![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Ballroom hotel yang telah disulap sedemikian rupa, dengan dekorasi mewah dan elegan. Menandakan adanya acara yang akan digelar disini.
Kursi pelaminan yang tertata tapi, begitu pula dengan kursi tamu yang sudah tersusun dengan jarak tertentu.
"Astaga, masih gak nyangka gue sumpah" ujar Fino yang masih tidak menyangka. Sebentar lagi sahabatnya akan menempuh hidup baru.
"Iya sama, gue harap setelah Diksi menempuh hidup baru dia masih ada waktu buat kumpul sama kita-kita" itulah harapan Zacky, meskipun ia tahu akan sangat sulit untuk membagi waktu.
"Kok sedih ya" ucap Farhan dengan raut wajah sedihnya. Harusnya mereka bahagia di hari ini, namun juga tak menampik bahwa mereka juga merasakan kesedihan.
"Udahlah kita tuh harusnya seneng, ini hari bahagia mereka jadi jangan ngerusak, cengeng banget kalian" Mulutnya memang menasihati, namun hati Fino juga merasakan hal yang sama.
"Iya sih, masih gak nyangka aja kita" ucap Zacky, dia menghela nafas dan tersenyum simpul.
"Yaudahlah Ya, abis ini tinggal Lo yang nyusul" ujar Fino dengan menunjuk Zacky. Mereka tertawa bersama dan tinju mereka saling bertemu, bertos ria layaknya sahabat.
"Wih gue deg-degan nih" Farhan memegang dadanya, seolah-olah detak jantungnya kini tidaklah normal, dia merasakan kebahagiaan yang memuncak.
Mempelai wanita pun muncul bersama bridesmaid yang sedang menjalankan tugasnya, yaitu mengantarkan sang mempelai ke kursi kekuasaanya.
Sang mempelai wanita sangat cantik, tersenyum bak bidadari yang anggun, guratan bahagia begitu terpancar dari wajahnya.
Acara pun segera dimulai, hingga berjam-jam sampai-sampai sang pengantin pria dan wanita itu harus berganti pakaian beberapa kali.
Kini giliran para tamu mengucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua yang tergelar secara meriah.
"Hey yow selamat bro, masih gak nyangka gue sumpah dah, Lo berdua bahagia terus ya sampai maut memisahkan, untuk kado nyusul nanti malam sekalian party kita" dengan begitu hebohnya Farhan mengucapkan selamat kepada Diksi, tak lupa senyum jahil yang biasa Farhan keluarkan.
Bahkan Diksi yang terbiasa dengan sikap cueknya kini tersenyum lebar, kebahagian yang tertumpah dan menyebar kepada teman-teman nya, sungguh hari bahagia.
"Thanks bro, cepet nyusul, jangan jomblo terus" Diksi terkekeh kecil, itu hanya candaan, dia tidak berniat mengejek Farhan. Farhan hanya mendengus kesal.
"Congrats bro, pengantin baru ciee, harusnya kalian ngadain party nya tuh minggu depan, jadi kan kalian bisa berdua-duaan tuh nanti malam" Ujar Fino dengan ambigu, dia terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Bego Lo, Berduaan mah bisa kapan aja, kita kan mau menikmati waktu sama kalian dulu sekalian berbagi kebahagiaan biar Lo gak ngerasa ngenes terus karena jomblo" itu fakta, meskipun kalimat Fani mengandung sedikit ejekan, namun Fino tak ambil pusing dengan apa yang diucapkan Fani.
"Yaelah sok-sok an Lo, biasanya juga Lo seneng liat Gue ngenes" Fino yang berpura-pura kesal, padahal bibirnya kini terukir senyuman.
"Canda elah, serius aja hidup Lo" mereka tertawa ditengah percakapan itu.
"Gantian lah gue juga mau ngucapin selamat" ucap Zacky menyela candaan mereka.
"Selamat bro, doain gue cepet nyusul" lanjutnya, dia tidak benar-benar serius mengatakan itu. Dia mengatakannya dengan kekehan kecil yang berartikan candaan, dia masih menunggu dirinya siap untuk ke jenjang berikutnya.
