Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 29; Menjadi Akrab



“OPPA!”


Seo Jin terkejut, semua orang yang ada di dalam ruangan itu terkejut.


Matilah aku. Aku tak ingin memanggilnya seperti itu, akan tetapi jika aku tak mengentikannya ia bisa berbicara sembarangan. Kini aku bisa merasakan pipiku yang memanas dipandangi oleh banyak orang termasuk oleh Seo Jin yang menganga di depanku.


“Kita sedang bekerja, kumohon jangan memperlakukanku seperti anak kecil seperti ini...” aku mengigit bibirku, mataku memberikan isyarat agar ia segera sadar bahwa kami tidak hanya sendiri di ruangan ini.


“Hyung kenal dengan Zoey-ssi...” tanya Subin begitu Seo Jin tersadar dari keterkejutannya.


“Oh, ah iya. Kami sudah lama saling mengenal. Ia teman dari Hoon, kau ingat Hoon?” Seo Jin melepas tangannya perlahan dan berjalan mendekati Subin.


“Ya, aku ingat...”


“Aku kenal Zoey dari dia dan kami bertemu kembali saat aku ke studionya beberapa minggu yang lalu...” kata Seo Jin  berbohong, ya walaupun tidak sepenuhnya salah.


Aku hanya bisa menahan tawa melihat Seo Jin yang berusaha menutupi kebohongannya. Aku hampir tidak bisa mempercayai apa yang aku lihat. Laki-laki ini tidak pandai berbohong, wajahnya telihat sangat pucat saat mengatakannya.


“Begitu...” walau Subin tidak bertanya lagi, ia melirik hyung-nya itu dengan tatapan penuh kecurigaan. Jarang sekali Seo Jin kehilangan kompisisinya seperti tadi.


Meeting kami selesai tiga puluh menit kemudian. Member SG idol sudah pergi satu persatu dan kini hanya tinggal Seo Jin di temani oleh Manajer Jo. Ia tak henti menatapku yang memberikan instruksi pada Soo Ah untuk merapikan baju. Syukurlah tidak ada masalah hari ini dan semua berjalan dengan lancar.


“Punggungnya bisa berlubang kalau kau melihatnya seperti itu...” Manajer Jo mengingatkan Seo Jin.


“Sssttt...” Seo Jin hanya meletakkan telunjukknya di depan bibir.


“Aku pamit ya...” kataku begitu kami selesai.


“Kenapa buru-buru?” mendengar pertanyaan Seo Jin membuatku mengernyitkan dahi. Aku sudah berada lebih dari dua jam di sini dan ia bilang aku buru-buru? Bukannya wajar jika aku pulang ya?


“Ada yang ingin Seo Jin-ssi bicarakan padaku?” tanyaku hati-hati.


“Pekerjaanmu kan sudah selesai, kenapa kau memanggilku Seo Jin dan bukan Oppa?” wajahnya terlihat begitu kecewa.


Aku tidak mengerti kenapa Seo Jin menjadi aneh seperti itu. Ia tak hentinya menatapku dengan wajah yang tak dapat ku artikan maksudnya. Khawatir? Kecewa? Atau apa? Aku sekali lagi pamit ke arah Manajer Jo dan sengaja tidak menghiraukan Seo Jin.


“Temani aku makan...” ajaknya tiba-tiba sambil meraih lengan kiriku. Aku memandangnya bingung? Kenapa aku? Why?


Manajer Jo juga kebingungan dengan sikap artisnya itu. Ia menatapku dan Seo Jin bergantian memastikan bahwa kami tidak sedang bercanda.


“Apa Oppa sudah gila?” aku seolah mewakili Manajer Jo mengatakan itu karena ekspresinya terlihat menyetujui ucapanaku, “makan bersama? Kita? Oppa ingin membuat scandal?”


“Kita makan di kantin perusahaan ini saja...” Seo Jin belum juga melepaskan tangannya, “ayolah, sudah lama kita tidak berjumpa, kau ingin pergi begitu saja tanpa memberikan penjelasan apa yang terjadi padamu, huh?”


“Apa Oppa tidak punya jadwal kerja?” aku melirik ke arah Manajer Jo, meminta dukungannya.


“Masih ada satu jam, kalau kalian cuma makan di kantin tak masalah. Jangan lupa ke ruang latihan pukul tujuh...” aku melongo mendengar jawaban Manajer Jo. Aku kira ia akan menghentikan apa yang Seo Jin lakukan. Tapi kini ia justru meninggalkan kami seperti ini begitu Seo Jin mengatakan hanya akan makan di kantin perusahaan.


