![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Seperti kata Sasha tadi, Dia hendak belanja bulanan. Meskipun menurutnya ini adalah belanja mingguan bukan bulanan, Tapi agar mudah menyebutnya menjadi bulanan :v
Sasha sengaja berbelanja sendiri, Dia menyuruh Kean dan Nia di Apartemennya, Dan tidak mengajaknya. Bukan apa-apa, Dia hanya tidak ingin anaknya dalam bahaya.
Sasha masuk kedalam supermarket, Dia akan memilih untuk bahan masak, Sabun, Shampo, Apapun untuk kebutuhan Minggu ini.
Saat Sasha sedang memilih Es krim yang akan ia berikan kepada Kean dan Nia, Dia tidak sengaja mendengar suara seseorang yang sangat familiar baginya.
"Eh terus anak kamu yang perempuan kemana?" Tanya seorang perempuan Dewasa disamping Perempuan yang Sasha kenal.
Sasha langsung bersembunyi agar tidak terlihat oleh kedua orang yang sedang mengobrol tersebut.
"Gak tau dan gak peduli, Lagian Aku udah gak nganggap dia anak" Jawab Seorang Perempuan yang Sasha kenal.
Deg..
'Begitu ya, Aku bukan anaknya lagi, Lalu aku anak siapa? Siapa yang harus aku panggil 'Mama' lagi?' Batin Sasha menjerit.
Sasha memutuskan cepat-cepat ke kasir, Dia tidak ingin bertemu dengan perempuan itu. Setelah Sasha membayar semuanya, Sasha langsung berjalan ke Apartnya yang berada didepan supermarket ini.
Sasha langsung naik lift, Dengan matanya yang memerah karena menahan air matanya, Dia menolak menangis, Meski luka baru ini membuat hatinya meringis. Sakit.
Sasha langsung masuk ke Apartemennya, Dengan membawa banyak belanjaan membuatnya sedikit kesusahan. Sasha membawa belanjaan itu ke dapur.
Dia merapihkan semua belanjaannya ke tempat yang seharusnya, Dia teringat Es krim yang akan dia berikan kepada Kean dan Nia.
Sasha pun akhirnya ke Kamar Kean dan Nia, Dia masuk kedalam kamar itu. Ternyata Kean dan Nia masih bercanda ria bersama, Sepertinya mereka sudah sangat akrab.
"Kean, Nia, Mau Es krim Gak?" Tanya Sasha lembut. Keduanya langsung berbinar dan mengangguk. Sasha tersenyum tipis.
Sasha pun memberikan Es Krim itu kepada Kean dan Nia. Melihat keduanya senang, Sasha juga ikut senang. Tapi.. Disaat sekarang, Rasa kecewanya lebih besar dari pada rasa bahagianya.
"Kean sama Nia mau makan apa buat makan siang?" Tanya Sasha lembut. Keduanya tampak berpikir sebentar.
"Kean terserah Mom aja" Jawab Kean dengan senyum manisnya. Sasha ikut tersenyum tipis.
"Kalo Nia mau apa?" Tanya Sasha kepada Nia.
"Nia juga terserah tante aja" Jawab Nia. Sasha mengangguk mengerti.
"Yaudah, Kalian makan dulu Eskrimnya, Mom mau masak dulu" Ucap Sasha lembut. Keduanya mengangguk patuh.
Sasha tersenyum kemudian keluar dari kamar itu, Saat Sasha menutup pintu, Setetes air matanya keluar, Namun dengan cepat ia mengusapnya.
Sasha berjalan ke arah Dapur, Dia akan memasak Sup Jagung dan ayam goreng, Mungkin ini menu yang sederhana, Karena Sasha tidak terlalu fokus.
Saat Sasha sedang memotong sayur, Sasha tidak bisa fokus, Bahkan jarinya terkena pisau, Namun Sasha tidak terlalu menghiraukannya, Dia membasuh luka itu dengan air.
Sasha kembali memotong sayuran, Namun kali ini dia benar-benar tidak fokus. Sasha menggeram pelan. Kenapa?! Apa kemarin luka itu belum cukup, Sehingga mereka memberikan yang baru?!
Sasha memutuskan berhenti sebentar, Dia duduk di kursi bar pantry. Mengusap rambutnya gusar. Mengapa hanya satu kalimat membuat dia langsung tidak fokus? Tapi... Kalimat itu sangat menyakitkan!
"Hiks.." Isakan kecil keluar dari mulutnya, Jangan sekarang. Sasha sedang tidak ingin. Dia Ingin memenuhi keinginannya, Dia tidak ingin menjadi pengecut lagi, Tapi kenapa? Hanya dengan ini dia menjadi lemah.
Sasha mengusap kasar air matanya, Meskipun itu percuma karena air mata itu terus mengalir.
Ceklek
Ada yang membuka pintu Apartnya, Sasha langsung mengusap air matanya dan bersikap biasa saja. Dia melanjutkan kegiatan memasaknya.
"CACA" Panggil Reynald sedikit keras. Entah apa yang dia lakukan di ruang tengah. Sasha tak mengiraukanya.
Reynald menghampiri Sasha yang sedang memasak. Reynald memutuskan bolos sekolah, Lagi pula ini sudah biasa baginya.
"Caca" Panggil Reynald.
"Hmm" Sasha hanya berdehem saja. Biar bagaimanapun Sasha tidak ingin Reynald tau bahwa dia habis menangis.
"Hadap sini Ca" Suruh Reynald. Sasha masih tidak bergerak. Reynald menjadi kesal sendiri, Dia mendekat ke arah Sasha, Membalikan tubuhnya paksa.
