
“Ada apa?” pertanyaan Lucas membuatku tersadar dari lamuananku.
“Tidak ada apa-apa”, jawabku berbohong.
“Apa Anda pernah ke sini sebelumnya? Teman saya bekerja di sini...” tanya Seo Jin padaku saat kami masuk ke dalam lift.
“Teman?” tanyaku bingung.
“Iya, dia salah satu cheft kepala di sky lounge hotel ini...” aku terdiam mendengar penjelasan Seo Jin. Hoon juga bekerja di sky lounge hotel ini. Kalau kami makan siang di sana, ia pasti akan sangat terkejut.
“Nona Zoey sudah lama tinggal di Korea? Bahasa Korea Anda sangat bagus sekali...” salah seorang stylist Soe Jin memberanikan diri bertanya padaku.
“Dia orang Korea, Kyunso-ssi, bukankah tadi Manajer Jo sudah menanyakannya?” Seo Jin menjawabnya terlebih dahulu.
“Benarkah?” mata Kyunso melotot kaget, ia lalu memberiku salam layaknya orang Korea, membungkuk dalam dan mengenalkan dirinya lagi.
DING!
Pintu lift terbuka di lantai 61. Ini baru pertama kalinya aku masuk ke restoran yang ada di hotel ini. Sebelumnya aku hanya berada di athurium hotel dan di apartemen milik Hoon. Restoran ini terlihat sangat mewah dengan interior gaya klasik yang terlihat mahal. Selain ruang utama, ada beberapa ruang VIP, coffeshop dan juga bar. Kami duduk di bangku panjang di samping kaca gedung. Tak lama setelah kami duduk, makanan mulai di sajikan, Seo Jin telah memesannya terlebih dahulu sebelum kami tiba.
“Zoey-ya...” aku menoleh saat seseorang memanggilku. Hoon.
“Hoon-ah...” aku terkejut melihatnya. Walau aku sudah menyangka bahwa dia bekerja di sini, aku tidak menyangka akan bertemu dengannya.
“Kalian saling mengenal?” Soe Jin berdiri dan menghampiri Hoon. Ia menepuk bahu Hoon akrab. Kebetulan macam apa ini? Aku memperhatikan mereka berdua.
“Kau bilang kalau kau mau meeting?” tanya Hoon bingung.
“Ya meeting kami sudah selesai, tinggal makan siang saja. Mereka inilah desainer grup kami, dari Prancis...” Soe Jin menarik Hoon mendekat, “perkenalkan ini Lucas, dan Zoey, kau sudah mengenalnya kan? Bagaimana kalian bisa saling mengenal?”
“Sekolah...” Hoon buru-buru menjawabnya, “dulu kami satu sekolah...”
“Tapi dia lama di Perancis? Bagaimana kau bisa mengenalinya dalam sekali lihat?” Seo Jin bertanya dengan penuh selidik.
“Urusi saja urusanmu...” Hoon tidak terpancing dengan ucapan Seo Jin, “silahkan dinikmati, jika ada yang tidak berkenan langsung hubungi pelayan kami, saya permisi...” Hoon memandangku sekilas sebelum meninggalkan kami.
“Saya ke toilet sebentar...” aku berdiri dan berjalan menyusul Hoon.
“Hoon...” panggilku sebelum ia masuk ke dalam. Ia berhenti dan menoleh padaku dengan wajah kesal.
“Kau punya ponsel kan? Apa susahnya menghubungiku?” tanya Hoon kesal.
“Maafkan aku...” aku mengakui kesalahanku. Sudah beberapa hari ini aku mengabaikan panggilannya.
“Aku tidak peduli kau sibuk atau tidak, tapi kau pulang bersamaku!” kata Hoon tegas. Aku hendak protes karena pekerjaanku masih banyak.
“Tapi...”
“Tidak ada tapi-tapian. Kau pulang ke apartemenku setelah selesai dari sini...”
“Hoon!”
“Kita harus bicara, dan tidak di sini! Kita sama-sama bekerja saat ini...” aku mengerti sekali maksud kalimatnya. Saat ini bukan saatnya kami berdebat. Ia harus bekerja dan aku hanya pamit ke toilet.
“Baiklah...” aku mengangguk dan pergi meninggalkannya.
“Ada apa?” tanya Lucas untuk kesekian kalinya.
“Aku nanti pulang sendiri ya, aku ada urusan dengan laki-laki tadi...”
“Kau mengenalnya?” wajah Lucas terlihat khawatir.
