![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
... Maaf ya Dedek Author telat Up, ada kepentingan yang mendesak tadi... Tapi boong😂Canda, tadi Authornya beneran ada urusan😂...
******
Di suatu ruangan minimalis, ruangan yang sangat tentram dan tenang, damai. Ruangan yang didominasi dengan warna abu-abu dan putih, khas warna seseorang yang kesepian bukan?
Seorang laki-laki tengah duduk disebuah kursi, dia memandang nanar foto yang ada dugenggamannya itu, foto seseorang yang sangat dia cintai, dulu.
Namun semuanya lenyap, saat dia menuduh kekasihnya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Entah itu kebenaran atau kesalah pahaman.
"Lo kembali lagi" ucapnya dengan tersenyum senang, namun juga miris, ternyata 'mantan' kekasihnya itu kembali bukan untuk dirinya, demi lelaki lain yang notabene adalah sahabat si lelaki sendiri. Miris.
Tunggu, apakah dia bisa disebut 'Mantan' saat sebuah ikatan masih belum terputuskan, Haha, jangan terlalu berharap bodoh! dia sudah melupakanmu, Jadi kau juga harus melupakannya.
Tak ada lagi kata cinta, Yang ada hanya kebencian belaka. Bahkan 'dendam' bisa sangat mudah untuk memberontak dalam hatinya.
Laki-laki yang terbiasa dengan kerasnya dunia, ternyata bisa bersedih juga. Sahabat ya? sahabat mana yang tega menghianati sahabatnya sendiri?!
"Gue benci kalian berdua, meskipun Gue gak bisa bohong, kalo kalian adalah orang yang Gue sayang" gumam laki-laki itu lirih, cinta memang... menyakitkan.
*******
Sementara itu disisi lain...
Ternyata perang dingin terjadi lagi dengan Sasha dan Reynald, oh salah, Sasha lah yang kembali bersifat acuh pada Reynald.
"Sasha, Gue sama Nia cuma sahabat, Cuma sahabat" Tekan Reynald yang sudah terlanjur kesal dengan Sasha, Sasha masih saja salah paham.
"Oh ya? Terus kenapa kalian pelukan kemarin?" Tanya Sasha dengan nada menantangnya. Reynald mengacak rambutnya frustasi.
"Sha, Please lah, jangan gini" melas Reynald dengan nada putus asanya. Sasha memang sangat keras kepala.
Sasha memalingkan wajahnya, dan menghela nafas panjang.
"Dia Nia, mantannya musuh Lo itu kan?" Tanya Sasha lagi, tatapan yang cukup mengintimidasi bagi Reynald, Reynald sampai tidak bisa menatap mata Sasha.
"Iya" Jawab Reynald pelan. Bukan apa-apa, Sasha tau ini akan menjadi rumit, bahkan sangat rumit. Hmmph, Ingin rasanya Sasha tak mempedulikannya saja.
Sasha menghela nafas berat, Kean sedang ada di rumah Omanya sekarang alias orang tua Reynald, Jadi kalau bertengkar dengan Reynald, Ya tidak masalah. Itu yang dipikirkan olehnya.
"Lo tau gak sih? Gue tuh dari kemarin pengen marah banget sama Lo" ucap Sasha geram. Tak sadarkah Sasha kalau ucapannya itu menusuk hati Reynald?
"Iya iya, maaf" hanya itu yang bisa Reynald ucapkan untuk meredakan emosi Sasha yang kini memuncak.
"Dan Gue mau menyelesaikannya sekarang" ucap Sasha serius, sangat-sangat serius. Tatapan intimidasi yang masih diberikan kepada Reynald.
Reynald langsung menatap Sasha memelas, dia memang sudah siap menjelaskan apa yang terjadi kepada Sasha peristiwa 3 tahun lalu, dimana pertemanannya dengan Faisal runtuh.
"Lo nganggap dia apa?" Tanya Sasha serius, duduk didepan Reynald, tatapan intimidasi, dengan sebuah majalah di tangannya, sangat cocok untuk menginterogasi Reynald sekarang ini.
"Sahabat" jawab Reynald menunduk. Tak ada alasan untuk berbuat kasar kepada Sasha sekarang, yang ada Sasha hanya akan semakin jauh. Lagipula memang Reynald yang bersalah.
"Terus apa maksudnya kemarin pelukan?" tanya Sasha lagi, kali ini bernada sedikit kesal, Ingin rasanya dia melemparkan majalah yang ada di tangannya ini ke wajah Reynald.
"Pelukan sebatas sahabat" jelas Reynald singkat. Sasha mengernyit, kemudian terkekeh sinis.
"Dia cewek, mudah baper, harusnya Lo tau itu" jelas Sasha dengan nada yang mulai melunak. Reynald berharap emosi Sasha segera mereda.
Reynald berpikir ini adalah celah untuk mengubah topik pembicaraan. Dan dia akan mengubah posisi menjadi dia yang mendominasi.
"Dan Lo juga cewek" Reynald menyeringai melihat keterdiaman Sasha. Reynald tau tidak seharusnya mengatakan hal itu, tapi dia hanya ingin mengalihkan pembicaraan, agar Sasha tak bertambah marah.
