Broken Angel'S [COMPLETED]

Broken Angel'S [COMPLETED]
#74, BROKEN ANGEL'S [ENDING]



Acara pun berlangsung hingga larut malam. Mereka semua sudah pulang kerumah masing-masing, termasuk Sasha dan Reynald, tak lupa si kecil Kean.


Keluarga kecil yang kembali lengkap itu kini telah sampai dirumahnya. Suasana lengkap seperti ini yang sangat mereka rindukan.


"Kean gak rindu Mom? Gak mau peluk Mom?" Tanya Sasha dengan merentangkan kedua tanganya itu, mempersilahkan Kean untuk menumpahkan rasa rindu.


Anak kecil tersebut langsung saja dengan senang hati memeluk Sasha, matanya berkaca. Selama beberapa tahun terpisah tanpa kabar yang jelas. Ini seperti mimpi bagi Kean.


"Mommy masih sehat? Mommy masih hidup?" Tanya Kean polos, matanya sedikit berkaca-kaca, suaranya serak dengan nada sendu.


Sasha tersenyum simpul.


"Mommy masih disini, Mommy gak akan ninggalin kamu lagi" Jelas nya dapat dipercaya. Bukan maksud dia untuk membohongi semua orang selama ini.


"Janji?" Kean menatap Sasha penuh harap, dengan jari kelingking yang ia tujukan kepada Sasha.


"Iya Mom Janji" Ucap Sasha tersenyum tulus, ia mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking kecil Kean.


Malam itu menjadi saksi perjanjian seorang ibu dan anak yang berbeda darah namun kasih sayang bagaikan keluarga kandung.


Reynald tersenyum simpul melihat keduanya, dia lega karena semuanya kembali seperti semula. Kali ini Reynald tak akan membiarkan Sasha dalam bahaya, dia akan melindunginya dengan nyawa.


"Kean, tidur udah malam" perintah Reynald lembut,


Kean yang mendengar itu mengangguk lesu. Sebenarnya ia masih ingin disini bersama kedua orang tuanya.


"Iya Dad" Kean berjalan lesu ke kamarnya untuk mengerjakan sesuatu yang disuruh Daddynya, yaitu tidur dan ke alam mimpi.


Hening sepeninggalan Kean. Suasana yang sedikit canggung, karena sekarang ini hanya ada mereka berdua.


Namun satu yang Reynald sadari, wajah Sasha tidak seceria tadi, Mungkin Sasha lelah. Atau sebenarnya Sasha menyembunyikan sesuatu?


"Kenapa?" Tanya Reynald disela-sela keheningan disana. Sasha hanya diam menunduk, entahlah hanya saja dia tidak ada tenaga lagi untuk berbicara ataupun 'bersembunyi'


Tak kunjung mendapat jawaban dari Sasha. Reynald pun segera berpindah ke samping Sasha. Dia mengamati Sasha yang tampak gelisah.


"Kenapa hei?" Tanyanya lagi, namun sekarang dengan nada yang lebih lembut. Jari-jari Reynald mengangkat perlahan dagu Sasha. Dan kini mereka saling bertatapan, tatapan matanya saling beradu.


Cukup lama mereka saling mengunci tatapan, berharap Reynald menemukan jawaban dimatanya. Namun yang ada di mata wanita itu hanyalah keresahan.


"You're lie, you're not happy right?" Tanya Reynald dengan wajah gelisah. Mungkinkah sebenarnya Sasha belum bisa berdamai dengan dirinya sendiri?


"No! I'am happy but... " Sasha tak melanjutkan ucapannya, dia menunduk dalam. Reynald menanti jawaban Sasha, dia hanya terdiam.


"I'am happy with you now, tapi di pikiranku masih terbayang ingatan masa lalu" ucapnya lirih. Itu berarti sedari tadi Sasha memasang wajah bahagia untuk menyimpan kesedihanya sendiri.


Reynald menghela nafasnya, menyandarkan punggungnya di kursi. Dia tau menyembuhkan tidak hanya sebentar, kenangan pahit tidak bisa dibuang begitu saja.


"Kamu udah aman disini Ca" ucap Reynald menenangkan Sasha, tangannya terulur untuk mengusap rambut panjang Sasha yang terurai, indahnya surai itu.


Sasha menghela nafas. Tunggu apa tadi Ca? Dan sejak kapan mereka menggunakan aku-kamu? Sasha menatap Reynald penuh tanya. Sedangkan Reynald hanya mengangkat satu alisnya.


