Dazzling Society

Dazzling Society
Episode 43; Sosok Hoon



Aku duduk sambil menyesap kopi di ruang kerja yang ada di dalam kamarku. Aku memandangi coretan kasar di atas buku planner yang selalu aku bawa ke mana-mana. Aku menghela nafas melihat kasus yang aku lihat di hadapanku ini menemui jalan buntu.


Sesering apapun aku berpikir, cerita hidupku tidaklah masuk akal. Dari perjodohan yang awalnya sangat dipaksakan menjadi hal yang dapat dibatalkan dengan mudahnya. Kemudian muncul sosok Mo Tae Dong yang tiba-tiba menuntut dendam pada keluargaku. Ada yang tidak beres di sini dan sialnya aku tahu siapa yang memegang kunci lain dari masalah ini.


Mo Tae Dong!


Aku mengeluarkan kartu nama yang diberikan oleh sekretarisku. Aku masih ragu untuk menghubunginya. Tekadku dan nyaliku duduk berlawanan arah di atas pengunkit kelas satu. Hanya ada satu alasan untuk bertanya namun begitu banyak alasan untuk menghindarinya.


“Nuna...” suara Juna terdengar bersamaan dengan kemunculan kepalanya di balik pintu. Aku diam-diam menyelipkan kartu nama Mo Tae Dong dan menuntup plannerku saat Juna berjalan mendekatiku.


“Ada apa?” aku berdiri dan pindah ke sofa yang ada di ujung tempat tidurku.


“Tidak, hanya memastikan kau baik-baik saja...” Juna ikut duduk di sampingku. Ia memperhatikanku dengan seksama, “kau yakin akan hadir dalam acara amal itu lusa?” tanyanya.


“Tentu saja, aku adalah orang yang bertanggungjawab di sini...” aku menyadari kekhawatirannya. Ia takut kalau terjadi apa-apa denganku dan lokasi kami cukup jauh dari pusat kota.


“Aku akan menemanimu...” kata Juna akhirnya.


“Untuk apa? Kau tidak percaya padaku? Atau apa?” aku mengernyitkan dahiku bingung, “Hye sung akan bersamaku dan kemampuan bela diriku jauh lebih meningkat setelah aku berlatih dengan Jong Sik...” jika yang Juna khawatirkan adalah aku dan Mo Tae Dong akan beradu tinju itu tidaklah berguna. Aku memiliki pengalaman lebih dari pada Juna sehingga kehadirannya pun tidak banyak membantu. Aku juga sering bertemu dengan Jong Sik di studionya dan belajar banyak hal darinya. Ia adalah petarung handal dan Hye Sung adalah adik seperguruannya dulu ketika mereka belajar bela diri di Jepang.


“Kau berangkat besok?”


“Ya, ada banyak yang harus aku pastikan sehingga aku akan ke sana besok. Aku juga sudah memesan kamar hotel. Aku dan Hye Sung akan ada di dalam satu kamar, jadi berhentilah khawatir...” aku meyakinkan Juna sekali lagi.


“Ah, Seo Jin-ssi...” Juna tiba-tiba menyebut nama Seo Jin begitu hendak keluar dari kamar, “kirimkan jadwal kegiatan kalian padanya, ia akan datang sebagai perwakilan dari Mirae Pusat...”


“APA!” aku tidak bisa menyembunyikan keterkejutanku begitu mendengarnya.


“Kau tidak tahu dia ambassador Mirae Grup?”


“Bu...bu...bukan itu. Tapi kenapa ia mau ke sana?”


“Dia selalu ada dalam kegitan kita jika ia tidak memiliki jadwal, terlebih lagi sekarang ada kau. Sebelum kau di sini, ia sudah rajin ke acara amal seperti ini. Aku yakin dia akan semakin ingin datang, kali ini tidak hanya karena keinginannya tapi juga karena ia ingin bertemu denganmu...” Juna terkekeh melihat ekspresi wajahku yang tidak mempercayai ini.


“Kami tidak memiliki hubungan seperti itu...” tanpa sadar aku mengatakannya. Entah kenapa aku merasa arah pembicaraan Juna mengarah ke hubungan yang lebih intim dari sekedar teman. Aku belum lama mengenal Seo Jin dan pertanyaan Juna membuatku tidak nyaman.


“Ya, aku tahu...tapi tidak ada salahnya Nuna mencoba membuka hati pada seorang pria. Atau Nuna lebih menyukai laki-laki bernama Hoon itu?” mendengar Juna menyebut nama Hoon membuatku termenung. Aku tidak bisa menjawabanya karena bukan aku yang memegang kunci jawaban dari soal tersulit di hidupku itu.


“Aku tidak akan memaafkanmu jika kau mempermainkan hati banyak pria...”


“Lalu kau akan memaafkan pria yang berani mempermainkan hati Nunamu?” aku hanya menatap Juna dengan putus asa.


“Haaaa.... entahlah...” aku sendiri pun ragu dengan apa yang aku rasakan. Aku belum merasakan apa yang namanya jatuh cinta pada lawan jenis. Aku sempat merasakan ketertarikan itu dengan Hoon, tapi mengingat perkembangan hubungan kami sampai saat ini, aku semakin lama semakin meragukannya . Seperti ada sebuah garis yang tidak bisa kami lalui dan aku tidak tahu apa itu. Tunas di dalam hatiku bahkan belum sempat berkembang ketika kini layu tanpa penjelasan.


