![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Gina mulai menceritakan kejadian 2 tahun silam, ditemani suaminya. Keluarga Diksi dan keluarga Sasha menyimak dengan penuh tanda tanya.
"Kematian Sasha memang sebenarnya hanyalah kepalsuan belaka, itu semua adalah rencana saya" jelas Gina dengan senyum simpulnya.
Sudah pasti semuanya bertanya-tanya, kenapa Gina melakukan itu semua? Bukankah tidak seharusnya ia menyembunyikan keberadaan Sasha?
"Saya melakukan itu semua demi kebaikan Sasha, saya menyayanginya dan dia sudah saya anggap seperti anak sendiri, karena Sasha lah Reynald dapat menjadi lebih dewasa, dan saya sangat kagum dengan Sasha yang dapat bertahan sampai sejauh ini" sambungnya, Rama senantiasa disamping Gina.
Penjelasan itu pasti membuka masing-masing luka yang sudah terbalut, namun itu juga bisa menjadi penyembuhan untuk semua orang.
"Saya sendiri telah memantau Sasha sejak lama, begitupun dengan Reynald dan Kean" kini giliran Rama yang bercerita.
Semuanya memandang kedua orang tersebut dengan wajah bertanya, lalu bagaimana dengan inti ceritanya?
"Saat mendengar kabar bahwa Sasha tertembak, kami langsung bergegas ke rumah sakit, saat itu saya dan istri saya sangat marah pada semuanya" Memang benar saat itu Gina dan Rama terlihat sulit mengontrol emosi.
"Di hari itu pula Sasha kehilangan detak jantung dan dinyatakan meninggal" Semua masih mendengarkan dengan wajah serius.
Kilas balik terlintas di dalam kepala mereka.
#Flashback On
Diruangan itu Gina dan Rama menangis histeris. Begitu pula dengan Reynald yang seperti kehilangan harapan untuk hidup.
Namun semuanya berubah saat salah seorang suster membisikkan sesuatu pada sang dokter.
"Benarkah itu suster?" Tanya Dokter dengan wajah kagetnya, suster itu mengangguk dengan yakin. Dokter tersebut pun tersenyum lega.
"Bu Gina, detak jantung Sasha kembali, dia masih hidup" ucap Dokter tersebut, walaupun dia sendiri masih tak percaya, namun ternyata Sasha memang benar-benar masih hidup, inilah keajaiban Tuhan.
Setelah mendengar hal itu, Gina dan Rama bersepakat untuk memalsukan kematian Sasha, dan membawa Sasha pergi sejauh-jauhnya.
Mereka masih kecewa kepada semua orang yang tidak bisa menjaga Sasha. Selain itu Sasha berhak bahagia, dinegara ini Sasha hanya mendapatkan luka.
Luka yang bahkan datang dari keluarga kandungnya sendiri. Tak dianggap, bahkan tercela, dia sudah terbiasa dengan itu semua. Meskipun hatinya yang rapuh itu tetap merasakan sakit dari luka yang kian menumpuk.
Namun dalam kesepakatan itu Reynald tidak diperbolehkan untuk menemui Sasha, dia hanya dibolehkan bertemu Sasha untuk terakhir kalinya, setidaknya sampai mereka bertemu kembali nanti.
*****
Reynald menggenggam tangan pucat itu, perempuan yang sempat kehilangan denyut nadinya, yang juga menjadi separuh nafas Reynald.
"Sha, Gue pasti nunggu Lo sembuh, Lo harus cepat sembuh dan balik lagi kesini" Andaikan Reynald punya waktu lebih lama, dia akan mencurahkan semuanya, hingga Sasha bosan mendengarkan ocehan Reynald, itupun jika Sasha mendengarnya.
"I will always wait for you, Love you my dear" Reynald mengecup singkat tangan yang digenggamnya, bersamaan dengan air mata yang menetes.
Sampai akhirnya orang tua Reynald datang, dan membawa Sasha pergi. Kemudian drama yang mereka persiapkan pun di tampilkan.
