![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Keluarga kecil Sasha dan Reynald kini tengah bersiap untuk menyiapkan semuanya, tidak banyak yang mereka persiap karena hanya satu hari saja rencananya.
"Mom kita mau kemana?" tanya Kean bingung, Sasha sebenarnya sudah menunjukan foto neneknya, namun menurut Kean, Nenek Ina masih terlalu asing.
"Kita mau ke rumah neneknya Mommy" Jelas Sasha menatap Kean tersenyum simpul, dia tau Kean mungkin belum kenal dengan Neneknya, Maka dari itu lebih baik memperkenalkan kepadanya.
"Rumahnya jauh ya Mom?" tanya Kean lagi. Sasha hanya mengangguk sebagai jawaban, mereka melanjutkan kegiatannya lagi.
Setelah semuanya siapa, Emm, Tunggu Reynald sih tidak mempersiapkan apa-apa, semuanya telah disiapkan Sasha, mudah bukan?
"Oh ya, Diksi sama Fani ikut juga?" Tanya Sasha menatap Reynald yang sedang asik sendiri bermain ponsel.
"Hmm" Reynald hanya menjawabnya dengan deheman, cuek sekali. Sasha mendengus kesal, dia berjalan mendekat ke arah Reynald dan merebut ponselnya paksa.
"Masih pagi jangan ngeselin" ketus Sasha, dia langsung menyimpan ponsel Reynald, dia paling tidak suka di acuhkan, apalagi oleh Reynald.
Reynald menatap Sasha dengan helaan nafasnya, dia tau Sasha belakangan ini sangat sensitif, bahkan posessive, dan alasannya itu satu.
Meskipun begitu, Reynald senang jika Sasha menunjukan rasa kecemburuannya secara terang-terangan.
"Kean, Mommy kamu cemburuan" ucap Reynald kepada Kean yang kini duduk disampingnya, memperhatikan Sasha yang sedang menyisir rambutnya.
Jangan salah sangka, untuk yang satu ini Kean bisa mengerti apa yang diucapkan Reynald. Semua itu karena ajaran siapa lagi kalau bukan Farhan dan Fino-_-
Sasha menatap Reynald kesal, namun tak berniat untuk menanggapi ucapan Reynald. Sasha meraih lip balm miliknya, dan mewarnai bibirnya dengan Lip balm yang ada di tangannya.
"Gak usah pake itu sih" ketus Reynald, lihatlah sekarang siapa yang posessive. Sasha hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Mommy, Daddy jangan debat terus deh" ucap Kean protes. Reynald dan Sasha sama-sama menatap Kean dengan senyum simpulnya.
"Iya sayang" jawab Sasha lembut. Kean pun menatap Sasha dengan senyum manisnya, Sedangkan Reynald hanya tersenyum simpul.
Reynald melirik jam tangannya, hampir jam 7 pagi, sebaiknya berangkat sekarang agar sampai disana tidak kesiangan.
"Udah siap Sha?" Tanya Reynald. Sasha menganggukan kepalanya. Semuanya sudah siap, lagi pula tidak ada barang khusus untuk dibawa.
Reynald mengangguk mengerti, dia pun berdiri dan menggendong Kean, berjalan mendekati Sasha.
"Yaudah berangkat sekarang aja" ujar Reynald mengajak Sasha. Sasha hanya mengangguk patuh.
Mereka pun berjalan keluar rumah, masuk kedalam mobil yang telah Reynald siapkan. Reynald juga sudah melakukan mobil yang kini mereka tumpangi sekarang.
Tujuan pertama mereka adalah menuju ke Rumah Diksi, tak dapat dipungkiri hati Sasha sedikit gelisah, bagaimanapun Diksi adalah sepupunya, dan orang tua Diksi adalah Om dan Tantenya, Sasha juga memiliki kenangan bersama orang tua Diksi.
"Kenapa?" tanya Reynald menyadari kegundahan Sasha. Sasha hanya menggelengkan kepalanya pelan.
Reynald tau apa yang mengganggu pikiran Sasha, dia sangat tau. Mungkin semua kenangan menyakitkan itu sangat membekas, menjadikannya sebagai sebuah trauma tersendiri bagi Sasha.
