Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 61; Melepaskan La Red de Alice



“Kau tidak apa-apa?” Seo Jin langsung bertanya padaku begitu aku mengangkat panggilannya.


“Tentu saja. Seharusnya aku yang bertanya, apa Oppa sudah tidak apa-apa?” aku duduk dibingkai jendela sambil menatap ke arah langit Korea yang terlihat mendung dan gelap. Udara dingin sudah begitu terasa mengigit kulit. Tidak aku sangka musim dingin segera tiba.


“Aku baik-baik saja, hanya saja entah kenapa aku selalu khawatir setiap kali kau seperti itu...”


“Maafkan aku karena tidak bisa menjemputmu hari ini.” Aku benar-benar merasa bersalah karena tidak bisa ikut merayakan kepulangannya dari rumah sakit.


“Aku tahu, tidak apa-apa. Teman-temanku juga baru saja pulang makannya aku baru bisa menghubungimu sekarang. Sudah makan?” tanyanya lembut.


“Hmm, sudah...”


“Kau tidak boleh melupakan makananmu.”


“Aku tahu...”


“I miss you, dear...” aku tertegun mendengar ucapannya. Aku terdiam beberapa detik sebelum menjawabnya


“Aku juga merindukanmu, Oppa...”


“Yeah, misiku selesai!” aku mendengar suara tawa Seo Jin di ujung telpon saat berhasil membuatku mengucapkan kata itu, “ada yang ingin kau tanyakan, Sayang?”


“Tidak.”


“Kalau begitu selamat malam, aku tidak ingin menganggu waktu istirahatmu. Take care...” tak beberapa lama kemudian Seo Jin mengakhiri panggilannya. Aku menggenggam ponselku dengan erat.  Aku tidak bisa memungkiri letupan-letupan perasaan yang sedang aku rasakan. Aku seolah diijinkan untuk merasakan secerca kebahagiaan dari Seo Jin. Ia seperti oase dalam hidupku yang gersang, memberikan angin segar sekaligus ketenangan. Tapi di sisi lain, ada ketakutan yang tumbuh berbanding lurus dengan kebahagiaan ini. Aku takut badai pasir akan datang dan menguburnya hanya karena akulah yang menjadi sasarannya. Bagian terburuknya adalah aku tahu badai itu akan segera datang, cepat atau lambat.


Tok tok tok!


Aku menoleh dan mendapati ibuku yang masih berdiri di bingkai pintu, menungguku mengijinkannya masuk ke dalam kamarku. Aku berdiri dan menyongsong langkahnya.


“Ada apa Eomma?”


“Tidak, aku hanya memastikan kau baik-baik saja...” ibu duduk di sofa yang ada di ujung tempat tidur. Kami berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat dan hanya saling mengamati satu sama lainnya.


“Apa kau sudah memutuskan untuk menjadikan bintang itu milikmu sendiri?” tanya Ibu tiba-tiba.


“Maksud Eomma, Seo Jin Oppa?”


“Ya, anak dari Direktur Ahn itu. Kalian pacaran?” aku terdiam cukup lama sebelum menjawab pertanyaan ibuku.


“Ya...” jawabku akhirnya. Ini kali pertama aku mengakuinya, bahkan aku belum pernah mengatakannya langsung di depan Seo Jin.


“Kau melakukan yang terbaik.” Ibu menatapku dengan serius, “sudah selayaknya kau bersama dengan orang yang benar-benar kau cintai.”


“Aku takut...” aku meremas jemariku dengan erat, “sejujurnya aku takut aku akan melukainya. Dia tidak memiliki kaitan apapun dengan masalah keluarga kita.”


“Itu wajar Zoey. Semua orang memang awalnya seperti itu tapi setelah kau mencintainya, orang asing pun bisa jauh penting daripada keluarga bahkan dirimu sendiri. Apa kau mampu mengatasi semua resikonya? Ayahmu tidak akan tinggal diam dan akan tetap memaksamu untuk menikah dengan Hwang Joon.” Kali ini tatapan mata Ibu berubah sendu, “Ibu hanya ingin mengembalikan apa yang seharusnya menjadi hak setiap orang...”


“Hak setiap orang?”


“Ya, hak untuk bahagia menjalani hidupnya...” Ibu mengusap kepalaku, “Maafkan Ibu telah membuatmu menderita selama ini, tapi orang itu tidak akan berhenti selama ia masih memiliki kesempatan untuk menguasai Mirae Grup. Ayahmu, ia terlalu ambisius untuk sesuatu yang dari awal bukan miliknya.”


“Apa kita tidak sebaiknya pergi saja Eomma? Aku hanya perlu menandatangani kertas laknat itu lalu kita semua bisa pergi?” aku kembali menawarkan opsi itu pada Ibu.


“Lalu apa kau sampai hati menutup mata atas penderitaan yang harus dialami Juna?” aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Aku melupakan faktor lain yang sangat penting, Juna, “Juna juga berhak bahagia, dan Ibu adalah orang pertama yang harus memastikannya.”


“Ah lalu, laki-laki itu. Hwang Yi Hoon...” aku mengangkat kepalaku begitu nama Hoon disebut oleh Ibu, “Dia tidak kabur dari kenyataan dan meninggalkan dirimu di sini untuk berjuang sendirian. Ia hanya lebih memilih ibunya daripada dirimu. Ibunya juga telah lama menderita saat bersama Keluarga Hwang dan satu-satunya alasan mereka bertahan sudah ikut tewas dalam peperangan tanpa akhir ini Zoey. Ayah Hoon sudah lama mati. Lalu, apa kau akan membenci orang yang meninggalkanmu demi satu-satunya orang yang bisa ia sebut sebagai keluarga?”


Aku tidak perlu waktu lama untuk menjawabnya, aku menggeleng cepat, “Tidak Eomma...”


