
“Kenapa wanita ini ada di sini!”
“Seung Hee-ya? Kenapa bicaramu seperti itu?” Pak Kim menegur putrinya.
“Seung Hee-ya? Kau pernah bertemu dengannya?” begitu Hoon bertanya, Seung Hee terdiam dan menundukkan kepalanya, “jawab pertanyaan Oppa!”
Bukannya menjawab Seung Hee berlari keluar menuruni tangga dan Hoon mengejarnya. Aku memandangi kedua orang tua Hoon bingung. Apa sebaiknya aku tidak jadi tinggal di sini?
“Duduklah, dua anak itu memang sering bertengkar...” Ibu Kim menarik kursi meja makan tak lupa beliau juga mengambil nasi untukku. Aku hanya mengangguk dalam diam, tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“Apa kau pernah bertemu dengan Seung Hee?” tanya Pak Kim.
“Tidak pernah, saya baru saja pulang dari luar negeri beberapa minggu yang lalu setelah empat belas tahun di sana...”
“Bagaimana anak itu bisa tahu tentangmu?” Pak Kim bingung. Aku juga merasakan kebingungan yang sama. Bagaimana bisa ia mengenalku?
“Lalu bagaimana kau mengenal Hoon?”
“Kami dulu satu sekolah...”
“Kalian sudah mengenal sejak lama ternyata. Apa orang tuamu tidak mengkhawtirkanmu kalau kau tinggal di sini?”
“Tidak...” jawabku tak yakin, “maaf merepotkan Anda...”
“Tidak-tidak, di sini banyak kamar kosong untuk anak-anak magang, kau juga bisa banyak belajar di sini...”
“Terima kasih...”
Tak lama kemudian aku mendengar langkah kaki yang menaiki tangga. Hoon sudah kembali bersama adiknya. Dengan tampang cemberut, Seung Hee duduk di sudut meja. Enggan untuk menatapku. Aku memberikan kode pada Hoon, meminta penjelasnnya.
“Eomoni, aku juga mau nasinya...” kata Hoon mengabaikanku.
“Kalian ini kenapa? Dan kau Seung Hee, apa begitu cara ayahmu ini mendidikmu?” tegur Pak Kim.
“Tidak...” kata Seung Hee lirih.
“Minta maaf, biar bagaimana pun Zoey adalah tamu...”
“Maafkan aku, Ajumma...” aku sedikit terkejut mendengarnya.
“Ajumma...” berbeda denganku, Hoon sedang berusaha keras menahan tawanya. Aku mencubit perutnya sekeras mungkin.
“Aw, aw...” ia berteriak.
“Jangan bertengkar di atas meja makan!” Ibu Kim menghandrik kami berdua, “selalu saja seperti itu...”
“Berapa umurmu Nak?” tanya Pak Kim bingung, ia juga terkejut saat anaknya memanggilku dengan sebutan ajumma.
“33 tahun...”
“Kau lebih tua daripada Hoon?” Pak Kim ikut terkejut, namun pembicaraan itu berakhir dengan lirikan tajam dari Ibu Kim. Waktunya makan. Makan siang itu berakhir dengan tenang.
***
“Kau boleh pakai kamar yang kau suka Zoey...” Ibu Kim menunjuk beberapa kamar yang ada di sebelah workshop.
“Ia akan tinggal di rumahku Eomoni...”
“OPPA!” Seung Hee protes mendengarnya.
“Aku bisa tinggal...” aku belum selesai berbicara saat Hoon menatapku tajam.
“Tidak, kau tak memiliki hak bicara di sini...” Hoon beralih ke arah Seung Hee, “dan Oppa belum memaafkan perbuatanmu!” ia lalu meraih tasku dan turun ke lantai bawah. Dengan terpaksa aku mengikutinya menelusuri taman dan masuk ke dalam rumah kecil yang berada di ujung bangunan letter L itu, tepat di samping rumah kaca.
“Duduk...” ia menunjuk sofa di sampingnya, “berapa lama kau berencana tinggal di sini?”
Aku menatapnya heran, bukankan dia sendiri yang mengijinkanku tinggal, “apa aku sebaiknya ikut kau ke Seoul lagi?”
“Bukan begitu maksudku?”
“Lalu apa?”
“Aku pikir, tidak baik melibatkan keluargaku dalam masalahmu...”
“Bukankah kau sendiri yang melibatkan keluargamu?” ia terdiam, menyadari sesuatu, “ada apa denganmu sebenarnya!”
“Aku juga bingung Zoey...”
“Antar aku ke Bandara, aku akan kembali ke Paris saja, setelah sampai sana aku pastikan aku mengirim uang ganti penerbanganya...”
“Tidak bisa Zoey...”
“Kau tak bisa kembali ke Paris atau ke manapun. Keluargamu mendaftarkanmu sebagai orang hilang. Kau otomatis akan tertangkap begitu kau melewati pintu keberangkatan...” aku menatap Hoon dengan tatapan tak percaya, ia sudah mengecek sejauh itu ternyata. Jadi dia benar-benar berniat memulangkanku ke Paris.
