
“Kenapa kau ada di sini?” aku memberanikan diri duduk di kursi taman yang ada di depannya. Selain aku takut aku akan melarikan diri lagi, kakiku mulai terasa kebas berdiri seharian dengan luka jahitan yang belum sepenuhnya kering.
“Apa kau berharap aku berdiri dan menemanimu di sana? Ah, bahagianya aku kau mulai mempedulikanku...” ia terkekeh geli dengan prasangkanya sendiri.
“Kau jelas tahu maksud dari pertanyaanku, Tae Dong-ssi!”
“Kau semakin menarik Zoey...” ia menyesap rokoknya dalam-dalam kemudian menghembuskan asapnya hingga membumbung di atas kepalanya.
“Matikan rokoknya!” kali ini aku sungguh-sungguh saat mengucapkannya. Musim gugur sudah sampai di pertengahannya. Banyak sekali daun kering berserakan dan aku tidak ingin permandangan indah ini berubah menjadi neraka.
“Tentu saja...” ia menjejak puntung rokoknya di atas tanah dan memastikannya benar-benar sudah mati, “see...puas?”
“Jawab pertanyaanku, sebenarnya apa yang kau inginkan?”
“Aku sudah mengatakannya kan, kau pergi dari sini. Tugas terakhirku sebagai manusia adalah membuatmu pergi dengan selamat...” aku tidak bisa memahami benar maksud dari ucapannya. Apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan padaku sebelumnya sangat berseberangan.
“Kenapa harus aku?”
“Pertanyaanmu sama sulitnya dengan pertanyaan kenapa aku harus menjadi Mo Tae Dong dan kau adalah Zoey Park...” ia tertawa, kali ini tawa konyol, “ikutlah denganku, kau ingin tahu apa yang keluargamu sembunyikan kan?”
“Apa kau pikir aku bodoh?”
“Tentu saja tidak. Bodoh dan tidak tahu itu tentunya beda kata kan? Yang aku tahu kau sudah sangat penasaran sekali dengan apa yang terjadi padamu. Kau lihat sendiri kan? Kucing kecil kita akhirnya sadar kalau ia adalah harimau...” aku benar-benar terhina dengan kalimatnya. Walau ia tidak mengatakan aku bodoh tapi aku bisa merasakan ada tatapan antara sedih dan kasihan saat melihatku. Kenapa dia mengasihaniku seperti itu?
“ZOEY!” aku menoleh saat mendengar teriakan Seo Jin. Ia berlari ke arahku. Ah, waktu yang sangat tidak tepat.
“Bagaimana? Apa kau akan melewatkan kesempatan ini?” Tae Dong masih santai melihat Seo Jin yang datang menghampiri kami berdua.
“Baiklah...tapi biarkan dia pergi...”
“Tentu saja, dengan senang hati...” tapi yang dilakukan Tae Dong justru di luar dugaanku. Ia berdiri dan berjalan cepat ke arah Seo Jin.
“BERHENTI!” keduanya sama sekali tidak mendengarkanku. Aku berlari untuk menghalau Tae Dong yang paling dekat denganku. Aku mendorong tubuhnya ke samping, “Apa yang akan kau lakukan!”
Seo Jin menarikku menjauh dan memasang tubuhnya di antara aku dan Tae Dong. Ia mencengkeram erat lenganku dan menyembunyikanku di balik punggungnya.
“Kau laki-laki tadi malam kan?” Seo Jin mengamati Tae Dong dengan penuh waspada. Seharusnya Seo Jin sudah paham bahwa yang ada di depannya ini bukan orang waras.
“Lihat pahlawan kita datang...” Mo Tae Dong menegakan posisi berdirinya dan menatap Seo Jin lurus-lurus, “tugasmu adalah menjadi pahlawan yang datang dan memeluk Zoey saat ia membutuhkan. Tapi saat ini dia tidak membutuhkanmu, jadi pergilah....mudah dan enak sekali kan?” kalimat Tae Dong terdengar sarkastis di telinga Seo Jin dan itu membuat amarahnya mulai mendidih.
“Oppa, pergilah...”
“BAGAIMANA BISA AKU MELAKUKANNYA!” ia berteriak marah padaku. Aku tahu harga dirinya lah yang dipertaruhkan di sini.
“Jadilah anak baik dan pergi, tidak perlu kau terlibat dalam masalah ini, aku akan mengembalikannya begitu masalah kami selesai. Aku tidak bisa membayangkan kalau kau mati, seluruh Korea bisa bersedih...” ucapan Tae Dong membuat wajah Seo Jin merah padam.
“Diam kau!” Seo Jin melepaskan tanganku dan ia melayangkan tinju ke arah Tae Dong. Laki-laki itu mudah sekali menghindarinya dan kini ia memasang kuda-kuda untuk membalas pukulan Seo Jin.
“Oppa!” aku terlambat menyadarinya dan pukulan Tae Dong tepat mengenai dagu Seo Jin. Ia terhuyung menabrak pagar dan Tae Dong bersiap melayangkan pukulan kedua saat aku berhasil berdiri di hadapan Soe Jin.
BUG!
Tidak telalu keras tapi cukup membuatku meringis. Aku bisa merasakan darah segar mengalir dari pelipisku. Apa ini?
Saat itulah aku tersadar dan berbalik untuk melihat kondisi Seo Jin, “Oppa! Kumohon!” aku hanya mengira bahwa Seo Jin terhuyung karena pukulan itu. Tapi kini aku bisa melihat darah segar yang mengalir deras dari luka robekan dari bawah telinga sampai pipinya. Seo Jin masih terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ia jerih melihat darahnya sendiri.
