Broken Angel'S [COMPLETED]

Broken Angel'S [COMPLETED]
#63, BROKEN ANGEL'S



'Tes...Tes...Tes'


Tetesan darah mengalir dari pipi Sasha, dia meringis, sekuat tenaga dia menahan air matanya, tak dapat dipungkiri ini lebih sakit.


"Lo tau? apa yang lebih sakit daripada goresan pisau? yaitu kata-kata lo" sentak Nia marah. Dia bosan mendengar celotehan Sasha.


"Ya semua ucapan lo benar, terus kenapa? Gue bisa hidup sendiri tanpa keluarga dan tanpa kasih sayang" sentak Nia dengan nada yang semakin meninggi.


"Gak ada satu orangpun yang bisa menghakimi hidup gue, dan gue bebas untuk mencintai seseorang" Nia mencintai Reynald lalu kenapa? dia akan melakukan segala cara untuk mendapatkannya.


"Cih" sasha berdecih, untuk apa pemikiran dangkal seperti itu.


"Prinsip Lo udah bagus, tapi sayangnya lo salah, Lo mencintai dengan cara yang salah, barangkali Lo bukan mencintai namun hanya obsesi" jelas Sasha lirih, pipi dan bibirnya terasa sakit, mungkin sedikit memar.


"Gue bisa memastikan apa yang gue rasakan itu cinta" Gertakan yang cukup keras dari Nia.


Dalam kepala Sasha yang menunduk ia tersenyum remeh. Nia mengatakan itu seperti dia tau saja arti cinta.


"Cinta menurut lo itu memiliki bukan?" tanya Sasha mendongak, menatap Nia remeh. Meskipun wajahnya kini penuh luka.


"Ingat Nia, cinta bukan berarti memiliki, kalo lo masih berpikir seperti itu, lebih baik lo cari jawabannya sendiri" ujar Sasha menyeringai.


"Lo semakin lancang ya" sentak Nia menunjuk wajah Sasha masih dengan pisau kecil yang tadi digunakannya untuk menggores pipi Sasha.


Heh, Nia terkekeh sinis, dia menatap Sasha tajam. Sudah cukup bermain-main dengan Sasha, Sasha terlampau lancang padanya.


Sasha mengerutkan dahinya, apalagi yang Nia rencanakan. Hah, percuma saja perempuan didepannya ini memang ular, banyak bisa nya!


"Puas bicaranya?" tanya Nia dengan tawa remeh. Tantri sedari tadi hanya diam menyaksikan, tontonan yang menarik, secara langsung, dan gratis pula.


Tantri hanya menggelengkan kepalanya saja, mereka berdua sebenarnya membahas apa? tak adakah yang lebih penting dari pada cinta? dia sudah muak.


"Lo sendiri itu pengecut Sha" ucap Nia membuat Sasha terdiam. Sasha dengan ekspresi bertanya dan tak mengerti lagi arah pembahasan ini.


"Gue bukan... "


"Lo pengecut karena selalu melarikan diri bukan?" Nia memotong ucapan Sasha, dia tidak ingin omong kosong dari Sasha.


"Lo berani ngomong kalo gue pecundang, tapi lo sendiri gak lebih dari pengecut" ucap Nia remeh. Sasha terdiam.


Bukan dia ingin lari, namun keadaan yang membuatnya pergi. Dan bukan tak ingin menyelesaikan, tapi waktu belum mengizinkan.


"Sasha, Lo hanya debu Sha, hadir Lo ada tapi gak dibutuhkan" jelas Nia dengan senyuman khasnya. Sasha terdiam cukup lama.


Kepalanya mendunduk kembali, wajahnya yang teluka tertutup dengan rambut panjangnya.


"Lo hanya terfokus pada kesalahan gue, tapi lo sendiri melupakan kesalahan lo yang bahkan lebih buruk dari gue" Nia tau semua tentang Sasha, jangan anggap dia hanya tikus bodoh yang dikejar oleh Kucing.


Terkadang juga Tikus mampu mengandalkan kecerdasannya untuk mengalahkan Kucing. Bukan tentang kekuatan namun kecerdikan.


