
“Akhhhh...” aku mengerang dengan susah payah saat aku tersadar dari tidurku. Aku tidak bisa melihat apapun. Seseorang membekapku dengan bantal sehingga membuat pandanganku terhalang. Orang itu menekan bantalnya semakin kuat.
Tanganku menggapai-gapai sekeliling untuk mencari sesuatu yang dapat menyelamatku dari malaikat kematian untuk kesekian kalinya. Aku hendak mengangkat tiang penyangga infusku, namun itu telalu berat sehingga aku hanya membantingnya, berharap seseorang mendengar keributan ini dan mendatangi kamarku.
Aku merasakan orang itu berdiri tepat di samping kananku, aku mengayunkan kakiku dengan sisa tenagaku. Aku bertaruh hidup dan mati, bila aku gagal mendorongnya, aku akan mati. Tapi sepertinya malaikat kematian belum mencatat namaku di daftar panggilnya karena aku berhasil menendang laki-laki itu.
Kejadian itu terjadi kurang dari satu menit. Aku berhasil mendapatkan nafasku kembali dan melihat seseorang terdorong beberapa langkah kebelakang. Ia terkejut dengan kejadian yang baru saja ia alami. Tidak menyangka usahanya gagal.
Mata kami bertemu pandang. Tubuhku seketika meremang melihat orang yang mencoba membunuku ini.
“Nyawamu tidak pernah habis seperti seekor kucing jal*ng...” desisnya sambil menatapku dengan penuh amarah.
“Sebenarnya apa maumu?” bola mataku bergetar saat menanyakannya. Ini ketiga kalinya aku berhadapan dengan laki-laki ini. Walau hati dan pikiranku bisa aku tipu dengan sejuta keyakinan dan kekuatan, tubuhku bereaksi dengan sendirinya. Tubuhku bergetar mengingat setiap detail perbuatannya padaku.
“Kalau aku tidak bisa memilikimu, lebih baik kau mati... tidak ada yang lebih baik dari itu...” ia tersenyum dingin.
“Apa maksudmu! Aku bahkan tidak mengenalmu!”
“Tapi aku sangat mengenal dirimu Zoey...” ia melangkah mendekatiku, “kau...” ia mengulurkan tangannya tapi aku tepis dengan kasar.
“Jangan pernah kau sentuh aku dengan tangan kotormu!”
“Hahahaha...Apa kau lupa aku sudah menyentuhmu? Apa kau tidak merasa dirimu kotor? Kulit halusmu...bibirmu...”
Apa yang dikatakannya membuat perutku mual. Aku tidak ingin mendengarnya, “HENTIKAN!”
“Kau tidak bisa melupakanku ternyata...” saat aku menutup mata dan telingaku, laki-laki itu duduk di sampingku, “aku menyukaimu, Zoey. Aku akan memperlakukanmu dengan baik jika kau mau jadi milikku...” suaranya membuatku bergidik.
“Pergi!”
“Jika semudah itu aku pergi, aku tidak akan repot-repot untuk masuk ke kamarmu ini...” ia berdiri dan memutari tampat tidurku, “kakakmu menyuruh banyak orang untuk menjagamu di sini...luar biasa...tapi lihat, sekarang aku ada di sini, berdua denganmu...hahaha!”
Aku meloncat dari tempat tidurku begitu ia lengah dengan ceritanya. Aku berlari ke arah pintu namun ia menyadarinya dan menghalangiku tepat ketika aku hendak meraih handle pintu. Tubuhku mau tak mau menabraknya.
“Owh, kini kau jatuh ke pelukanku...” ia terkekeh senang.
“Brengsek!” aku mendorong tubuhnya dan ketika terbentuk jarak di antara kami, aku mengangkat kakiku dan menendang dadanya. Ia menabrak pintu di belakangnya.
“Aku tidak menyangka kau telah menyiapkan dirimu untuk hari ini...” laki-laki itu tertawa puas, ada apa dengan dirinya? Apa dia gila?
“Aku benar-benar tidak boleh memandang lemah dirimu...” ia berdiri, “kita lihat, siapa yang akan menyerah, kau atau aku...” ia lalu menerjang tubuhku. Laki-laki ini tidak lagi main-main, ia benar-benar memukulku dengan tangannya saat ia berhasil membobol pertahananku.
