
Aku menegakkan badanku untuk memastikan Seo Jin benar-benar sudah tertidur. Aku berbaring di sampingnya sambil mendengarkan banyak hal dari dirinya. Bicaranya cukup berantakan mengingat ia masih di bawah kendali obat. Tidak sampai tiga puluh menit, Seo Jin sudah terlelap.
Aku turun pelan-pelan dari tempat tidur rumah sakit agar tidak membangunkannya. Setelah memastikan dia benar-benar terlelap aku mengambil ponsel yang diberikan Tae Dong padaku dan pindah ke tempat tidur yang diperuntukkan untuk orang yang menemani pasien. Seo Jin sebenarnya sempat merengek agar aku tidur di sampingnya, aku juga tidak keberatan untuk melakukannya. Hanya saja, Seo Jin dalam keadan yang cukup menghawatirkan. Salah-salah aku malah menambah rasa sakitnya jika tanpa sengaja aku menyenggol apalagi menendangnya.
[Aku masih di rumah sakit]
Aku mengirimkan pesan itu pada Tae Dong. Walau aku belum memeprcayainya seratus persen, tapi niatnya membuatku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk tahu dan belajar lebih banyak. Jujur, keluargaku sendiri pun penuh dengan rahasia yang disembunyikan dariku. Aku tidak punya pilihan lain untuk mempercayai ucapan Tae Dong.
[Aku baru pulang besok, suruh Hye Sung menjemputku jam 10 besok pagi]
Aku mengirimkan pesan untuk Juna. Aku sudah membackup semua dataku dari ponsel sebelumnya dan memindah semua informasinya di ponsel yang baru aku beli tadi.
[Apa kau kini jadi kekasihnya?]
Juna masih belum tidur, ia membalas pesanku dengan cepat. Aku menyingkir dari sisi Seo Jin untuk menelepon Juna.
“Apa aku tidak boleh melakukannya?” tanyaku begitu Juna mengangkat panggilanku.
“Bukannya kau menyukai anak itu?”
“Hoon maksudmu?”
“Tentu saja, apa ia benar-benar mencampakkanmu? Atau kau sedang mempermainkan mereka berdua? Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukannya!” suara Juna terdengar lebih keras saat memberiku ancaman.
“Atas dasar apa kau melakukannya? Emansipasi sesama laki-laki?”
“Ya, bisa di bilang seperti itu! Nuna, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Tidak ada, aku tiba-tiba memiliki janji dengan temanku. Aku pergi begitu saja dan lupa berpamitan. Aku justru terkejut kenapa Seo Jin bisa jatuh dari lereng...”
“Ponselmu?”
“Kau tahu kan aku sangat teledor? Aku tidak tahu dimana aku menjatuhkannya tadi...”
Aku cukup pandai berbohong kan?
“Kau tidak memiliki teman di Korea dan dan kau bertingkah di luar kebiasaanmu...”
“Siapa yang bilang aku tidak memilikinya dan tahu apa kau tentang kebiasaanku? Apa kau memasang CCTV 24 jam selama tujuh hari padaku sehingga kau bisa sebegitunya mengenalku?”
Juna tidak menjawab pertanyaanku. Ini membuat kecurigaanku semakin beralasan. Ia pasti sudah memasang alat pelacak di ponselku sebelumnya hingga ia tahu aku ada di mana dalam waktu singkat.
“Ada yang ingin kau tanyakan lagi?”
“Tidak, aku akan menyuruh Hye Sung untuk menjemputmu besok...” kata Juna lalu ia mengakhiri panggilan.
Aku kembali mendekat pada Seo Jin untuk memastikan keadaanya sekali lagi sebelum aku berbaring di tempat tidur. Aku harus tidur agar aku tetap waras untuk menghadapi hari esok. Aku memaksakan mataku untuk terpejam. Mengsugesti diriku untuk tenang.
***
Aku mengerjapkan mataku begitu aku terbangun dari tidur. Aku langsung menghampiri Seo Jin yang masih tertidur dan memastikan keadaannya. Tidak ada yang aneh. Aku lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukaku agar lebih segar.
“Zoey! Uh..” aku menoleh begitu mendengar seseorang memanggilku. Aku buru-buru keluar dari kamar mandi dan melihat Seo Jin yang kini sudah duduk sambil memegang dadanya dengan ekspresi penuh kesakitan.
“Ada apa! Oppa kenapa?” aku langsung meraih kedua bahunya dan membantunya.
“Ah, aku kira aku hanya mimpi...” tanpa aku duga Seo Jin langsung memelukku. Tubuhnya bergetar saat menahan rasa sakit sekaligus emosinya.
“Bukan...” aku mengusap punggungnya dengan hati-hati untuk menenangkannya. Aku bisa mendengar dengan jelas suara detak jantungnya yang seirama dengan tarikan nafasnya.
Cklik...
Aku menoleh dan melihat Manajer Jo yang kini terpaku di bingkai pintu. Ia terkejut melihat pemandangan di hadapannya. Aku pelan-pelan melepaskan pelukanku dan memberi tahu Seo Jin bahwa manajernya datang. Tapi laki-laki itu tidak melepaskan pelukannya.
“Aku akan kembali nanti...” kata Manajer Jo sambil menutup pintu.
Manajer Jo akhirnya masuk setelah memastikan tidak ada seseorang di lorong rumah sakit. Ia lalu membantu Seo Jin untuk kembali berbaring. Tatapan matanya penuh dengan tanda tanya. Ia tak menyangka akan bertemu denganku pagi-pagi seperti ini setelah peristiwa kemarin.
