![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Suasana gaduh di rumah elegan itu. Pembahasan nostalgia membuat mereka larut dalam suasana kebersamaan.
"Gue seneng banget bisa kumpul gini lagi, untung lo udah balik Ca" ujar Fani tersenyum lebar. Mereka yang ada disana mengangguk ucapan Fani.
"Iya dong, bosen tau disana enakan disini" jelas Sasha bercanda. Sasha sangat nyaman baik disana ataupun disini.
"Kalo Lo bosen kenapa gak pulang dari dulu coba, sampe anak Lo udah gede baru Lo pulang, Gila emang" oceh Fani kesal, waktu itu mereka senantiasa bersabar menunggu kepulangan Sasha.
Sasha tertawa kecil, Dia tidak bermaksud untuk itu. Mereka sudah terlalu nyaman, hingga kenyamanan itu berubah menjadi bosan.
"Yaudah lagian gue udah pulang dari setahun yang lalu kali" memang benar Sasha sudah kembali kesini dari satu tahun yang lalu. Dan mereka bersyukur semuanya telah kembali seperti semula.
"Eh anak Lo kemana Fan?" Celetuk Fino tiba-tiba. Mereka menatap Fani dengan pandangan bertanya, benar juga kenapa dia tidak mengajak anaknya saja.
"Lagi main biasa remaja" bukan Fani yang menjawab melainkan Diksi. Semuanya mengangguk mengerti.
"Lo gak bawa istri Lo?" Tanya Zacky kepada Fino yang sedang asik memakan camilan di meja.
"Lah lo sendiri, kenapa gak bawa?" Fino menanyakan balik pertanyaan yang dilontarkan Zacky kepadanya.
"Ya kita kan udah gak pernah kumpul bareng gini, jadi gue gak mau diganggu" jelas Zacky santai.
Yah bertahun-tahun berlalu, sudah banyak hal yang terjadi disini. Dimulai dengan Zacky yang menikah dengan seseorang yang ia temui di kampusnya.
Kemudian Fino yang ikut menyusul karena sudah menemukan tambatan hatinya. Karena Farhan tak ingin kalah dia juga ikut menyusul bersama wanita pilihannya.
Lihatlah kini mereka semua telah menjadi orang tua, namun ketika bernostalgia seakan-akan jiwa mudanya ikut kembali.
"Ya bener juga sih" timpal Fino setuju.
"Bini gue gak mau diajak, malu katanya" keluh Farhan dengan wajah sedihnya, maklum saja Farhan dan pasangannya adalah orang yang sama-sama bucin.
"Siapa?"
"Istri gue"
"Yang nanya" Fino tertawa renyah karena berhasil menjebak sahabatnya itu dengan permainan kata.
"Kek bocah Lo" ketus Farhan mendengus kesal. Fino tertawa puas melihat reaksi Farhan.
"Lah istri Lo malu kenapa?" Tanya Zacky bingung, dia hanya merasa tidak ada yang pernah menyinggung pasangan dari Farhan itu.
"Kan dia belum terlalu kenal Sasha sama Reynald" jelas Farhan. Zacky hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
"Yaudah gimana kalo kapan-kapan kita liburan, terus kalian semua bawa istri masing-masing" celetuk Sasha mengutarakan idenya, benar juga ide yang bagus.
"Nah setuju gue, untuk menjalin silaturahmi itu sangat baik" Fino yang kini memasang tampang bijaknya. Teman-teman nya hanya memutar bola mata malas.
"Tapi gue setuju sama idenya Sasha, Lo gimana Rey?" Zacky menatap Reynald untuk meminta persetujuan.
"Setuju, selama itu untuk silahturahmi ya fine-fine aja" jelas Reynald santai. Mereka yang mendengar itu langsung tertawa lebar.
Begitulah obrolan singkat mereka, tidak sampai disini mereka pasti akan melanjutkan pembahasan mengenai itu.
*******
Disebuah kamar yang hening, ada seorang laki-laki yang kini menginjak usia remaja. Dia tengah membuka diary yang baru saja ia temukan disana.