Oh Ya, memang benar mereka berdua akan merayakan pesta malam ini, tidak banyak yang diundang hanya teman dekat atau kerabat dekat saja.
"Congrats, Gue ikut bahagia" kini giliran lelaki dingin yang mengucapkan selamat, meskipun wajahnya terlihat datar, namun jika diperhatikan lagi bibirnya membentuk senyuman tipis, seperti yang dikatakannya dia ikut bahagia.
Diksi dan Fani saling pandang, keduanya menatap Reynald dengan senyum lebarnya.
"Thanks, Lo juga berhak bahagia dengan pasangan Lo sendiri" ucap Fani hangat. Diksi menyetujuinya.
Reynald hanya menanggapi itu dengan senyum tipis, dia masih ingin menunggu, meskipun harus menunggu beberapa tahun atau bahkan 10 tahun lagi, dia akan tetap menunggu.
"Dahlah, kita tunggu di dalam ya, tuh banyak tamu yang mau ngucapin selamat juga sama kalian" pamit Farhan dengan menunjuk para tamu menggunakan ekor matanya.
"Yoii, kalian kedalam dulu nanti gue nyusul sama Fani" Diksi mengiyakan.
Mereka berjalan pelan meninggalkan Diksi dan Fani disana, mereka berniat masuk kedalam ruangan yang akan digunakan untuk berkumpulnya para keluarga dan teman.
Samar-samar Reynald mendengar suara wanita dewasa bersama seorang Lelaki dewasa juga, dapat dipastikan mereka suami istri.
"Halo Diksi, selamat ya, semoga kalian berdua bisa langgeng sampai tua nanti" wanita itu menyapa Diksi dengan senyuman yang lebar.
"Makasih tante, makasih om Fadli" Diksi menyambut jabat tangan dari Fadli, sedangkan Fani memeluk Marina.
Suara itu kian terdengar lirih di telinga Reynald. Sial, dia tidak suka dengan wanita dewasa itu, dia mengingatkan Reynald dengan seseorang. Sudahlah lupakan saja.
Reynald pun segera berlalu.
Kurang lebih 1 jam kemudian Diksi dan Fani ikut bergabung kedalam ruangan keluarganya berkumpul. Mereka langsung terduduk di sofa, terlihat sangat lelah dengan acaranya.
"Astaga gue cape banget" keluh Fani lirih. Diksi mendengarnya karena dia ada disamping Fani. Diksi mengambilkan minuman yang disambut Fani dengan senyuman.
Disana terlihat ramai namun tidak terlalu.
"Eh Rey ortu Lo mana?" Tanya Fino yang menyadari ketidak hadiran orang tua Reynald.
Reynald terdiam, benar juga, orang tuanya pergi seminggu yang lalu, dan mereka mengatakan bahwa pada saat acara Diksi dan Fani mereka akan pulang.
"Telat maybe" jelas Reynald yang nampak acuh tak acuh. Fino hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
Mereka melanjutkan dengan berbincang ria, tertawa bersama dan berbagi kebahagiaan di hari yang indah ini.
Sampai suara high heels terdengar nyaring saat memasuki ruangan tertutup itu.
Ternyata itu orang tua Reynald yang datang membawa senyuman bahagia, mereka menghampiri Diksi dan Fani.
"Selamat ya Diksi, Fani, Maaf om dan tante datangnya terlambat" ucap Rama dengan mengulurkan tangannya dihadapan Diksi, tentu saja sambutan hangat diberikan oleh Diksi.
"Hai cantik, selamat ya" Sapa Gina pada Fani yang tersenyum lebar melihat kedatangan orang tua Reynald.
"Makasih tante, Om" mereka saling melempar senyum.
"Yaudah tante sama om mau kesana dulu ya" Pamit Gina dengan menunjuk kursi kosong diruangan itu.
Fani dan Diksi menganggukinya.