“Anda yang terus bersamanya, Zoey-ssi?”
“Ya, tadi malam. Atas seijin Direktur Ahn...”
“Apa Anda tidak tahu apa yang telah Anda lakukan jika ada seseorang yang melihat kalian berdua seperti itu? Lalu kemana Anda kemarin hingga tidak tahu bahwa Seo Jin hyung hampir celaka gara-gara Anda!” aku tidak menyangka Manajer Jo bisa marah seperti itu dan anehnya aku memahami semua kekhawatirannya.
“Jangan kau limpahkan semua kekesalanmu padanya...” Seo Jin memasang wajah memelas, aku baru tahu ia memiliki sisi ini, “kau pasti belum tidur semalaman karena mengurus berbagai jadwalku yang berantakan ya? Makannya kau kesal?”
“Hyung-nim pikir!” Manajer Jo menjatuhkan dirinya sendiri di atas kursi dan memulai pidato panjangnya tentang semua jadwal Seo Jin yang harus di kosongkan selama tiga minggu. Jadwal tour dunianya dan juga berbagai iklan yang harus di rescedule ataupun terpaksa di ganti oleh member lainnya. Ia tidak bisa menyalahkan Seo Jin sepenuhnya hingga ia hanya menumpahkan kekesalannya seperti itu. Aku ikut merasa bersalah dengan apa yang terjadi. Aku memang sudah menduga bahwa pekerjaan Seo Jin memang banyak tapi tidak sampai sebanyak itu. Ternyata aku salah.
“Lalu? Apa kalian kini pacaran?” tanya Manajer Jo serius, “aku harus menyiapkan satu pekerjaan lagi jika itu memang terjadi!”
“Iya...” jawab Seo Jin pelan.
“Apa? Siapa?” tanyaku kaget.
“Kenapa reakismu begitu! Apa kau hanya mempermainkanku?” Seo Jin lebih terkejut lagi melihat reaksiku.
“Aku belum pernah pacaran! Apa pacaran bisa terjadi dengan mudah seperti itu? Tanpa konfirmasi lagi?” pertanyaan bodoh! Kali ini aku mengutuk diriku sendiri karena menanyakan hal itu.
“Apa kau mau jadi pacarku Park Zoey?” tanya Seo Jin tiba-tiba.
“Apa kita harus mengikat hubungan kita dengan pacaran?”
“Apa kau mau membuatku gila Zoey?” Seo Jin menatapku dengan penuh emosi. Aku tahu ia merasa tidak adil dengan apa yang terjadi padanya dan apa yang aku lakukan padanya tadi malam. Aku secara langsung telah memberinya harapan. Tapi aku masih memiliki masalah terkait satu hal ini dan Seo Jin belum tahu kalau aku dijodohkan.
“Ya Tuhan...” Manajer Jo memegangi kepalanya yang tiba-tiba terasa pening, ia lalu berdiri dan berjalan keluar kamar, “aku akan beli sarapan. Kalian selesaikan dulu masalah ini...”
“Kemarilah...” Seo Jin menepuk tepi tempat tidurnya, menyuruhku untuk mendekat. Aku menuruti kata-katanya dan duduk di sana dengan perasaan bersalah.
Seo Jin memegang pergelangan tanganku, “Jelaskan padaku alasannya.”
“Aku...aku tinggal di luar negeri setelah aku lulus SMA. Kepulanganku ke Korea ini bukan karena keinginanku”, aku bingung mau menjelaskannya dari mana sehingga aku memutuskan untuk memulai dari kepulanganku, “Ayahku memaksaku pulang karena ia berniat menikahkanku dengan Keluarga Hwang...” aku takut-takut melirik wajahnya untuk melihat reaksinya.
“Kau mau?”
“Tentu saja tidak!” aku menjawabnya dengan cepat, kalau aku mau aku tidak mungkin kan aku di sini saat ini?
“Lalu apa masalahnya?”
“Ini bukan hanya menyangkut perasaan, tapi ini menyangkut perusahaan dan harta warisan.” Aku menatap Seo Jin dengan sungguh-sungguh sambil mengeratkan genggaman tanganku padanya, “Oppa, biarkan aku menyelesaikan ini dulu. Aku tidak ingin Oppa terluka lagi. Kemarin ini sudah cukup...”
“Apa itu berati kau akan berurusan dengan orang itu?” aku mengangguk. Mo Tae Dong adalah pisau bermata dua, aku tidak tahu dia akan melukai pihak mana sehingga aku harus hati-hati berurusan dengannya.
“Dia bukan orang biasa Zoey, dia berbahaya...”
“Aku tahu...” aku tidak yakin dengan ucapanku, aku sendiri tidak tahu mana pihak yang paling berbahaya, keluargaku atau Mo Tae Dong.
“Aku merasa sangat tidak adil membiarkanmu berjuang sendiri...”
Aku menggeleng mendengar pernyataannya, “Oppa tidak perlu melakukan apapun. Oppa hanya perlu menjadi tempatku berpulang, saat ini, aku tidak punya rumah untuk pulang...”
“Biarkan aku memelukmu...” aku mendekat dan menyambut permintaan Seo Jin. Aku mendekapnya dengan tujuan meyakinkannya dan juga memantapkan diriku sendiri.
“Akh....”
Aku tertawa, melupakan fakta bahwa ia sedang terluka.
***