Saat itulah Reynald melihat mata Sasha yang masih berair, Ada apa?. Reynald langsung mendekap Sasha.
"Kenapa?" Tanya Reynald lembut. Sasha menggeleng, Dia meneteskan air mata namun dalam diam, Tak ada Isakan sama sekali, Dan itu lebih menyakitkan.
Reynald membiarkan Sasha tenang terlebih dahulu. Dia membawa Sasha duduk Di kursi Pantry. Dan Reynald berdiri didepanya, Dia mengusap lembut kepala Sasha.
"Kenapa Sha?" Tanya Reynald lembut. Sasha terdiam, Dia bingung harus bagaiman membicarakan ini.
"Rey, Gue mau.. Gue mau memulai hidup baru dan melupakan semuanya" Pinta Sasha lemah, Melupakan semuanya termasuk keluarganya.
Reynald terdiam, Tapi kenapa? Beri Reynald alasan agar dia bisa memahaminya.
"Cerita dulu" Ucap Reynald lembut. Sasha terdiam lagi, Sulit untuk mengatakannya, Dia menghembuskan nafas panjang.
"Apa yang Lo lakukan saat orang tua Lo udah tidak menganggap Lo sebagai Anak lagi?" Tanya Sasha lirih. Reynald sudah tau sekarang apa yang menganggu Sasha.
Reynald tak bisa menjawab ini, Dia tidak tau apa-apa tentang ini. Tapi dia tidak ingin melihat Sasha bersedih lagi.
"Apa yang harus Gue lakuin Rey?" Tanya Sasha lirih, Dia menunduk dalam.
Reynald kembali mendekap Sasha, Sasha semakin menumpahkan air matanya.
"Gue gak tau apa yang harus Gue lakuin" Lirih Sasha, Andai dia tau, Sasha pasti sudah melakukannya, Masa remaja yang seharusnya indah, Menjadi suram. Bahagianya sudah direnggut, Dia harus apa?
"Gue mau lupain mereka semua" Ucap Sasha lirih. Reynald hanya mengangguk, Bukan untuk mengiyakan namun untuk menenangkan.
"Udah ya, Jangan nangis lagi" Ucap Reynald lembut, Sasha mengangguk kecil. Reynald tersenyum tipis.
Sejenak mereka terdiam, Sasha sedang mencoba menenangkan dirinya, Reynald juga menenangkan Sasha.
"Udah ah, Gue mau lanjut masak" Ucap Sasha paraunya. Reynald hanya mengangguk.
Sasha melanjutkan kegiatan masaknya, Dengan Reynald yang terus menatapnya intens, Membuat Sasha sedikit risih.
"Jangan natap gitu" Peringat Sasha singkat. Reynald tersenyum tipis.
"Jari Lo luka" Ucap Reynald menatap jari tangan Sasha yang terlihat luka. Sasha menghentikan kegiatanya sejenak, Dia mengangguk.
"Kenapa gak di obatin?" Tanya Reynald bingung.
"Nanti, Setelah semuanya selesai" Jawab Sasha singkat. Reynald menghela nafas.
"Sekarang Sha" Peringat Reynald tajam. Sasha menggeleng.
"Nanti Rey, Sebentar lagi selesai ini" Tolak Sasha kesal. Reynald mendengus kesal, Sasha memang sangat keras kepala.
Setengah jam kemudian, Semua makanan sudah matang, Sasha langsung menyajikannya di meja makan. Dia lupa untuk mengobati lukanya, Lagi pula ini tidak terlalu sakit, Dan dia sudah biasa seperti ini.
Reynald membawa Sasha ke kamar, Dia mendudukan Sasha disofa. Reynald pun mengambil kotak P3K, Dia langsung mengobati Luka Sasha.
"Dibilangin ngeyel" Ketus Reynald. Sasha tersenyum tipis.
Dengan telaten Reynald mengobati Luka Sasha. Meskipun ini luka kecil, Tetap saja Reynald tidak dapat membiarkannya begitu saja. Reynald membalut luka itu menggunakan plester.
"Udah kan? Sana suruh anak-anak makan dulu" Suruh Sasha. Reynald menatap Sasha bingung.
"Lo gak makan?" Tanya Reynald bingung. Sasha menggeleng.
"Gue Nanti, Masih kenyang" Jawab Sasha, dia sebenarnya tidak nafsu makan, memikirkan masalah kembali datang.
Reynald menghela nafas, Dia mengangguk pasrah. Reynald pun keluar dari kamar, Dia mengajak anak-anak untuk makan bersama.
Sedangkan Sasha, Dia menjatuhkan dirinya di kasur, tengkurap. Hari ini, Melelahkan. Sasha menghela nafas lelah. Tanpa sadar Sasha mulai menutup matanya, Dan tidur terlelap.
15 menit berlalu, Sasha semakin tertidur lelap, dia sudah berada di alam mimpinya.
Ceklek
Reynald membuka pintu kamar, Dia melihat Sasha yang sudah tertidur pulas. Reynald tersenyum tipis, Biarkan Sasha beristirahat.
Reynald menghampiri Sasha, Mengecup dahinya penuh sayang. Reynald membenarkan posisi Sasha dengan hati-hati, Hingga akhirnya Sasha dapat tertidur nyaman.
Reynald tersenyum tulus, Senyum yang jarang ia perlihatkan, Namun kini ia perlihatkan hanya untuk Sasha, Meskipun Sasha tak dapat melihatnya.
"Selamat tidur, Malaikat" Ucap Reynald pelan, Dia ikut berbaring disamping Sasha, Dia tidak berniat untuk tidur, Hanya menemani Sasha saja.