO!” ia berteriak sambil berlari ke arahku dengan segenap kekuatannya. Ia seperti mempertaruhkan hidup dan matinya saat melakukannya. Aku terdiam tidak mengerti dengan apa yang terjadi sampai Dany Oppa menyambar tubuhku dan kami berdua jatuh di atas podium.
KYAAA!
“Oppa...” aku berusaha mengangkat tubuh Dany Oppa yang menindihku, namun Oppa tidak bergerak sama sekali. Aku mulai merasakan ada benda cair hangat yang mengaliri tanganku yang meraih punggungnya. Cairan itu tak lain adalah darah Oppa yang menggalir dari lubang di punggungnya.
“DANY!” aku melihat ayahku menggila melihat anak laki-lakinya terkapar tak sadarkan diri. Ayah menarik tubuh Dany Oppa dan menatapku dengan tetapan yang entah kenapa mengatakan bahwa akulah yang seharusnya celaka, bukan Dany Oppa.
Aku berdiri tak percaya dengan apa yang terjadi. Aku mengedarkan pandanganku dan melihat semua orang yang ada di dalam acara mulai panik. Seo Jin yang berdiri agak jauh dariku berjalan dengan tergesa-gesa untuk menghampiriku. Namun saat aku hendak melangkah untuk meminta perlindungannya dari semua situasi yang membingungkan ini tubuhku juga berhenti bergerak.
Ada rasa panas dan menusuk saat timah panas itu juga menebus dada kananku. Tembakan itu sengaja di arahkan ke tepat ke jantung sasarannya. Andai saja aku tidak bergerak, aku yakin aku sudah mati di tempat. Tidak ada suara saat peluru itu menembus kaca gedung seolah senapan yang digunakan adalah senapan khusus yang digunakan untuk berburu mangsanya. Aku masih melihat perubahan wajah Seo Jin saat melihatku luruh bersimbah darah di atas lantai. Darahku juga mulai mengalir keluar dengan derasnya. Aku masih bisa melihat Hye Sung yang melepaskan jasnya dan menekan lukaku dengan kuat untuk menahan darah keluar dari dalam tubuhku.
“Zoey! Ku mohon Zoey!” suara parau Seo Jin membuat hatiku ngilu. Air mata laki-laki itu mengalir dari kedua manik matanya. Membuatnya menangis lebih menyakitkan rasanya daripada rasa sakit yang harus aku rasakan.
“Im...okay...don’t cry...” aku berusaha menggapai wajahnya yang mulai terlihat buram di mataku.
“Ya, aku akan tidak akan menangis, tapi ku mohon bertahanlah...” aku bisa merasakan genggaman tangan Seo Jin yang begitu hangat. Kehangatan yang membuatku selalu ingin berlindung padanya.
“Don’t cry...”
Aku tidak ingin kau menangis karenaku. Maafkan aku membuatmu sedih.
Aku ingin sekali mengatakannya namun kata itu tersimpan cukup lama karena aku sudah tidak sadarkan diri setelahnya.
Aku pikir tinggal kebahagiaan yang akan aku petik dari semua usaha dan rasa sakit yang telah aku tahan selama ini. Tapi ternyata Tuhan belum mengijinkannya.
***