Broken Angel'S [COMPLETED]

Broken Angel'S [COMPLETED]
#9, BROKE ANGEL'S



"Hai" Sapa ceria Gadis yang disamping laki-laki itu.


"Diksi, Fani" Kaget Sasha, Dia mendelik. Bagaimana kedua orang itu bisa kesini?. Fani tersenyum lebar.


Yups, Orang yang datang adalah Fani dan Diksi.


"Lo ngapain kesini?" Tanya Sasha kaget. Fani mendelik kesal.


"Lo yang ngapain kesini? Gak ngajak-ngajak lagi" Kesal Fani. Sasha meringis pelan.


"Masuk" Ajak Sasha pelan. Fani dan Diksi langsung masuk kedalam rumah Nenek Ina. Sasha juga ikut menyusul.


"Eh, Ada Fani sama Diksi" Ujar nenek Ina yang baru saja mengambilkan air minum.


Fani dan Diksi mencium punggung tangan nenek Ina.


"Iya nek, Caca sih gak ngajak-ngajak" Kesal Fani mengadu kepada Nenek Ina.


Sasha mendelik, Mana Sasha tau kalau Fani mau ikut.


"Ya, Gue kira Lo gak mau ikut" Jelas Sasha pelan. Fani mendengus kesal, Kemudian dia duduk di samping Diksi.


"Yaudah, Nenek ambilin minum lagi ya" Ujar Nenek Ina sembari kembali ke dapurnya, Sebenarnya dia tau bahwa Fani dan Diksi akan datang, Karena dia juga yang menyuruh Diksi kesini.


Hening.


"Lo naik apa?" Tanya Sasha pelan.


"Naik taksi, Biar baliknya bareng sama Lo" Jawab Fani santai. Sasha menghela nafasnya.


"Lo tau Gue disini?" Tanya Sasha bingung. Fani mengangguk dua kali.


"Gue juga tau kalo Lo kesini sama Kak Reynald" Jelas Fani.


"Dari?" Tanya Sasha mengernyit. Fani menunjuk Diksi menggunakan telunjuknya.


Sasha hanya ber oh ria saja. Diksi menatap Sasha, Sepertinya Sasha memang menjaga jarak dengannya.


Reynald hanya duduk menyimak pembicaraan mereka.


"Silahkan nak, Diminum dulu" Ujar nenek Ina yang membawa minuman dan cemilan, Kemudian ia meletakkannya di meja.


"Nek, Caca mau ke kamar dulu ya" Izin Sasha, Nenek Ina mengangguk mengiyakan, Sasha terlihat lelah.


Sasha langsung melangkah ke kamarnya, Dia masuk dan menutup pintu kembali, Dia lelah, Bukan hanya fisik namun juga batin.


Setelah Sasha pergi, Kini mereka hanya diam, Memikirkan apa yang ada di pikiran masing-masing.


"Bagaiman perkembangan Sasha?" Tanya Nenek Ina dingin, Bagaimana pun juga, Diksi pernah berbuat kasar kepada Sasha, Nenek Ina tau itu.


Reynald sampai kaget mendengar nada dingin dari nenek Ina, Karena tadi Nenek Ina sangat ramah.


"Masih sama, Caca masih orang yang dingin dan menutup rapat dirinya" Jawab Fani dengan nada sendunya.


"Sebenarnya apa yang mereka pikirkan tentang Caca? Apa mereka tidak pernah paham? Dulu Caca masih terlalu kecil untuk dibilang penyebabnya, Bahkan Caca tidak sepenuhnya salah dalam hal itu" Ujar Nenek Ina tak menyangka, Cucu yang sangat ia sayangi mendapatkan cobaan yang sangat berat, Bahkan bertahun-tahun, Padahal Sasha tak bersalah sepenuhnya.


Semuanya termenung, Benar apa yang dikatakan nenek Ina, Sasha sangat menderita.


"Bahkan kamu Diksi, Nenek pikir kamu menyayangi dia sepenuhnya seperti dulu" Ujar Nenek Ina dingin kepada Diksi.


Diksi terdiam dan menunduk, Dia juga menyesal melakukan itu semua.


"Maaf Nek, Maaf kalo Diksi udah nyalahin Caca, Maaf kalo Diksi sering kasar sama Caca, Dan Maaf Diksi belum bisa menyayangi Caca sepenuhnya seperti dulu" Lirih Diksi, Dia sangat menyesal, Bahkan sangat-sangat menyesal.


