
Aku merebahkan diri di salah satu tempat tidur yang ada di kamar cottage. Aku memejamkan mataku sebentar untuk mengusir lelahku saat Hye Sung masuk ke dalam kamar.
“Zoey-ssi, bukankah lebih aman jika Anda menyewa kamar sendiri di hotel?”
“Aku lebih suka tempat ini. Lebih banyak hal yang dapat aku lihat di sini,” jawabku tanpa membuka mata.
“Anda benar-benar aneh...” mungkin ini pertama kalinya bagi Hye Sung satu ruangan dengan seseorang yang dapat disebut sebagai atasannya. Kami memilih tinggal di sebuah cottage-hotel dengan dua kamar berukuran sedang dan satu ruang tamu yang menjadi satu dengan dapur, serta kamar mandi bersama. Lokasi cottage yang ada di dekat retirement house yang akan digunakan untuk acara kami besok membuatku memilih cottage ini sebagai tempat istirahat kami daripada hotel bertingkat sepuluh yang masih satu manajemen dengan cottage. Setelah selesai dengan segala persiapan acara, aku dan Hye Sung memutuskan untuk pergi ke kamar dan istirahat.
“Sebaiknya Anda membersihkan diri terlebih dahulu...” Hye Sung berdiri dan langsung menyalakan keran air. Ia tidak memberiku waktu untuk menolak perintahnya.
Setelah membersihkan diri, aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar di sekitaran cottage. Antar cottage dipisahkan oleh taman dengan jalan bertatakan batu yang di susun di antara rumput taman. Tidak hanya itu, terdapat kolam renang, beberapa meja dan kursi yang ditata acak di sudut-sudut taman. Tak ketinggalan juga taman bermain anak melengkapi fasilitas cottage-hotel ini. Suasana taman yang tenang dan asri membuatku betah menikmati udara malam.
Aku memutuskan untuk duduk di dekat coffee bar yang ada diujung taman. Aku memesan coffee latte sebelum memilih tempat duduk mana yang akan aku tempati. Saat aku menyapukan pandanganku, aku menemukan sosok pria yang kini menatapku dengan mata elangnya. Aku menelan ludahku dan tanpa sadar aku mundur satu langkah ke belakang.
Kenapa Mo Tae Dong ada di sini?
“Duduk...” ia seolah menyuruhku duduk dengan gerakan matanya. Jarak kami hanya sekitar lima meter, ada beberapa orang di sana. Aku menatap sekeliling dan mulai menghitung besarnya kemungkinan orang yang ada di hadapanku ini akan mencelakakanku.
“Coffee latte Anda Nona. Anda mau duduk di mana?” seseorang waiter mengantarkan pesananku, membuatku menoleh kaget.
“Oh, ah.. terima kasih...” kataku salah tingkah, membuat waiter itu bingung dengan sikapku. Aku melihat Mo Tae Dong melambaikan tangannya sambil tersenyum, menyuruh waiter mendekat. Aku terbius oleh senyuman hangatnya. Apa-apaan sandiwara ini?
“Dia bersamaku...” kata Mo Tae Dong masih dengan senyumnya. Tanpa sempat aku mencegahnya, ia sudah meletakkan pesananku di meja Mo Tae Dong.
“Duduk, jangan uji kesabaranku...” ia tegas menyuruhku untuk duduk dengannya. Aku melangkah pelan dan mengambil kursi yang berseberangan dengannya. Biar bagaimanapun aku juga memiliki pemikiran yang sama, aku harus menemuinya. Kami perlu bicara.
Tapi entah ke mana menguapnya semua keyakinanku saat ini, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih, aku beberapa kali menghindari tatapan matanya. Walau aku sudah berulang kali memraktikan pertemuan ini, namun kenyataannya tetap aku tidak bisa bersikap tenang. Tanganku pun gemetar hanya karena duduk di seberangnya seperti ini.
