
Hari ini hari Minggu dan masih pukul sembilan pagi. Aku sedang bersantai di rumah sambil menonton TV ketika asisten rumah tangga kami mengetuk pintu kamarku. Ia memberitahuku untuk segera menemui Ayah di ruang bacanya yang ada di lantai dua.
Hatiku berdebar saat berjalan menaiki lantai dua menuju ruang baca Ayah. Ini pertama kalinya Ayah memintaku untuk bertemu dengannya di ruangannya. Sesuatu yang baru bagiku dan hal ini tak ayal membuatku takut sekaligus penasaran dengan apa yang akan dibicarakannya di dalam sana.
Tidak ada masalah yang cukup berarti di kantor, semuanya justru berjalan dengan lancar dan terkendali. Suasana rumah ini juga cukup manusiawi setelah aku pulang dari rumah sakit. Benar-benar atmosfer baru yang membuatku merasa rumah ini seperti 'rumah' yang ada di dalam bayanganku.
Aku mengetuk pintu ruang baca itu tiga kali sebelum melangkah masuk. Aku melihat Ayah duduk di belakang meja sambil membaca beberapa dokumen. Aku berdiri sambil meremas tanganku di depan meja, “Appa...”
“Oh, duduklah...” Ayah kemudian berdiri dan mengajakku duduk di sofa yang ada di samping kanan meja kerjanya. Aku mengikuti langkah beliau dan duduk berhadapan dengannya. Aku memilih untuk diam, menunggu apa yang ingin Ayah bicarakan padaku.
“Kau kenal dengan putra Nyonya Ahn?” Ayah menanyakan hal yang tidak pernah aku duga. Kenapa beliau menanyakan tentang Seo Jin?
“Iya, aku bertemu dengannya sebagai rekan bisnis...” hati-hati aku menjawab. Aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi.
“Bertemanlah dengannya, dia anak yang cerdas dan baik, Appa menjadikannya sebagai ambassador di berbagai kegiatan dan produk komersil yang dibuat perusahaan. Kau akan sering bertemu dengannya nanti...” aku belum mengerti benar arah pembicaraan ini sehingga aku hanya mengangguk mengiyakan perkataan Ayah. Aku yakin Seo Jin memiliki tempat tersendiri di mata Ayah yang membuat Ayah memujinya seperti itu.
“Besok kau ada meeting dengan Perusahaan JM kan? Suruh orang lain melakukannya...” aku hendak protes dengan perintah Ayah yang begitu tiba-tiba. Tapi aku lagi-lagi memilih untuk diam dan mendengarkan terlebih dahulu. Aku sempat membuka berberapa file terkait dengan aktivitas yayasan dengan mereka dan aku tidak menemukan apapun. Oleh karena itu, ini pertama kalinya Perusaan JM membuat tawaran kegiatan bersama dengan yayasan.
“Perusahaan JM memang bergerak di bidang kesehatan dan obat-obatan. Mereka memiliki potensi yang bagus untuk bekerja sama dengan yayasan, tidak salah jika kita harus menerimanya dan kita juga tidak bisa menolaknya karena ini sifatnya donasi yang peruntukkannya tidak untuk kita...” aku mengangguk mengiyakan perkataan Ayah. Benar, yayasan selalu menerima dengan hangat setiap donasi yang diberikan untuk berbagai lembaga sosial dan panti. Yayasan tidak berhak untuk menolak karena secara tidak langsung itu menolak uluran tangan atau bantuan dari orang lain.
“Tapi Zoey, Appa khawatir kau akan bertemu dengan Direktur Mo...” aku melipat dahiku tanda aku tidak mengerti apa yang hendak disampaikannya, "Appa yakin ia sengaja menggandeng yayasan kita karena kau ada di sana..." Ayah mengamatiku yang masih termenung, tak mengerti kenapa Ayah mengkhawatirkanku.
“Kau tidak tahu?” Ayah justru terkejut melihat aku yang tetap bersikap tenang setelah memberitahu nama orang yang bekerjasama dengan yayasan.
“Dia adalah orang yang berniat mencelakakanmu, Zoey...”
DEG!
Tiba-tiba tanganku bergetar, aku mencengkeram tanganku dengan kuat. Hal ini benar-benar di luar dugaanku. Rasa takut dan jeri itu langsung merembes pelan ke hatiku. Apa yang harus aku lakukan?
“Bagaimana...” aku bahkan tidak mampu untuk mengatakannya. Sebenarnya aku belum banyak mencari tahu tentang siapa yang mengincarku selama ini. Aku hanya tahu kalau ia merupakan pesaing bisnis keluarga di bidang obat-obatan karena Mirae Grup juga memiliki cabang untuk kesehatan dan rumah sakit. Aku tidak pernah membayangkan kami akan bertatap muka sebagai sesama profesional. Apa aku bisa memisahkan masalah pribadi dengan perusahaan?
“Orang itu seperti belut Zoey, ia sangat licin. Butuh banyak bukti untuk bisa menangkapnya. Pekerjaannya bersih sehingga sulit sekali untuk bisa melaporkannya ke pihak berwajib...” Ayah menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran, “perusahaan mereka mungkin kecil Zoey, tapi Keluarga Mo terkenal dengan kegiatan di bawah tangannya. Mereka memiliki berbagai perusahaan yang mungkin pendapatannya melebihi perusaan kita...”