“Ya, dia orang baik, aku sudah mengenalnya sejak aku sekolah. Tenang saja...” walau aku tidak yakin aku mengenal Hoon secara pribadi aku tetap berusaha meyakinkan Lucas.
“Ada apa?” kali ini Seo Jin yang yang bertanya, ia tidak mengerti apa yang kami bicarakan.
***
“Zoey-ya...” aku membuka mataku, pipiku terasa dingin saat Hoon menyentuhnya.
“Jam berapa ini?” aku menguap sambil melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 7 malam. Aku memejamkan mataku sekali lagi, rasa kantuk membuat mataku berat.
“Aku pikir kau pergi...” Hoon mengusap rambutku.
“Aku ngantuk, aku sudah bilang kan kalau aku sibuk?” kataku pelan sambil berusaha duduk. Aku menanfaatkan waktu untuk menunggu Hoon selesai bekerja dengan tidur. Beberapa hari ini aku kurang tidur.
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?” Hoon berdiri dan duduk di sampingku.
“Menata ulang hidupku, kau lihat sendirikan kalau aku kerja?”
“Ya, kau hanya tidak mengatakan dari awal kalau temanmu itu ada di Korea, kau juga tidak mengatakan padaku kau melakukan apa, di mana, dan sampai kapan kau akan mengabaikan telponku...” Hoon terlihat menekan amarahnya sendiri saat mengatakannya.
“Apa aku harus mengatakan semuanya padamu?”
“Ya”
“Kenapa?”
“...”
Aku dan Hoon terdiam dan hanya saling padang. Kami sama-sama menyadari bahwa kami tidak memiliki hubungan lebih dari sekedar teman. Aku juga sangsi bisa menyebutnya sebagai teman, ia hanyalah orang yang pernah menolongku. Aku menyadari akan hal itu, tapi hatiku ini tanpa seijinku, terasa sakit.
“Kau tidak bisa menjawabnya kan?” aku tersenyum kecut.
“Aku...” Hoon mencengkeram tangannya sendiri, “aku tak ingin memikirkannya, tapi aku tak bisa berhenti untuk mengkhawatirkanmu...”
“Jujur, aku sangat berterimakasih padamu. Kalau bukan tanpamu mungkin aku tak akan pernah bangkit, mungkin aku akan lebih hancur dan mungkin saja aku bisa mati...” aku memperhatikan wajah Hoon saat mengatakannya, “tapi, jika kau melakukan semua ini karena kau kasihan atau hanya untuk memuaskan rasa tanggung jawabmu itu, kau tak perlu melakukannya...”
“Aku baik-baik saja...” tambahku, “kau tidak perlu membebani dirimu sendiri...”
Hoon terdiam, ia terlihat memikirkan sesuatu. Aku tidak tahu apa yang mengganggu pikirannya. Semakin aku memikirkan tentang Hoon, semakin aku merasa aku tidak mengenalnya. Ia tidak pernah menceritakan apapun tantang dirinya.
“Jujur aku tidak mengenalmu Hoon...” kataku pelan.
“Apa maksudmu tidak mengenalku?” Hoon menoleh.
“Aku tidak banyak tentang dirimu, aku tak bisa mengira-ira apa yang kau pikirkan...” aku mencengkram lenganku sendiri, “seperti ada garis tegas antara kita yang sama-sama tidak mungkin kita lewati.”
“Apa kau menyadarinya?” ia tak menjawab, namun wajahnya terlihat ia menyetujui apa yang aku katakan.
“Kau mengatakan padaku bahwa kita harus bicara, tapi aku pikir hanya aku yang bicara dari tadi”, aku menghela nafas lelah, merasa apa yang aku lakukan hanya membuang-buang waktu, “apa aku boleh kembali ke studio?” tanyaku.
Ia masih diam, tak menjawab pertanyaanku. Aku berdiri dan mengambil blazerku. Pembicaraan ini, kupikir tidak akan menghasilkan apapun jika ia terus saja memikirkan semuanya sendiri. Ia jelas-jelas menyembunyikan sesuatu.
Aku duduk di depan pintu untuk memakai sepatuku. Aku masih melihat Hoon yang duduk di sofa, keningnya berkerut, ia terlihat sedang berperang dengan dirinya sendiri.
“Aku pergi...” pamitku sekali lagi.
Saat aku memegang handel pintu, terdengar suara langkah kaki dari belakangku. Aku menoleh dan mendapati Hoon yang sudah berdiri di belakangku.
“Apa kita coba untuk pacaran saja?” aku termangu menatapnya, apa aku salah dengar?
***