![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Gelak tawa terdengar nyaring di ruang tamu sebuah rumah dengan desain elegan ini, rumah yang sejak dulu tak pernah berubah, hanya suasana yang kini semakin senyap semenjak kepergian seseorang.
"Haha bener, gak kerasa sekarang kita udah kuliah di satu Univ lagi, astaga ingat waktu dulu jadi incaran guru BK" gelak tawa kembali hadir menemami kebersamaan mereka, hanya satu yang terdiam tanpa tawa bahkan senyum pun tidak pernah lagi menghiasi wajahnya.
Para mahasiswa itu kini sedang berkumpul di rumah Reynald. Ya, Mereka sudah menjadi mahasiswa, dan satu Universitas pula.
2 tahun semenjak salah satu dari mereka pergi. Tak pernah sedetikpun mereka melupakan orang itu. Seseorang yang dahulu menderita, mungkin kini sudah bahagia di alam sana.
Meskipun mereka masih yakin, bahkan sangat yakin bahwa sebenarnya sosok itu belum pergi, dia masih ada disini, masih bernafas dengan udara yang sama, dan dibawah langit yang sama.
Hanya saja, mereka tidak memiliki bukti yang kuat bahwa sosok itu masih hidup. Hanya ada makam yang membuktikan seseorang itu telah pergi jauh dan tak akan kembali.
"Astaga kalo di ingat-ingat tuh dulu kita kaya bocah banget gak sih? Anak SMA hobinya nyari masalah doang, mana kalian ikut-ikutan geng motor segala lagi" Fani menggeleng-gelengkan kepalanya mengingat masa SMA dulu, diiringi senyum geli yang tercetak dibibirnya.
Kalau ada yang tanya bagaimana nasib 'geng motor itu' atau 'ADLER'. Kekuasaan Reynald sebagai ketua geng telah berpindah tangan ke penerusnya yang mungkin juga berkelakuan sama seperti mereka dulu.
"Iya ya, jadi kangen masa dulu nih gue" celetuk Farhan dengan tangan yang menggaruk pelipisnya, dia heran ternyata dulu dia se-absurd itu.
Suasana pun kini tergantikan dengan suasana rindu. Masing-masing tersenyum mengingat hal-hal kecil yang mereka lakukan saat masa SMA. Ingin rasanya mengulang semuanya.
Betapa nakalnya mereka saat itu, kenakalan remaja yang sedikit lebih nakal dari biasanya. Sudahlah itu semua hanyalah kenangan yang akan selalu tersimpan dalam ingatan.
"Ekhem... Udah sore" deheman orang diantara mereka seketika menyadarkan mereka semua.
"Yaelah Rey, mau sampe besok kita kumpul disini gue juga sanggup" ucap Fino dengan nada bercandanya. Reynald hanya menghela nafas jengah.
"Eh iya yak, gue gak nyadar ternyata uda jam segini" Zacky melihat ke arah jam tangan nya, ternyata sudah hampir petang.
"Gue kan habis ini mau pergi sama bebeb gue" lanjut Zacky dengan senyum sombongnya. Memang benar dia kini sudah memiliki kekasih.
Orang yang Zacky temui saat pertama kali masuk ke Universitas. Tanpa butuh waktu lama perempuan itu bisa memikat hatinya, Dan tanpa membuang waktu Zacky juga segera meresmikan status mereka menjadi sepasang kekasih.
'Kesian tuh yang digantung terus tanpa kepastian wkwk-Author lewat mwehehe'
"Pacaran terus" Sindiran halus nan singkat itu keluar dari mulut Diksi, dengan eye-rolling nya.
"Mon maap, Apa kabar lo yang udah mau nikah ama si Fani tiap hari nempel terus" ujar Zacky gemas membalas sindiran Diksi yang tertuju untuk dirinya.
Yups beberapa waktu yang lalu Diksi memberanikan diri untuk melamar Fani. Sungguh waktu itu Fani sangat bahagia karena dia sebenarnya sangat mengagumi Diksi dari dulu, bahkan dari masa kecil.
Pipi putih itu mendadak merah merona, disaat seperti ini kenapa dia harus salting?! Omel Fani pada dirinya sendiri.
"Pipi lo tuh, udah kayak kepiting rebus aja" ejek Farhan yang melihat Fani salah tingkah. Fani pun Reflek memukul Farhan, tidak keras hanya tamparan lirih saja.
"Diem Lo" ketus Fani memalingkan wajahnya kesal. Farhan tertawa kecil.
Sungguh, bertengkar satu sama lain masih menjadi kebiasaan mereka. Hanya pertengkaran kecil yang menambah bumbu pertemanan mereka.
"Oh ya Lo gak mau nyari cewe Rey?" Pertanyaan bodoh itu dilontarkan Fino yang mendapatkan pelototan dari para sahabatnya itu.
Reynald hanya terdiam, dengan wajah datarnya, memberi deheman singkat agar mereka tak membicarakan hal itu lagi. Tidak ada pengganti Sasha, meskipun yang mendekatinya banyak sekali.
Mereka menyadari suasana menjadi canggung, hingga salah satu dari mereka berdiri untuk pamit pulang.
"Gue pulang duluan ya Rey, udah sore" Pamit Diksi kepada Reynald, dibarengi dengan yang lainya juga berpamitan pulang.
"Oke, hati-hati" jawabnya singkat, meskipun sifatnya dingin, dia masih peduli dengan para sahabatnya itu, dan sahabatnya tau alasan dibalik sifat dingin Reynald.
Satu persatu sahabatnya meninggalkan rumah Reynald, hingga yang tersisa disini hanyalah Reynald sendiri, mungkin dia tidak sendirian.
Reynald menaiki tangga dengan pikiran yang melayang karena pertanyaan tadi. Mencari pengganti? Tak semudah itu.
Reynald tau seseorang yang ia tunggu akan kembali, pasti kembali. Hanya saja dia perlu menunggu waktu. Yang terakhir dia tau keadaan 'nya' sangat parah hingga dibawa orang tuanya ke luar negeri untuk menyembuhkan 'nya'
Bukan hanya sakit fisik, kejadian yang dulu terjadi membuat 'dia' mempunya penyakit mental, dan masih berusaha disembuhkan. Setidaknya itu yang ia tahu dari kabar setahun yang lalu.
Orang tuanya tak mengizinkan Reynald bertemu dengan 'Dia'. Mungkin itu semua butuh waktu.
Meskipun Reynald memaksa, tetap saja kekuasaan orang tuanya tidak main-main, memutuskan komunikasi dan akses informasi sangat mudah bagi orang tuanya.
Saat Reynald hendak masuk ke kamar, tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Daddy" Anak kecil itu kini sudah bertumbuh lebih besar. Reynald menatap anaknya dengan senyum lembut.
"Kenapa sayang?" Tanya nya lembut, sifat dingin nya akan cair ketika bersama keluarganya.
"Kean kangen Mom, Dad" ucap Kean lirih, Reynald terdiam sejenak, dia juga sangat merindukan sosok Sasha disini.
"Kamu mau ke makam mom?" Tanya Reynald lagi, dia mengusap lembut rambut Kean. Kean mengangguk kecil, ya dia ingin bertemu Sasha.
"Yaudah kamu siap-siap dulu, terus kita ke makam mommy" ujar Reynald. Kean pun mengangguk semangat, dia pun berlari menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Reynald hanya tersenyum kecil melihat itu.
Setelah mereka bersiap-siap, kini mereka melaju ke pemakaman Sasha. Yang Kean tau Sasha telah meninggal, entah itu fakta ataupun ada yang tersembunyi di baliknya.
******
Sedihhh :(