Beberapa saat, mobil Reynald telah sampai di pekarangan rumah Diksi, segera Reynald memarkirkan mobilnya. Reynald menatap Sasha intens.
"Mau disini apa ikut masuk?" tanya Reynald dengan masih menatap Sasha. Sasha menghela nafasnya dan menggeleng pelan.
"Yaudah, disini aja, Udah jangan terlalu dipikirin" ucap Reynald sembari mengusap kepala Sasha pelan. Sasha hanya mengangguk, menatap sendu rumah Sasha.
Sudah lama ya, lama sekali setelah terakhir kali Sasha mengunjungi rumah ini, rumah yang sama-sama memiliki kenangan baik indah maupun buruk.
Belum sempat Reynald turun dari mobil, ternyata Diksi terlebih dahulu menghampiri mereka, dengan raut wajah yang sulit di artikan.
"Kenapa?" tanya Reynald bingung, jarang sekali Diksi memperlihatkan raut wajah seperti itu, karena biasanya hanya ada raut datar saja.
"Sasha, bisa ikut kedalam?" tanya Diksi pelan, dia menatap Sasha serius, yang ditatap kini sedang bingung, sangat gelisah.
"Untuk apa?" tanya Sasha balik, sejujurnya dia belum siap untuk bertemu orang tua Diksi, dia tidak bisa mengelaknya.
Diksi tak menjawab, namun hanya tetap menatap Sasha serius. Mau tidak mau Sasha hanya mengangguk menurut.
Sasha pun turun dari mobil dia turut mengajak Kean, Mereka berempat langsung saja masuk ke dalam rumah Sasha.
Detak jantung Sasha berpacu lebih cepat dari biasanya, dia menggenggam erat tangan Reynald. Ingin rasanya Reynald tidak mengizinkan Sasha turun, dia tidak mau lagi Sasha kembali terluka.
"Gak papa?" tanya Reynald memastikan. Sasha hanya menunjukan senyum simpulnya dan mengangguk, meskipun dia sendiri tidak yakin.
Fani langsung menyambut mereka di dalam rumah Diksi, dia menghampiri Sasha dan menggendong Kean. Kean hanya patuh saja.
"Kean ikut tante dulu ya, kita main dibelakang" ajak Fani kepada Kean. Kean mengangguk semangat. Fani langsung mengajaknya ke taman belakang rumah Diksi.
Diksi menyuruh Sasha dan Reynald untuk duduk terlebih dahulu. Sasha dan Reynald pun menurutinya, mereka berdua duduk disofa berdampingan.
Diksi memanggil kedua orang tuanya. Sasha menghela nafas panjang, baru saja beberapa menit disini, rasanya seperti berjam-jam saja.
"Tenang Sha" Reynald mencoba menenangkan Sasha. Sasha memang sangat gelisah sekarang, dia takut orang tua Diksi kembali berbuat kasar lagi.
Sasha dan Reynald langsung saja berdiri, Sasha mengetatkan cengkeraman tangannya di tangan Reynald.
"Caca" Santi menatap Sasha berkaca-kaca. Sasha hanya menatapnya saja, tidak ada kata yang terucap dari bibirnya, mulutnya terasa kelu.
Tanpa Sasha sangka, Orang tua Diksi tiba-tiba memeluknya, sangat erat. Sasha dapat mendengar isak tangis dari Santi.
Dan tanpa disadari, air mata Sasha mengalir begitu saja, pelukan yang sangat dia rindukan, dia sangat merindukannya.
"Caca, maafin tante" Santi menguacakan kalimat itu sembari menangis, air matanya tanpa disuruh pun turun deras.
"Maafin Om juga Ca" Kalian baru menyesalkan? setelah Semuanya yang kalian lakukan terhadap Sasha.
Sasha tak dapat berkata-kata lagi, Sasha pernah berkata memaafkan memang sulit, tapi Sasha tidak pernah membenci keluarganya sendiri.
"Maaf tante Ca, maaf" penyesalan yang amat mendalam, baru kali ini dia merasakannya.
Diksi yang menyadarkan orang tuanya, dia mengatakan segala sesuatu yang dapat membuat orang tuanya sadar bahwa Sasha tak pernah bersalah.
