![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Kini semuanya sedang menunggu didepan ruang UGD dengan perasaan khawatir yang luar biasa. Semoga yang ada didalam sana akan baik-baik saja.
Satu persatu orang terdekatnya datang, untuk memastikan kondisi Sasha, namun dokter tak kunjung keluar dari dalam sana.
Reynald terduduk lemas dikursi, kenapa semuanya terjadi secepat ini? Ini bukan akhir kan? Sasha tak akan meninggalkannya kan? Cukup lama segala pikiran buruk menyergap dirinya.
"Kenapa Caca bisa kena tembak?" Tanya Fani yang kini menangis dalam dekapan Diksi. Diksi pun masih tak menyangka, apa yang akan terjadi pada Sasha?
"Kita berdoa aja semoga Caca gak kenapa-napa" jelas Diksi dengan suara yang tertahankan. Sungguh hatinya tak tenang, pikiran buruk sudah bertengger dikepalanya.
Semua sahabat Reynald pun sama-sama merasa cemas, mereka terus berdoa agar Sasha tidak kenapa-kenapa.
"Astaga, kenapa jadi gini sih?" Tanya Fino yang terlihat sangat frustasi dengan apa yang terjadi, dia mengacak-agak rambutnya yang membuatnya terlihat berantakan.
"Lo aja frustasi apalagi bos lo" jelas Farhan dengan suara yang pelan. Fino melihat ke arah Reynald, benar saja sahabatnya itu terlihat sangat frustasi.
"Keadaan bos kecil gimana?" Fino menanyakan keberadaan si kecil Kean. Farhan menghela nafasnya.
"Diruangan sebelah" jawab Farhan singkat, rasa-rasanya untuk berbicara saja sudah tidak ada tenaga, diam menjadi pilihan yang tepat meskipun pikiran buruk akan muncul.
Ternyata tanpa diduga mereka semua yang ada disana, keluarga Sasha datang ke rumah sakit milik Papa Rama, yaitu ayah dari Reynald.
Tak banyak yang tau bahwa yang datang adalah keluarga Sasha. Namun setidaknya ada Diksi dan Fani yang tau, ataupun Reynald mungkin saja sudah tau.
"Dimana Caca? Dimana anak saya?" Tanya Marina dengan terburu-buru, dia sangat cemas, ditambah rasa bersalahnya yang dapat membunuhnya secara perlahan.
Reynald langsung menatap siapa yang datang, sama sekali dirinya tak tertarik menanggapi pertanyaan tersebut. Orang tua yang sudah tidak menyayangi anaknya lagi.
Namun ada satu orang yang sangat terasa tidak asing baginya, orang itu bukankah seseorang yang ia lihat didalam foto beberapa hari yang lalu? Reynald mengernyit dan memastikan.
"Lo? Ngapain lo kesini? Siapa Lo?" Reynald langsung berdiri dengan wajah marahnya dia menunjuk orang yang ia maksud, yaitu Virgo.
Diksi tau Reynald terpancing emosi, mungkin Reynald belum tau siapa orang yang ada dihadapanya saat ini. Reynald pun mendorong orang tersebut dengan kencang.
"Siapa Lo?!" Nadanya semakin meninggi. Diksi yang melihat itu menahan Reynald yang hendak mendorong orang itu lagi.
"Rey tenang, ini dirumah sakit" tegas Diksi menarik Reynald untuk mundur, Reynald mengambil nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya.
"Lo orang yang terakhir ketemu Sasha selain gue kan?" Orang didepan Reynald itu kebingungan tak tau apa yang Reynald maksud.
Reynald mengambil handphone nya lalu menunjukan sesuatu kepada orang itu, sebuah foto tempo hari yang menyebabkan pertengkaran antara dirinya dan Sasha.
"Karena Lo, gue dan Sasha bertengkar, dan bodohnya gue gak tau kalo Sasha diculik" ucapan datar namun syarat akan penyesalan, andai saja mereka tidak bertengkar hari itu, mungkin Sasha akan baik-baik saja sekarang.
"Dia Virgo, kakaknya Caca" jawab Diksi singkat, padat, dan jelas. Reynald terdiam sejenak, mendadak hening disana, mereka yang ada disana baru mengetahui bahwa ternyata Sasha mempunyai kakak laki-laki.