******
Setahun berlalu, Sasha kini tinggal di London. Jauh dari orang-orang yang ia sayangi. Dia dinyatakan koma selama 6 bulan, dan setelah terbangun ternyata Sasha memiliki trauma psikis.
Sasha tidak ingin berbicara kepada siapa-siapa, mulutnya terkunci, matanya menatap kosong. Ketakutanyang sangat ia rasakan, seolah kejadian itu selalu menghantuinya.
Sasha yang dulu terlihat seperti psiko, kini hanyalah Sasha yang tidak berdaya, dan takut akan dunia. Luka yang berturut-turut hadir ikut andil dalam penyebab traumatisnya.
6 bulan pula ia habiskan untuk menyembuhkan traumanya, hingga akhirnya dia sembuh. Namun meskipun begitu, dia tetap belum ingin 'pulang' dia takut luka-luka itu akan kembali datang.
*******
Hari itu Sasha medapat kabar dari Gina, bahwa Diksi dan Fani akan menikah, tepat setelah 2 tahun ia bersembunyi dinegara orang. Dalam hati, dia ingin melihat sahabat sekaligus sepupunya itu menikah.
Hingga dia memberanikan diri untuk 'pulang' dan bersiap berperang dengan masa lalu yang semoga saja tidak kembali membawa luka.
"Mah, Sasha mau pulang ketemu Rey dan Kean, Sasha juga mau liat pernikahan sahabat Sasha" pintanya di sambungan telfon kepada seseorang yang ia anggap sebagai orang tuanya sendiri.
"Kamu yakin? Kamu udah siap?" Tanya Gina memastikan, dalam hati ia khawatir. Ia tak ingin hal buruk terjadi lagi pada Sasha.
"Sasha yakin Mah, Sasha juga mau bahagia bersama Reynald anak Mamah" jelas Sasha lirih namun penuh keyakinan, matanya terlihat sendu.
Terdengar helaan nafas dari seberang sana.
"Baiklah, Mama sama Papa Rama akan jemput kamu kesana, kemudian kita akan kembali 'pulang' bersama-sama" Gina pun menuruti permintaan Sasha dengan senyum tipis.
Tak apa-apa jika Sasha ingin memulai semuanya dari awal lagi, bersama Reynald dan Kean, tak lupa juga sahabat yang akan bersamanya senantiasa.
Asalkan Sasha dapat bahagia, asalkan dia mendapatkan haknya di dunia ini.
#FlashBack off
"Begitulah kisah tragis Sasha yang mengalami traumatis, namun jangan lupa dia adalah perempuan paling kuat, dia bisa melawan traumanya dan sekarang sembuh" Gina menatap Sasha hangat, Sasha pun membalasnya dengan senyuman paling manis miliknya.
Berapa jauh Sasha berlari dari masa lalu, ingatanya tak akan pernah mengizinkan ia lepas dari luka-luka itu. Hingga sekarang ia berhasil berdamai dengan dirinya sendiri, mengambil pilihan untuk menjadi lebih dewasa lagi.
"Caca, maafin Mama nak" ucap Marina dengan perasaan bersalahnya, menatap sendu putrinya itu.
Sasha tersenyum hangat, Jujur saja dia sudah memaafkan semuanya, dia sudah berdamai dengan kenyataan dan dunia.
Namun keputusan Sasha adalah, dia ingin hidup bahagia dengan Reynald dan Kean. Dia ingin menyembuhkan waktu yang telah ia sia-siakan karena kenangan pedih itu.
"Maafin Papa nak" ujar Fadli yang turut meminta maaf atas kesalahan-kesalahannya dulu, dia tau mencari obat dari luka yang ia beri pastilah susah.
"Kami juga ingin meminta maaf" ujar orang tua Diksi, mereka juga ikut andil dalam masa lalu kelam Sasha, mereka dulu turut menyalahkan Sasha dengan egoisnya.
Ingatlah keluarga Diksi adalah saudara Sasha.
"Caca udah maafin semuanya. Ma, Pa, kalian tetap orang tua Caca, Caca sayang sama kalian" ucapnya menatap Fadli dan Marina dengan senyum hangat, suasana haru seketika menyelimuti orang itu.
