Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 49; Kediaman Mo Tae Dong



“Apa kau marah padaku?”


Aku memilih tidak menjawab pertanyaan Tae Dong. Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak lagi ada dalam kondisi menahan amarah. Aku sudah dalam kondisi tidak akan pernah memaafkan perbuatannya. Bagaimana mungkin ia mendorong Seo Jin tepat di hadapanku? Ia benar-benar orang yang tidak memiliki perasaan.


“Ia tidak akan mati, artis itu tidak akan mati ku bilang...” kata-katanya bukannya menghiburku tapi justru membuat kemarahanku meledak.


“Dari mana kau tahu!” aku membentaknya sambil mencengkeram kerahnya dengan erat.


“Setidaknya itu harapanku. Atau kau justru ingin dia mati? Atau kita yang mati lebih dulu?” Tae Dong melirik ke arah jalan raya yang ada di depannya. Aku mendengus kesal sambil melepaskan tanganku.


“Kau terlalu berlebihan...”


“Ini belum seberapa Zoey, kau akan terbiasa nanti...”


“Ini tidak akan membuatku terbiasa, dan tidak akan...aku tidak mau...”


“Aku juga mengarapakan yang sama, tapi kita lihat saja nanti...”


“Kau akan membawaku ke mana?”


“Kau akan tahu begitu kita sampai...” Tae Dong membelokkan mobilnya keluar dari jalan raya dan masuk ke gang yang lebih kecil. Aku tidak tahu ini ada di mana jadi aku memilih diam dan menghapalkan jalan. Lagi-lagi aku melakukan perjalanan tanpa arah lagi. Kali ini aku tidak tahu apakah cadangan nyawaku masih tersisa banyak.


Tae Dong memarkirkan mobilnya di depan garasi sebuah rumah. Aku turun dari mobil dan menengok ke kanan-kiri, rumah ini berada di dalam kompleks perumahan dengan lingkugan yang cukup tenang. Aku mengikuti Tae Dong masuk ke dalam rumah modern berlantai dua ini dengan perasaan aneh. Bukan rumah yang memiliki kesan dingin atau menyeramkan seperti yang aku bayangakan, tapi rumah ini justru terkesan hangat dan ramah.


“Hyung! Sudah kembali?” seorang laki-laki muncul sambil memeluk sekotak besar cereal di tangannya. Laki-laki itu masih terlihat berumur awal duapuluhan. Bajunya terlihat kebesaran dan kacamata bulatnya melorot sampai ke ujung hidungnya.


“Oh, Ren kenalkan ini Zoey, dia akan tinggal bersama kita mulai saat ini...” aku menoleh pada Tae Dong dengan tidak percaya. Apa maksudnya?


“Dia anak baru lagi? Hyung mendapatkannya di mana?” laki-laki bernama Ren itu berlari menghampiriku dan mengamatiku dengan seksama dalam jarak dekat. Aku menajuhkan wajahku risih dengan tingakah lakuknya.


“Dia jauh lebih tua darimu, mana Elsa? Toby?”


“Elsa ada di dapur dengan Bibi, Toby ada di ruangannya...” Ren masih menaruh ketertarikannya padaku hingga ia tidak mengalihkan padangannya dariku sedetik pun, “Apa kelebihanmu Nuna?” tanyanya.


Aku memilih tidak menjawabnya dan mengikuti langkah Tae Dong.


“Kau berbeda ternyata...” aku benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ren, “kau adalah bom itu, kau bisa meledak dan menghancurkan Hyung kami sewaktu-waktu...”


“Ren, jaga bicaramu...” tegur Tae Dong dengan tajam. Aku lalu mengikutinya naik ke lantai dua dengan cepat. Aku merasa punggungku sudah berlubang ditatap oleh anak itu.


“Apa-apaan dengannya?”


“Dia hanya waspada...” Tae Dong membuka pintu sebuah kamar dan mengajakku masuk. Kamar ini lebih mirip dengan ruang kerja daripada kamar tidur. Ukurannya cukup besar namun ruangan ini penuh dengan filling berkas, buku, serta meja yang besar di tengah-tengahnya. Ada banyak komputer yang menyala di sudut lainnya dan aku bisa melihat dengan jelas pergerakan curve saham dari banyak perusahaan di sana. Seseorang duduk mengamati layar itu secara bergantian, ia bahkan tidak menghiraukan kedatangan kami.


“Dia Toby, abaikan juga dia...” aku hanya mendengus mendengar perkataan Tae Dong. Kenapa pula ia repot-repot mengenalkan semua orang di rumahnya kalau ujung-ujungnya hanya untuk diabaikan?


“Ganti dulu perbanmu...” ia melihat ke arah kakiku. Perban yang aku gunakan untuk membungkus luka itu kini sudah berubah warna menjadi merah. Aku sampai tidak menyadarinya. Aku buru-buru meraih kakiku yang tiba-tiba terasa sakit.


“Aku ambilkan baju ganti dan minuman, kau tunggu di sini...” Tae Dong lalu meninggalkanku sendirian di dalam ruangan itu.