"Diksi, gimana keadaan Caca?" tanya Virgo yang kini sangat panik, tanpa menanggapi apa yang Reynald katakan sedari tadi.
"Dia masih didalam, dokter belum keluar dari tadi" jelas Diksi singkat. Virgo mengusap wajahnya kasar, kenapa semuanya terjadi secepat ini?!
Reynald yang tak dapat menyangkal ucapan Virgo kini hanya diam, benar apa yang dikatakan kakak Sasha tersebut, dia tidak bisa menjaga Sasha dengan baik.
"Lo salah Vir, setelah bertahun-tahun lo gak disamping Caca, sampai Caca gak dianggap sama keluarganya sendiri bahkan diusir, Reynald yang selalu ada disamping Caca, dia yang berhasil bikin Caca bahagia lagi, dia udah berhasil melindungi Caca selama ini" jelas Diksi panjang lebar, bukan ingin membela sahabatnya namun itulah kenyataanya.
Tanpa Reynald mungkin Sasha tidak akan bertahan sejauh ini, karena Sasha sudah menyerah sedari lama, alasan ia bertahan hanyalah Reynald dan Kean.
"Gak ada lagi alasan Caca bertahan selain orang yang dia sayang" ucap Diksi menyadarkan keluarga Sasha.
Marina kini menangis sesenggukan dalam dekapan suaminya, menyadari bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah salah, bahkan Sasha seolah tak mendapatkan kebahagiaan dari keluarganya sendiri.
"Caca, maafin mama nak" lirih Marina menangis dalam penyesalan, entah masih ada waktu untuk meminta maaf ataupun tidak, tapi dia benar-benar menyesal.
"Kalian sebagai keluarga Caca, gak pernah ada untuk dia, bahkan saat dia dalam titik terendahnya kalian semua kemana?" Ucap Reynald datar.
Semuanya menunduk, menyesal dalam saat-saat seperti ini, semoga saja masih ada waktu.
Langkah kaki terburu-buru dari dua orang yang baru saja datang, air mata yang sudah deras menetes sedari tadi.
Datang membawa tatapan kecewa untuk semuanya yang gagal menjaga perempuan kuat yang kini terbaring lemah didalam.
"Rey, kamu gagal jagain Sasha dan Kean, Mamah kecewa sama kamu" nada kecewa yang terdengar jelas, ucapan yang menusuk bagi Reynald.
Rama berusaha menenangkan Gina, namun tatapannya tak lepas dari anak laki-lakinya itu.
"Papa udah pernah bilang sama kamu, kamu yang bertanggung jawab atas Sasha dan Kean, tapi kenapa kamu kecewakan papa Rey? Kamu tau apa yang aka terjadi setelah ini rey" ucapan Rama membuat Reynald terdiam.
"Pa, jangan ambil Sasha dan Kean dari Rey Pa, Ma" ucap Reynald memohon.
Sayangnya kedua orang tua Reynald kini kehilangan kepercayaan, biar mereka yang menjaga Sasha dan Kean untuk kedepanya.
"Tidak ada yang bisa mengambil anak saya, setelah ini Caca akan saya bawa pulang, dan jangan harap kalian bisa mengambil anak saya" ucap Marina marah. Fadli pun berusaha menahan Marina untuk tetap tenang.
"Ma, tenang" ucap Fadli menenangkan Marina.
Gina yang mendengar ucapan Marina kini menatapnya tajam, penuh dengan kemarahan, kekesalan.
"Mau jadi apa Sasha dirumah kalian? Mau kalian telantarkan lagi iya?!" Ujar Gina marah, wajah merah dengan air mata mengalir.
"Orang tua mana yang tega menelantarkan anak nya selama bertahun-tahun, dan membiarkan anak nya hidup dalam kesengsaraan yang tidak ada habisnya?" Jelas Gina dingin, Marina dan Fadli tersentak.
Keduanya membeku.
"Kenapa setelah bertahun-tahun kalian baru sadar sekarang bahwa yang kalian lakukan selama ini salah? kalian ada orang tua terburuk yang pernah saya temui"
Gina mengungkapkan semuanya, hal yang ingin dia sampaikan kepada orang tua Sasha sedari lama.
"Jangan harap kalian bisa bertemu Sasha lagi setelah ini" ucapan Gina adalah keseriusan, dia tidak akan mengizinkan mereka bertemu Sasha, bahkan anaknya sendiri.