![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Dalam mimpi yang gelap, tersemat setitik cahaya yang menyelematkan Sasha. Hati yang penuh kebimbangan, karena dia tak tau harus pergi kemana.
Yang ia temui hanyalah tempat kosong dan gelap, tidak ada siapa-siapa disini. Hanya ada dirinya di antara ilusi fantasi.
Ini dimana? Sangat gelap disini. Begitulah kalimat yang selalu muncul di otaknya.
"Reynald, gue takut" lirihnya.
Dia terus berjalan tak tentu arah, mata yang berkaca dan menatap setiap langkah yang penuh keraguan.
"Ma, Pa Caca takut"
Sasha duduk bersimpuh dengan air mata yang terus mengalir. Dia menyerah mencari jalan untuk pulang, karena mungkin takdirnya hanya sampai disini saja.
Dalan keputusasaan, Seberkas cahaya menghampiri dirinya, membuka ruang yang sangat terang, entah ini akan menjadi tujuan selanjutnya atau pun tempatnya untuk pulang.
Sasha hanya mengikuti kata hati, dan dia pun masuk ke dalam.
*******
Sementara itu detak jantung Sasha kini menghilang, dan tergantikan dengan garis lurus. Dokter pun siap dengan alat kejut jantungnya.
Beberapa kali dilakukan, namun detak jantung pasien tidak kembali, mereka yang ada disana saling bertatapan dengan wajah pasrah.
"Tidak ada harapan lagi dokter, pasien sudah meninggal" ucap suster tersebut dengan raut wajah sedih.
Dokter tersebut merasa kecewa, sekali lagi dia tidak dapat menyelamatkan pasien nya, dan melihat keluarga pasien bersedih. Namun semuanya kehendak tuhan.
Dokter pun keluar dari ruangan, disambut tangisan dan kepanikan dari Gina dan Rama.
Sekaligus Reynald yang baru saja datang merasa dunianya seketika berhenti, apakah secepat ini Sasha pergi? Tidak! Sasha tidak boleh meninggalkanya!
"Ma, Pa ini bohong kan?! Sasha gak mungkin ninggalin aku kan?!" Tanya Reynald dengan nada yang sangat lemah, seolah dia tidak percaya apa yang dikatakan oleh dokter.
"Kamu yang sabar ya nak" ucap Gina diiringi isak tangis, dia berharap anaknya bisa tegar menghadapi semua ini.
"Gak Ma, Sasha belum meninggal" tegas Reynald yakin, dia yakin Sasha tidak akan meninggalkannya. Itu tidak mungkin!
"Sayang, kamu yang tabah, ikhlaskan Sasha nak" Gina tak sanggup melihat anak laki-laki nya hancur, sungguh ia tak sanggup.
"GAK MA! CACA MASIH HIDUP" Teriakan penuh tidak kepercayaan, dia kini frustasi menghadapi kenyataan. Sasha kembalilah, setidaknya itu harapan Reynald.
Gina langsung mendekap anaknya yang hancur itu, dia juga berharap Sasha masih hidup, namun kenyataan didepan mata, Sasha telah meninggalkan dunia ini.
Duka di malam itu sangat ketara, hati yang telah hancur karena kepergian seseorang, lantas bagaimana nasib anak kecil itu? Membayangkan dia akan berjalan sendirian dan hanya didampingi seorang ayah, rasanya pasti sangat berat.
Dan bagaimana cara nya untuk memberitahukan kepada sosok anak kecil yang masih polos, kehilangan masih terlalu awal baginya.
Suster kembali dari ruangan Sasha dan membisikkan sesuatu kepada sosok berjas putih tersebut. Seketika dia mengernyit tidak percaya.
Dokter tersebut menatap semuanya dengan tatapan yang sulit diartikan.
******
Pemakaman
Tempat dengan kesedihan paling mendalam, perpisahan antara dua dunia, dan tempat menghantarkan orang-orang untuk menghadap tuhan nya.
Disusul dengan keluarga lain nya, dan teman-teman yang ikut datang, menumpahkan kesedihan masing-masing, meskipun terasa sesak dalam dada.
