Broken Angel'S [COMPLETED]

Broken Angel'S [COMPLETED]
#53, BROKEN ANGEL'S



...Sebelumnya, Author benar-benar minta maaf karena komentar dan feedback slowrespon, alasannya karena Author sedang sakit jadi dibutuhkan banyak istirahat😷 Tapi tenang aja, feedback dan komentar terjamin di jawab🤗...


......................


Hal yang paling di inginkan Sasha adalah keluarga, meskipun mungkin dirinya membenci keluarganya, tapi tak dapat di pungkiri dia merindukan kehangatan keluarganya.


Atau mungkin dia memang tidak bisa lagi kembali ke keluarganya, tempat dimana seharusnya menjadi rumah baginya, kemanapun Sasha pergi tempat pulangnya adalah keluarganya, Seharusnya.


Sasha menghela nafas panjang, seperti nya apapun yang ia lakukan, pasti mengingatkannya dengan keluarga, namun Sasha tidak bisa terus begini, karena Sasha juga memiliki keluarga sendiri bukan?


*******


#Di tempat lain


"Kapan lo mau bertemu secara langsung sama Caca?" tanya Diksi kepada laki-laki di depannya itu, siapalagi kalau bukan Virgo.


"Hmm, Gue belum tau" jawab Virgo ragu. Fani yang mendengarnya berdecak kesal. Kalau seperti ini kapan masalahnya selesai?!


"Virgo, lebih cepat lebih baik, Lo mau kan masalahnya selesai setelah itu Caca gak menderita lagi" jelas Fani panjang. Itu demi kebahagiaan mereka berdua, semuanya.


"Gue tau, tapi..." Virgo menghela nafas panjang, dia belum siap. Tapi seharusnya siap ataupun tidak siap, dia harus menemui Sasha.


"Lo harus siap Vir, apapun yang terjadi, semuanya harus selesai" jelas Diksi serius, Semakin lama Sasha semakin menderita.


Meskipun dia telah menemukan keluarga baru, tetap saja keluarga utamanya tidak akan terlupakan. Diksi menjamin bahwa Sasha selalu memikirkan tentang keluarganya.


"Ya, Gue tau... secepatnya bikin rencana, bawa Gue ketemu sama Caca" perintah Virgo kepada keduanya. Diksi dan Fani tersenyum puas, mereka mengangguk patuh.


"Gue harap semua masalahnya cepat selesai" Gumam Fani tersenyum. Diksi yang ada disampingnya mendengar ucapan lirih dari Fani.


"Hmm, Cepat atau lambat semuanya pasti akan selesai" ucap Diksi pelan. Virgo dan Fani mengangguk membenarkan.


"Ingat gak sih? dulu kita pernah janji untuk selalu bareng sampai gede, sampai kita dewasa" Fani tersenyum simpul mengingat janji mereka dulu.


Kedua laki-laki tersebut ikut tersenyum dan mengangguk. Ya mereka mengingat janji itu, janji yang mereka buat saat kecil.


"Ingat gak dulu siapa yang paling cengeng? Siapa yang suka ngompol?" tanya Virgo dengan nada menyindir. Orang yang tersindir itu mendengus kesal.


"Halah, Lo juga dulu cengeng" ejek balik Fani. Virgo langsung menggeleng cepat dan menyanggah ucapan Fani.


"Apaan? Gak lah, Diksi tuh" sanggah Virgo cepat, dia malah melemparkannya kepada Diksi.


"Gue diem, masih aja kena" Diksi menghela nafas panjang, keduanya tertawa kecil melihat Diksi dengan wajah pasrahnya.


Beginilah suasana yang mereka rindukan. Ah, rasanya tidak adil mereka mengenang masa kecil tanpa Sasha.


Padahal mereka sangat ingin Sasha disini sekarang, mengenang kenangan, mengingat ingatan, Ya seperti itu lah.


Semuanya akan indah pada waktunya...


*****


Sementara itu kini dua orang tengah memikirkan rencana buruk mereka. Memang tidak ada habisnya jika membicarakan kejahatan mereka.


Namun apa yang terjadi pada keduanya? bahkan menghilangkan nyawa seseorang saja dianggap halal baginya.


"Jadi gimana?" Tanya perempuan itu dengan orang di depannya, 'Perempuan itu' mengenakan pakaian hitam, sedangkan lawan bicaranya mengenakan jaket merah.


"Kita harus susun rencana, Reynald cuma milik Gue" jawab tegas perempuan berjaket merah tersebut.


"Lo mau buat rencana apa?" Tanya perempuan berpakaian serba hitam, sebenarnya dia tidak terima saat lawan bicaranya itu mengatan Reynald hanya miliknya.


Kini keduanya berada di gedung tua yang kosong, tidak ada rasa takut sama sekali. Mereka memang di penuhi rasa benci.


"Gak perlu ribet, cukup singkirin orang yang ada di sekitarnya, Gue gak peduli siapapun itu, kalo dia berani ngerebut Reynald dari gue, Gue pastiin dia gak akan selamat" Jelas orang berjaket merah tersebut.


Penjelasannya membuat kaget lawan bicaranya. Mereka memang tidak punya hati, mati. Tak peduli lagi apa yang akan terjadi.


"Apa gak keterlaluan?" tanya perempuan bepakaian hitam tersebut. Lawan bicaranya tersenyum sinis.


"Kalo Lo gak mau, gue bisa sendiri" jelas orang berjaket merah itu, obsesi dan ambisi kini merasuki hatinya.


Satu tujuan, beribu pengorbanan. Bahkan cara kotor pun mereka lakukan agak tujuannya tercapai. Sungguh obsesi dan ambisi yang kotor.


Lalu jika mereka mencapai tujuannya apa yang terjadi? tentu saja mereka akan merasa hampa, mereka akan mencari ambisi lainnya.


Tujuan yang telah tercapai akan dibuang, tanpa memikirkan apa usaha yang telah mereka lakukan dulunya.


******


Kembali lagi ke Sasha, kini perasaanya tidak tenang, firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi.


Yang perlu ia lakukan adalah mewaspadai semuanya, termasuk orang-orang yang telah ia tandai. Mereka kejam, Sasha bisa lebih kejam.


"Oy, mikirin apa?" tanya Reynald yang melihat Sasha terus melamun. Sasha menjawabnya dengan gelengan kepala.


"Gak mikirin apa-apa" jawab Sasha singkat. Reynald menghela nafas, Sasha tidak akan bisa membohongi dirinya.


"Kalo ada masalah cerita Sha" Ucap Reynald serius. Sasha menghela nafas panjang.


"Iya" jawab Sasha pasrah, matanya tetap terpancar kegelisahan.


Semoga tidak terjadi apa-apa kedepannya, masalah cepatlah selesai. Dia lelah, dia ingin beristirahat, meskipun dia tau, masalah tidak akan pernah ada habisnya.


Namun setidaknya berikan waktu untuk istirahat, Dia sangat lelah. Meskipun dia belum menyerah.


*****


..."Istirahatlah jika kau lelah, berjuang memang butuh tenaga ya"...


...~Note Gemini~...


Maaf untuk Chap ini pendek🤗 Merry Christmas and happy new year, bagi yang merayakan🤗


Jangan lupa like, komen, and vote.