![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Hening.
Suasana dalam mobil itu mendadak hening, yang pasti kini Reynald mencoba menetralkan emosinya, bagaimanapun orang disampingnya adalah perempuan.
“Apa alasan lo ngelakuin itu ke Sasha?” tanya Reynald, kali ini dengan nada lebih dingin daripada sebelumnya.
Nia diam tak menjawab, mulutnya terasa kelu, membisu. Nia menyadari bahwa Reynald terlampau marah.
“JAWAB!!!” kali ini Reynald tak bisa menahannya lagi, dia kelepasan sehingga membentak Nia.
Nia terlonjak kaget, tanpa sadar matanya kini berkaca-kaca, dia tak menyangka Reynald semarah ini.
“Karena... KARENA GUE SAYANG SAMA LO REY, GUE CINTA SAMA LO, DAN GUE GAK MUNGKIN BIARIN SASHA DAPATIN LO” teriak Nia kencang, dia mengungkapkan semuanya. Dia tak lagi peduli Reynald berkata apa, menurutnya yang paling penting adalah mendapatkan Reynald.
Reynald tertawa hambar, dia menertawakan ucapan Nia yang menurutnya terdengar konyol.
“Cinta? Lo bilang ini Cinta? LO INGET GAK, KARENA KATA CINTA DAN KARENA LO PERSAHABATAN GUE DAN FAISAL HANCUR” bentak Reynald keras, sampai-sampai Nia harus memejamkan matanya.
Nia menangis, dia sangat takut dengan Reynald yang ada di hadapannya saat ini, ini seperti bukan Reynald yang biasanya.
Reynald memukul stirnya, wajahnya memerah, ketahuilah bahwa Reynald sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh Nia kepada Sasha.
“Keluar!” perintah Reynald dingin. Nia terdiam, apakah Reynald akan tega dengan dirinya?
“Rey” melas Nia menangis, dia memasang wajah kasihan. Namun sayangnya itu tidak akan bisa membujuk Reynald.
“Keluar!” perintah Reynald sekali lagi, dia menatap tajam Nia, sungguh dia sangat muak dengan permainan Nia.
Nia pun segera keluar dari mobil Reynald, dia membanting pintu mobil itu, berdiri di trotoar dengan wajah dipenuhi air mata, membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa kasihan, namun sayangnya itu hanyalah sebuah topeng.
Reynald segera melajukan mobilnya, meninggalkan Nia dengan segala dendam yang akan ia balaskan.
Nia berjalan gontai, hati yang sangat hancur, pikiran yang kacau, mungkin dia sudah tidak bisa berpikir sehat lagi.
Ting!
Bunyi handphone miliknya mengalihkan perhatiannya. Dia segera membuka notifikasi dan melihat apa yang di kirim oleh rekan nya itu.
Cukup menarik! Ingat saja, Nia akan membalaskan dendamnya, baik untuk Reynald, Sasha atau pun yang lainnya.
Nia segera pergi dari sana untuk... MEMPERSIAPKAN SEMUANYA!
*****
Virgo dan Sasha, kini telah sampai di depan sebuah bangunan. Bangunan yang berisi kenangan manis dan pahit yang akan terus di ingat Sasha.
“Virgo, Caca gak mau kesini, Caca mau pulang” pinta Sasha takut, terakhir kali dirinya disini saat semuanya hancur.
Kenangan terakhirnya disini adalah kenangan paling pahit, dia tidak ingin mengingat namun kenangan itu melekat.
“Caca tenang ya, disini ada Virgo” ucap Virgo menenangkan Sasha, dia menggenggam tangan mungil gadis disampingnya itu.
Sasha menggelengkan kepalanya enggan, dia belum siap untuk bertemu Mamah dan Papahnya.
Dia sudah menebak kehadirannya disini tidak akan di terima oleh baik, walaupun itu keluarganya.
“Caca mau pulang” pinta Sasha memelas.
Apakah kenangan dirumah ini sangat memilukan? Sehingga membuat Sasha sangat enggan disini.
