
Aku pulang dari kantor lebih cepat dari biasanya. Setelah adegan tak terduga itu aku tidak bisa konsentrasi ke pekerjaanku dan cenderung uring-uringan. Aku tidak menyukai sisi dari diriku yang seperti ini, tapi ternyata aku tidak bisa mengendalikannya. Hye Sung yang paham akan situasiku langsung mengubah ulang semua jadwalku dan mengajakku pulang.
Saat aku sampai di homestay, aku melihat mobil SUV Maserati berwarna hitam sudah terparkir di garasi rumahku. Aku langsung menoleh pada Hye Sung yang duduk diam di sampingku.
“Bukan saya, itu instingnya sebagai laki-laki dan itu yang diam-diam sedang Nona harapkan kan?” tebak Hye Sung.
“Kau pikir aku mengharapkannya?” tanyaku terkejut.
“Apa saya salah?” Hye Sung hanya menggeleng pelan, “Anda tidak bisa fokus ke pekerjaan Anda setelah acara tadi sore. Apa Anda akan terus keras kepala dan membawa masalah ini berlarut-larut? Bukankah ini waktunya Anda untuk fokus ke pekerjaan?” cerca Hye Sung dengan sedikit nada tinggi.
“Kau benar-benar...semakin lama kau semakin mengaturku!”
“Bukankah Anda membayar saya untuk itu?” Hye Sung melepas sabuk pengamanku dan menyuruhku untuk keluar.
“Kau meninggalkanku sendiri lagi?” aku tidak menyangka dengan sikapnya. Kenapa percaya sekali dengan Seo Jin?
“Kalau Tuan Seo Jin melakukan sesuatu dengan Anda, Anda pasti bisa melawannya dan kemungkinan itu sangat kecil. Saya juga tidak mau menyaksikan pertengkaran sepasang kekasih. Itu bukan tontonan yang menarik bagi anak kecil...” kata Hye Sung dengan santainya.
“Kalau kau menganggap dirimu anak kecil, kau pikir aku sudah tua?”
“Ya, Anda cukup tua untuk menyelesaikan masalah ini kan? Apa Anda masih perlu bantuan saya?” Hye Sung menekan kata tua yang membuatku semakin naik darah. Aku turun dari mobil tanpa mengatakan apapun lagi. Berbicara dengan Hye Sung membutuhkan banyak energi dan banyak latihan untuk menahan diri karena apa yang dikatakan Hye Sung lebih banyak benarnya.
Begitu aku turun dari mobil, ia langsung pergi meninggalkanku. Aku hanya menatap kepergiannya dengan pasrah lalu berbalik menatap mobil di hadapanku dengan malas. Tidak, apa aku harus menghadapinya sendiri? Saat ini? Tiba-tiba aku merasa malu dengan tingkah kekanankanku tadi. Tapi dia juga salah kan? Salah apa?
Aku berjalan masuk ke dalam rumah dan tidak mendapati siapa pun di dalamnya. Satu-satunya sumber suara adalah TV yang menyala di ruang keluarga. Aku berjalan mendekat dan mendapati Seo Jin yang tangah berbaring di atas sofa. Saat aku melihat wajahnya, ia ternyata sedang tertidur dengan lelap. Aku menoleh ke sekeliling rumah dan tidak mendapati asisten rumah tanggaku. Apa dia juga sudah pergi?
Aku meletakkan tasku pelan-pelan lalu duduk di lantai di sampingnya. Jujur ini baru pertama kalinya aku benar-benar mengamati wajah Seo Jin yang sedang tertidur dari jarak yang begitu dekat. Sebelumnya, jika aku melihatnya berada di sampingku yang aku lakukan pasti kabur atau mengalihkan pandanganku. Benar-benar terlihat manis. Tanpa aku sadari aku tersenyum sendiri.
“Kenapa Oppa tidak menghapusnya?” tanpa aku sadari lagi, aku bergumam saat jemariku menelusuri bekas luka yang ada di pipinya. Tadi saat di kantor luka itu tertutup sempurna oleh make up, namun bekas luka itu terlihat saat ia tidak mengenakan make upnya seperti ini.
“Kau sudah pulang?” aku terkejut saat tiba-tiba Seo Jin membuka matanya. Tangan Seo Jin langsung menyambar tanganku dan mengecup telapak tanganku lembut.
“Oppa sudah lama di sini?”
Seo Jin melihat jam tangannya, “belum, satu jam mungkin. Asistenmu langsung pergi begitu melihatku datang. Dia juga berpesan kalau dia sudah menyiapkan makan malam...Hye Sung?” tanyanya begitu tidak melihat Hye Sung.
“Dia juga pergi begitu melihat mobil Oppa di depan...”
“Orang-orangmu sangat loyal padaku...” Seo Jin terkekeh lalu menarik tubuhku agar tidak duduk di lantai dan berpindah di sofa yang ada di sebelahnya. Seo Jin menyandarkan dahinya di pundakku dan berbisik, “jangan marah, aku benar-benar takut. Aku takut tapi aku juga bahagia, bagaimana menurutmu?”
“Apa maksud Oppa kalau begitu?” aku juga ikut bingung.