Sasha menatap semua keluarganya yang ada disana, melemparkan senyum kepada mereka semua.
"Caca juga udah memaafkan kesalahan om dan tante semua, jadi jangan merasa bersalah lagi ya, Caca sayang om dan tante semua" Sasha sangat babagia melihat wajah-wajah dari keluarga besarnya yang sudah tidak menatapnya dengan tatapan benci.
Semua keluarga yang disana menangis penuh penyesalan. Bagaimana bisa mereka dahulu memperlakukan seorang malaikat baik hati seperti Sasha dengan kejam?!
Namun mendengar penuturan Sasha mereka sedikit lega, karena Sasha telah memaafkan kesalahan semua orang.
Nenek Ina yang sedari tadi memperhatikan kini menghampiri Sasha, dengan langkah pelan dan tertatih karena tubuhnya yang tua renta.
"Nenek" panggil Sasha lirih, dia menatap Nenek Ina dengan mata berkaca.
Nenek Ina berhenti tepat dihadapan Sasha, tangannya yang keriput itu meraba pipi Sasha yang terasa lembut.
"Ini beneran Caca? Cucu nenek?" Tangannya bergetar, begitu pula suaranya. Air kristal pun jatuh, tak sanggup ia menahannya.
"Iya nek, Ini Caca" jelas Sasha yang langsung mendekap tubuh tua renta itu. Sasha pun tak sanggup menahan air mata yang kini mulai menetes dan membasahi pipinya.
"Nenek senang ternyata kamu masih hidup" ujarnya dengan tubuh yang bergetar. Sasha mengusap punggung nenek Ina untuk menenangkanya.
"Nenek jangan sedih lagi, Caca sekarang udah ada disini" Sasha melepaskan tanganya yang memeluk tubuh renta itu. Dia menghapus air mata yang masih mengalir di pipi keriput neneknya.
Nenek Ina mengangguk. Sasha menuntun kembali nenek Ina ketempat duduknya. Hingga seseorang memanggil namanya.
"Caca" dengan tiba-tiba Sasha ditarik kedalam dekapan seorang lelaki. Dia terkejut, namun tak urung jua ia membalas pelukan laki-laki tersebut. Hangat.
Reynald yang melihat itu hendak marah, namun saat mengetahui siapa yang mendekap perempuan kesayanganya itu ia langsung memalingkan wajahnya.
"Virgo" ucap Sasha lirih, jujur saja dia sangat sangat merindukan sosok Virgo dalam hidupnya.
Bertahun-tahun, mungkin hampir sepuluh tahun ia kehilangan sosok Virgo, meskipun sempat bertemu namun hanya sesaat saja.
"Caca, jangan pergi lagi" pinta Virgo lirih, dia benar-benar merindukan adiknya. Dia sempat mengira adiknya benar-benar pergi, namun ternyata sekarang ia ada dihadapanya dengan keadaan sehat.
"Caca gak pergi, Caca disini" jawab Sasha dengan perasaan sedih yang menyeruak kedalam hati. Ikatan mereka sebagai saudara kandung tak akan pernah terputus.
Adik yang menyayangi kakaknya begitu pula sebaliknya. Meskipun beberapa waktu telah memisahkan mereka, namun kasih sayang terhadap masing-masing sangat besar.
Virgo melepaskan Sasha dengan perlahan, dia menatap wajah Sasha yang menangis sekaligus tersenyum. Perasaan sedih dan bahagia bercampur.
"Virgo gak akan biarin Caca sendirian lagi, maaf waktu itu Virgo gak ada disamping Caca" Dia mengatakan itu dengan penuh keyakinan sekaligus penyesalan. Penebusan nya hanyalah ia harus menemani Sasha seterusnya.
Sasha yang melihat wajah Virgo yang penuh dengan rasa bersalah menjadi tak tega. Dia tau kakaknya itu sangat menyayangi dirinya.
