Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 55; Luka Lain



“Apa maksud semua ini Zoey?” Ibu memegang lenganku erat mendengar penjelasanku.


“Aku yang akan bertanggungjawab dengan hidup Eomma setelah ini. Ikutlah denganku. Ke Paris atau kita kembali tinggal di rumah kakek di Kanada.” Aku berusaha meyakinkan ibuku.


“Aku tidak bisa meninggalkan rumah ini, Zoey!” Ibu menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. Sedih? Kecewa? Takut?


Bola matanya bergetar saat ia mendengar permintaanku untuk pergi dari rumah ini.


“Ada apa? Sebenarnya ada apa?” hatiku berdesir menyadari keganjilan ini. Ada yang tidak beres.


“Ibu tidak akan ke mana-mana Zoey...” ibuku memandangku dengan nanar. Ada sesuatu yang ia sembuyikan. Hatiku mulai dibanjiri oleh rasa bersalah yang tidak biasa. Aku melarikan diri demi hidupku tapi aku melupakan sesuatu yang penting. Hidup ibuku. Aku menyalahkan seluruh dunia atas takdir yang membawaku di tengah Keluarga Park tapi aku sendiri telah melupakan bahwa bukan aku sendiri yang menderita di dalam keluarga ini.


Aku meraih tubuh Ibu ke dalam pelukanku. Bahkan dulu bahu yang selalu melindungiku ini pun kini terasa begitu kecil dan rapuh dalam dekapanku. Hatiku teriris semibilu menyadari akan hal ini. Bagaimana Ibu bertahan selama ini? Bagiamana ia melalui semua ini sendiri?


“Maafkan aku...” suaraku tercekat. Apa aku pantas untuk meminta maaf dan dimaafkan?


“Kenapa denganmu Zoey?” Tangan Ibu bergetar saat menepuk punggungku untuk menenangkanku. Lihatlah, di saat seperti inipun yang ada dalam pikiran beliau adalah diriku.


“Aku mencintaimu, Eomma...” perasaan itu sempurna terucap dalam sebuah kalimat. Kalimat yang selama ini selalu aku rindu untuk aku dengar mereka sampai aku lupa bahwa aku sendiripun tidak pernah mengatakannya langsung pada mereka. Betapa egoisnya aku selama ini. Bagaimana setiap waktu Ibu selalu ingin mendengarkan kata ini dari anak-anaknya?


“Kenapa tiba-tiaba Zoey...” kali ini pertanyaan yang Ibu penuh dengan haru.


“Aku mencintaimu, maafkan aku...”


“Aku juga mencintaimu putri kecilku...” Ibu mendorong tubuhku dan mengusap air mata yang mengalir di pipiku.


“Kita harus pergi Eomma...” aku meyakinkannya sekali lagi.


“Pergi ke mana?” Juna sudah berdiri di bingkai pintu kamar Ibu. Aku mengusap air mataku sebelum menoleh padanya.


“Liburan. Aku ingin ke tempat Kakek...” kataku setengah berbohong.


“Kenapa tiba-tiba?” Juna masuk ke dalam kamar dan duduk di sampingku.


“Apanya yang tiba-tiba? Wajar saja kan kalau aku rindu?”


“Omong kosong macam apa itu? Ini kali pertamanya Nuna mengatakan kata rindu pada Kakek setelah lebih dari 15 tahun kau melupakannya!” Juna menatapku curiga.


“Kalian jangan bertengkar.” Suara Ibu lebih terdengar sebagai harapan daripada perintah.


“Juna-ya...”


“Kenapa kau memanggilku seperti itu sih, kau lihat? Aku sampai merinding mendengarnya!” Juna mengangkat kedua tangannya di hadapanku agar aku  bisa melihat bulunya yang tiba-tiba berdiri.


“Aku kini ingin bahagia, ayo kita pergi. Kalau kau ingin di sini, biarkan aku dan Ibu yang pergi...”


“Sampai akhir kau tetap egois, Nuna!” Juna hanya terkekeh sambil menyindirku.


“Benar, aku memang orang yang seperti itu. Maka dari itu, dengarkan aku...” aku terkejut saat Juna tiba-tiba berdiri dan memandangku dingin. Ini kali pertama aku melihatnya menatapku dengan sikap seperti itu.


“Nuna akan terus ada di Korea, dan kau tidak akan ke manapun setidaknya setahun ini!” Juna mulai berjalan meninggalkan kami, “Nuna sudah cukup bahagia selama lima belas tahun ini dengan hidup bebas di luar sana dan inilah saatnya Nuna menebus harga lima belas tahun itu...”


Tubuhku membeku mendengar kalimatnya. Juna ada dalam rencana ini dari awal. Juna ikut menggiringku masuk ke dalam masalah ini, ia ingin aku melihat kenyataan yang sebenarnya. Ada yang ingin ditunjukkan padaku.  Tapi apa? Kenapa?