Aku mengangkat kakiku dan mulai melepas perbannya. Uh, aku sampai tidak sadar kalau lukaku terbuka lagi. Aku mengoleskan obat di atas luka usai membersihkannya. Pelan-pelan aku membungkus kembali luka itu dengan cukup cekatan. Setidaknya aku puas dengan hasilnya.


“Ganti bajumu di sana...” kata Tae Dong sambil menunjuk pintu di ujung ruangan. Ia sudah kembali sambil membawa setelan baju training berwarna hitam abu-abu diikuti oleh seorang wanita cantik berdarah campuran.


“Halo Zoey...” ia masuk dan meletakkan dua gelas berisi air putih dan jus jeruk. Aku mengangguk sambil tersenyum membalas senyumannya.


“Namanya Elsa...”


“Hi, Elsa...”


“Apa kau perlu bantuan?” aku menggeleng cepat menjawab tawarannya, “kalau butuh apa-apa hubungi aku, aku juru kunci rumah ini...” tanpa menunggu jawabanku ia langsung menghilang, meninggalkan aku dan Tae Dong dalam satu ruangan.


“Cepat ganti, banyak yang harus kau kerjakan...” ia memandangku dengan tatapan tidak nyaman. Aku mengiyakan tatapan itu karena aku masih menggunakan pakaian formal yang kini sudah tidak rapi lagi. Aku mengikuti perintahnya dan masuk ke ruangan yang ternyata kamar mandi. Aku membersihkan diri secukupnya kemudian keluar dengan pikiran yang lebih jernih.


Tae Dong sudah duduk di kursi yang ada di ujung ruangan. Matanya tidak beralih dari monitor besar yang ada di depannya. Begitu ia menyadari kehadiranku, ia berdiri dari  kursinya dan mengambil sebuah map. Ia mengeluarkan satu lembar kertas yang ternyata itu sebuah foto dan meletakkannya di depanku. Ada seorang wanita ayu yang tergambar di sana, aku tidak tahu apa maksud Tae Dong memberikannya padaku.


“Dia ibu tirimu...” seolah tahu apa yang aku pikirkan, Tae Dong menjawab kebingungan di wajahku.


Aku buru-buru meraih foto itu dan mengamatinya dengan seksama. Paras ayunya terlihat sempurna dan ia begitu mirip dengan Dany Oppa. Matanya dan juga senyumannya semuanya mirip. Aku tidak mempercayai yang aku lihat begitu saja sampai Tae Dong memberikanku foto lainnya. Foto Ayah yang menggendong bayi laki-laki kecil dan wanita yang sama duduk di sampingnya.


“Namanya Park Da In...” Tae Dong mulai membeberkan informasi tentang wanita yang ia katakan sebagai ibu tiriku. Aku mendengarnya dengan seksama. Wanita itu meninggal ketika Dany Oppa masih berusia empat tahun dalam sebuah kebakaran di kantor cabang Mirae Grup yang bergerak dalam bidang kosmetik. Park Da In terperangkap di dalam kantor itu bersama beberapa rekan kerjanya.


“Di sanalah letak semua kesalahan ini, Ayahku lah yang melakukannya...” pengakuan Tae Dong membuatku mengangkat kepala. Kenapa ia dengan mudahnya mengakuinya dan juga tanpa rasa bersalah?


“Tentu saja, bukan aku yang melakukannya...” ia seolah tahu apa yang aku pikirkan. Aku sendiri tertegun dengan kempuannya membaca apa yang aku pikirkan saat ini.


“Entah ini alasan atau penjelasan, tapi ayahku bilang ia tidak tahu bahwa Park Da In masih ada di sana. Ayahku masih menyukai Park Da In waktu itu sehingga ia dengan mudahnya mengakui bahwa ialah yang membakar kantor itu. Ayahku benar-benar merasa bersalah atas kematian wanita itu...” nada bicara Tae Dong terdengar berbeda saat mengatakannya. Ada sebersit luka di hatinya dan itu jelas tergambar di wajahnya.


“Kenapa ia melakukannya? Bukankah kalian cukup kaya untuk menyewa pengacara handal agar bisa terbebas dari tuduhan itu? Apa ayahmu pikir, dengan pengakuannya ia bisa mengembalikan nyawa Park Da In atau mendapatkan maaf dari keluarga besarku?” aku tidak bisa mengabaikan kemungkinan ini. Bisa saja ayahnya melarikan diri dari semua ini, tapi kenapa ia memilih menyerahkan dirinya untuk di penjara kalau ia memang memiliki niat jahat dari awal?


“Itu juga menjadi pertanyaanku Zoey...” Tae Dong menatapku dengan tatapan terluka, “Ia jelas-jelas memiliki aku dan ibuku, tapi ia membuang hidupnya dan hidup kami demi rasa bersalah pada wanita lain dari masa lalunya...”


Aku menelan ludahku untuk membasahi kerongkonganku yang kering. Tiba-tiba saja luka yang terpancar dari mata Tae Dong merembes pelan masuk ke dalam hatiku.


Laki-laki ini tumbuh dengan luka basah di hatinya


Laki-laki ini tumbuh dengan kerinduan mendalam pada hak-hak yang seharusnya menjadi miliknya


***