Seorang nenek yang sudah tua renta, berjalan dengan sedikit usaha demi cucunya yang kini telah pergi meninggalkanya.
"Sasha" tatapan kosong yang terpancar, tangannya menyusuri nisan itu, dia belum siap kehilangan.
"Kenapa kalian tidak memberi tahu kami sebelum pemakaman dimulai?" Tanya sosok tua renta itu dengan nada bergetar.
Keluarga Reynald memang memberi tahu setelah pemakaman selesai, dan semuanya mungkin tidak akan menerima kenyataan ini, bahkan Gina dan Rama tidak membiarkan mereka melihat Sasha untuk yang terakhir kalinya.
Mungkin kecewa yang dialami terlalu berat.
"Bahkan saya tidak bisa melihat wajah cucu saya untuk yang terakhir kali" ucap Nenek Ina dengan penuh penyesalan, kepala yang menunduk menyembunyikan kristal yang menggenang.
Gina dan Rama berdiri, masih dengan penuh derai air mata. Hanya Reynald yang masih duduk setia menemani seseorang yang sudah terbaring dibawah tanah tersebut.
"Saya masih orang tua Caca, harusnya kamu memberitahukan saya tepat setelah Caca menghembuskan nafas terakhirnya bukan setelah pemakaman selesai" ucap Marina dengan wajah yang dipenuhi air mata, dia menatap Gina marah.
"Apa kamu tidak bisa berkaca? Masih pantaskah kamu disebut orang tua?" Sarkas Gina kepada Marina, Marina langsung terdiam.
Marina menyesal, dia bahkan belum sempat meminta maaf kepada anaknya yang telah lama ia lukai hatinya, sedikit perhatian pun tidak pernah ia berikan untuk anaknya itu.
Saat Marina ingin menjawab pernyataan sarkas dari Gina, Reynald lebih dahulu menyela nya.
"Tolong jangan bertengkar disini, jangan membuat Sasha sedih melihat kalian yang beradu argumen didepan makamnya" ucapan itu menyadarkan semuanya, sekaligus membuat semuanya tertampar dengan kenyataan bahwa Sasha memang telah meninggalkan mereka semua.
Semua yang ada disana belum bisa menerima kenyataan ini. Mereka kecewa sangat kecewa, bukan kepada takdir namun pada diri mereka sendiri. Mereka kecewa karena tidak bisa menjaga sosok malaikat kesepian, sehingga malaikat kesepian meninggalkan mereka sendirian.
"Gue belum bisa terima kenyataan ini" ucap Fino lirih yang ternyata didengar Farhan yang ada disampingnya.
Farhan menepuk pundak Fino dan memberikan senyum simpul untuk menguatkan sahabatnya itu, bahkan untuk berbicara dia tidak punya tenaga.
"Diksi, Caca... " Fani tidak bisa berkata-kata lagi, sesak didadanya begitu dalam, dia tidak ingin Sasha pergi, tolong kembalilah.
"Udah Ya, kita ikhlaskan Caca, disana Caca udah bahagia, karena Caca udah gak menderita lagi" ucap Diksi lembut. Bohong jika dia telah mengikhlaskan Sasha, itu hanyalah kalimat penenang untuk Fani, sahabatnya.
Hari penuh duka, berakhir dengan air mata.
******
"Mama sama Papa kemana?" Tanya anak kecil yang baru terbangun dari tidurnya, yang dia dapati hanyalah sosok gadis polos yang duduk dihadapanya.
"Papa kamu masih ada urusan sama Mama aku dan Papa aku" jawaban polos yang keluar dari mulut mungil bocah menggemaskan. Merangkai kata baginya masih belum terlalu bisa.
"Terus Mama kemana?" Tanyanya lagi. Nia hanya menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Kean.
Lupakan si Nia Psikopat itu, mari kembali ke Nia mungil nan lugu.
*****
... "Penyesalan akan datang ketika sesuatu telah menghilang"...
It's not ending.