“Aku awalnya mengira aku bisa bersama dengan Hoon. Dalam hidupku, aku merasa benang takdirnyalah yang paling sering berpapasan dengan milikku. Entah sengaja atau tidak, tapi aku bertemu dengannya sebanyak tiga kali dalam kejadian yang tidak terduga. Tapi Hoon, dia pergi...ah bukan pergi, ia pulang ke Paris tanpa memberikan penjelasan apapun padaku. Kalau memang hubungan kami seistimewa itu, bukankah setidaknya ia berpamitan denganku?”


“Tiga kali?”


“Hmm... pertama saat aku dijodohkan dengan Hwang Joon, aku bertemu dengannya di sekolah. Kedua, saat aku sedang berada di Paris untuk menghadiri festival fashion lima tahun setelahnya, dan terakhir saat aku kembali ke Korea, ia yang menolongku di hotel itu...” Juna menatapku tidak percaya, “ada apa?”


“Kau tidak tahu siapa Hoon?” pertanyaan Juna membuatku mengernyiktan dahi. Aku tahu Hoon, tentu saja. Aku tidak sekali dua kali bertemu dengannya dan itu membuatku yakin aku bisa mengatakan kalau aku mengenalnya.


“Dengarkan baik-baik Nuna...” Juna menatapku serius, “salah satu alasan kenapa Ayah tidak lagi menyebut nama Hwang Joon adalah karena kami semua berfikir bahwa Nuna dan Hoon saling menyukai satu sama lain...”


“Apa hubungannya Hwang Joon dengan Hoon?”


“Kau tidak tahu?” Juna menatapku dengan tidak percaya, “Hoon adalah adik sepupu Hwang Joon...”


“HA? APA?” aku mau tidak mau meninggikan volume suaraku, “nama keluarga Hoon adalah Lee bukan Hwang!”


“Hah? Apa maksudmu? Namanya adalah Hwang Yi Hoon. Apa kau benar-benar tidak tahu?” saking besarnya rasa syok yang aku terima aku sampai tidak bisa berkata-kata, “waktu kau ada di rumah sakit, Hwang Joon bahkan menjengukmu, dia lebih terkejut lagi saat melihat adiknya itu ada di sana bersamamu. Ia menceritakan semuanya pada Dany Hyung sehingga kami tahu apa yang terjadi padamu...”


Aku juga tidak ingat ini, tapi perlahan aku mulai sadar percakapan Hoon dengan seseorang saat aku dalam kondisi setengah sadar. Mataku masih kabur saat itu dan aku hanya bisa mendengar suaranya, jika aku pikir-pikir, suara itu memang femiliar. Aku meremas rambutku dengan kesal. Kenapa Hoon menutupi identitasnya sendiri seperti itu? Ia bahkan tahu tentang diriku dan masalah perjodohanku dengan keluarga Hwang. Tapi jika dia adalah bagian dari keluarga Hwang kenapa ia tidak mengatakannya? Bukankah ia memiliki kesempatan untuk bersamaku? Tapi kenapa ia pergi begitu saja.


“Tapi Nuna...” aku mengangkat kepalaku yang masih berdenyut menerima fakta ini. Juna menatapku seolah mengetahui apa yang aku pikirkan saat ini, “Hwang Yi Hoon, memutus hubungan keluarga dengan Keluarga Hwang dan pergi ke Paris...aku tidak tahu bagaimana ceritanya. Intinya, Hubungan keluarga Hoon dengan keluarga besarnya tidak baik...” Juna mengigit bibirnya. Ia memutuskan tidak melanjutkan ceritanya karena itu bukan bagian yang pantas di ceritakan olehnya.


Cerita Juna membuat semua penolakan yang dilakukan Hoon terdengar masuk akal. Ia sudah menyadari bahwa hubungan kami tidaklah mudah. Ia selalu bertanya kenapa aku harus menjadi Zoey Park. Selain dia tidak menyukai garis keturunanku, ia bahkan membenci garis keturannya sendiri. Jika ia ingin bersamaku, ia mau tidak mau harus mengakui dirinya lagi sebagai bagian dari Hwang.


Aku harus bertemu dengannya. Jika ia tidak mau bertemu denganku, aku yang akan menemuinya.


Tapi sebelum itu, aku harus bertemu dengan seseorang terlebih dahulu.


***


hallo mungkin ada yang bingung masalah penamaannya ya? Sedikit saya jelaskan:


Nama asli Hoon adalah Hwang Yi Hoon tulisan dalam hangul 황이혼 (Hwang Yi Hoon). Kalau kita sudah akrab makan kita bisa memanggilnya 이혼 (Yi Hoon). Nah 이 ini bisa ditulis Lee atau Yi. Seperti itulah kenapa Zoey menyangka marganya Lee bukan Hwang krn dia ngiranya Lee ini buka nama tengahnya ini tapi nama keluarganya. Hoon sengaja kenalanya cuma nyebutnya Lee Hoon (di Paris)


Boleh lo kalau keterangan saya ini tidak dimengerti atau gimana ada yg lebih tahu boleh menambahi atau merevisi.