"Lo pernah kasar sama Sasha?" Tanya Reynald tak percaya, Mengapa Diksi berani berbuat kasar kepada Sasha?.


Diksi mengangguk lemah, Dia menyesal telah melakukan itu.


Reynald menggeram marah. Ingin rasanya mengajak Diksi baku hantam sekarang, Tidak ada yang boleh berbuat kasar kepada Sasha kecuali dirinya, Egois bukan?


"5 Tahun Caca bertahan bukanlah hal yang mudah, Bahkan orang tuanya mencaci maki dia didepan keluarga besarnya" Nenek Ina merasakan sesak di dadanya saat mengingat itu.


"Kamu anak pembawa sial, Tidak berguna" Maki Marina kepada Sasha yang duduk tersungkur karena di dorong oleh tantenya.


"Ma, Caca gak sengaja" Bela Sasha lemah, Air matanya mengalir deras. Dia sangat sakit hati dengan perlakuan keluarganya.


"KAMU PEMBUNUH" Teriak keluarga Sasha kepada Sasha.


Sasha menutup telinganya rapat-rapat, Hatinya seperti ditusuk ribuan pisau saat semuanya mencaci maki dia, Bahkan orang tuanya tidak membelanya.


"CACA BUKAN PEMBUNUH" Teriak Sasha menggema. Sasha juga sedih.


Nenek Ina yang melihat itu langsung memeluk Sasha kecil.


"Cukup, Tidak seharusnya kalian memperlakukan Caca seperti ini" Sentak Nenek Ina, Dia menangis melihat nasib Sasha.


"Dia memang pembawa sial bu, Dulu Virgo, Dan sekarang Adiknya, Saya tidak sudi mengurus anak seperti dia" Jawab Marina marah.


Nenek Ina menggeleng tak percaya.


"Kalau kamu tidak mau mengurusnya, Saya yang akan mengurusnya" Jawab Nenek Ina marah.


Nenek Ina langsung membawa Sasha kecil ke dalam mobilnya, Dia membawa Sasha pergi meninggalkan keluarga besarnya.


"Nek, Caca bukan pembunuh nek" Sasha terus menggumamkan kalimat itu.


"Nenek tau sayang" Jawab Nenek Ina menahan tangisnya.


Sejak saat itu Sasha selalu menggumamkan kata itu, Dia hanya mengurung diri dikamar. Dia duduk dipojok kamar dan menangis. Sasha depresi.


"Nenek sangat prihatin dengan nasib Caca" Lirih Nenek Ina, Matanya berkaca-kaca.


Reynald termenung dengan cerita nenek Ina.


"Pembunuh? pembawa sial?" Bingung Reynald pelan, Dia masih belum bisa memahaminya.


"Kamu tau Virgo?" Tanya Nenek Ina, Reynald mengangguk.


"Virgo adalah kembaran Caca, Lebih tepatnya kakak Caca" Jawab Nenek Ina. Reynald kaget mendengar itu.


Jadi Virgo adalah Kembaran Sasha, Pantas saja Sasha selalu menangis saat mengingat Virgo.


"5 tahun yang lalu, Ada kejadian di taman dekat rumahnya, Caca waktu itu masih kelas 6 SD. Dia hendak menyebrang tapi tidak memperhatikan jalanan, Dan ternyata ada truk yang melaju kencang, Sasha tidak menyadarinya tapi Virgo yang menyadarinya, Virgo yang tau langsung mendorong Caca ke tepi, Dan Virgo yang tertabrak truk itu. Sampai sekarang keberadaan Virgo di sembunyikan, Bahkan nenek tidak diberitahukan oleh keluarga yang lainya karena nenek membela Caca, Sampai sekarang Caca terus berusaha mencari Virgo" Jelas Nenek Ina panjang lebar, Sesekali dia menitihkan air matanya.


Reynald tertegun, Sasha ternyata menanggung beban yang sangat kuat.


Diksi dan Fani menunduk saat mendengarkan Nenek Ina bercerita, Perasaan bersalah kembali menyelimuti hati keduanya, Mereka tau keberadaan Vuro, Namun belum cukup keberanian mereka untuk memberitahukanya.


"Diksi, Fani, Nenek ingin berbicara sebentar dengan Reynald" Izin Nenek Ina.


