![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Jangan Lupa Like, komen, and vote😍
*******
Permintaan maaf memang diperlukan, Tapi apakah memaafkannya dapat semudah dengan membalikan telapak tangan? Terlebih, Jika kesalahan yang diperbuat sangat membekas, Dan hampir tidak terobat.
Kata yang seharusnya mudah diucapkan, Namun syarat akan penyesalan. Penyesalan yang teramat mendalam, Dan tak kan pernah terlupakan.
Penyesalan yang sangat lama dipendam? Biasanya akan berubah menjadi kebencian untuk menutupi kesalahan. Namun dengan dewasanya diri, Semuanya dapat tercegahi.
Saat ini, Hanya diri sendiri yang dapat memilih, Penyelesaian atau penyesalan? Meminta maaf atau terus dihantui rasa bersalah? Keputusan ada ditangan sendiri. Meminta bantuan pun tidak akan ada yang mengerti.
"Ca, Gue minta maaf" Diksi menunduk dalam, Mengingat semua yang dia lakukan terhadap Sasha, Membuat penyesalannya semakin dalam.
Hening...
Tak ada jawaban dari Sasha yang kini menatap datar Diksi yan ada di depannya. Sasha tak habis pikir dengan semuanya, Tapi meskipun begitu...
Sasha tertawa miris, Entah untuk dirinya sendiri atau untuk orang yang di depannya ini.
"Kemana aja Lo selama ini?" Tanya Sasha sarkas. Mungkin dia marah, Bahkan sangat marah, Tapi Diksi masihlah sosok berharga untuk Sasha.
Diksi menatap mata Sasha yang terpancar kegundahan, Tatapan mata Diksi yang diberikan adalah tatapan rasa bersalah dan penyesalan.
"Gue minta maaf Ca, Gue memang salah" Lirih Diksi sangat sangat merasa bersalah, Diksi tidak yakin akan dimaafkan oleh Sasha.
Diksi tau bagaimana rasanya menjadi Sasha, Miris, Menyedihkan, Namun Sasha tidak menunjukan hal-hal itu kepada orang lain. Sasha selalu memasang wajah datar dan berpura-pura tegar.
"Lo emang salah, Dan Lo harusnya sadar dari awal" Sarkas Sasha dengan tawa mirisnya, Kenapa harus sekarang, Setelah 5 tahun, Baru merasakan menyesal?
"Maaf ca" Gumam Diksi lirih, Sasha kembali tersenyum miris, Dengan mata yang kini memerah menahan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk.
"Lo gak tau kan gimana rasanya selalu hidup sendiri? Miris Dik... Dan Lo semua gak ada yang peduli sama sekali, Bahkan kalo Gue mati sekalipun Lo semua gak ada yang peduli" Lirih Sasha, Tanpa disadari setetes cairan bening meluncur dari sudut matanya, Dadanya terasa sesak, Tersayat.
Ya Diksi tau itu, Diksi tertawa sinis untuk dirinya sendiri, Benar apa yang dikatakan Sasha. Lihat betapa bodohnya Diksi, Betapa jahatnya dia.
"Dan Gue menyesal Sha" Lirih Diski, Dia benar-benar menyesal, Dia gagal, Gagal menjadi pengganti kakak yang baik untuk Sasha.
"Lo tau gak apa yang di pikiran Gue? Gue waktu itu selalu bertanya-tanya, Apa salah Gue? Apa yang Gue lakuin sampai semuanya benci Gue? Selain kejadian itu, Dan Gue akhirnya sadar, Satu kesalahan yang fatal adalah, Gue terlahir didunia ini" Sasha tertawa hambar, Lima tahun bukalah waktu yang sebentar, Lima tahun itu lama, Dan untuk bertahan sejauh ini rasanya sulit sekali.
"Gak Sha, Lo gak salah dalam hal itu, Lo memang harus terlahir untuk pembuktian bahwa Lo orang yang kuat" Jawab Diksi menggelengkan kepalanya tegas, Sasha kembali tertawa hambar.
