![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
"Rey, Lo merasa ada yang aneh gak sama musuh Lo?" Tanya Sasha dengan nada seriusnya.
Saat ini mereka dalam perjalanan pulang dari rumah Nenek Ina, Bandung. Mereka pulang menggunakan mobil milik Reynald, Namun yang mengendarainya adalah Diksi, disampinya Fani. Sedangkan Reynald dan Sasha duduk dibelakang.
Reynald mengernyit kemudian menatap Sasha bertanya.
"Musuh? LEON?" Tanya Reynald bingung. Sasha mengangguk mengiyakan.
"Gak ada yang aneh" Jawab Reynald singkat. Sasha menghela nafas, Dia menatap Reynald serius.
"Kenapa?" Tanya Reynald bingung. Sasha memikirkan sebentar, Kemudian menatap Reynald serius.
"Gue jelasin, Tapi nanti Lo koreksi" Jawab Sasha. Reynald mengangguk.
"Yang pertama, Waktu kita bolos, Itu gak mungkin suatu kebetulan. Kalo kebetulan mereka gak mungkin mempersiapkan sampai bawa pasukan dan senjata, Dan mereka gak mungkin tau kalo kita bolos pada waktu tepat saat itu" Jelas Sasha, Betul juga. Reynald baru menyadarinya.
"Maksud Lo, Ada mata-mata?" Tanya Fani menatap bingung ke arah Sasha.
Sasha mengedikan bahunya acuh.
"Yang kedua, Saat kita nyerang LEON, Mereka harusnya gak tau kalo kalian bawa Gue dan Fani, Karena kita agak jauh saat itu dari tempat utamanya" Lanjy Sasha, Dia menatap Reynald serius, Begitu pula Reynald yang mengubah Tatapanya menjadi tajam, Sepertinya Reynald baru menyadarinya.
"Ada mata-mata" Diksi menyimpulkanya. Reynald mengangguk setuju.
"Berani-beraninya mereka memata-matai Geng ADLER" Geram Reynald, Sasha langsung menatap Reynald.
"Mereka bukan mengincar ADLER, Tapi Lo yang di incar" Jelas Sasha, Reynald menatap Sasha mengernyit.
"Kalo mereka mengincar ADLER, Mereka udah sering menyerang kalian, Tapi disini yang sering diserang adalah Lo sendiri, Reynald" Jelas Sasha serius, Benar juga.
Sasha sudah menyadarinya sejak pertama, Namun dia ingin meyakinkan dirinya untuk membicarakan ini kepada Reynald, Dan ternyata Reynald malah tidak menyadarinya.
"Kenapa Lo gak bilang dari awal Sha?" Tanya Reynald kesal.
Sasha mendengus kesal, Dia menatap Reynald tajam.
"Harusnya Lo yang lebih awal menyadari itu Reynald, Lo kan ketuanya" Jawab Sasha kesal, Reynald terdiam.
"Ck, Gue sendiri yang akan menyelidiki" Ucap Reynald penuh penekanan, Mereka sudah berani bermain-main dengannya.
Sasha menatap Reynald serius.
"Lo bodoh atau apa? Lo gak mungkin bisa menyelidiki itu sendiri" Sarkas Sasha, Reynald menggeram marah dan menatap Sasha tajam.
Sasha langsung gelagapan, Namun dia mencoba untuk tenang.
"Mereka mungkin kerjasama dengan orang lain Rey" Jelas Sasha pelan, Dia menghela nafas.
"Gue setuju sama Lo Ca, Lo punya musuh selain LEON gak Kak?" Tanya Fani kepada Reynald.
"Gak" Jawab Reynald menggeleng, Kenapa dia gelisah sekarang, Ucapan Sasha memang benar, Harusnya Dia menyadarinya dari awal, Reynaldi bodoh.
Reynald harus merencanakan sesuatu, Dia tidak bisa terus berdiam saja, Ataukah dia harus menemui Faisal untuk menanyakan ini? Tapi Faisal tidak mungkin menjawabnya dengan jujur.
"Jangan bertindak gegabah Rey" Peringat Sasha tegas, Dia juga sama memikirkan Itu, Namun dia tidak ingin mencampurinya terlalu dalam, Bagaimanapun dia masih 'Asing' Dimana ADLER dan LEON atau bahkan Reynald.
"Gue gak bodoh Sha" Jawab Reynald pelan, Namun memang dia sebenarnya ingin langsung saja menemui Faisal.
Sasha menghela nafas, Pribadi Reynald itu keras kepala, Sasha tidak bisa menjamin kalau Reynald tidak bertindak gegabah.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan, Mereka menikmati perjalanan yang sepertinya tidak akan lama lagi.
Mobil Reynald mulai mendekati rumah Sasha, Sasha menyadari keanehan, Ada banyak mobil didepan rumahnya, Lampu menyala, Dan jendela kamarnya terbuka, Siapa yang datang. Tunggu, Sasha mengetahui satu hal, Salah satu diantara mobil itu adalah milik orang tuanya.
Diksi dan Fani saling pandang, Sepertinya mereka menyadari satu hal. Ataukah akan ada sesuatu yang terjadi.
Saat mobil berhenti, Sasha langsung membuka pintu mobil dan berlari ke rumahnya, Saat Sasha membuka pintu rumah itu....
Plakkk
Bunyi yang nyaring itu langsung bergema di ruang tamu Rumah Sasha, Mendadak suasana menjadi hening.
Sasha sudah jatuh ke lantai, Dia bahkan memegangi pipinya yang terasa sangat panas, Bahkan sudut bibirnya sobek.