“Luar biasa...sejak kapan aku jadi buronan?”
“Kau bisa tinggal di sini selama yang kau mau...”
“Aku akan pergi secepatnya...”
“Tidak...”
“Apa masalah mu sebenarnya!” aku akhirnya meninggikan suaraku, “kenapa bicaramu terus berputar-putar seperti itu!”
“Kenapa kau muncul kembali dalam keadaan seperti ini? Kau membuatku berantakan!” Hoon mengacak rambutnya frustasi.
“Apa aku pernah berharap aku akan mengalaminya?” tanyaku dengan nada terluka. Aku yang menjadi korban di sini, kenapa dia malah bertanya seperti itu padaku, “Hidupku yang berantakan di sini!”
“Pergilah...”
“Zoey...” Hoon baru menyadari bahwa dia melakukan kesalahan. Ia berdiri dan menghampiriku.
“Pergi!” aku menepis tangannya, “tenang saja, aku akan pergi bahkan sebelum kau kembali.”
“Zoey, maafkan aku...”
“Aku sungguh sangat berterima kasih kau telah membantuku sejauh ini. Tapi bukan berarti kau boleh seenaknya menyalahkanku...” aku menatapnya dengan sakit hati. “Apa kau pikir aku senang?”
“Bukan begitu maksudku, Zoey!” mata Hoon bergetar saat melihatku hampir menangis, “aku tidak penah sekalipun menyesal menolongmu malam itu. Aku hanya...”
“Kau hanya tidak menyangka aku akan menghancurkan kehidupanmu kan?”
“Dengarkan dulu penjelasanku!” Hoon ikut meninggikan suaranya.
“Pergi!”aku mendorongnya.
“Kau lupa ini rumahku?”
“Kalau begitu aku yang pergi!” aku berjalan melewati pintu dan menutupnya cukup kencang. Aku memutuskan untuk mengabaikan panggilannya. Entah kenapa hatiku pedih mendengarnya.
Apa dia pikir aku ingin bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini?
Perlahan aku mulai menyesali satu keputusanku. Bahwa kemungkinan sakit hati yang kita rasakan akan berbanding lurus dengan besarnya bagian dalam hatimu yang kau berikan padanya.
“Zoey!” Hoon berhasil menangkap pergelangan tanganku saat aku tiba di taman.
“Masuk, kita bicarakan baik-baik di dalam...” Hoon menarik tanganku kembali ke dalam. Aku menepisnya dalam satu gerakan. Mudah saja genggamannya terlepas.
“Zoey!” kali ini tanpa aku duga Hoon menubruk tubuhku dan langsung mengangkatnya. Ia membawaku yang terus meronta masuk ke dalam rumah.
“Lepaskan aku! Dasar orang gila!” aku memukul punggungnya dengan tanganku.
“Aku memang gila karena kau!” Hoon melemparkanku ke atas sofa dan ia menjepitku dengan tubuhnya.
“Lepaskan...” aku meronta sambil mendorong tubuhnya menjauh.
“Tidak akan sampai kau tenang...”
“Tinggalkan aku sendiri...” aku mulai merintih.
“Kau lupa, aku tak akan pernah membiarkannya lagi, apalagi dengan kesalahpahaman ini...” Hoon mendekapku erat.
“Hoon-ah kumohon...”
“Dengarkan aku...” Hoon mengusap air mataku dan menatapku tajam, “kau benar-benar salah paham. Aku tak bermaksud seperti itu. Aku akui aku egois saat mengatakannya. Tapi aku benar-benar minta maaf...”
“Aku yang berencana untuk mencarimu di Paris, aku yang berencana untuk datang lagi kepadamu seperti waktu itu. Aku sungguh tak menyangka akan bertemu denganmu di hotel tempatku bekerja dalam kondisi seperti itu Zoey. Kau dengar, bahkan sampai saat ini, saat aku mengingat kejadian malam itu, dadaku masih bergemuruh merasakan amarahnya...”
“Kau harus tahu Zoey, kau selalu istimewa bagiku...”
“Hoon-ah...”
“Bagaimana mereka bisa melakukan hal itu padamu?” suara Hoon begitu lirih, “aku hampir gila karenanya...”
Aku memilih diam saat merasakan tangan Lee Hoon yang bergetar. Hatiku merasakan perasaan yang hangat sekaligus pedih secara bersamaan.
“Aku baik-baik saja sekarang, dan itu karenamu Hoon-ah...” hanya kata itu yang terpikirkan olehku sebagai penghiburan untuk hatinya yang terluka dan sebagai pengingat bahwa aku masih memiliki alasan untuk bertahan.
***
Ajumma :panggilan untuk wanita yang sudah pantas untuk di sebut tante (tante bukan dalam artian anggota keluarga) biasanya orang Korea tidak terlalu suka di sebut Ajumma apabila masih berstatus single