![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Mereka semua sudah berada di pantai tujuan, Lengkap dengan baju pantai yang santai. Yang lain senang-senang tetapi Sasha dan Reynald malah berdebat di tepi pantai.
"Ganti Gak?!" Ancam Reynald menatap tajam Sasha. Sebenarnya mereka memperdebatkan pakaian Sasha yang menurut Reynald terlalu terbuka, Padahal tidak menurut mereka. Posessive memang.
"Apa sih Rey? Ini gak terbuka tau" Kesal Sasha, Dia hanya memakai dress pantai bukan hal-hal lain yang terbuka atau apalah itu.
"Ganti Sha, Itu terbuka Sasha" Balas Reynald kesal. Sasha mendelik kesal, Apa menurut Reynald ini terbuka? Padahal yang lainnya lebih terbuka dari Sasha.
"Rey" Melas Sasha dengan nada putus asanya. Reynald masih menatap tajam Sasha. Sasha pun mendengus kesal.
"Posessive amat si bos" Celetuk Farhan yang sedari tadi memperhatikan perdebatan keduanya. Reynald langsung menatap Farhan tajam.
"Tau lo Bos, Neng Sasha ama Abang Fino aja yuk" Ajak Fino dengan tersenyum menggoda ke arah Sasha. Sasha hanya memutar bola mata malas.
"Udah Lah, Mending cabut aja kita, Biarin yang pacarnya posessive mah beda" Celetuk Zacky mengajak mereka untuk meninggalkan kedua sejoli yang berdebat tadi.
Ketiganya pun meninggalkan Sasha dan Reynald, Berpencar untuk mencari hiburan, Apalagi ini momen pas untuk bercanda ria melepas beban bosan dan jenuh selalu bertatap muka dengan buku dan rumus yang sangat mengganggu otak.
Sementara itu Reynald kini semakin menatap tajam Sasha, Yang di tatap juga berbalik menatap tajam Reynal, Dengan wajah memerah bukan karena malu tapi karena kesal.
"Yaudah kalo Lo gak mau, Nih pake" Ucap Reynald menghela nafas, Dia hendak saja membuka kemejanya, Namun dengan cepat ditahan oleh Sasha.
"Iya-iya jangan, Yaudah Gue ganti" Jawab Sasha pasrah. Reynald tersenyum penuh kemenangan, Dia menepuk-nepuk puncak kepala Sasha.
"Good girl" Ucap Reynald dengan senyum puasnya. Sasha menatap datar Reynald, Dia mendengus kesal.
"Astaga, Kean mana?" Tanya Sasha heboh, Dia baru ingat bahwa dia membawa anak kecil. Reynald memutar bola matanya malas.
"Sama Fani juga Diksi, Tadi liat sendiri juga" Jawab Reynald malas, Sasha memang pelupa, Baru saja Kean dibawa oleh Fani dan Diksi.
"Oh iya ya" Sasha menunjukan cengiran khasnya, Deretan gigi putih nan rapi yang berjejer ditunjukan darinya.
"Sana ganti baju" Suruh Reynald berbalik lagi menjadi tajam. Sasha menghela nafas pasrah, dengan malas dia mulai berjalan untuk mencari toilet.
"TUNGGUIN NANTI, JANGAN SUKA NGILANG KEK DIA" Teriak Sasha ngawur, Dan sekarang dia menjadi pusat perhatian, namun dia bodo amat dan melanjutkan langkah kakinya.
(Curhat ya sha😆)
Reynald hanya tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah Sasha yang sekarang lebih ceria, Dan menjadi pribadi yang kian berubah dari awal bertemu.
#Ditempat Kean
"Tante Fani itu temen nya Mommy dari kecil ya?" Tanya Kean polos. Fani mengangguk semangat.
"Iya, Tau Gak, dulu Mommy kamu itu anaknya cerewet banget, Terus nakal, Terus apa lagi ya, Oh itu... Mommy kamu suka jahilin tante" Jelas Fani dengan senyum simpulnya, mengingat kenangannya semua bersama Sasha, sosok yang sangat ceria pada dasarnya.
