
“Datanglah ke rumah kami, Hoon-ssi...” kata Juna begitu ia selesai meletakan tasku ke dalam mobil.
“Lain kali...” kata Hoon, “terima kasih tawarannya...” aku bingung memandang wajahnya, ia menunjukkan ekspresi yang tidak nyaman setiap kali ia berbicara dengan Juna. Ia seolah khawatir Juna akan mengatakan sesuatu yang tak ingin di dengarnya. Tapi apa?
“Ayo, Nuna...” Juna masuk ke dalam mobil lebih dulu.
“Jaga dirimu baik-baik...” Hoon mengatakannya sambil membukakan pintu untukku.
“Kau mengatakannya seolah kau tidak akan bertemu denganku lagi...”
“Bukan begitu Zoey...” Hoon terlihat terkejut saat aku mengartikan kalimannya seperti itu.
“Baiklah, aku akan menghubungimu begitu sampai. Hati-hati...” aku kemudian masuk ke dalam mobil dan Hoon kembali menutup pintunya untukku. Mobil kami mulai berjalan menjauhi Hoon.
Aku menatapnya dari kaca spion samping, walau samar, aku bisa melihat Hoon mengela nafasnya dengan begitu berat. Jujur aku menghawatirkannya, tapi hubungan kami belum sejauh itu. Aku berada di kondisi yang tidak bisa semudah itu menjalin hubungan dengan orang lain dan Hoon juga sepertinya menyimpan sesuatu yang membuatnya berpikir ribuan kali untuk meresmikan hubungan kami. Kami sama-sama dalam kondisi penuh ketidakpastian. Kami? Atau hanya aku saja?
“Kalian benar-benar tidak pacaran?” tiba-tiba Juna bertanya dengan nada bingung, “benar-benar aneh...”
“Aneh gimana?” aku jadi bingung sendiri kenapa Juna bisa berpikir seperti itu.
“Aku juga tidak tahu. Tapi jelas-jelas ia menyukaimu, kalau tidak kenapa ia bertindak sejauh ini?” Juna menelengkan kepalanya tak mengerti.
“Langsung pada intinya, sebenarnya apa yang kau ketahui dan ingin kau katakan... jangan bertele-tele seperti itu...” aku kesal juga. Aku merasa aku sendiri yang tidak tahu apa-apa, “kau tahu sendiri kan posisiku? Apa kau pikir aku bisa dengan bebas untuk pacaran? Kau lupa aku dijodohkan?!” walaupun aku benci topik ini, tapi mau tak mau aku harus menyebutnya.
“Maka dari itu! Kenapa ia seperti itu?” bukannya memberikan penjelasan Juna justru sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Apa semua laki-laki seperti itu?” tanyaku kesal.
“Kenapa?”
“Selalu memikirkannya sendiri? Apa mereka tidak takut kalau selama berpikir itu, wanita yang ia pikirkan sudah jauh pergi entah kemana?”
“Kau tidak sedang mengejekku kan?” Juna merasa tersinggung dengan ucapanku.
“Kenapa? Wanitamu pergi ya karena kau terlalu banyak berpikir?” tebakku.
“Apa mungkin seperti itu ya?” Juna kemudian diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku juga tidak peduli dan memilih memandang ke luar jendela. Apa yang harus aku katakan ketika aku sudah pulang ke rumah? Apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengan Ayah? Jawaban ini lebih sulit dari soal ujian tersulit yang pernah aku kerjakan.
Haaahh...
“Zoey!” Ibu berteriak saat melihatku masuk melalui pintu utama. Beliau berlari dan langsung memelukku sambil menangis tersedu, “maafkan Eomma Zoey...”
“Aku sudah tidak apa-apa Eomma...” kataku berbohong.
“Apa yang penculik itu lakukan padamu? Aigoo...kau menjadi seperti ini, putri kecilku...” Ibu masih memelukku sambil menangis.
“Putri...pfft”, Juna menutup mulutnya menahan tawa, panggilan putri itu membuatnya ingin tertawa mengejekku. Awas saja, aku akan menempelengnya nanti.
“Eomma jangan khawatir, apapun yang terjadi yang paling penting adalah aku sudah pulangkan, Eomma? Jangan menangis lagi...” kataku menenangkan beliau.
Aku tersenyum miris sambil terus mendekap Ibu. Banyak hal yang tidak Ibu ketahui dariku, dari kami. Kami seolah merahasiakan hal yang tidak perlu dari Ibu. Kami tidak ingin membebani hati dan pikirannya. Ibu tidak tahu bahwa aku sudah berubah dari seorang putri yang lembut menjadi seorang wanita yang mandiri dan berlatih seni bela diri. Yang ada di dalam ingatannya adalah Zoey yang sangat lembut dan manis.
Ibu tidak tahu, dan kali ini beliau juga tidak perlu tahu detail dari kejadian yang aku alami. Daripada aku, hatinya akan lebih hancur dan remuk jika ia mengetahui putri satu-satunya hampir dicelakai dan dilecehkan oleh orang lain. Beliau terlalu berharga untuk terluka. Aku mengusap punggung Ibu sambil menahan air mata.