"Why?" Tanya Reynald bingung, dia merasa tidak ada yang salah. Sasha menatap Reynald dengan tatapan intimidasi.


"Orang kamu yang mulai" jelas Reynald dengan santainya. Sasha kini menganga menatap Reynald heran, dia belum terbiasa dengan panggilan seperti itu dari Reynald.


"Kapan coba?" Tanya Sasha tak menyadari ucapannya tadi. Reynald memutar bola matanya malas, dia menunjuk dahi Sasha dan mendorongnya pelan.


"Pelupa" ejeknya pelan dengan nada menusuk. Mata Sasha membola, dia mendengus kesal. Sasha mencoba mengingat ucapan yang tadi ia ucapkan.


"Aaa oh ya" dia teringat kalimatnya. Baiklah tidak ada salahnya juga mereka mengganti panggilan dengan yang seharusnya.


Reynald tersenyum tipis melihat tingkah Sasha yang menurutnya imut itu. Rasa rindu yang terobati dengan adanya Sasha disini.


Hening kembali. Mereka terlalu hanyut ke dalam pikiran masing-masing hingga tenggelam didalamnya. Hanya suara detik jarum jam yang senantiasa mengeluarkan bunyinya dalam keheningan.


"I wanna go" pinta Sasha pelan, dia menunduk dalam. Reynald menatapnya dengan tatapan tulus, ia tahu betul apa yang dimaksud Sasha.


"Kamu yakin?" Bukankah sulit meninggalkan semuanya yang ada disini. Kota ini telah menjadi saksi bisu kenangan baik dan buruk Sasha.


"I wanna go" ucapnya sekali lagi dengan keyakinan. Sasha tau itu akan sulit, namun dia juga ingin benar-benar 'sembuh'


"Aku ingin pergi ke suatu tempat, yang mana disana hanya ada kita" jelasnya pelan, matanya menerawang untuk membayangkan jika mereka hidup disuatu tempat yang damai.


"Aku mau benar-benar melupakan semuanya, aku mau menerima semua yang sudah terjadi, tapi itu semua butuh waktu" sambungnya lirih, bagaimana ia bisa menerima yang sudah terjadi? Sedangkan dia saja belum memaafkan diri sendiri.


"Kamu yakin? Disini banyak keluarga kamu dan bahkan teman-teman kamu yang pasti gak akan mau kalo kamu ninggalin mereka lagi" jelas Reynald menatap dalam Sasha. Meskipun itu sulit, Reynald ingin mereka tetap disini.


"Kali ini aja Rey aku ingin egois, maaf" jika egois demi suatu kebaikan untuk menyembuhkan suatu luka dari masa lalu itu benar ada, maka inilah keegoisan dari Sasha.


Reynald termenung. Selama ini Sasha memang belum mendapatkan apa yang ia mau. Namun permintaanya kali ini sulit.


Reynald menghela nafas gusar. hingga ia meyakinkan dirinya sendiri, jika mereka pergi dari sini mungkin semuanya akan baik-baik saja.


"Yaudah kalo emang itu mau kamu" jawab Reynald yang akhirnya menyetujui. Seketika tatapan gelisah Sasha kini menjadi tenang.


"Really?" Tanya Sasha memastikan. Reynald tersenyum tipis kemudian mengangguk. Sasha pun kini tersenyum simpul dan ia langsung mendekap Reynald.


Jika memang 'pergi' adalah salah satu cara untuk mengobati Sasha maka tidak apa-apa. Reynald akan menurutinya.


Biarkan Sasha berdamai dengan masa lalu, dan biarkan ia memaafkannya. Meminta waktu kembali adalah mustahil, maka yang harus dilakukan adalah memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menjadi obat.


Namun Reynald tidak ingin waktu yang mengobati Sasha, dia ingin dirinya lah yang bisa menyembuhkan Sasha dari segala lukanya.


Hingga suatu saat nanti Sasha kembali menemukan jati dirinya, dan hidup akan berjalan dengan sendirinya. Kemudian mereka akan hidup bahagia.


Itulah sepenggal kisah Sasha yang ingin berdamai dengan masa lalunya, mungkin pergi dari sini menjadi salah satu cara. Tapi dia berjanji dia pasti akan kembali ke sini.


Dia berjanji.


*****


Maaf BA sempet gak up 2 minggu maaf banget🙏 Sekarang urusan Gege udah selesai, akan ada beberapa Extra Chap nya💗 Akhirnya BA udah Ending🤗


'Nantikan novel terbaru, tapi nanti Authornya bukan Gege lagi' Makasihhh🤗💗