“Saya akan pergi lebih dulu Zoey-ssi...” pamit Soo Ah tiba-tiba.


“Kau mau ke mana?” handrik ku. Apa ia juga akan meninggalkan kami berdua seperti ini? Bukankah Soo Ah fansnya? Dia tidak cemburu idolanya makan bersama dengan wanita?


“Saya akan mencari Hye Sung Unni...” aku menghela nafas pasrah dengan tingkah orang-orang ini. Aku melepaskan tangan Seo Jin dan mengambil tasku. Aku memberikan kartu pada Soo Ah sebelum ia keluar dari ruangan.


“Beli makanan yang kalian mau, nanti aku akan menghubungimu begitu kami selesai...” Soo Ah hanya menanggapi ucapanku dengan anggukan.


“Soo Ah-ssi...” panggil Seo Jin sebelum Soo Ah pergi, “aku dengar kau adalah fans kami? Nanti aku kirim album kami lengkap dengan tanda tanganya melalui Zoey, terima kasih...”


“Whaattt? Lalu aku?” aku bisa melihat dengan jelas wajah bahagia dari Soo Ah. Aku yakin dia seolah-olah terbang ketika berjalan keluar dari perusahaan ini karena terlalu senang.


“Kau akan mendapatkan apapun yang kau mau Zoey...”


Lagi-lagi aku menghela nafas dengan sikap gentelmen-nya. Ia memang laki-laki yang aku pikir bisa memikat hati wanita manapun termasuk aku. Aku menggeleng cepat membayangkan hal yang mustahil itu. Aku teringat hubunganku yang tidak berjalan baik dengan Hoon. Setelah pulang dari rumah sakit sampai saat ini Hoon belum menghubunginya. Pesan dan telpon dariku pun tidak dijawab oleh Hoon. Ke mana anak itu sebenarnya?


“Hoy, kenapa malah melamun sih?” aku terperanjat saat Seo Jin menjentikkan jarinya di depan wajahku.


“Jadi makan?”


Berbagai hidangan telah disajikan, ada juga menu pesan yang terdapat di beberapa counter di kantin. Aku melihat menunya yang ternyata sangat memperhatikan sekali besar gizi dan kalorinya. Aku baru menyadari bahwa menjadi artis sangatlah susah. Makanan mereka sangat ketat sekali. Tidak diragukan lagi kenapa mereka bisa memiliki figur seperti itu.


“Kau ingin pesan apa?” tanya Seo Jin dari belakangku, lagi-lagi membuatku terkejut.


“Aku ingin yang manis-manis...” aku melihat menu itu tapi tidak ada yang menarik perhatianku.


“Kau suka croissant?” aku menengok lagi daftar menu itu tapi tidak menemukan apapun di sana. Aku menatap Seo Jin bingung dan mengangguk begitu saja, “minum apa?”


“Ice Green Tea Latte...” aku mengembalikan menu itu di atas counter.


“Croissant satu, Ice Green Tea Latte Satu, Ice Americano satu...” setelah selesai memesan itu, Seo Jin mendorongku ke meja lain. Aku melihat banyak makanan Korea dan Jepang yang sudah tersaji. Seo Jin mengambilkanku piring dan menyuruhku untuk mengambil apapun yang ingin aku makan.


“Itu yakin semua muat di perut?” Seo Jin menatapku takjub.


“Oppa kan yang bayar?”


“Iya, aku yang bayar, tapi apa itu muat?”, aku tersenyum melihat piringku yang penuh. Aku mengambil satu sandwich, empat potong shusi, semangkuk salad sayur dan buah, ditambah croissant yang diantarkan ke meja kami beberapa menit kemudian.


“Hmm...” aku tidak mempedulikannya dan mulai menikmati makanannku.


“Orang-orang akan iri padamu melihatmu makan sebanyak itu...” aku menatap piring Seo Jin yang hanya ada salad dan sandwich.


Ia sedang ada di masa-masa dietnya sehingga menjaga benar pola makannya. Ia mengatakan ini adalah makan malam terakhirnya. Aku hanya menggeleng tak tega. Aku tidak mau jadi artis kalau begitu. Aku termasuk orang yang memiliki hobi makan apalagi ketika aku stres, dan aku hidup untuk makan, aku olah raga juga agar bisa makan apapun yang aku mau.