“Bertahun-tahun aku mencoba membangun bisnisku agar bisa menghancurkan keluargamu! Tapi kau, dengan mudahnya kau membuatku menyukaimu. Aku pertaruhkan hidup dan matiku untuk bisa mendapatkan restu dari keluargamu, membuang dendam itu dengan kerja sama demi kau. Keluarga kita tidak perlu saling membunuh, keluarga kita bisa bersama-sama untuk menguasai dunia bisnis Korea!” laki-laki itu terus berbicara tidak jelas saat menyerangku dan brak! Ia menendangku hingga aku menabrak nakas di samping tempat tidur. Ia lalu menarik rambutku, membuatku melihat wajahnya.
“Kakakmu mengacaukan semuanya, dia menyembunyikanmu dariku. Bahkan keluargamu nekat menjodohkanmu dengan orang lain. Kau pikir untuk siapa? Untuk siapa aku merendahkan diriku sendiri selama ini?!”
“Aku sudah berencana untuk menculikmu malam itu, tapi lagi-lagi kakakmu mengacaukannya...” aku melotot saat mendengar kata-katanya. Bukan Dany Oppa yang meninggalkanku di dalam kamar bersama laki-laki ini? Tapi kenapa ia ada di sana?
“Tapi kau sama-sama licinnya dengan keluargamu, aku tidak tahu kau bisa meloloskan diri dariku. Kau benar-benar mempermalukanku. Awalnya aku ingin memusanahkamu...” ia menindih pahaku dengan lututnya, “tapi melihatmu sekarang membuatku berubah pikiran...”
“Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku dan membuat hatiku terluka...” tangan kanannya bergerak pelan dan mulai membuka kancing bajuku, “aku akan menjadikanmu milikku, setelah itu persetan kau mau mati di tangan siapa, melihat keluargamu menderita akan lebih menyenangkan...”
Lebih baik aku mati, aku tidak menginginkan ini. Tolong aku! Siapa saja!
Aku meronta namun tubuhnya menindihku dengan kuat. Aku berteriak saat ia merobek bajuku dan menggunakan potongan baju itu untuk mengikatku. Tanganku sudah terikat di jeruji tempat tidur. Aku jerih menatapnya. Air mataku perlahan mengalir. Kenapa aku harus mengalami kejadian ini lagi.
“Kau cantik sekali Zoey...” katanya di telingaku. Perutku mual mendengar kata-katanya. Tangannya mulai menyentuh tubuhku seenaknya. Aku hanya bisa menangis dan tergugu.
“Sial!” tiba-tiba saja laki-laki itu menghentikan perbuatannya saat mendengar suara gaduh dari luar kamar.
“Kau benar-benar kucing jal*ng Zoey, nyawamu ratusan! Sampai bertemu lagi Zoey...” laki-laki itu kemudian berlari ke arah jendela dan pergi dari sana.
Brak!
“Jangan ada yang masuk!” aku mendengar seseorang berlari ke arah arahku. Ia menutup tubuhku dengan jasnya dan melepaskan ikatan tanganku.
“Maafkan aku, Zoey...” suara laki-laki itu terdengar terluka saat mengatakannya, “lagi-lagi aku terlambat, maafkan aku...semua ini salahku...” ia mendekap tubuhku dengan erat. Aku bisa merasakan tubuhnya yang bergetar menahan seluruh emosi di dalam dirinya.
“Oppa...” air mataku mengalir. Semua kebencianku menguap begitu saja, “Dany Oppa...”
“Maafkan aku, Zoey...” suara Oppa serak saat mengatakanya.
“Jangan tinggalkan aku...” aku memohon untuk kesekian kalinya. Aku ingat, ketika tiba-tiba Oppa berubah, aku selalu memohon padanya untuk tidak pergi. Entah berapa ribuan kali aku mengatakannya, tapi ia tetap pergi. Kali ini aku mohon, untuk terakhir kalinya, jawablah doa-doaku selama ini.
“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu lagi...semua ini salahku, maafkan aku...” Oppa lalu mengangkat tubuhku dan membawaku dalam pelukannya.