Biarlah mumpung Sasha tidak ada, Di sebarkanlan kejelekan Sasha semasa kecilnya. Sungguh Fani sangat merindukan masa-masa itu.
"Mommy adalah Mommy terbaik untuk Kean" Celetuk Kean Semangat, Dia sampai melompat senang dengan senyum lebar tercetak dibibirnya.
Fani dan Diksi tersenyum simpul, Kean tidak tau bahwa Sasha memikul beban yang sangat berat. Bahkan Fani dan Diksi akan sangat menghargai semua perjuangan Sasha yang dilakukan sendirian.
Diksi menatap Fani dengan tatapan misteriusnya, Dia memberi sinyal untuk pergi karena Diksi melihat seseorang yang dia kenal. Fani mengangguk mengerti.
"Kean kita ke Mommy yuk" Ajak Fani dengan senyumannya untuk Kean. Kean mengangguk setuju.
Mereka pun akhirnya menyusul Sasha, Diksi melirik ke arah kerumunan, Disana... di kumpulan semua orang-orang yang ada disini ada salah satu orang yang Diksi kenali.
Dan Diksi sudah tau ini akan terjadi, Namun dia masih belum bisa memutuskan untuk kedepannya. Berserah pada takdir jalan satu-satunya.
Sementara di Tempat Sasha.
"Ngeselin banget sih Reynald, Posessive banget, Sesekali kek pake yang gitu" Gerutu Sasha kesal dia telah mengganti bajunya.
Sasha mengedarkan pandangannya, Mencari Reynald, Namun tak dia temukan. Tatapanya terpaku pada sosok lelaki, bermasker hitam, Berjaket hitam, dan bercelana hitam hanya mata yang terlihat.
Tatapan matanya menyiratkan sesuatu, Kenapa Sasha ingin menangis? Sasha ingin meyakinkan sesuatu, Dia ingin mendekati sosok itu, Dia ingin memeluknya, Itu yang Sasha rasakan, Namun Sasha masih belum yakin bahwa Sasha mengenal orang itu, Sasha tidak yakin.
Namun perasaan ini, Sasha sangat bimbang, Perasaan yang sangat menggelisahkan menyeruak masuk ke dalam hatinya.
"Caca" Panggil Fani keras, Dia menepuk pindah Sasha. Sasha pun tersadar, Dan menatap Fani.
"Nih anak Lo" Ucap Fani bersikap seolah semuanya baik-baik saja, dan tidak ada yang terjadi. Kean merentangkan tangannya meminta digendong.
"Thanks, sorry ngerepotin" Ucap Sasha singkat. Fani hanya tersenyum dan mengangguk.
"Yaudah, Have Fun, Gue mau nyari Reynald dulu" Pamit Sasha, Sejenak dia melirik ke arah tempat orang berpakaian serba hitam tadi, Namun Sasha tak menemukannya lagi, Padahal dia sangat penasaran dengan sosok itu.
"Kenapa Ca?" Tanya Fani bingung melihat Sasha yang seperti mencari sesuatu. Sasha tersadar dan kemudian menggeleng cepat.
"Gue pergi ya" Pamit Sasha lagi, Dia langsung melenggang pergi, Meninggalkan jejak kegundahan dalam hatinya.
Fani dan Diksi saling pandang, Menyiratkan sesuatu yang mereka saling tau, Hanya mereka yang tau. Mereka pun melenggang pergi.
"REY" Panggil Sasha keras sembari masih menggendong Kean. Dia menjadi kesal dengan Reynald yang meninggalkannya tadi.
Reynald menoleh ke sumber suara, dilihatnya sasha dengan wajah kesal dan menggendong Kean. Reynald pun teringat, Dia pun menghampiri Sasha.
"Kenapa?" Tanya Reynald bingung. Sasha mendengus kesal.
"Kenapa?! Kenapa?! Kenapa Lo ninggalin Gue sendirian?" Seru Sasha balik dengan kesal. Reynald tertawa pelan.