Tae Dong ternyata menggengam belati kecil saat memukul Seo Jin dan ujung belatinya langsung merobek kulit siapa saja yang ia pukul. Aku menoleh tak percaya padanya. Kini laki-laki itu sedang mengusap darah yang ada ujung belatinya dengan sapu tangannya.
“Ayo pergi Zoey...” Tae Dong menelengkan kepalanya saat menyuruhku mengikutinya.
“Kenapa kau harus melukainya!” aku berdiri hendak menerjang Tae Dong tapi Seo Jin lebih dulu bangkit dan menarik tanganku.
“Kau mau ke mana?” tanya Seo Jin dengan nada yang dingin.
“Ada yang harus aku selesaikan. Oppa pergilah...” aku berbalik tapi Seo Jin menahan lengkahku untuk kesekian kalinya.
“APA KAU GILA!” hatiku tiba-tiba ciut saat mendengar teriakan dari Seo Jin. Suaranya membuatku merinding, suara laki-laki ini bertipe bariton dan ketika ia berteriak, suaranya menjadi serak seperti monster.
“Ia tidak akan melukaiku...” kataku tak yakin dengan ucapanku. Tapi aku harus pergi secepat mungkin dan Seo Jin harus segera ke rumah sakit.
“Kau percaya orang yang pernah mencelakakanmu tidak akan menyakitimu dan kau menyuruhku pergi karena kau tak percaya aku bisa melindungimu!” aku tertegun dengan ucapannya. Kenapa ia bisa mengartikan semuanya seperti ini?
“Apa kau pikir aku bisa pergi dan lari seperti pengecut dan membiarkanmu bersama dengan iblis itu? Lebih baik aku mati karena berusaha melindungimu daripada aku harus menjadi seorang pengecut!” Seo Jin menatapku tajam. Aku tak percaya dengan apa yang dikatakannya. Ini masalahku, tapi kenapa ia seenaknya menjadikan ini sebagai masalahnya?
“AKU!” aku meninggikan suaraku, “lalu bagaimana denganku kalau kau mati! Kenapa kau egois sekali, kau tidak mengerti apapun!” mau tidak mau aku ikut terpancing emosi mendengar ucapan Seo Jin. Aku sudah melangkah sejauh ini, aku sudah memberanikan diri untuk menghadapi masa laluku, tapi usaha itu seolah-olah tidak berarti sama sekali. Ia tidak beda dengan Hoon yang hanya memikirkan diri mereka tanpa pernah sedikitpun mempercayai aku.
“Baiklah, kalau kau hanya ingin mati sia-sia aku akan dengan senang hati membantumu. Aku lebih senang melihatmu mati daripada Zoey yang harus mati...” Tae Dong yang mendengar perkataan Seo Jin berbalik dan berjalan ke arah kami.
Entah apa yang membutakan pikiran Seo Jin, ia melepaskan tanganku dan berjalan menjemput tantangan Tae Dong. Aku menghela nafas. Ada apa sebenarnya dengan dua laki-laki ini! Mereka sama-sama dewasa tapi pikiran mereka sempit.
BUG!
Tae Dong seolah sengaja membiarkan Seo Jin memukulnya. Aku menghela nafas, jelas pertarungan ini tidak seimbang. Seo Jin bukanlah sosok sempurna yang lahir dari drama. Ia benar-benar tidak pandai bela diri dan latihannya selama ini hanya sebatas teori.
Aku masuk ke dalam pertarungan konyol ini. Aku menangkap pukulan Seo Jin dan menatapnya tajam lalu aku berbalik dan melayangkan tendanganku ke arah Tae Dong yang membuatnya menghindar ke belakang.
“Nice shoot! Kalau aku tidak menghindar aku yakin aku akan terkapar...” ternyata ia tak lagi meremehkanku. Ia terkekeh menatapku yang kini menatap Seo Jin dengan dingin.
“Tidak bisa kah kau mengerti?” aku memohon pada Seo JIn
“Katakan, apa yang tidak aku mengerti di sini?”
“Ceritanya terlalu panjang...” Tae Dong ikut menimpali pertanyaan Seo Jin.
“Brengsek!” Seo Jin mengabaikanku dan kembali hendak menerjang Tae Dong.
Kejadian ini berlangsung hanya beberapa detik. Saat aku hendak menghalangi Seo Jin, Tae Dong justru merengsak maju dan mendorong punggungku hingga menabrak Seo Jin. Seo Jin yang terkejut tidak sempat membaca situasinya dan kami berdua terjungkal ke belakang.
“OPPA!” aku berteriak melihat tubuh Seo Jin yang jatuh ke balik pagar dan menggelinding menuruni lereng yang cukup terjal. Aku bisa melihat tubuh Seo Jin menghilang dari pandanganku sementara aku masih tergantung di atas pagar karena Tae Dong memegang bajuku.
“Kita tak punya banyak waktu!” kali ini ucapan Tae Dong lebih tegas. Ia lalu menyeretku pergi dan mengambil paksa ponselku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat saat Tae Dong menghubungi seseorang.
“Cepat ke sebelah barat panti, atau seseorang akan mati...” Tae Dong lalu menutup telponnya dan melemparkan ponselku ke arah pagar tepat di mana Seo Jin terjatuh.
Aku tidak tahu keputusanku ini benar atau salah. Aku memilih pasrah saat Tae Dong menarikku dan menyuruhku masuk ke dalam mobilnya. Kami langsung pergi meninggalkan panti saat itu juga.
Aku menatap ke luar jendela dengan tatapan mata kosong.
Aku tidak tahu apa yang paling benar, tapi aku mengerti, aku tidak boleh membiarkan lagi orang yang aku sayangi terluka apalagi celaka.
***