Keduanya peka, Mereka mengangguk kemudian berjalan meninggalkan nenek Ina dan Reynald berdua di ruang tamu.


"Waktu itu, Keluarga Caca masih aman-aman saja, Sampai akhirnya Caca hampir tertabrak lagi, Namun di selamatkan oleh ibunya yang saat itu mengandung. Ibunya Caca langsung dilarikan ke rumah sakit, Dan ternyata dia keguguran. Mulai saat itu semua keluarga menganggap Caca pembunuh dan pembawa sial" Lanjut Nenek Ina, Dia menjelaskan itu secara detail dan jujur, Hatinya kembali sesak saat menceritakan itu.


"Karena kamu, Saya kehilangan anak saya" Sentak Marina yang sedang terbaring di rumahsakit.


Sasha kecil hanya menangis sesenggukan, Dia juga tak mau ini terjadi, Dia tidak ingin merasa kehilangan.


"Nenek tau, Sekarang Caca memang menjadi pembunuh yang sesungguhnya, Tapi nenek tidak pernah menyalahkan Caca, Itu caranya melampiaskan sakit hatinya" Jelas Nenek Ina pelan.


Reynald menatap Nenek Ina, Bagaimana Nenek Ina bisa tau, Sedangkan sahabat terdekatnya saja tidak tau?.


"Nenek tau semuanya tentang Caca, Nenek selalu memantau Caca dari jauh, Bahkan Nenek sebenarnya sudah mengetahui tentang kedekatan kalian" Jelas Nenek Ina tersenyum tipis, Seakan tau isi hati Reynald.


Reynald terkaget.


"Kamu pasti sudah dianggap istimewa oleh Caca, Dia cukup terbuka dengan kamu Reynald" Ucap Nenek Ina pelan.


"Jaga Caca Nak" Pinta Nenek Ina, Dia ingin melihat kembali senyuman yang selalu melekat di bibir tipis Sasha.


Reynald mengangguk pasti.


"Reynald akan menjaga Sasha nek" Jawab Reynald tegas.


Nenek Ina tersenyum tipis.


"Sekarang temui Sasha, Nenek tau dia sedang sedih, Dia pasti teringat Virgo karena dulu dia dan kembaranya itu sering kesini" Jelas Nenek Ina.


Reynald mengangguk.


"Reynald permisi nek" Izin Reynald. Nenek Ina mengangguk mempersilahkan.


Reynald berjalan ke kamar Sasha, Entah itu yang mana semoga Yang Reynald buka ini adalah kamar Sasha yang benar.


Benar saja, Sasha sedang duduk termenung dengan menghadap ke jendela yang memperlihatkan pemandangan khas pedesaan.


Reynald langsung menghampirinya, Dia melingkarkan tanganya ke leher dan perut Sasha, Itu membuat Sasha sedikit terlonjak kaget.


"Reynald" Panggil Sasha pelan, Sepertinya dia menangis, Mendengar suaranya serak seperti sedang menangis.


"Jangan nangis" Pinta Reynald pelan. Sasha menggeleng, Dia mengusap air matanya pelan.


"Gue gak nangis" Jawab Sasha pelan. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan orang lain. Tapi Reynald, Masih bisakah dia dianggap orang lain oleh Sasha?.


Reynald tersenyum tipis, Sasha tidak bisa membohongi Reynald begitu saja. Reynald beralih duduk di depan Sasha, Meletakan kepalanya di paha Sasha.


"Eh" Kaget Sasha.


"Sha, Janji jangan sedih lagi" Pinta Reynald pelan.


Sasha tersenyum tipis, Dia menyisir pelan rambut Reynald menggunakan jari tanganya.


"Kalo Gue sedih gimana?" Tanya Sasha, Dia berniat menggoda.


"Lo akan dapat hukuman" Jawab Reynald tegas. Bukanya dia egois, Tapi dia hanya tidak sanggup melihat Sasha menitihkan air matanya.


Sasha tersenyum tipis.


"Gue gak bisa janji Rey, Tapi Gue akan berusaha" Jawab Sasha pelan.


Reynald mendongak menatap Sasha, Menumpukan dagunya di atas lutut Sasha, Tangannya menggenggam tangan Sasha.


"Kesedihan dan kebahagian Lo adalah Gue Sha" Ucap Reynald pelan. Sasha terdiam, Dia tidak tau.