“Zoey...” Aku menoleh kaget begitu Ibu meraih tanganku.


“Ibu bisa saja pergi denganmu, tapi Ibu tidak bisa meninggalkan Juna...” air mata Ibu mengalir, “Juna juga sudah cukup menderita selama ini, lebih dari Ibu. Ia juga sedang berjuang Nak. Pahamilah, ia sebenarnya juga menyayangimu...”


Apa yang harus aku pahami?


Ada apa lagi ini?


“Juna, ia telah banyak berkorban untuk keluarga ini. Termasuk untuk kita. Jadi tolong, jangan benci adikmu itu...” aku mencoba mencari sesuatu dalam mata Ibu. Hanya luka, luka, dan luka lagi yang aku dapatkan. Aku ingin bertanya tapi hatiku tidak sampai untuk mengatakannya.


Ah, aku mulai paham.


Aku ada di sini yang paling tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


Semua orang sudah berlari setengah jalan untuk berjuang, tapi aku masih memulai semuanya dari titik awal tanpa arah dan tujuan.


***


“Anda akan ke mana?” Hye Sung melihatku keluar dari rumah dan langsung mengiringi langkahku.


“Antarkan aku ke rumah sakit!”


“Anda sakit?”


“Tentu saja, kau pikir aku baik-baik saja?” aku langsung masuk ke dalam mobil dan menunggu Hye Sung masuk ke dalam. Aku tidak perlu menyebutkan rumah sakit mana yang akan aku tuju karena ia sudah paham ke mana tujuanku saat ini.


“Kau boleh pulang, jemput aku besok pagi!”


“Anda akan menunggu Seo Jin lagi?” Hye Sung terlihat meragukanku.


“Kau sendiri kan yang bilang bahwa aku yang membuatnya seperti itu. Bukankah setidaknya aku bertanggung jawab padanya!” Aku sadar tidak seharusnya aku melimpahkan semua kekesalanku pada asistenku satu ini.


“Maafkan aku, Zoey.” Hye Sung seolah menyadari arah pembicaraanku. Ia menyadai aku dalam proses memastikan dia ada dipihak mana.


“Kau sudah tahu kan kalau aku tidak  bisa pergi ke manapun? Atau terserah jika kau memang ingin menungguku di sini sampai besok pagi!” aku turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Aku bisa melihat Hye Sung kembali ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah sakit melalui pantulan kaca di hadapanku. Aku kemudian masuk ke dalam rumah sakit, aku meninggalkan pesan di meja resepsionis, dan turun melalui tangga darurat menuju basement.


Seseorang sudah menungguku di sana dengan menggunakan mobil SUV Hyundai hitam yang sangat umum di Korea. Aku memastikan tidak ada yang melihatku sebelum aku masuk ke dalam mobil itu.


“Halo Zoey!” Sapa wanita itu dengan senyum menawannya.


Aku mengubungi Tae Dong dan meminta bantuannya untuk mencarikan informasi untukku. Walau aku setengah tidak enak memanfaatkan sakitnya Seo Jin, tapi tempat ini yang paling aman dan aku tidak memiliki pilihan lain selain menggunakannya sebagai lokasi bertemu.


“Aku tidak memiliki banyak waktu, apa kau bisa mengembalikanku lagi dalam tiga jam ke depan?”


“No problem!” Elsa langsung menginjak pedal gasnya begitu aku menggunakan sabuk pengamanku. Aku memilih diam agar tidak mengganggu konsentrasinya saat mengemudi.


“Apa kau  tidak bisa menyetir?” aku menoleh saat Elsa bertanya padaku.


“Bisa, tapi aku memilih untuk tidak mengatakannya. Lagi pula aku tidak hapal jalan di Korea...”


“Aku pikir kau tidak bisa sehingga ke mana-mana ada yang mengantarkanmu.”


“Kadang tidak perlu semua orang tahu apa kemampuan kita, itu bisa jadi bomerang nantinya.” Aku tertawa sendiri mendengar kalimat itu keluar dari mulutku karena secara tidak sengaja aku telah membocorkan infromasi ini pada Elsa.


“Kau benar...”


“Apa Tae Dong-ssi memperoleh apa yang aku inginkan?”


“Tentu saja, tapi bukan Oppa yang melakukannya melainkan Ren...”


“Ren???” aku tidak bisa tidak terkejut saat mendengarnya.


“Iya, kau lihat saja nanti!” Elsa memasukkan mobil itu dalam garasi yang ada di rumah Ibu Tae Dong dan kami masuk melalui pintu rahasia di bawah kolam ikan. Aku langsung disambut oleh Ren yang sengaja muncul untuk mengagetkanku.


“Halo Zoey!”


“Ya Tuhan!”


***