"Gue gak sekuat yang Lo kira Dik" Ucap Sasha lirih, Dia menatap kosong kebawah, Andaikan semuanya tau perasaan sepi ini, Sasha sangat ketakutan sendirian.
Hening lagi...
"Maaf Ca" Hanya itu yang bisa dikatakan Diksi saat ini Maaf, Maaf dan Maaf. Seakan semua kata habis, Karena keegoisannya sendiri.
Diksi langsung menghampiri Sasha dan memeluknya erat, Tampak Sasha yang sedikit memberontak namun akhirnya luluh juga.
Kecewa, Itu yang dirasakan Sasha. Namun sekarang Sasha merasakan lagi kehangatan yang sempat hilang selama lima tahun terakhir, Nyaman.
Beberapa saat, Keheningan melanda lagi, Namun kali ini diiringi Isakan kecil yang terdengar dari mulut Sasha.
"Jangan nangis ca" Lirih Diksi, Diksi benar-benar merasa gagal, Bahkan dia merasa tidak pantas berada di sisi Sasha lagi untuk sahabat, Teman, Ataupun saudara.
Sasha mencengkeram jaket yang dikenakan oleh Diksi, Dia benci saat telihat lemah, Namun untuk kali ini biarkan air matanya habis saja.
"Gue maafin Lo Diksi, Tapi jangan pernah tinggalin Gue lagi" Ucap Sasha dengan suara yang masih sesenggukan. Diksi tersenyum tipis, Dia mengecup puncak kepala Sasha.
Biarlah, Dua saudara yang sempat terputus ikatannya. Bahkan ikatan sahabat juga pernah terputus. Namun tidak ada salahnya untuk disambung lagi bukan? Memperbaiki hubungan, suatu kebahagiaan tersendiri untuk Sasha.
"Makasih, Caca" Diksi kembali mengucapkan nama panggilan Sasha yang sangat Sasha rindukan. Di dalam pelukan Diksi, Sasha tersenyum tipis.
Untuk saat ini, Sasha merasakan kembali kebahagiaan dari salah satu keluarganya, Sasha sangat bahagia. Sangat-sangat bahagia sekaligus lega.
...****************...
Tidak akan Sasha lupakan hari ini, Hari yang dia tunggu.
Setelah Diksi pulang, Sasha memutuskan masuk kedalam kamarnya, Matanya terlihat sembab, Hidungnya memerah.
Disambut Reynald yang duduk bersandar dikasur, Menatap Sasha dengan senyum tipisnya, Sasha menatap Reynald cemberut, Dia kembali menahan tangisnya.
Sasha menghampiri Reynald dan langsung menubruk dada bidang Reynald dan kembali menangis.
Reynald tertawa kecil, Dia tau Sasha bahagia, Meskipun kenangan yang menyakitkan itu tidak akan terlupakan, Bahkan mungkin selamanya.
"Udah, Jangan nangis" Ucap Reynald lembut, Dia menepuk-nepuk puncak kepala Sasha. Sasha hanya diam, Meredakan tangisnya yang sempat meluap.
"Keputusan aku udah bener kan?" Tanya Sasha mendongak menatap Sasha dengan mata berair. Reynald tersenyum simpul.
"Iya, Kalo kamu bahagia berarti keputusan kamu benar" Jawab Reynald menatap Sasha dengan senyum tipisnya.
Sasha lega hari ini, Satu masalah terselesaikan, Namun masih banyak masalah lain yang menanti. Menyiapkan hati, Selalu bersiap bersiap diri untuk menghadapi.
******
Cie Reynald sama Sasha udah 'Aku-kamuan' aja, Authornya kapan nih😆😂 Halah udahlah...
Gimana nih? Satu masalah terselesaikan berarti nanti semakin sedikit dan akhirnya cerita ini akan selesai😆😂
Jangan lupa apa guys😂 Jangan lupa like, komen and Vote🙂