“Caca ingat? Ini rumah kamu Ca, ini rumah tempat kita pulang” ucap Virgo meyakinkan, memang begitu seharusnya.
Namun ketika tempat yang disebut 'rumah' hanya membuat penghuninya merasa tertekan, apakah masih pantas disebut 'rumah' ketika penghuninya tidak mau kembali lagi kesana?
“Caca mau pulang” lirih Sasha, dia takut kejadian itu terulang lagi. Itu membuat fisik dan batin nya terluka dan menangis.
“Caca tenang, disini ada Virgo” Dia masih berusaha menenangkan Sasha. Bagaimanapun Virgo ingin semuanya selesai agar mereka kembali bersama bahagia seperti dulu.
Sasha menghembuskan nafas panjang, baiklah. Kali ini Sasha ingin menyelesaikan semuanya.
Bukan hanya Sasha, mereka semua ingin masalah ini cepat selesai.
Virgo mengajak Sasha masuk kedalam, dengan keadaan jantung Sasha yang kini berdegub kencang.
Jika di ingat, sudah sangat lama Sasha tidak mengunjungi tempat ini, Rumah yang seharusnya tempat pulang namun kini menjadi tempat paling ingin dilupakan.
“Caca tunggu disini ya” Virgo mengusap puncak kepala Sasha sebelum akhirnya dia meninggalkan Sasha sendirian di ruang tamu.
Sasha mengedarkan pandangannya, Rumah yang ia rindu namun dalam waktu yang bersamaan rumah ini juga yang memberikan kenangan pilu.
Kalau saja, semuanya tidak pernah terjadi. Kalau saja, dia tidak pernah ceroboh, Ya kalau saja, namun semuanya telah terjadi, terlambat.
Tangan Sasha kini gemetar, jantungnya berdetak tak karuan. Semua perasaan bercampur aduk menjadi satu.
Hingga suara itu memecahkan keheningan...
“Caca?” suara wanita itu bernada tidak menyangka. Namun ada yang lebih tidak percaya. Sasha, dia tidak menyangka setelah bertahun-tahun lamanya, ini pertama kali Mamahnya menyebut nama panggilannya.
Sasha langsung saja menolehkan kepalanya menghadap Marina. Jujur saja, masih ada setitik kasih sayang dari Marina untuk Sasha. Namun dirinya juga terlanjur sakit hati.
“Ngapain kamu kesini?” nada itu tiba-tiba berubah menjadi dingin. Ternyata benar, kehadiran Sasha tidak munhkin diterima disini.
“Mamah, Caca kangen” lirih Sasha memandang Marina sendu. Namun Marina tidak mempedulikannya.
“Kalau tidak ada yang penting, silahkan pergi dari sini” usir Marina dingin. Sasha menunduk pilu, matanya kembali berkaca.
“Mah” Virgo mencoba membujuk Mamahnya, namun yang di dapati hanya keterdiaman dari Marina.
“Mah, Caca masih bagian dari keluarga kita, gak seharusnya Mamah memperlakukan dia seperti itu” jelas Virgo membela Sasha, memang seharusnya begitu bukan.
“Virgo, Kamu gak ingat, karena dia kamu koma selama bertahun-tahun, karena kecerobohan dia kamu harus menderita karena alat-alat medis” Marina kembali mengungkit kejadian itu, membuat Sasha kini semakin berkaca.
“Mah cukup, Caca gak sengaja Mah, udah tugas Virgo buat jagain Caca” jelas Virgo lelah, apa susahnya memaafkan Sasha?
“Virgo, Kamu gak tau apa-apa, bukan cuma kamu yang menjadi korban kecerobohan dia, tapi juga janin yang ada di rahim Mamah” jelas Marina marah, setetes air mata kini mengalir dari sudut matanya.
******
Tunggu Next Chapter lagi😉 Maaf karena gak bisa balas komentar satu persatu karena sibuk, tapi tenang aja aku mampir ke karya kalian kok🤗
Jangan lupa like, komen and vote😊 Yang mau feedback komen, Aku mampir kok pasti🤗