Mungkin Reynald memang bisa menjadi kebahagiaan serta kesedihan Sasha.


"Ini jangan disini, Geli" Ucap Sasha, Dia menggerakan kakinya agar Reynald memindahkan kepalanya dari lututnya.


Reynald terkekeh pelan, Dia berdiri dan merebahkan dirinya di kasur yang ada di kamar itu.


"Heh, Itu kasur Gue, Lo tidur dikamar lain" Kesal Sasha, Dia menarik tangan Reynald agar bangun, Namun Reynald tak kunjung bangun.


Sasha mendengus kesal. Sasha melempar wajah Reynald menggunakan Bantal yang ada. Reynald langsung menatap Sasha kesal, Dia menarik Sasha ke kasur, Dan langsung menggelitik Sasha.


"Hahaha, Udah Rey" Pinta Sasha, Dia baru bisa tertawa lepas seperti ini, Rasanya lega sekali.


Reynald Tersenyum lebar, Dia kembali menggelitik Sasha.


"Haha, Ampun Rey, Udah" Pinta Sasha, Dia masih tertawa karena geli. Reynald menghentikannya.


"Jahat banget sih" Kesal Sasha, Dia memukul pelan lengan Reynald. Kalau keras bisa habis dia.


Reynald terkekeh pelan, Senang rasanya melihat Sasha tertawa lepas seperti tadi. Dia memeluk Sasha, Menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Sasha.


"Minggir ih" Kesal Sasha mencoba melepaskan Reyland. Namun yang terjadi malah dia semakin peluk erat oleh Reynald.


"Ok-Ok tapi jangan kenceng-kencang, Sesak nafas Gue" Kesal Sasha pasrah. Reynald langsung melonggarkanya.


"Ingat Sha, Apapun kesalahannya pasti ada hukumannya" Peringat Perintah Reynald berbisik. Sasha sampai merinding mendengarnya.


"Iya-iya" Pasrah Sasha pelan. Reynald tersenyum puas.


"Tapi sesekali kayaknya Gue harus ngelawan deh" Tantang Sasha, Reynald langsung menatap tajam Sasha.


Reynald menyeringai dan kembali menggelitik Sasha, Sasha tertawa lagi.


"Haha, Udah Rey" Pinta Sasha dengan tawanya. Reynald masih belum menghentikannya.


"Rey udah, Iya-iya, Gue gak akan melawan" Ujar Sasha masih dengan tawa bahaknya.


Reynald menghentikannya, Dia tersenyum simpul melihat Sasha yang kini mengatur nafasnya.


"Lo mah" Kesal Sasha. Reynald terkekeh pelan.


"Ya Lo mau hukuman kayak gitu atau kayak biasanya?" Ancam Reynald pelan.


"Gak mau hukuman" Jawab Sasha cepat.


Reynald bersiap menggelitik Sasha lagi, Namun dengan cepat ditahan Sasha.


"Iya-iya, Jangan di gelitik lagi, Geli" Kesal Sasha, Dia menatap kesal Reynald.


Reynald tertawa pelan.


"Gak papa, Biar Gue bisa lihat lagi tawa seorang malaikat yang kesepian" Jawab Reynald pelan. Dia menatap mata tajam milik Sasha.


Sasha terdiam, Dia baru sadar bahwa tadi dia tertawa, Di depan Reynald lagi. Sasha mendengus kesal, Dia kembalikan badanya memunggungi Reynald.


Reynald terkekeh pelan, Sasha marah tidak ya?.


"Sha, Kalo lo marah, Gue akan lebih marah lagi" Ancam Reynald. Sasha mendengus kesal.


"Bodo amat" Jawab Sasha ketus. Dia menarik selimut hingga kepalanya, Menutupi selutuh tubuhnya.


Reynald tertawa kecil, Marahnya Sasha adalah hal yang lucu baginya. Dia melingkarkan tanganya di perut Sasha. Andai saja, Reynald dapat melihat tawa itu selamanya.


Sementara diluar pintu.


Kedua sejoli itu tidak menyadari bahwa sedari tadi ada yang memperhatikan mereka, Mendengar semua pembicaraannya.


"Saya harap, Kamu bisa seterusnya mengukir senyum indah Caca, Reynaldi Bagaskara" Gumam wanita paruh baya itu dengan senyum lebarnya.


Dia kemudian meninggalkan dua orang tersebut. Dia adalah Nenek Ina.