Gina dan Rama berjalan melewati dua orang yang sedari tadi menatapnya dengan perasaan bersalah. Ketika mereka semua bertemu, kenangan pahit pasti kembali.
Semuanya seolah menyimpan lukanya masing-masing, namun ketika luka itu saling bertemu rasa sakitnya kembali terasa.
Bahkan laki-laki dingin pun merasakan sakit dalam hatinya, orang tua yang kian jauh, hadirnya tak dianggap kah? Dibalik topeng itu dia juga menyimpan luka yang teramat dalam.
"Daddy" ucapnya dengan senyum manis. Reynald membalasnya dengan senyum tak kalah manis pula, senyum itu hanya ditujukan kepada anaknya.
"Kenapa sayang?" Tanya Reynald hangat, dia seperti orang tua kandung Kean, bahkan dia tidak pernah mengganggap Kean anak angkatnya.
Kean hanya menggelengkan kepalanya, dia menatap setiap sudut ruangan hingga menemukan Gina dan Rama.
"Dad Kean mau ke Oma" pamitnya sembari berlari menuju orang tua Reynald. Reynald menatapnya dengan senyuman.
Para sahabatnya melihat interaksi kedua orang itu, mereka tersenyum kecil, tersentuh dengan pemandangan sederhana itu.
Seseorang lanjut usia juga turut memperhatikan mereka, guratan sendu terpancar dari matanya, kulit yang kian keriput, menatap haru melihat bocah kecil yang kian tumbuh, melihat Reynald yang berhasil menjadi seorang ayah yang baik.
Tinggal satu orang saja, yang telah pergi meninggalkan mereka semua.
Tak lama kemudian, terdengar lagi ketukan sepatu ber-hak tinggi, terdengar langkah kakinya yang anggun, sepertinya tak hanya satu orang tapi dua orang, seorang lain nya mungkin masih kecil.
Hingga sosok itu muncul jelas dihadapan mereka semua yang mematung. Benar saja salah satu diantaranya adalah anak kecil, sosok bocah kecil perempuan seumuran Kean, langsung berlari menghampiri Gina.
Dan tersisa hanya sosok perempuan yang menyita perhatian satu ruangan itu, menatapnya dengan pandangan beku dan terkunci.
Ini seperti mimpi bagi mereka, mungkin ini hanya halusinasi saja. Tatapan tak percaya, dan luka yang kembali hadir kedalam hati.
Perasaan bersalah yang terlalu tinggi mungkin membuat mereka berhalusinasi, itu yang mereka pikirkan.
'Tuk...Tuk...Tuk..'
Perempuan itu menghampiri keluarganya disana, berdiri dihadapan keduanya yang masih tidak berpaling sedetikpun darinya.
"Mah, Pah" sapanya dengan lembut, mulut yang tersenyum dan mata yang berkaca, sungguh cantik wajahnya bak malaikat, namun sayang beberapa waktu lalu sayapnya telah hancur.
Marina menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia menangis sejadi-jadinya dalam dekapan suaminya, Fadli.
Perempuan itu kembali berjalan, menghampiri sosok lanjut usia yang berada di sudut ruangan. Saat melewati Gina dan Rama ia tersenyum hangat, tampak rasa sayang terpancar dari matanya untuk kedua orang tersebut.
"Nenek" dia bersyukur orang yang ia sayang masih lengkap, tanpa ada yang meningalkanya.
Nenek Ina pun menangis, apakah dia bermimpi?! Apakah Sasha benar-benar hadir dihadapanya?!
Perempuan itu berlanjut menghampiri teman-teman nya, mata cantik itu menatap sahabatnya satu persatu, raut sedih yang terpancar dari wajah mereka semua.
"Haii" sapanya kepada para sahabatnya, kristal yang bersembunyi dibalik kelopak mata kini tanpa malu membasahi pipinya.
"Bangunin gue, ini pasti mimpi" Fino menatapnya dengan sendu, begitu pula Farhan dan Zacky.
Tak lupa sepasang suami istri yang baru saja sah, kini menatap orang yang berdiri disana dengan sendu, sang wanita tak mampu menahan air matanya lagi.