Nia mendekat ke arah Sasha, menyelipkan anak rambut Sasha ke belakang telinganya, terlihat wajah Sasha yang berubah menjadi sendu, tan ada lagi kata yang menjadi perlawanan dari Sasha


"Lo sendiri yang hampir membunuh saudara Lo Sasha" bisik Nia menusuk. Sasha sedikit tersentak dengan itu.


Ingatan itu, kenapa harus kembali. Sasha tak ingin mengingat lagi keluarganya, dia menolaknya. Sasha memang tak lebih dari seorang pengecut.


"Oh, atau lo memang Pembunuh" ucap Nia kaget, ups berpura pura kaget, dengan tangannya yang kini menutup mulut, ekspresi macam apa itu.


"Sasha... Sasha... Lo itu menyedihkan, apalagi yang mau Lo harapin dari kehidupan?"


yah benar, tak ada lagi yang Sasha harapkan dari kehidupan, cukup terluka cukup kecewa, menutup mata sementara hanya membuat ia ingat segalanya, namun mungkin semua akan berakhir saat ia menutup mata untuk selamanya.


Kau tau apa yang membuatnya menjadi pecundang? Ya, rasa benci pada diri sendiri, Tak bisa memaafkan dirinya sendiri, menyalahkan dirinya sendiri.


Bagi Sasha, dia adalah manusia terbodoh dan paling menyedihkan didunia ini, dia juga tidak tau apa tujuan ia dilahirkan. Namun saat ini dia menyadari, tujuannya hanyalah untuk disakiti.


"Pembunuh di keluarganya sendiri, pembawa sial, dikucilkan, tak mendapat kebahagiaan, apalagi yang lebih buruk dari itu Sha?" tanya Nia tertawa, apa yang lucu dari menghina orang lain.


Sasha bergetar, tangan yang terikat itu kini mengepal. Kenapa Nia harus mengungkit itu, dia tidak ingin mengingat semuanya.


Sasha ingin melupakan semuanya. Keluarganya, Virgo? dia tak akan berharap lagi. Reynald? cukup kecewa dengan kemarin.


Apakah benar-benar tidak ada yang bisa Sasha harapkan? apakah memang tidak ada orang yang menyayanginya?


"Ya Sasha, gak ada yang pernah sayang sama Lo, Lo cuma terlalu banyak berharap dari dunia, Dunia yang bahkan Lo sendiri benci" Semakin Sasha terpuruk maka Nia semakin puas, itulah mengapa dia terus mengatakan sesuatu yang bisa merusak mental Sasha.


Setiap kata yang dilontarkan Nia, selalu menusuk kedalam hatinya. Kenangan paling pahit pun mendatangi, memperburuk ingatan hari ini.


"Lo gak berhak bicara tentang gue" sentak Sasha dengan nada bergetar, kepalanya yang masih menunduk, dapat dipastikan dia kini menahan tangisnya.


"Dan Lo juga gak berhak bicara tentang gue Sha, Lo yang mulai" jawab Nia enteng. Dia selalu penasaran, bagaimana jika mengungkit masa kelam dari Sasha?


"Setitik debu, bisa apa? Lo pikir selama ini Reynald sayang sama Lo? inget niat awal Reynald deketin Lo Sha"


Perlahan tapi pasti keraguan mulai muncul dalam hati. Tidak ingin membenarkan namun juga tidak ingin menyangkal.


Dan lagi, penyesalan terdalam, rasa bersalah, semua rasa menyeruak, memberontak, seakan tidak ingin dikendalikan oleh Sasha.


"Seharusnya lo tau, cara terbaik memang pergi, pergi dari hidup mereka, dan jangan kembali" hasutan Nia mulai membuat Sasha berpikir demikian.


Ya, Sasha juga ingin pergi. Lagipula tak ada lagi yang peduli padanya. Terluka, dan bahagia sesaat.


Sekarang Sasha menyadari, di dunia ini tak ada yang namanya kebahagiaan. Apa kata orang, Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian?


Nyatanya Luka tidak hanya sembuh dengan bahagia, terkadang luka yang didapat lebih besar daripada bahagia yang ia terima.


Setidaknya, begitulah menurut Sasha.


******


... "Jadi Intinya, Mereka berdua hanya mencari kesalahan dari lawan"...


******


Cape guys😌 Bukan Dedek yang cape nulis, tapi Sasha yang cape hidup😊


Jangan Lupa like, komen, dan vote😊