“Hormatilah keputusannya, walau ia kembali pun jangan pernah menyakitinya. Ia juga berhak bahagia...” aku tidak paham benar dengan maksud ucapan Ibu kali ini. Apa mungkin Hoon kembali ke Korea? Tapi kenapa?


Aku ikut berdiri saat Ibu tiba-tiba berdiri dari duduknya, Ibu memegang kedua pipiku dengan lembut, “kita adalah wanita-wanita kuat yang lahir dari keluarga Cohen. Apapun yang terjadi, selalu yakinlah dengan apa yang menjadi keputusanmu.”


Ibu lalu memelukku dengan erat kemudian berjalan keluar kamar. Ia kembali menoleh sebelum benar-benar pergi, “Ibu sarankan, lebih baik kau merahasiakan hubunganmu dengan Seo Jin selama mungkin dari ayahmu.”


Aku terkejut saat Ibu mengangkat ponsel yang diberikan Tae Dong padaku. Kapan Ibu mengambilnya dariku?


“Ibu pinjam sebentar, orang itu tidak akan menerima panggilan dari nomor yang tidak ia ketahui.”


***


“Apa kau sudah mencarikan tempat lain untuk Seung Hee?” aku bertanya pada Hye Sung terkait dengan kepindahan Seung Hee. Biar bagaimanapun juga Seung Hee adalah kerabat dekat Hwang Yi Hoon. Akan lebih baik jika ia berada sejauh mungkin dariku. Melihat apa yang telah terjadi pada Park Da In, Juna dan istrinya tidak menutup kemungkinan hal yang sama akan terjadi padaku atau orang-orang yang ada di sekitarku.


“Sudah, ia sudah pindah sore ini. Bagaimana dengan La Red de Alice? Apa kita langsung ke sana sekarang?” Hye Sung menyerahkan laporan butik itu padaku. Sudah cukup lama aku tidak memeriksanya. Hye Sung telah mengatur jadwal meeting bersama seluruh karyawan butik nanti malam


“Baiklah...” aku mengecek semua barangku sebelum meninggalkan kantor.


Aku dan Hye Sung sampai di butik lebih awal. Aku melihat karywanku sudah bersiap untuk menutup butik. Aku memberi mereka salam sebelum masuk ke dalam ruang pegawai. Kami akan makan malam di luar sehingga aku menyuruh mereka menutup butik lebih awal.


“Nona Zoey...” Asisten Kim muncul dari balik pintu.


“Soo Ah-ssi, masuk...” aku melambaikan tanganku dan menyuruhnya duduk dihadapanku, “apa? Kau mau menanyakan kabar Seo Jin?” aku menggodanya begitu ia duduk.


“Bukan. Anda jangan salah paham, saya memang menyukai mereka tapi hanya sebatas rasa suka fans, tidak lebih...” Asisten Kim buru-buru menjelaskan semuanya. Aku terkekeh geli karena berhasil menggodanya.


“Tidak apa-apa. Jika kau bertanya dan aku bisa menjawabnya aku akan dengan senang hati menjawabnya. Seo Jin-ssi sudah pulang dari rumah sakit dan setahuku dia sekarang ada di rumah ibunya...”


“Lalu Anda, apa Anda baik-baik saja? Apa Anda akan kembali ke Paris?” aku tertegun dengan pertanyaan Soo Ah.


“Aku harap begitu. Terima kasih telah mengkhawatirkanku...” aku bisa melihat dengan jelas kekhawatiran yang tersirat dari wajahnya. Kim Soo Ah adalah orang pertama yang bergabung dengan La Red de Alice Korea dan dia yang paling rajin dan peduli dengan butik ini.


Setelah butik tutup, kami berpindah di resetoran Jepang yang tidak jauh dari lokasi butik dengan berjalan kaki sambil menikmati suasana malam. Tenang dan penuh kehangatan walau udara di luar sudah cukup dingin. Musim gugur sudah sampai di pengujungnya, tapi salju pertama belum juga turun.


Malam itu semua karyawanku terkejut dengan keputusanku. Aku memberitahukan kepada mereka bahwa aku memindahalihkan segala manajemen butik ke tangan Lucas langsung. Untuk sementara aku hanya akan menjadi executive desainer dan tidak akan mengurus masalah produksi dan distribusi. Kim Soo Ah lebih terkejut lagi saat aku menyebutkan namanya sebagai orang yang akan bertanggung jawab atas operasional La Red de Alice.


“Ini benar-benar keterlaluan...” katanya sambil menangis tergugu, “Saya tidak yakin dengan diri saya sendiri kalau tiba-tiba Nona Zoey memberikan tanggungjawab yang besar kepada saya seperti ini...”


“Apa ada yang meragukan keputusan saya?” karyawanku semuanya menggeleng cepat, “lihat tidak ada yang keberatan dengan pilihanku. Aku memilihmu karena kau memang orang yang sangat mencintai pekerjaanmu di sini.”


“Bagaimana saya tidak mencintainya! La Red de Alice yang menyelamatkan saya, Anda yang menyelamatkan saya... tapi kenapa Anda harus mengundurkan diri? Anda akan pulang ke Paris?” Soo Ah bertanya sambil dengan lucu mengusap ingusnya.


“Kenapa kau cengeng sekali...” aku menepuk bahunya untuk menenangkannya. Rasa haru memenuhi perasaanku, aku bisa melihat orang-orang yang aku percaya untuk mengelola butik ini begitu berdedikasi dan mencintai pekerjaannya. Dalam hati aku bersyukur dipertemukan dengan orang-orang ini.


Aku berdoa dalam hati. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kalian. Semoga keputusanku untuk melepaskan La Red de Alice adalah keputusan yang paling tepat.


***