"Ya kenapa kalo Gue cewek?" tanya Sasha ketus. Reynald tersenyum tipis, wajah kesalnya terlihat lebih menggemaskan dari pada wajah datar yang sejak kemarin di perlihatkan.
Setelah itu, hanya keheningan yang menyelimuti, keduanya lelah sedari kemarin hanya cekcok, tak ada lagi keharmonisan yang diperlihatkan.
"Kita selesaikan ini sama-sama Sha, Gue sama Nia sahabatan, dan Lo cuma satu-satunya perempuan yang... " Reynald tak dapat melanjutkan perkataannya, meskipun begitu Sasha tau apa yang dimaksud Reynald.
Benar juga, Sasha tidak bisa terus egois dan marah kepada Reynald. Sasha beralih menatap Reynald dengan tatapan sendunya.
"Ya kalo memang gitu menurut Lo, harusnya Lo bisa menghargai Gue Rey" ucap Sasha sangat kesal, saking kesalnya dia sampai berkaca-kaca.
"Iya Sha iya, Gue gak akan terlalu dekat sama dia lagi" jelas Reynald pasrah. Sasha menggelengkan kepalanya, dan mulai menangis. Kenapa Sasha menjadi cengeng sekarang?!
Reynald malah tertawa kecil melihat Sasha, sifat manjanya Sasha memang belum pernah menghilang, dan tak akan hilang.
"Gue kesel sama Lo, Reynald jelek" ketus Sasha masih menangis, untuk apa munafik lagi, dia hanya ingin menumpahkan air matanya sekarang.
Reynald tertawa lagi, Sasha sudah sering seperti ini jika sedang marah, dan itu membuatnya bertambah menggemaskan. Seperti kata Nenek Ina, neneknya Sasha.
"Haha, Sini" Reynald merentangkan kedua tangannya, menyuruh Sasha mendekat namun Sasha menggelengkan kepalanya, menolak.
Reynald tertawa kecil, lagi. Yasudah, Reynald juga tidak memaksanya, biarkan saja nanti juga Sasha luluh sendiri.
"Udah lama gak kerumah Nenek, gak mau kesana?" tanya Reynald berniat mengajak. Sasha menghentikan tangisnya sejenak dan menatap Reynald.
"Yaudah besok ke rumah Nenek, sekalian bawa Kean" jawab Sasha dengan sisa-sisa tangisnya. Reynald tersenyum simpul dan mengangguk setuju.
"Iya, berhenti dulu nangisnya" ucap Reynald. Sasha menatap Reynald kesal, dia melempari Reynald dengan banyak sofa.
Reynald malah terkekeh dan menangkap bantal yang dilempar Sasha tadi. Tak apa, yang penting Sasha sudah tidak marah lagi.
"Ketawa aja terus" ketus Sasha kesal. Reynald malah semakin tertawa.
"Udah ya, gak ada salah paham lagi" jelas Reynald lembut. Sasha hanya mengangguk patuh, untuk saat ini mungkin bisa di cegah.
"Pokoknya kalo Gue lihat Lo pelukan lagi sama Dia, Gue usir beneran" kesal Sasha sedikit berteriak. Reynald mengangguk mengiyakan.
"Iya Sasha" jawab Reynald pasrah. Kali ini saja, apa salahnya menuruti Sasha. Lagipula itu bukan permintaan yang sulit, asalkan Sasha tak memintanya untuk menjauhi Nia Farasha saja.
"Makanya sini" suruh Reynald menyuruh Sasha mendekat lagi. Sasha menatapnya dengan wajah ditekuk.
"Gak mau, Gue masih marah" ketus Sasha memalingkan wajahnya. Reynald terkekeh geli.
"Sini pinjam HPnya" Sasha menyodorkan telapak tangannya, dia akan mengecek semuanya, terdengar posessive memang.
"Gak mau" jawab Reynald dengan senyum mengejeknya, sebenarnya ponsel miliknya ada dikamar. Sasha langsung saja mengubah raut wajahnya, berpura-pura marah.
"Yaudah, sana pacaran aja sama Nia" ketus Sasha langsung berdiri dan melangkah ke kamarnya. Reynald terkekeh gemas.
Reynald hanya membiarkan Sasha pergi, dia tau Sasha masih kecewa, namun mungkin tidak separah kemarin.
Kegundahan sebenarnya masih sangat terasa, Reynald tidak bisa menjauhi Nia, Demi melindunginya, Reynald tau bagaimana sifat temannya itu.
Yang Reynald yakini, Faisal akan balas dendam, dengannya atau dengan Nia.
"REY, ADA TELFON DARI NIA, YANG KATANYA SAHHABAT LO ITU" Teriak Sasha sekencang-kencangnya, sedikit menyindir, tapi tidak apa-apa lah.
Reynald melotot. ******.
******
Hari Ini Reynald sama Sasha baikan dulu, biarin mereka bercekcok nanti😂😂 Jahat banget Authornya kalo di biarin berantem terus😂
Jangan lupa Like, comment and vote...