Sosok dingin yang sedari tadi mematung kini bangkit menghampiri sesorang yang ia rindukan selama dua tahun belakangan ini, jarak kejam telah memisahkan mereka berdua.
Reynald langsung mendekap erat perempuan dihadapanya. Dia tak ingin dipisahkan oleh siapapun lagi. Sasha membalas pelukan tersebut, hangatnya masih sama seperti dulu tak ada yang berubah.
Reynald menyembunyikan wajahnya diceruk leher Sasha, dia melakukan itu untuk menyembunyikan setetes air mata yang lancang jatuh.
Sasha dapat merasakan itu, sedih, haru, rindu dan rasa lain nya menjadi satu, pasti berat hari-hari yang dilalui Reynald. Sasha pun mengusap kepala Reynald dengan lembut untuk menenangkan nya.
Semua yang ada diruangan itu menangis, terkecuali para lelaki yang berpura-pura tegar.
*******
Acara pesta tengah berlangsung, jujur saja mereka semua masih merasa ini semua mimpi dan halusinasi, bagaimana mungkin orang yang telah dinyatakan meninggal bisa kembali ke dunia ini?!
"Ini Lo beneran Caca kan? Caca temen gue kan?!" Fani mengitari tubuh Sasha dengan tatapan tak menyangka, dan mulut yang menganga.
"Ya iyalah, Lo pikir siapa?" Jawabnya dengan memutar bola mata malas. Fani berhenti didepanya, memegang pipi Sasha, mencubitnya.
"Astaga kenapa sih? Ini beneran gue Caca" jelas Sasha sekali lagi dengan kesal, sungguh Fani menyebalkan, padahal dia baru saja kembali tapi lihatlah kelakuan sahabatnya itu.
"Ya ampun Caca" Fani langsung mendekap Sasha dengan erat, dia sangat senang ternyata sahabatnya masih hidup sampai detik ini.
Sungguh, Sasha adalah perempuan yang kuat.
Sasha tersenyum hangat, dia tau pasti sahabatnya sangat terkejut, dia merasa kejam atas kepalsuan kematian nya.
"Bro, Sasha masih hidup bro" Ucap Fino dengan mulut menganga, Farhan juga ikut menganga menatap Sasha yang masih sama seperti dulu.
"Fin tampar gue" Pinta Farhan.
'Plakkk'
bukan Fino yang menamparnya, melainkan Zacky yang tanpa perasaan bersalah menampar pipi Farhan.
"Bego Lo" Farhan langsung menatap kesal Zacky. Yang ditatap kini menatap balik dengan wajah bingungnya, dia merasa tidak ada yang salah.
"Lah? Kan Lo sendiri yang minta di tampar" jelas Zacky enteng dengan wajah tanpa dosa.
Farhan menghela nafas panjang, kenapa dia punya sahabat seperti itu? Pikirnya
"Diem deh Lo berdua, berisik aja kerjaannya" kesal Fino yang masih menikmati suasana haru, namun harus terganggu dengan kedua sahabatnya itu.
"Gimana ceritanya Lo masih sehat gini?" Tanya Fani dengan air mata yang terus menetes, dia pun melepaskan Sasha.
Sasha tersenyum singkat.
"Tunggu Mama Gina" jelasnya dengan senyum hangat. Sasha sadar waktu yang telah ia habiskan dengan kabar 'kematian' itu cukup lama, dan dia bersyukur karena ternyata semunya baik-baik saja.
Gina dan Rama hadir bersama dengan Kean dan Nia. Tunggu sebentar, Nia disini adalah adik Reynald bukan si antagonis itu.
Reynald yang juga mendampingi Kean, dia sedari tadi mencari-cari Kean dan orang tuanya. Dan kini Reynald kembali di samping Sasha bersama Kean.
Reynald langsung menggenggam tangan Sasha, seolah dia tidak ingin kehilangannya lagi. Dan Kean yang bersembunyi dibalik tubuh Reynald.
******