![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Hening disana, mereka masih menunggu dengan perasaan cemas, dokter lama sekali, apakah kondisi Sasha separah itu?
Pintu terbuka, dokter pun menghampiri Gina untuk menjelaskan keadaan pasien yang terbaring lemah di dalam sana.
"Peluru yang mengenai pasien ternyata cukup dalam, keadaan pasien sangat kritis, kami akan berusaha semaksimal mungkin, meskipun harapan pasien untuk hidup sangat tipis" ucapan dokter seketika membuat mereka semua menutup mulut tak percaya.
"Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk Sasha" perintah Rama tegas. Gina yang disampingnya kini semakin menangis, tak hanya dia, yang lainya juga sama.
"Baik pak, saya akan melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru yang ada didalam tubuh pasien" ucap dokter tersebut, dia pun segera bersiap-siap untuk melakukan operasi Sasha.
Semuanya masih tak menyangka, sekecil apapun harapan itu, entah Sasha akan memilih menyerah ataupun berjuang. Semua kemungkinan hanya Sasha dan tuhan yang tau.
Hanya saja, Gina yang sudah menganggap Sasha seperti anaknya sendiri, tak menyangka pertemuannya dengan Sasha akan sesingkat itu, jika nanti pada akhirnya Sasha memilih menyerah.
Jika benar menyerah adalah keputusan yang terbaik, penderitaan panjang dalam dunia akan berakhir begitu saja, dan Sasha mungkin akan bahagia di kehidupan berikutnya.
Begitu putus asa, mereka yang disana kini hanya berpasrah sembari terus memanjatkan doa untuk keselamatan Sasha.
Reynald bangkit dari kursinya, berjalan dengan linglung menjauh dari sana, Fino yang hendak mengejarnya dicegah oleh Farhan yang ada disampingnya.
Berpasrah dalam keadaan, menunduk dalam, semoga masih ada kesempatan untuk meminta maaf kepada Sasha.
Reynald masih melangkahkan kakinya, dalam keputus asaan. Dia masuk ke dalam ruang rawat, seketika matanya tertuju pada anak kecil yang terbaring tak sadarkan diri.
Perasaan bersalah itu semakin bertambah, dia yang merasa gagal menjaga Sasha dan juga Kean.
Reynald duduk menghadap ke brankar, memegang tangan mungil yang tampak sedikit pucat tersebut.
"Kean, maafin Dad, Dad gagal melindungi kamu dan Mom" lirih Reynald menatap wajah anaknya yang masih menutup mata itu.
Mata itu masih setia terpejam, entah apa yang anak kecil itu impikan, sehingga membuatnya sangat nyaman dalam tidurnya.
"Bangun Kean, Dad butuh kamu, Mom harus dioperasi, Kean gak mau ketemu Mom?" Ucapan yang keluar dari mulutnya itu menunjukan ketakutan, takut akan kehilangan.
Reynald janji, bila Sasha masih bisa diselamatkan, dia tidak akan lagi menjadi pribadi yang egois, dia akan memberikan semuanya untuk Sasha, dia janji.
Kristal yang sedari tadi bersembunyi dibalik pelupuk mata perlahan turun. Tetesan bening yang sedari tadi ia tahan kini dengan lancang menuruni pipinya.
"Dad" lirih anak kecil yang baru terbangun dari pingsan nya, Reynald langsung menatap Kean.
"Kenapa Kean? Mana yang sakit?" Tanya Reynald lembut, Kean hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Dad, Mom mana?" Tanya Kean balik, Reynald terdiam sekejap, sedetik kemudian ia tersenyun tipis.
"Mom lagi istirahat, kita doain ya biar mom cepat sadar" ujar Reynald dengan senyum simpulnya, Kean pun hanya mengangguk pelan.
*****
Didalam ruang operasi, kini dokter sedang berusaha keras untuk menyelamatkan pasien nya, agar tak ada orang lain yang besedih karena ditinggalkan.
Namun ditengah-tengah kegiatan, mereka dikagetkan karena detak jantung pasien melemah. Dokter mencoba untuk tidak panik dan tetap menyelesaikan semuanya.
Selang beberapa jam detak jantung pasien masih lemah, namun operasinya telah selesai. Hanya saja pasien masih dalam keadaan kritis.
*****
Kini hanya tersisa keluarga Reynald dan keluarga Sasha, mereka tetap menunggu Sasha sadar ataupun keadaanya membaik.
Reynald, dia tertidur diruangan Kean. Saat Gina ingin memberitahunya bahwa operasi Sasha telah selesai, namun ketika melihat tubuh tegap itu rapuh dan terbaring disamping anak kecil, Gina tak tega untuk membangunkanya.
Keadaan Sasha yang masih kritis, mereka berharap masih ada keajaiban agar Sasha terbangun dan kembali sehat, setidaknya Sasha bisa selamat.
"Lebih baik kalian pulang saja, saya yang akan menjaga Sasha" ucap Rama kepada keluarga Sasha yang masih menunggu.
"Saya ingin disini menemani anak saya" tolak Marina tegas. Rama menghela nafas panjang.
"Tidak apa- apa, kalian pulang Lah, jika ada kabar baik saya akan segera mengabari kalian" perintah mutlak dari Rama.
Siapa disini yang orang tua kandung Sasha? Namun Marina dan Fadli terlalu takut untuk mengakui, karena mereka sadar kesalahan nya terhadap Sasha bukanlah sedikit, entah Sasha mau memaafkan mereka ataupun tidak.
Dengan berat hati keluarga Sasha menyanggupi perintah Rama, mereka memutuskan untuk pulang. Dan kini hanya tersisa Rama dan Gina.
"Semoga Sasha cepat sadar" ucap Gina lirih sembari memandang Sasha yang masih terbaring, dengan beberapa alat kesehatan yang tertempel ditubuhnya.
"Kita berdoa untuk kesembuhan Sasha Ma" Fadli tersenyum simpul sembari menatap Gina. Gina hanya membalas dengan anggukan kepala.
Gina mulai merasa lebih tenang. Namun ketenangan itu hanya sementara saat dilihat detak jantung Sasha melemah, dan Sasha terlihat kesulitan bernafas.
Mata Sasha masih terpejam namun nafasnya tak beraturan, bahkan sampai kejang-kejang, detak jantung yang semakin lemah.
Gina dan Rama kini panik.
"Pa panggil dokter sekarang!" Gina menyuruh Rama karena dia sangat panik.
Rama pun mengiyakan, dia segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Sasha. Tak berselang lama dokter datang dengan tergesa-gesa.
"Mohon tunggu di luar bu" ucap dokter tersebut kepada Gina dan Rama, mereka berdua pun menunggu di luar ruangan.
Gina tak berhenti merapalkan doa, perasaan nya mendadak gelisah, seolah akan terjadi sesuatu yang buruk.
Semoga saja Sasha tidak kenapa-kenapa. Gina tak kuasa menahan air matanya, jantungnya berdebar hebat.
Kenapa didalam lama sekali? Apakah terjadi sesuatu pada Sasha? Itulah yang ada dipikiran Gina.
Harapan hidup yang sedikit, detak jangung lemah, nafas yang sudah tidak teratur, inikah pertanda Sasha akan meninggalkan dunia? Apakah dia sudah menyerah dengan semuanya?
Setidaknya itu dugaan mereka untuk apa yang kini terjadi di depan matanya.
"Pa Sasha Pa" Gina masih menangis dalam dekapan Rama, doanya tidak akan terhenti dalam hati.
Bertahanlah Sasha, masih banyak orang yang menyayangimu di dunia ini.
******