Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 39; Pertanyaan Han Seo Jin



“Zoey, kau baik-baik saja?”


“Huh?” aku dengan bodohnya menunjukkan tanganku yang terlepas dari gengaman Seo Jin. Aku buru-buru menyembunyikan tanganku di belakang pinggang.


“Ada apa?” Seo Jin menaikkan sebelah alisnya dan mengulurkan secangkir coklat yang dibawanya tadi.


“Tanganmu halus sekali...” celetukku tanpa aku sadari. Aku mengatupkan rahangku dan beringsut duduk di atas sofa.


“Ya memang, tapi ini tidak berarti aku tidak bekerja keras loh...” Seo Jin ikut duduk di sampingku dan menunjukkan tangannya di hadapanku. Tangannya lebih putih dariku, jemarinya panjang dan lentik. Aku seolah diingatkan kembali bahwa pekerjannya adalah idol dan aktor. Merawat diri adalah bagian dari kewajibannya sebagai public figure. Berbeda sekali denganku.


“Aku banyak sekali menghabiskan waktuku untuk menggambar dan menjahit. Tanganku sangat berantakan. Bahkan aku tidak pernah mengecat atau menghias kukuku karena akan menganggu saat aku menjahit nanti...” tanpa sadar aku ikut menujukkan tanganku. Tanganku penuh dengan luka bahkan terdapat callus di bagian dalam jari tengah dan telunjukku. Selain karena hobiku, tanganku juga mengeras dan terluka karena latihan bela diri yang tak perlu aku katakan pada Seo Jin.


“Woa...” aku menegakkan punggungku saat Seo Jin menyentuh bekas luka itu dengan mata yang membulat karena terkesan. Aku menatap matanya dari samping dengan takjub. Laki-laki itu benar-benar menujukkan perasaan kagumnya, bukan menghina.


Aku menarik tanganku pelan sebelum suasana di antara kami menjadi canggung. Aku menggenggam cangkir dengan kedua tanganku dan merasakan kehangantan yang masih tersisa. Aku membuang pandanganku jauh pada pohon cherry blossom yang daunnya mulai menguning, menandakan musim gugur akan segera datang. Aku menarik nafasku dalam-dalam, aroma musim gugur membuatku nyaman. Walau udara yang masuk ke hidungku mulai kering dan dingin tapi aroma khas dedunan kering membuatku tenang.


“Kau pernah lihat bunga Azalea?” tanya Seo Jin tiba-tiba. Aku menggeleng tidak mengerti, “semua tanaman yang ada di ujung pagar itu sampai ke bawah sana adalah bunga Azalea. Putih dan merah muda...” Seo Jin lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan galeri fotonya, “ini aku ambil musim semi tahun ini...”


“Cantik...”


“Ya, dan aku sering menghabiskan musim semi di rumah ini...” katanya tanpa melepaskan pandangan dari layar ponselnya, “besok kita lihat bersama...”


Aku memandang sisi wajahnya yang kini tersenyum melihat foto-foto di ponselnya. Aku tidak tahu apakah ia mengatakannya dalam kondisi sadar atau hanya refleks saja ingin menunjukkan pemandangan indah padaku. Aku menginjak tunas harapan yang muncul dihatiku sebelum ia tumbuh dan memberikan kepalsuan yang menyakitkan. Ternyata kebiasaan yang ditanam oleh keluargaku itu masih tersisa di dalam diriku. Aku pikir aku belum sepenuhnya bisa percaya pada orang lain.


“Oppa tinggal di mana?” aku mencoba menganti topik percakapan.


“Aku tinggal di apartemen yang ada di wilayah Apgujeong-dong, kalau aku bosan atau tidak ada jadwal aku baru ke sini...” walau aku belum lama tinggal di Korea, tapi aku sudah tahu bahwa Apgujeong adalah salah satu wilayah elit yang ada di wilayah Gangnam.


“Aku berencana membuka La Red de Alice di Cheongdam-dong akhir bulan nanti sambil menunggu koleksi musim gugur kami release...” aku jadi teringat tentang rencana butikku itu di sana.


“Selamat!”


“Masih lama!” aku menghentikan selebrasinya yang berlebihan.


“Ah, apa yang sebenarnya ingin kau bicarakan denganku?” pertanyaan Seo Jin membuatku seketika membeku. Ah bisa-bisanya aku lupa kalau aku punya tujuan lain saat datang ke sini. Aku meletakkan cangkirku di atas meja dan mulai menyusun kata. Dari mana aku harus memulainya.


“Apa kau ingin bertanya tentang Hoon?” aku langsung menoleh pada Seo Jin saat laki-laki itu menyebut namanya, “tebakan ku tepat sasaran ya?”  Seo Jin ikut meletakkan gelasnya dan menyandarkan dirinya di bantalan sofa.