“Apa kau berencana akan tinggal di Korea?” itu adalah pertanyaan pertama Mo Tae Dong setelah cukup lama kami diam tak mengatakan apapun.
“Ka..kau pi..pikir aku senang tinggal di...di sini?” aku terkejut saat suaraku bergetar. Aku menghirup nafas dalam-dalam untuk menenangkan hatiku sebelum berkata lagi, “sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa kau merubah strategimu dari agresif menjadi penguntit seperti ini?”
Mo Tae Dong tertawa mendengarku memanggilnya penguntit. Aku memperhatikan detail sikapnya sambil menunggu jawabannya.
“Aku menginginkanmu. Itu sudah jelas...” ia meletakkan cangkirnya di atas meja, “tapi aku tahu itu tidak mungkin sehingga aku harus membuatmu pergi dari sini. Bagaimanapun caranya. Kembalilah ke Paris...”
Aku tidak menyangka kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku bisa merasakan bahwa ia bersungguh-sungguh saat mengatakannya dan tanpa niat jahat sekalipun. Aku memperhatikan wajah laki-laki ini lebih teliti untuk mencari ketulusan di sana, itupun jika ada.
“Kenapa?”
“Apa kau punya kepercayaan diri untuk mengetahui segalanya?” Mo Tae Dong justru kembali bertanya padaku, “Just go, pergi dengan keyakinan yang kau miliki sekarang. Aku akan senang hati meminta maaf padamu atas apa yang telah aku perbuat padamu...”
“Bukankah sudah sepantasnya kau meminta maaf padaku!” aku kesal juga dengan sikapnya yang sangat percaya diri dan penuh keyakinan seperti itu.
“Lalu siapa dari anggota keluargamu yang akan meminta maaf padaku? Bukankah mereka seharusnya meminta maaf dulu padaku baru aku meminta maaf padamu?”
“Apa maksudmu?” aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Apa yang dilakukan keluargaku padanya? Apa maksud semua ini! Aku harus tenang agar tidak terpancing oleh hasutannya.
“Haaa....” Mo Tae Dong tersenyum kecut, “baiklah, maafkan aku Zoey...”
Aku termenung mendengarnya. Kenapa dengan mudah sekali ia mengatakannya? Biasanya orang-orang gila seperti dirinya akan sulit sekali untuk mengatakan kata maaf atau terima kasih. Ah sebenarnya apa yang ada di dalam pikirannya.
“Bersyukurlah kau tidak tahu apa-apa...” tanpa aku duga, Mo Tae Dong berdiri, “pergilah dari Korea, ke Paris atau ke mana pun, selama kau di sini, aku akan terus melakukan berbagai cara untuk membuatmu pergi, atau kau akan mati...” ia sudah melangkah pergi saat aku masih termangu mencerna kalimatnya.
“Tunggu!” aku berhasil mengejarnya dan menarik lengannya, “Tae Dong-ssi...”
“Jangan panggil aku seperti itu...jangan buatku menginginkanmu lagi...” ia melepaskan tanganku dengan kasar.
“Kenapa kau melakukan semua ini padaku!” aku meninggikan suaraku.
“YA! Gadis bodoh...” Tae Dong meraih kerahku dengan kedua tangannya, “aku sudah mengatakannya dengan jelaskan? Kenapa kau keras kepala sekali? Dengan kepribadianmu itu, aku yakin kau tidak akan bisa menerima kenyataannya. Lebih baik kau pergi dengan ketidaktahuanmu atau kau memilih yang lain?”
Aku ikut mencengkram pergelangan tangannya dan berniat tidak akan membiarkannya pergi sebelum ia menjelaskan sesuatu. Aku sudah bertekad untuk mencari tahu. Tidak ada kata mundur lagi bagiku.
“Kenapa Ayahmu membunuh orang yang dicintai oleh Dany Oppa? Apa kau menyukainya sahingga Ayahmu melakukan berbagai cara untuk membuat wanita itu bersamamu?”