Aku paham sekali dengan bisnis ini. Shadow economy, Illegal economy, perusahaan-perusahaan ini merupakan perusahan yang berkerja secara ilegal di bawah payung perusahaan legal. Hasil pendapatannya tidak dilaporkan ke pemerintah sehingga mereka terbebas dari pajak dan bebas dari jerat hukum yang berlaku dengan permaian yang sangat rapi. Sulit sekali menjerat mereka dengan bukti yang kuat. Biasanya mereka bergerak di bidang obat terlarang, bisnis prostitusi, bar, bahkan senjata.
Walau dalam aturan yayasan tidak diperbolehkan menerima donasi dari hasil yang illegal namun mereka menggunakan nama perusahaan JM untuk acara amal itu. Tentu saja yayasan tidak memiliki bukti bahwa kegiatan mereka illegal. Apa yang harus aku lakukan? Tapi lebih dari itu ada satu hal yang membuatku penasaran.
“Kenapa orang itu mengincarku?” tanyaku akhirnya. Walau aku takut mendengar jawabannya, tapi ini masalah yang harus aku selesaikan. Aku harus tahu kenapa laki-laki itu mengincarku.
“Appa menolak lamarannya. Tidak hanya sekali, tapi berulang kali...” aku mematung mendengar jawaban Ayah. Tentu saja beliau tidak akan mengijinkannya, Ayah mana yang mau menyerahkan anaknya untuk terjun ke neraka?
Hatiku terasa ngilu saat menyadari sesuatu. Aku mengigit bibir bawahku untuk menahan emosi yang bergemuruh di hatiku, kesadaraan itu seolah siap meluap bersamaan dengan isak tangis dan air mata.
Bukan uang yang menjadi tujuan utama Ayah dan Dany Oppa selama ini!
Aku keliru, sungguh keliru.
Jika uang, kekayaan, dan kekuasaan yang diinginkan mereka. Menikahkan aku dengan Keluarga Mo akan lebih menghasilkan banyak uang daripada menikahkan aku dengan Keluarga Hwang. Wasiat dan warisan itu tidak akan bisa menyaingi hasil yang dihasilkan joint venture antara Mirae Grup dengan aktifitas shadow economy Perusahaan JM.
Lalu, kalau bukan uang, kenapa Ayah melakukannya? Kenapa Ayah tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku lahir sebagai anak perempuannya? Kenapa Dany Oppa berubah? Kenapa aku harus mengalami penderitaan ini? Apa yang sebenarnya tidak kuketahui?
“Keluarga ini sangat menyayangimu...” suara Juna tiba-tiba terngiang di telingaku.
Aku menutup mulutku rapat-rapat untuk menahan luapan parasaanku saat air mataku sempurna jatuh dari pelupuk mata. Aku bisa melihat Ayah yang terkejut melihatnya. Beliau mendorong kotak tisu di atas meja ke arahku.
“Aku akan menghubungi Nyonya Ahn agar ia mencarikan penggantimu besok...” Ayah berdiri hendak mengambil handponnya. Aku meraih jemari tangan beliau, menahannya.
“Aku akan bertemu dengannya...” kataku lirih sambil menggenggam tangan Ayahku yang sudah penuh dengan keriput. Aku tidak pernah sekalipun memperhatikan tangannya seperti ini. Sekeras apapun penolakan Ayah yang dilakukan padaku, tangan ini tak pernah sekalipun melukaiku. Aku justru ingat tangan inilah dulu yang selalu mendorongku untuk maju. Aku menaruh tangan Ayah di keningku, berusaha agar aku bisa mendapatkan keberanian lagi darinya.
“Bawa Juna atau Dany bersamamu. Aku akan menyuruh Jong Sik untuk menjagamu besok...” aku bisa mendengar nafas berat Ayah saat mengatakannya. Walau beliau berat melepaskanku untuk bertemu dengan iblis itu, beliau juga menyadari bahwa tanpa menghadapinya secara langsung, kita tidak akan pernah tahu di mana letak kelemahannya.
Perasaanku begitu kalut ketika aku berjalan kembali ke kamarku. Salah satu tembok kebencianku runtuh hari ini. Tembok yang dibangun dengan kebencian akan harta dan tahta itu perlahan luruh, tapi bukan perasaan bahagia yang aku rasakan. Perasaan takut itu berdiri dibalik tembok sebagai sosok Mo Tae Dong. Sosok yang membuatku merasa jirih dan ngeri walau hanya dengan mengingatnya. Kini, aku harus berhadapan langsung dengannya.
Tanpa aku sadari aku menabrak seseorang. Aku mendongak untuk melihat wajahnya, begitu wajah Juna muncul di hadapanku, perasaan itu bagai banjir bandang yang menerjang pertahanan harga diriku. Aku menjatuhkan dahiku di bahunya dan mulai menangis.
Menangisi kebodohanku
Menangisi rasa kecewaku
Menangisi curahan perasaan yang aku sia-siakan selama ini
Aku salah
Aku lengah
Aku bodoh
Juna memilih diam dan mengusap punggungku pelan. Ia seolah tahu cepat atau lambat aku akan mengalami hal ini.
***