“Putri, jangan menangis...” aku yang baru saja merasa tersentuh oleh perlakuannya tiba-tiba menjadi kesal. Mulut adik laki-lakiku itu membisikkan kalimat itu dengan ekspresi yang sangat menyebalkan. Aku tahu mungkin dia berusaha mengubah mood-ku agar mampu bertahan di depan Ibu. Tapi apa caranya harus seperti itu? Aku mengacungkan kepalan tanganku di depan wajahnya. Awas saja nanti.
“Sudah kembali?” kalimat singkat itu membuatku kaget. Suara Ayah membuat hatiku kembali ciut. Jantungku berdebar saat mendengar langkah kaki Ayah yang semakin mendekat.
“Appa benar-benar merasa bersalah, maafkan appa-mu ini Nak...”
Juna menatapku lembut. Ia seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam hatiku, “nggak papa Nuna...” bisiknya pelan, “menangislah...”
Seakan mendapat ijin, air mataku mulai mengalir. Ini pertama kalinya Ayah berbicara dengan lembut dan penuh kasih sayang. Aku tahu, ayahku sangat kaku saat mengasuhku waktu aku masih kecil, tapi aku masih bisa merasakan kepedulian dan cinta beliau padaku. Tapi semenjak gadis kecilnya berubah menjadi remaja, beliau mulai menjaga jarak denganku. Puncaknya adalah pertengkaran beliau dengan Ibu ketika beliau berniat menjodohku.
“Zoey-ya, maafkan Appa, Nak...” Ayah memelukku dari belakang, kehangatannya melelehkan benteng pertahananku yang aku buat dengan rasa benci, rasa kecewa, dan tekatku meninggalkan keluarga ini. Ibu semakin erat memeluku yang menangis semakin kencang.
Katanya benci dan cinta itu hanya terpisahkan oleh benang tipis. Tapi tenyata tidak, hari ini aku merasakan bahwa benci dan cinta itu disatukan oleh benang yang sangat tipis hingga kita tidak bisa membedakan mana rasa benci dan cinta.
Keluarga, kata orang mereka adalah orang-orang yang paling dekat tapi juga paling tidak mengenali diri kita. Bukan, mereka bukannya tidak kenal, mereka hanya tidak mau mengungkapkan. Lebih mudah mengucapkan aku mencintaimu ke orang lain daripada ke anggota keluarga kita sendiri. Padahal melebihi sisapapun, keluarga adalah orang-orang yang paling mengharap kebaikan untuk kita. Hanya caranya berbeda-beda dan itulah yang membuat siapa saja salah mengartikannya.
"Kau sudah melakukan terbaik"
"Kau sudah berusaha semampumu"
"Terima kasih"
"Maaf"
"Aku menyayangimu"
Mungkin kepada orang lain yang bukan bagian dari keluarga kita, kalimat ini sangat mudah diucapkan, tapi kalimat inilah yang paling mahal di dalam keluargaku atau dalam keluarga pada umumnya. Semua usahaku tidak pernah mendapat apresiasi apapun dari Ayah, hal inilah yang membuatku membangun semua tekat dengan rasa kecewa, bukan cinta.
Tapi kini lihatlah diriku kini, hanya dengan satu kata maaf dari Ayah membuatku sadar akan besarnya cinta Ayah padaku. Satu kata maaf yang membuatku melupakan belasan tahun penuh pengingkaran itu. Aku dengan mudahnya memaafkan beliau. Membuatku menyadari bahwa yang paling aku butuhkan adalah keluarga ini.
“Mulai saat ini, lakukan apapun yang kamu Nak...” kata Ayah begitu kami semua duduk di ruang keluarga dengan perasaan yang lebih tenang daripada sebelumnya, “Appa sebenarnya berencana agar kau mengambil alih posisi Direktur Mirae Foundation, tapi Ayah tidak akan memaksamu, lakukan apapun yang kau mau, kalau kau ingin meneruskan cita-citamu sebagai desainer, Ayah akan mendukungnya...”
“Aku akan melakukan semuanya, pekerjaan yang Ayah tawarkan ataupun desainer...” tanpa pikir panjang aku mengiyakan usulan Ayah. Aku sudah terbiasa bekerja di Paris dengan ritme yang sangat padat. Pelarianku selama di Korea membuatku sadar bahwa aku sangat menyukai kesibukanku. Diam di rumah bukanlah style-ku, walaupun itu terkadang perlu.
“Apa kau tidak kelelahan?” tanya Ibu khawatir.
“Kalau aku lelah aku tinggal istirahat Eomma...” jawabku sambil tersenyum meyakinkannya.
“Kalau begitu baguslah...” Ayah puas dengan jawabanku, “aku akan berbicara dengan para pemegang saham...”
“Tapi ada satu syarat...” Ayah menunggu jawabanku, “aku akan mengambil posisi itu setelah proyekku selesai. Tidak sampai dua minggu dan aku juga masih butuh waktu untuk memulihkan kondisiku...” aku mengangkat tangan kananku yang masih terbungkus gip.
“Tak masalah kalau itu...” Ayah kemudian berdiri dan mendahului kami berjalan ke ruang makan, “ah iya Zoey, masalah pernikahanmu...”
Aku menelan ludah begitu Ayah menyebut masalah pernikahan. Aku lupa menyebutkannya sebagai syaratku.
“Lakukan setelah kau benar-benar menginginkannya...”
Aku termenung di tempatku. Aku tidak salah dengar kan?
***