“Ada apa?” Seo Jin kembali bertanya begitu aku tidak mengatakan sepatah kata apapun. Matanya menatapku dengan penuh selidik.


“Oppa tahu di mana Hoon?” aku melihat reaksi Seo Jin terlebih dulu sebelum melanjutkan, “aku sudah ke apartemennya dan ke tempatnya bekerja tapi mereka mengatakan kalau Hoon sudah tidak bekerja di sana. Hoon juga tidak ada di Icheon...”


“Hanya itu yang ingin kau tanyakan?” Seo Jin meraih ponselnya yang ada di atas meja. Ia lalu mencari nama Hoon untuk menghubunginya.


“Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tidak bisa...”


Seo Jin tidak mengatakan apapun dan mendengarkan nada panggil itu dalam diam. Panggilan pertamanya tidak diangkat, ia lalu mencoba menghubungi Hoon lagi. Tiba-tiba panggilannya terhubung setelah dering ke empat.


“Kau di mana?” Seo Jin lansung bertanya begitu Hoon mengangkat panggilannya. Tanpa sadar aku menahan nafasku agar Hoon tidak menyadari keberadaanku.


Tuk!


Seo Jin mengakhiri telponnya dan menatapku, “dia ada di Paris.”


Mulutku menganga melihat apa yang baru saja dilakukan oleh Seo Jin. Aku meruntuk dalam hati. Aku juga tahu setelah mendengarnya dengan jelas. Tapi yang tidak aku percayai adalah apa yang aku lihat saat ini. Bisa-bisanya ia hanya menanyakan keberadaan Hoon kemudian mematikannya.


Tak berapa lama kemudian ponsel Seo Jin berbunyi, terlihat nama Hoon muncul di layarnya. Seo Jin menunjukkannya padaku dan kembali bertanya, “apa yang ingin kau ketahui, Zoey?”


Aku tahu aku tidak memiliki banyak waktu untuk berfikir karena mungkin ini kesempatan terakhirku untuk mengetahuinya, “kenapa dia tiba-tiba pergi ke sana...”


Sebagai  persetujuan atas permintaanku, Seo Jin menjawab telepon dari Hoon dan mengaktifkan loudspeakernya agar aku juga bisa mendengarnya.


“Apa Hyung sudah gila!” Seo Jin menjauhkan ponselnya karena terkejut mendengar teriakan dari Hoon.


“Kau yang gila. Aku mencarimu ke hotel tapi katanya kau pergi. Kau pulang ke sana? Apa terjadi sesuatu dengan Eommamu?” pertanyaan Seo Jin membuatku berpikir. Pulang? Eommanya tinggal di sana? Aku menelan ludahku dan menatap langit dengan tatapan penuh kegetiran. Banyak sekali yang aku lewatkan.


“Inikah rumahku. Wajar saja kan kalau aku pulang! Eomma baik-baik saja...”


“Baguslah... kau baru bangun? Jam segini?”


“Aku masih libur, belum masuk kerja lagi. Ada apa Hyung mencariku?”


“Apa kau baik-baik saja?” kali ini Hoon membutuhkan waktu lebih lama untuk menjawab pertanyaan Seo Jin.


“Ya aku baik-baik saja...”


“Kau terdengar tidak baik-baik saja. Ada masalah dengan Zoey?”


“Kenapa tiba-tiba Hyung menanyakan Zoey?” bukannya menjawab Hoon justru kembali bertanya.


“Bukankah kalian dekat? Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya...” begitu Hoon tidak menjawab Seo Jin kembali bertanya, “jangan bilang kau putus dengannya?”


“Aku tidak pernah berpacaran dengannya!” jawab Hoon cepat.


“Ah, mian (maaf)...”


“Apa dia menghubungimu?”


“Kau pergi diam-diam? Laki-laki macam apa kau ini!”


Aku mendengar suara Hoon yang mengela nafas panjang di seberang sana. Seo Jin tidak berbicara sepatah kata apapun dan menatapku dengan lekat. Ia berusaha mencari sesuatu dari dalam diriku.


“Aku pikir kau menyukainya karena kau jelas-jelas mengusirku dari rumah sakit waktu itu...” Seo Jin lalu menatapku tajam, “apa kepergianmu ini jawaban atas perasaanmu?”


Aku terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Seo Jin karena kini ia menatapku tajam seolah-olah ia juga menanyakannya padaku. Aku tidak bisa mengalihkan padanganku darinya, tatapannya seolah mengunci mati tubuhku. Waktu kami berhenti menunggu jawaban apa yang akan Hoon berikan. Jawabannya seolah menjadi titik nol dalam koordinat kertasius yang akan menjadi titik pusat dari pergerakan kami. Siapa dari kami yang bergerak maju dan naik ke medan laga atau siapa dari kami yang turun dan memilih mundur.


***