“Annyeonghaseo, seonbae-nim...” beberapa orang menyapa Seo Jin dengan sangat sopan. Aku hanya meliriknya sekilas tanpa rasa ingin tahu. Aku yakin mereka junior-juniornya.


“Hmm, iya, annyeong...”


“Nggak papa nih aku makan di sini bersamamu?” tanyaku sambil menyeruput minumanku.


“Kau sudah menghabiskan lebih dari separuh makananmu dan baru menanyakannya?” ia menaikkan alisnya dan meraih croissantku. Ia lalu membantuku memotongnya menjadi potongan yang lebih kecil agar aku lebih mudah memakannya.


"Thank you..." aku kembali menerima piring darinya, “sebenarnya apa yang ingin Oppa  bicarakan denganku?” selidikku kemudian. Aku yakin ia mengajakku ke sini tidak hanya sekedar menemaninya makan malam.


“Pertama, kau pacaran dengan Hoon?” pertanyaannya membuatku tersedak. Ia hanya tersenyum sambil mengulurkan tisu untukku, “aku rasa jawabanmu itu tidak...”


“Kenapa menyimpulkan seperti itu?”


“Kau yang membuatnya sangat mencolok...”


“Apanya?” tanyaku tak mengerti, dan Seo Jin menatap keluar jendela tanpa berniat memberiku penjelasan. Apa maksudnya coba? Dia ingin mendekatiku kalau aku tidak pacaran dengan Hoon? Tapi kenapa? Apa karena mereka dekat? Aku buru-buru mengusir pikiranku, tidak baik merasa sombong dan ke pede-an seperti ini.


“Kedua, ada apa denganmu? Maksudku apa yang terjadi padamu?” ia bertanya sambil menatap tanganku.


“Oh, aku berkelahi, dan tanganku ini retak gara-gara aku menangkis pukulannya....” aku sengaja memberikan jawaban sejujurnya karena aku tahu Soe Jin tidak akan mempercayainya.


“Apa kau bermain film laga? Yang benar saja...” nah benarkan, dia tidak akan percaya. Jadi tidak ada gunanya juga kalau aku berbohong.


“Hmm...” aku mengiyakannya dan disambut oleh tawa renyahnya menertawakan homorku yang tidak lucu. Aku juga tertawa, bukan karena humorku tapi karena mendengar tawanya yang terkesan tidak mempercayaiku. Ya, mana ada desainer yang akan terlibat baku hantam dengan orang lain?


Aku menatap wajah Seo Jin yang tersiram oleh cahaya senja setelah menyelesaikan makan malamku, wajah tanpa make up-nya membuatnya terlihat lebih segar dari biasanya. Wajahya juga terlihat begitu santai saat menikmati makan malam. Tanpa sadar aku mulai mengagumi setiap detail dari wajah Seo Jin. Sangat berbeda dengan Hoon yang masih memiliki lemak-pipi sehingga membuatnya terlihat tampan namun imut, berbeda dengan Seo Jin yang memiliki garis wajah yang tegas dan tidak terkesan cantik untuk seorang idol.


Seo Jin sempat melirik ke arahku dan membuat tatapan mata kami bertemu, tapi dia tidak mengatakan apapun dan membiarkanku untuk mengamatinya. Aku bisa melihat wajahnya yang tersenyum, entah karena apa. Tanpa aku sadari ternyata ia juga diam-diam mengamati wajahku dari pantulan kaca.


Kami hanya menikmati senja itu dalam diam sebelum Seo Jin mengantarkanku ke depan lobby tempat Hye Sung menungguku.


“Aku akan mengabarimu kapan waktu siaran pertama kami, jika ada waktu datanglah, aku akan senang sekali mendapat dukunganmu, Zoey...” katanya sebelum menutup pintu mobilku.


Aku mendengus pelan, bukannya dia sudah menjadi artis selama belasan tahun? Bertemu denganku saja baru kemarin, bisa-bisanya ia berbicara seperti itu.


***


seonbae-nim : sebutan untuk seorang senior oleh junior. Senior ini tidak ada kaitannya dengan umur. Jika ia lebih dulu bekerja di suatu bidang (tidak hanya artis) mereka otomatis menjadi seorang senior tidak peduli ia lebih muda. Untuk junior sebutannnya adalah hoobae