"Virgo jangan merasa bersalah lagi, Caca udah ada disinin Caca gak ninggalin Virgo lagi dan Caca udah maafin semua kesalahan Virgo" jelas Sasha dengan sungguh-sungguh. Dia menampakkan senyum tulusnya.
"Jadi berhubung semuanya ada disini, gimana kalo kita sepakat untuk memulai semuanya dari awal lagi" celetuk Fani tiba-tiba, dia ingin memulai semuanya dari awal, tentu saja dengan cara mengembalikan waktu Sasha yang sia-sia karena luka, meskipun mustahil.
Serentak para sahabat Sasha menatap Fani yang kini menunjukan senyum manisnya, dan dengan wajah meyakinkannya.
"Bener juga, berhubung Malaikat kita udah kembali, kita harus bisa bikin dia lebih baik dari sebelumnya" Fino menyetujui itu, dia ingin kehidupan Sasha lebih baik dari sebelumnya.
Sasha tersenyum tulus mendengar ucapan para sahabatnya itu. Lihatlah malaikat yang dahulu jarang tersenyum kini menjadi ramah. Bahkan tak segan membagikan senyuman kepada semua orang.
"Apaan sih? Gue udah bahagia dengan adanya kalian" ucap Sasha tulus. Sumber kebahagiaannya adalah dari orang-orang yang ia sayang, mereka tak perlu melakukan apapun untuknya, karena dengan adanya mereka saja Sasha sudah babagia.
Para sahabatnya menatap Sasha dengan perasaan kagum, sekaligus terharu. Mereka tak menyangka, setelah beberapa kali Sasha tersakiti, dia masih bisa bangkit lagi. Bahkan tak ada sedikitpun bagian dari dirinya yang menjadi jahat hanya untuk balas dendam.
"Benar-benar berjiwa malaikat" guman Zacky lirih, Farhan mendengarnya ia mengangguk setuju.
Sasha adalah jiwa tanpa keraguan untuk memaafkan. Meskipun penyembuhan untuk dirinya cukup lama, namun itu tak sepadan dengan luka yang bertumpuk selama 5 tahun.
"Lupakan semuanya, mari kita kembali ke awal" Sasha tersenyum menatap semua sahabatnya, dengan penuh keyakinan ia akan melepaskan semua kenangan pahit dan akan mencari kenangan indah bersama orang yang ia sayangi.
Semuanya mengangguk setuju, mereka tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Selagi masih ada waktu.
Sasha kemudian kembali menuju tempat duduknya disamping Reynald. Kean masih bersembunyi di dekat Reynald, dia masih belum bisa mempercayai keberadaan Sasha.
"You're beautiful, so is your heart" Reynald menatap Sasha intens, sampai kapanpun dia tak akan melepaskan Sasha sekali lagi.
Sasha sedikit mendekat dan membisikan kalimat lirih yang membuat jantung Reynald berdetak dua kali lipat, setelah bertahun-tahun Sasha pergi, akhirnya Reynald kembali merasakan bahagia didekat Sasha.
"Love you" begitulah kalimat singkat yang dibisikkan oleh Sasha untuk Reynald.
Mata indahnya yang memantulkan cahaya, serta bibirnya yang terukir senyum khusus untuk Reynald.
Gina menyadari Marina ingin mendekat ke Sasha, sebelum itu terjadi dia segera mengajak suaminya untuk mencegah hal itu.
"Mari kita bicara diluar" ucap Gina kepada Marina, dia tak menghiraukan lagi rasa bencinya. Demi kebahagiaan Sasha.
Marina berhenti dan menatap Gina dengan pandangan bertanya.
"Tenang saja, Saya hanya ingin berbincang sedikit" ucap Gina dengan senyum tipis. Kemudian dia dan Rama berjalan terlebih dulu. Di ikuti Marina dan Fadli dibelakang.
******
*) Mohon maaf apabila ada penulisan kata yang salah (typo) kritik sangat diterima untuk membangun.
*) Mohon maaf jika cerita masih banyak kekurangan, Author masih belajar untuk memperbaikinya, apabila ada kesempatan Author akan merevisi dari awal.
Terima kasih, tertanda 'Gege'