“Tuan...”
“Aku serahkan semuanya padamu. Kita harus menangkapnya apapun caranya. Panggil tim investigasi khusus dan kumpulkan semua buktinya. Aku akan mengejar dia walau bahkan sampai neraka sekalipun!” suara Dany Oppa terdengar begitu dingin saat mengatakannya.
“Pasien akan kami pindahkan ke ruang VVIP dan kami akan menanggung semua biayanya...”
“Aku akan pastikan semua orang yang bertanggungjawab atas kejadian ini mendapat pelajarannya. Ini bukan rumah sakit kelas rendahan kan! Bisa-bisanya keamanan pasien kalian abaikan!”
“Kami mengerti...” orang itu mengatakannya dengan penuh ketakutan, karirnya terancam akan berakhir malam ini, “cepat bawakan kursi roda!”
“Tidak perlu! Kau tidak lihat aku sudah membawanya!”
“Si...silahkan...”
“Zoey...” aku mengencangkan peganganku dan menyembunyikan wajahku di bahu Oppa saat ia menurunkanku di atas tempat tidur.
“Kau harus ganti baju dan dokter perlu memeriksamu, tapi mereka tidak bisa melakukannya jika kau tak melepaskanku...”
Aku tetap tidak bergeming. Aku tak ingin melepaskannya.
“Semuanya sudah baik-baik saja sekarang...” katanya lagi.
“Baiklah, lepaskan tanganmu dan sebagai gantinya pengang tanganku, aku akan duduk di sini dan menemanimu, bagiamana?”
Aku menerima tawarnnya dan menggengam tangannya. Aku masih menyembunyikan wajahku di samping pahanya.
“Tak apa, aku kakak kandungnya...” aku mendengar Oppa berusaha meyakinan perawat itu saat akan mengganti bajuku di hadapannya.
Setelahnya, beberapa dokter masuk ke ruangan. Mereka kembali memasang infus dan juga memeriksa luka baruku. Banyak memar di banyak tempat. Mereka menyarankan untuk melakukan CT scan tapi aku menolaknya. Aku tidak apa-apa.
“Besok, setelah kondisi mentalnya lebih baik...” kata Oppa menyuruh mereka pergi.
“Aku tidak gila...” kataku lirih.
“Aku tidak percaya...” Oppa mengusap rambutku lembut, “aku akan menemanimu malam ini, jangan khawatirkan apapun...” Oppa hendak berdiri tapi aku tidak melepaskan tangannya.
“Jangan bilang kalau kau masih tidak bisa tidur sendirian di tempat tidur sebesar ini?” Oppa tertawa menggodaku. Walau aku membenci situasinya saat ini, tapi tawanya yang aku rindukan itu terdengar begitu menyenangkan di telingaku.
Tapi saat aku mengangguk, Oppa berhenti tertawa, “kau tidak bercanda?”
Aku menggeleng. Dia menatapku penuh dengan rasa bersalah.
Oppa kemudian mematikan lampu utama dan berbaring di sampingku. Ia menarikku dalam pelukannya, “hanya malam ini, aku akan memelukmu seperti dulu lagi Zoey kecilku...”
Kalimatnya sederhana, tapi itu mengetuk pintu maafku untuknya.
“Nah, dengarkan Oppa baik-baik, Zoey...” Oppa menarik nafasnya dalam-dalam, “malam ini aku akan mencabut kutukan itu. Setelah malam ini berlalu, kau tidak akan terjebak dalam kutukan itu...”
Dany Oppa lalu menepuk bahuku tiga kali dan mengecup dahiku lembut, “hari ini kau bebas...”
Aku tidak tahu, pintu maaf itu dapat dibuka dengan mudahnya. Rasa benci bisa menguap dengan begitu cepatnya, rasa cinta bisa datang dalam sekejap mata. Tidak hanya hatiku yang dibanjiri rindu, tapi air mataku tertumpah sebanyak kerinduan itu.
“Unni-mu pasti tidak akan percaya ketika aku mengatakan bahwa adikku yang berusia 33 tahun memintaku untuk tidur sambil memeluknya. Ia bisa saja cemburu dan membunuhku...”
Aku tidak peduli.
***