“Aku tahu kau marah dengan keadaan tadi, tapi aku juga sadar bahwa kau benar-benar menyukaiku. Aku harus minta maaf atau berterima kasih?” ia mengangkat kepalanya dari bahuku.
“Aku tahu kalau aku tidak seharusnya bersikap seperti itu. Tapi aku benar-benar tidak menyukainya...” kataku jujur. Aku memang tidak seharusnya marah dengannya. Semua perasaan itu muncul dari dalam diriku karena prasangka yang belum tentu kebenarannya.
“Semua ini merupakan hal yang baru untukku. Jadi, aku juga minta maaf...”
“Kau belum pernah pacaran?” jawabanku membuat Seo Jin terkejut, “apa yang kau lakukan selama ini kalau kau tidak pernah sekalipun pacaran?”
“Apa Oppa sudah sering kalau begitu?” pertanyaanku seperti bomerang untungnya. Ia terdiam sebentar untuk memilih kalimat apa yang tepat untuk menceritakannya padaku.
“Aku akan bohong kalau aku mengatakan aku belum pernah pacaran. Tapi sejujurnya, dalam dunia kami, pacaran itu sangat melelahkan Zoey. Jika aku pacaran dengan sesama artis, itu akan sangat berdampak pada pekerjaan dan juga emosional kami karena kami harus mencari jadwal yang sama-sama kosong untuk bertemu. Sedangkan kalau dengan non selebriti, banyak kesalahpahaman yang bisa muncul karena sebagaian dari mereka tidak paham mengenai rutinitas aktivitas kami...” aku bisa menerima dengan jelas cerita yang Seo Jin sampaikan dan memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
“Aku benar-benar ingin sepenuhnya mengakuimu Zoey, apa kau keberatan meninggalkan semua yang kau miliki dan datang padaku? Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadapmu?” pertanyaan Seo Jin yang begitu tiba-tiba membuatku tak mampu berkata-kata. Apa aku salah dengar.
“Aa..apa.. Oppa bilang a..pa...?” aku tiba-tiba merasa seluruh isi perutku dipenui oleh bunga-bunga yang bermekaran.
“Maukah kau menikah denganku? Will you marry me?” tanyanya serius sambil memegang kedua tanganku.
“What? Why? No! Ah tidak maksudku, apa Oppa benar-benar yakin?” aku gagap sendiri dan tak tahu harus bagiamana, “Oppa bukan orang biasa! Oppa harus... harus bilang ke fans Oppa...Oppa...”
“Aku sudah bertanya ke perusahaan terlebih dahulu sebelum datang ke sini dan meyakinkanmu. Aku sudah di umur yang pantas untuk menikah Zoey dan aku benar-benar menginginkanmu...” manik mata Seo Jin bergetar saat berusaha untuk meyakinkanku. Aku menatap keduanya dengan berkaca-kaca, “fans ku juga sudah banyak yang menanyakannya... itu bukan sesuatu yang harus kau pikirkan, itu adalah bagianku, Zoey...”
“Tapi...apa yang aku miliki saat ini adalah palsu. Apa jika semua kepalsuan itu hilang, Oppa masih mau menerimaku?” tanyaku dengan suara bergetar.
“Itu bagus, aku bisa mengambilmu seuntuhnya. Kita bisa memulainya lagi dengan harapan yang lebih berarti...” Seo Jin sekali lagi mencium tanganku, “will you marry me?”
Detelah berfikir cukup lama akhirnya aku menjawabnya, “Ya...”
“Benarkah? Kau mau?” Seo Jin lalu melocat berdiri saking bahagianya.
“Kalau Oppa menginginkannya...”
“Tentu saja!” Seo Jin tiba-tiba ia menarik tanganku dan saat aku sudah berdiri ia langsung meraih tubuhku dan mengangkatnya, “terima kasih...” ia mengecup bibirku pelan.
Setelah Seo Jin menurunkanku, ia memberikanku sebuah cincin yang langsung dipasangkan di jemariku. Ia mengusapnya beberapa kali seolah ia belum mempercayai apa yang terjadi. Walau cincin itu terlihat biasa, aku sangatmenyukainya karena aku memang seseorang yang tidak menyukai aksesori yang berlebihan dan Seo Jin ternyata menyadarinya. Ia memilih cincin polos dengan ukiran di kedua Sisinya.
Seo Jin menemaniku makan malam lalu ia memastikan aku tertidur terlebih dahulu sebelum pergi. Ia tidak memberitahuku sebelumnya, tapi keesokan paginya, setelah aku bangun tidur dan bertemu dengan Hye Sung, ia memberikan tabletnya yang berisi headline berita pagi ini.
[SG Idol Han Seo Jin Mengumumkan Rencana Menikahi Kekasih Non-selebritinya]
Aku menatap Hye Sung kaget. Ia hanya menggeleng dan kembali meminta tabletnya.
“Apa yang kalian lakukan tadi malam telah membalikkan seisi dunia. Bahkan saham kita saja bisa naik karena berita ini...” Hye Sung terlihat puas dengan berita itu dan kembali sibuk memperhatikan pekerjaannya tanpa menghiraukanku yang masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Aku bahkan tidak yakin kalau aku sudah bangun dari mimpi.
***