![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Sasha kini tengah melangkah menuju kelas Reynald untuk mengajaknya pulang, Karena bel pulang sudah berbunyi sedari tadi.
Sasha teringat, Reynald tadi izin untuk berbicara sebentar dengan Diksi, karena ada sesuatu yang penting katanya.
Sialnya kini Sasha baru ingat setelah dia sampai di depan kelas Reynald. Sasha pun berniat putar arah dan kembali melangkah.
Namun langkah kakinya mendadak terhenti saat terdengar suara seseorang dari dalam kelas Reynald. Entah kenapa itu malah membuat suasana menjadi horor.
(Author salah server, ini bukan cerita horor😑 -Sasha)
(Ehe, lupa😂 -Author) Oke Skip -_-
"Diksi udah tau, dan kemungkinan dia udah ngasih tau Reynald"
Samar-samar terdengar seseorang mengucapkan kalimat tersebut. Sasha yang kini penasaran mencoba menguping dan mengintipnya melalui kaca jendela.
"Ini semua salah Lo" sentak seseorang yang kini menjadi lawan bicara dari perempuan yang tadi.
"Tunggu, Gue kaya kenal suaranya" Gumam Sasha kecil, Dia berusaha mengingat nya. Namun dia belum juga ingat.
Sasha yang terpancing rasa kesal pun tanpa sadar memukul jendela sedikit keras. Menyebabkan orang yang di dalam terlonjak kaget.
"SIAPA DILUAR?" tanya seseorang dari dalam kelas. Sasha mendelikan matanya kaget, Dia menepuk jidatnya sendiri.
Sasha buru-buru berlari menjauhi kelas Reynald. Dan memutuskan menuju parkiran saja. Sasha langsung masuk kedalam mobil.
Di dalam mobil, Sasha kini tengah mengambil nafas banyak-banyak. Kenapa sekarang dia pelupa? Padahal dia sangat tidak asing dengan suara itu.
'Siapa? Siapa? siapa?' Batin Sasha kesal.
Sasha berusaha berpikir keras, hingga muncul lah dua nama yang terlintas dalam otaknya. Nia? Tantri?
Ngomong-ngomong tentang mereka berdua. Sasha kini menyimpulkan mereka berdua adalah dalang dibalik terkuncinya Sasha di kamar mandi.
Sasha menghela nafas panjang. Jika Diksi sudah tau kenapa dia tidak langsung memberitahukan kepada Sasha. Apa yang sebenarnya terjadi?.
#Rooftop
Beralih ke tempat Diksi dan Reynald yang kini berada di Rooftop, keduanya sama-sama memberikan tatapan yang sangat serius satu sama lain.
"Apa?" tanya Reynald to the point. Dia tidak suka basa-basi, Ingat itu. Diksi terlebih dahulu menghela nafas panjang.
"Lo yakin belum tau pelakunya?" tanya Diksi memastikan, jujur saja Diksi merasa curiga, karena dia tau bagaimana sifat sahabatnya itu.
Reynald adalah orang yang gerak cepat, apalagi jika seseorang yang disayanginya terluka, sehari saja pasti langsung tertangkap pelakunya.
Tapi kali ini? Seperti bukan Reynald saja, Bahkan ini sudah hampir satu minggu setelah kejadian, dan sepertinya belum ada pergerakan apa-apa dari Reynald sendiri.
"Apa cuma ini yang mau Lo bicarain?" tanya Reynald dengan nada dinginnya. Diksi benar-benar merasa aneh dengan sikap Reynald.
"Gue tanya serius Rey! Lo udah tau kan siapa pelakunya?!" tanya Diksi lagi, kali ini dia sedikit menaikan nada bicaranya.
Reynald menghela nafas panjang, Dia mengangguk singkat. Benar saja, Mungkin jika Diksi tidak bertanya Reynald tidak akan menjelaskan.
"Kenapa Lo gak bertindak Rey?" tanya Diksi bingung. Reynald sekarang bertindak labil, atau mungkin... Tidak, tidak itu tidak akan terjadi!
Reynald hanya diam, Mungkin dia bingung untuk menjelaskan. Diksi tersenyum sinis, Diksi juga tau siapa pelakunya, untuk apa disembunyikan?!