Dia mengusap diary itu dengan lembut, namun sayang diary itu dipenuhi debu sehingga membuatnya kotor. Tampilan yang sudah sangat kusam ini pasti sudah lama tidak dibuka.
Hingga dia membuka lembar demi lembar halaman diary itu, coretan tangan yang begitu indah. Kata yang begitu lembut masuk kedalam ingatan.
'Dahulu kala ada seorang malaikat kesepian'
'Kesakitan itu abadi, dia berpikir lebih baik mati'
'Bertahun-tahun sang malaikat hidup dalam kesakitan'
'Hingga ia kembali menemukan secercah harapan'
'Perlahan tapi pasti luka sang malaikat itu sembuh'
'Bertemu seseorang yang rela menjadi obatnya'
'Beruntungnya ia bertemu manusia itu'
'Dan akhirnya malaikat pun hidup bahagia'
'Meskipun lukanya membekas dan dia tidak mendapatkan kembali sayapnya'
Kean tersenyum membaca sajak-sajak itu. Dia bukan anak kecil lagi dan dia tau makna di baliknya. Malaikat memang makhluk yang sangat baik hati.
Kean amat bersyukur bisa bertemu malaikat itu.
Saat Kean tengah asik membaca, tiba-tiba ia dikagetkan dengan kemunculan seseorang.
"Lo dicariin ternyata disini" celoteh gadis yang baru saja memasuki kamar Kean. Kean reflek menyembunyikan diary itu di lacinya.
"Lo ngapain masuk ke kamar orang sembarangan?" Ketus Kean kepada gadis itu, dia kesal karena ketenangannya diganggu.
"Heh bocah, Gue dari tadi udah ngetuk pintu tapi Lo gak jawab, Yaudah gue masuk aja" jelas Nia dengan santai. Ya, gadis itu Nia adik dari Reynald. Mengingat umur mereka yang tidak jauh berbeda.
"Bohong Lo, Lo mau ngapa-ngapain gue yak?" Tanya Kean dengan tatapan intimidasi. Karena Kean menanyakan hal itu, Nia pun berniat menjahili Kean.
Nia melangkah kedepan, mengunci tatapan Kean dan tersenyum smirk. Kean yang melihat itu langsung menelan ludahnya kasar.
"Ampun tante" ucap Kean menatap Nia takut-takut. Nia berdecak kesal.
"Heh dongo, jangan panggil gue tante ya" ketus Nia sembari melemparkan bantal tepat ke wajah Kean. Dan boom tepat sasaran, bantal itu mengenai wajah Kean.
"Lah Lo kan emang tante Gue, Lagian lo mau ngapa-ngapain gue, inget ya tante Cowo itu dijaga bukan dirusak" celoteh Kean panjang lebar dengan wajah polosnya.
Nia mengerutkan keningnya dan menggembungkan pipinya kesal. Wajahnya terlihat lucu saat mengekspresikan itu.
"Ya tapi jangan panggil gue tante" Nia yang terlanjur kesal kini memukuli Kean dengan bantal. Sedangkan Kean hanya tertawa.
Siapa yang berniat menjahili, dan siapa yang kesal pada akhirnya.
"Yaudah iya-iya maaf" ucap Kean sembari meredakan tawanya. Namun ternyata Nia masih memasang wajah marahnya.
"Tante" lanjut Kean tertawa kembali. Dia sangat puas menjahili Nia, lihatlah wajah Nia yang kini memerah karena kesal.
"Tau ah serah Lo" Nia pergi dari sana dengan langkah lebarnya, sengaja ia menginjak kaki Kean terlebih dahulu.
"Aduh iya-iya" Kean meringis kesakitan, namun Nia tak menggubris itu dan tetap berjalan meninggalkan Kean sendirian.
"Heh tungguin" Kean langsung terbangun, ia cepat-cepat mengambil jaket yang bertuliskan 'Adler', hmm tidak asing bukan?
Mereka berdua sudah terbiasa seperti itu, bagaikan tikus dan kucing saja, selalu bertengkar.
*******
Mon maap kebiasaan telat update🙏 tapi Author telat up ada alasanya kok hehe :)
Happy reading :)