"Tante tau, kamu gak pernah salah dalam semua hal, kecelakaan Virgo, dan keguguran Mamah kamu, semuanya adalah takdir, bukan salah kamu" jelas Santi dan Angga menangis menyesali perbuatan mereka tempo lalu.
"Kamu mau kan maafin tante dan om?" tanya Santi berharap, namun dalam hati, dia pun sadar diri, tak mudah memaafkan kesalahan orang lain, dia tau itu.
Sasha terdiam sejenak, dia menatap mata Diksi, terpancar rasa bersalah yang kembali menyelimuti, Sasha tersenyum tipis, seiring air mata yang ikut mengalir.
"Caca udah maafin Om dan Tante" jelas Sasha dengan suaranya yang bergetar, menahan tangisnya agar tidak pecah.
Santi dan Angga semakin memeluk Sasha erat. Rasa kebahagiaan Sasha kembali datang, sedikit demi sedikit semuanya selesai.
"Tante tau, mungkin kesalahan Tante dimasa lalu tidak pernah bisa kamu lupakan, tapi tante mohon, jangan benci tante" Ucap Santi penuh penyesalan. Sasha mengangguk yakin, denagn air mata mengalir.
"Om juga minta maaf sama kamu, Om gak pernah belain kamu" Angga juga merasakan penyesalan, bahkan dia ikut berurai air mata.
Sasha tersenyum tipis.
"Caca udah lupain semuanya, Caca juga udah maafin Tante dan Om" jelas Sasha. Santi dan Angga melepaskan pelukan nya, menatap Sasha.
"Makasih" Ucap keduanya senang, mereka berharap mulai dari saat ini semuanya berjalan lebih baik lagi.
Sasha mengangguk dan tersenyum tipis. Diksi ingat Jam tangannya sudah sangat siang.
"Diksi harap, Mami dan Papi gak melakukan kesalahan lagi" Gumam Diksi pelan, dia ikut senang saat melihat Sasha kembali tersenyum tulus.
"Caca gak bisa lama-lama disini, Caca mau kerumah nenek" pamit Caca. Santi dan Angga mengangguk mengerti.
Saat ini memang waktu yang dimiliki tidak banyak, namun Santi dan Angga lega, mereka sudah meminta maaf kepada Sasha, sekaligus menepati janjinya dengan... seseorang.
Tak lama, Fani dan Kean pun kembali dari taman belakang, tampaknya Kean sudah mulai bosan. Sasha tersenyum tipis, dia menggenggam tangan Reynald erat.
"Kita pamit Mah, Pah" Diksi mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Semuanya melakukan hal yang sama seperti apa yang Diksi lakukan.
Semuanya melangkah keluar rumah Diksi, Sasha sedikit menengok kebelekang dan tersenyum tipis, mudah bagi Sasha untuk memaafkan Semuanya, namun kenangannya tak akan terlupa.
"Lo yang nyetir" suruh Reynald memberikan kunci mobilnya kepada Diksi. Diksi mendengus kesal, dia hanya pasrah.
Semuanya masuk kedalam mobil milik Reynald. Diksi dan Fani didepan, oh jangan lupakan Kean yang di pangkuan Fani, Kean memang sangat dekat dengan Fani.
Sedangkan Sasha dan Reynald dibelakang dengan Sasha yang memeluk Reynald dari samping, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reynald.
"Udah, jangan nangis lagi" ucap Reynald pelan, dia tau Sasha masih menangis. Sasha tak menghiraukannya dan masih saja memeluk Reynald.
Diksi mulai melajukan mobil Reynald.
******
"Makasih Om Tante" ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba muncul setelah Sasha pergi, dia tersenyum ke arah Santi dan Angga.
Keduanya tersenyum tipis, dan mengangguk.
"Sama-sama... Virgo"
*****
Dedek Author cape, chapter ini panjang banget😌Makasih untuk dukungan kalian semuanya😘 Dedek Author selalu mendukung kalian juga😘
Udah ah cape😂 Dedek kabur mau ngambil minum, cape banget😂😂
Jangan lupa like, komen, and Vote😊