"Apa karena pelakunya adalah orang berharga bagi Lo? Atau karena dia masa lalu Lo?" tanya Diksi sinis. Reynald kini terpancing dengan pertanyaan yang dilontarkan Diksi kepadanya.
"Gue cuma menghargai dia sebagai temen Gue, dulu" Jawab Reynald dingin. Diksi mengusap wajahnya gusar.
"Dan Lo lebih milih temen Lo itu daripada Caca?" tanya Diksi sarkas. Reynald mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Gue gak milih dia! Biar Gue yang bertindak sendiri" Reynald langsung meninggalkan Diksi yang kini menatapnya gelisah.
Bagaimanapun niat awal Reynald mendekati Sasha hanya sekedar balas dendam, dan entah itu sudah berubah atau masih sama. Namun jika Reynald berani menyakiti Sasha, Diksi tidak akan segan!
"Semoga Lo gak menghianati kepercayaan yang diberikan oleh Nenek Ina, Gue dan bahkan Caca sendiri"
Diksi ikut meninggakkan Rooftop dengan perasaan campur aduk. Semua kegelisahan tertumpah dalam hatinya.
*****
Reynald membuka pintu mobil, dilihatnya ternyata Sasha sudah berada di dalam dan tertidur. Reynald tersenyum tipis sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Reynald duduk di kursi pengemudi, Dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan sekolahnya.
Bukan hanya Diksi yang dilanda kegelisahan, Namun juga Reynald. Tidak ada yang bisa menghakimi hatinya selain dirinya sendiri.
Biarkan Reynald yang memutuskan semuanya. Namun untuk alasan apa pun, Sasha lebih penting dari siapapun!
Sasha sedikit terusik dengan melajunya mobil yang ditumpanginya. Dia melihat ke samping ternyata Reynald kini yang mengendarai mobilnya.
"Rey" Panggil Sasha dengan suara seraknya, matanya juga masih menyipit.
Reynald tersenyum tipis, tangannya terulur mengacak pelan puncak kepala Sasha, membuat sang empu mencebikan bibirnya kesal.
"Maaf, nunggu lama sampe ketiduran" ucap Reynald merasa bersalah. Sasha menggelengkan kepalanya singkat.
"Gak papa" jawab Sasha singkat, terlintas di otaknya tentang kejadian tadi. Ingin menanyakan namun lisan seperti tidak mau diajak kerjasama.
"Rey" Ucap Sasha pelan. Reynald menatapnya dengan alis terangkat satu.
"Apa?" tanya Reynald bingung. Yang didapatinya hanya keterdiaman Sasha, Reynald jadi bingung sendiri kenapa Sasha bersikap seperti ini?
"Gak papa" Jawab Sasha memalingkan wajahnya ke arah jalanan ibukota yang sangat di padati kendaraan lainnya.
"Apa sih?" desak Reynald, Dia ingin Sasha berterus terang saja, Karena dia tidak mau ada salah paham lagi.
"Gak papa" kekeh Sasha. Reynald menghela nafasnya pelan, Dia jadi kesal sendiri. Sasha plin plan sekali.
"Cewe tuh gitu, kalo di tanyain 'gak papa' tapi nanti malah marah dan nuduh cowonya gak peka" cibir Reynald dengan nada menyindir Sasha.
"Dih, santailah gak usah ngegas" jawab Sasha dengan tidak santainya. Reynald memutar bola matanya malas.
"Ya Lo juga ngegas kali Sha" Jelas Reynald kesal. Sasha menatap Reynald dengan raut wajah kesal.
"Ya biarin lah, inget ya cewe tuh selalu benar" balas Sasha tak mau kalah. Reynald menghembuskan nafasnya panjang.
Tak ingin menjawab dari pada masalahnya menjadi semakin runyam. Namun jika boleh jujur, Reynald lebih suka momen saat mereka debat seperti ini. Karena baginya, momen perdebatan mereka tidak terlupakan.
*****
... "Banyak orang berkata 'Berbohong demi kebaikan tidak apa-apa' namun masalahnya, apakah kebohong bisa dianggap menjadi sebuah kebaikan?"...
... ~Note Gemini~...
*
*
*
*
*
Jangan lupa like, komen, and Vote😊