"Gue gak ninggalin Lo, Gue lagi pesan es kelapa muda tuh disana" Tunjuk Reynald kepada salah satu penjual es kelapa muda. Sasha mendengus kesal, lagi.
Reynald mengambil alih Kean, Dan menggendongnya. Kean hanya menurut saja.
"Udah, Jangan marah-marah" Ucap Reynald lembut. Sasha langsung memalingkan wajahnya. Reynald tertawa pelan.
"Ngambekan Lo sekarang" Cibir Reynald dengan senyum mengejeknya. Sasha menatap Reynald kesal, Dia berjalan terlebih dahulu.
Reynald tersenyum tipis, Dia menyusul Sasha dan langsung menggenggam satu tangannya. Tak ada penolakan dari Sasha.
Tak dapat dipungkiri Sasha bahagia hari ini, Sasha ingin memohon, Waktu berhenti sejenak, dan Sasha ingin menikmati saat-saat bersama Kean dan Reynald sekarang ini. Dia tidak tau kedepannya seperti apa.
"Rey" Panggil Sasha pelan, Suaranya yang sangat tenang, dan senyum teduh yang tercetak di bibirnya. Reynald baru pertama melihatnya, ketenangan Sasha seperti sekarang.
"Kenapa hmm?" Tanya Reynald lembut. Sasha menghentikan langkahnya, Dia menatap Reynald dengan tatapan tenangnya. Reynald ikut berhenti dan menatap Sasha bingung.
Tanpa disadari Reynald, Sasha kini mendekat, dengan senyum simpulnya. Reynald mematung... Sasha mengecup pipinya, MENGECUP PIPINYA!!!
(Lebay Lu Babang Rey-_-)
Dan Sasha berlanjut berjalan tanpa melepaskan genggaman tangan Reynald, Reynald yang belum sepenuhnya tersada hanya mengikutinya.
Tak henti-henti Sasha tersenyum teduh, Kegundahan yang sempat singgah kini pergi begitu saja, Kebahagian yang sederhana... Sasha berharap segera menetap dan tinggal dihatinya.
*******
Sosok berpakaian hitam, Yang selalu memperhatikan Sasha tak sedetik pun terlewat dari pengamatan matanya terhadap Sasha. Tersenyum simpul.
"Caca bahagia?" Monolognya sendiri, Entah senyum apa yang harus dia perlihatkan, Senyum tulus? senyum miris? senyum manis?
Ada dua orang lagi yang datang dari arah belakang, Bersembunyi dibalik pohon kelapa yang tinggi menjulang. Mereka menatap penuh kegelisahan.
"Belum saatnya, Dan mungkin tidak akan" Gumam seorang laki-laki yang baru datang tersebut, Disampingnya terdapat seorang gadis yang menyetujui ucapan laki-laki itu.
Sosok berpakaian serba hitam itu tertawa miris. Bahkan dibalik kepala yang tertutup hodie hitam itu, Mata yang tersembunyi berkaca-kaca meratapi nasibnya sendiri.
"Tidak akan... kah?" Tanyanya miris entah pada siapa, Bahkan penantian panjangnya mungkin tidak akan berarti apa-apa.
Semuanya merasakan kesedihan yang dirasakan, angin berhembus kencang, Menandakan kesedihan, ditambah mendungnya awan yang tidak direncanakan.
Kita ikuti jalan tuhan... Semuanya telah tersusun rapi, kalau saja semuanya tidak sesuai harapan, Kita hanya harus percaya pada kalimat 'Eeverything happens for a reason'
Tersenyum miris dengan nasib diri sendiri.
******
Chapter ini agak panjang ya?😌
Author ngetik sambil dengerin lagu mellow, Apalagi lagu-lagu yang tenang kerinduan, Rasanya nyentuh😌
Udah aaa, gak mau galau, Mau ngewibu aja, Bye-bye semuanya😍😄
Jangan lupa like, komen and vote...