Sasha termenung, Apa lagi ini? Tidak bisakah Sasha merasakan bahagia sebentar saja?. Setetes air mata jatuh dari matanya.
"Mama, Papa, Tante, Om" Sasha mengedarkan pandangannya, Rumah nya telah dipenuhi keluarga besarnya, Bahkan orang tua Diksi juga ada disini.
Seluruh Keluarga menatap Sasha tajam, Mereka bahkan seperti ingin melihat Sasha mati saja.
"Kenapa kau tidak mati saja" Sarkas salah satu Tante Sasha.
Sasha termenung, Andai saja dia bisa melakukan Itu, Dia akan memilih mati saja.
"Caca salah apa?" Lirih Sasha, matanya memanas. Marina langsung menatap Sasha tajam, Dia menarik rambut Sasha kencang.
"Mah lepas" Pinta Sasha lemah, Air matanya tak dapat dibendung lagi.
"KAMU MASIH TANYA SALAH KAMU HAH?" Bentak Fadli, Bahkan dia tak segan menendang Sasha, Sasha sampai mundur beberapa langkah.
"DUA HARI INI KAMU KEMANA? VIRGO SEDANG DIAMBAMG HIDUP DAN MATI, KAMU MALAH SENANG-SENANG HAH" Bentak Fadli marah, Ingin sekali rasanya membunuh Sasha.
Deg
Sasha mematung, Detak jantungnya serasa berhenti berpacu, Apa yang terjadi pada Virgo? Viego kenapa?
"Virgo" Lirih Sasha. Marina tersenyum sinis, Dia mencengkram dagu Sasha, Bahkan Kukunya menusuk pipi Sasha.
"Ssh" Rintis Sasha pelan. Adakah salah satu keluarganya yang membela dirinya? Bahkan sepertinya keluarganya sudah tak menginginkan dia lagi.
"Kamu benar-benar tidak tau di untung" Sarkas Marina tajam, Dia langsung melepaskan kasar tanganya dari dagu Sasha.
"Ma, Ijinin Caca ketemu Virgo" Pinta Sasha dengan sangat, Dia ingin bertemu Virgo.
Sasha kembali meneteskan air matanya, Biarkan orang tuanya menyiksa dia. Yang terpenting Sasha ingin bertemu Virgo.
"Sampai kapanpun kamu tidak akan pernah saya ijinkan bertemu dengan Virgo" Jawab Fadli dingin. Setitik rasa simpatinya kepada Sasha telah lenyap, Tak ada lagi simpati atau empatinya kepada anak kandungnya itu.
"Sekarang, Kamu pergi dari rumah ini, Saya sudah tidak perduli lagi dengan kamu" Usir Marina dingin.
Sasha mematung, Dia menatap Mamanya memohon.
"Ma, Sasha harus tinggal dimana kalau bukan disini?" Tanya Sasha pelan. Marina terkekeh sinis.
"Saya bilang, Saya tidak peduli dengan kamu" Tekan Marina.
Sasha menangis, Dia seperti bukan 'Anak' lagi, Melainkan orang asing yang memang seharusnya sudah tidak ada.
Salah satu Om dari Sasha melemparkan koper yang berisi baju-baju Sasha.
"Sekarang kamu pergi dari sini" Usir Marina, Dia dia memberikan koper itu.
"Ma, Setidaknya Ijinin Caca ketemu Virgo Ma" Mohon Sasha dengan suara paraunya.
"Saya sudah bilang, SAYA TIDAK AKAN PERNAH MENGIJINKAN VIRGO BERTEMU KAMU" Bentak Marina marah, Dia menarik paksa Sasha keluar.
Marina langsung mendorong Sasha hingga Sasha tersungkur di teras rumahnya. Marina melemparkan koper itu ke Sasha, Sasha yang tidak siap langsung terkena koper Itu, Tanganya Sakit karena menahan koper itu.
"Silahkan pergi, Kalaupun kamu mati saya tidak perduli" Sarkas Fadli, Sebelum Fadli menutup pintu rumahnya, Dia menyempatkan menendang perut Sasha keras.
Sasha kini menangis sesenggukan, Tak hanya fisiknya yang sakit, Bahkan hatinya mungkin tak dapat disembuhkan lagi.
Tak akan ada yang bisa mencabut jarum-jarum yang menusuk hatinya, Tak akan ada yang bisa menyembuhkan luka-lukanya. Sasha sudah tidak bisa terselamatkan lagi, Dia menyerah pada dunianya.
Sasha perlahan mulai berdiri, kalau saja Sasha bisa membenci keluarganya, Namun kenyataanya dia sama sekali tidak bisa membenci keluarganya.
Sasha berjalan tak tentu arah sembari menyeret kopernya, Guntur yang menyambar karena hujan juga tak dia hiraukan. Air matanya senada dengan rintik hujan yang turun, Deras.
Sasha duduk di bangku taman dekat rumahnya, Oh sekarang bukan rumahnya lagi. Sasha teringat dia masih punya Apartement miliknya, Dia mungkin sementara akan tinggal disitu? Bukan sementara tapi selamanya.
Sasha hendak menelpon Reynald, Namun dia berpikir, Kali ini Sasha tidak akan pernah meminta bantuan siapa-siapa lagi.
Sasha bangkit dengan tatapan kosongnya dia berjalan menuju Apartement miliknya. Bahkan dia berharap dalam perjalanannya dia ingin tidak selamat. Hati Sasha mungkin akan dipenuhi rasa dendam kepada dunianya, Namun itu hanya Mungkin.