“Apa maksudmu?” kebingungan di wajah Tae Dong membuatku membeku, “sudah aku katakan kan kalau yang aku inginkan itu dirimu!”
Aku mendengar suara jantungku jatuh berdebam saat mendengar pernyataan cintanya secara terang-terangan seperti itu. Mata kami saling bertatapan, aku mencoba mencari kebenaran di dalamnya. Apa iya Juna membohongiku?
“A...ayahmu membunuh...” aku terbata-bata mengatakan kalimat itu. Aku takut jika tanpa sengaja aku menuduhnya.
“Sebenarnya apa yang kau ketahui sih, Zoey!” Tae Dong melepaskan cengkramannya dan mendorongku mundur. Ia lalu melepaskan genggaman tanganku di pergelangan tangannya, “dengar Zoey, satu-satunya yang mati dari keluargamu adalah Park Da In. Satu-satunya pewaris Keluarga Park, ibu dari Dany...”
Semua saraf dalam tubuhku seolah tersambar petir.
“APA? KAU BILANG APA!” aku menarik bajunya, membuatnya terkejut dengan seranganku tiba-tiba, “berani-beraninya kau menghasut aku!” aku melayangkan pukulanku ke wajahnya. Anehnya ia sengaja tidak mengindarinya. Aku kembali memukulnya dengan tangan kiriku namun ia berhasil menghalaunya.
“Jangan jadikan aku luapan amarahmu, kau sama saja. Kenapa keluarga kalian senang sekali melimpahkan kesalahan pada orang lain?” Mo Tae Dong melempar tanganku dengan kuat hingga aku terhuyung ke samping.
“LALU APA SALAHKU!” aku kembali menyerangnya. Ia dengan mudahnya menghindariku karena seranganku tidak terarah, “KENAPA KALIAN SEMUA MELAKUKAN INI PADAKU!”
Tae Dong memotong pukulanku dan menarikku agar ia bisa mengunci tanganku ke belakang, “tenangkan dirimu. Kau bisa mengundang semua penghuni hotel dengan sikapmu ini...” bisiknya.
"Bagaimana aku bisa tenang..." aku menggeram menahan marah. Bagaimana aku bisa menenangkan diri dalam keadan seperti ini! Apa yang orang ini inginkan setelah ia menghasutku seperti itu. Aku mencoba mengambil nafas dalam-dalam untuk meredam emosiku saat Tae Dong melepaskan cengkramannya dan mendorongku menjauh.
Kakiku begitu lemas saat aku terbebas dari Tae Dong. Aku terduduk di atas rerumputan basah tanpa memedulikan celanaku yang berwarna putih itu mulai basah. Aku tak sanggup untuk mengangkat kepalaku. Rasanya seolah langit di atasku ini runtuh.
Tiba-tiba aku takut kalau apa yang dikatakan Mo Tae dong adalah kenyataan. Aku jadi meragukan siapa diriku sendiri.
“Ya, artis-nim...” aku kembali mendengar suara Mo Tae Dong, “bawa Zoey pergi dari Korea kalau kau tak ingin dia mati konyol di sini...”
Aku bisa mendengar langkah kaki seseorang semakian lama semakin mendekat. Langkahnya terdengar tergesa-gesa setelah Tae Dong selesai berbicara. Ia berhenti tepat dihadapanku, aku bisa melihat sneakers putih miliknya dengan mataku yang semakin lama semakin berkabut, “Zoey...”
Orang itu mengangkat wajahku yang tertunduk agar ia bisa melihat mataku dengan jelas, “apa yang ia lakukan padamu? Dia menyakitimu? Oh? Katakan sesuatu...” aku melihat Seo Jin yang kini meneliti wajahku dengan khawatir.
“...” tidak ada kata yang bisa keluar dari tenggorokanku. Isak tangis justru yang lebih dulu terdengar dari pada suaraku. Dadaku sesak dan nafasku begitu berat sehingga aku tidak bisa mengendalikannya lagi.
Aku kehilangan arah.
***