![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Beberapa hari setelahnya, semua berjalan dengan lancar. Hingga saat ini perdebatan yang tak berarti terjadi lagi.
“Yaudahlah terserah” ucap Sasha dengan nada lelahnya, dia pasrah saja. Reynald menghela nafas.
“Kali ini aja Sha” pinta Reynald sungguh-sungguh. Sasha menghela nafas panjang, sudahlah.
“Iya” jawab Sasha singkat. Dia pun melangkah pergi menjauh meninggalkan Reynald di depan kelasnya sendirian.
Reynald menatap kepergian Sasha dengan sendu, percayalah dia tidak bermaksud. Diapun segera mengirimkan pesan kepada Diksi.
Reynald menyuruh Diksi untuk mengantarkan Sasha sampai dirumah dengan selamat.
Jadi, hari ini Reynald berniat mengantarkan Nia pulang, dan karena itu terjadilah perdebatan antara keduanya.
“Udah belum?” tanya Nia yang baru saja datang, dalam hati dia tersenyum puas sekaligus bangga.
Dia pikir Reynald memang berniat mengantarkannya pulang, tanpa bermaksud lainnya.
Reynald menatap Nia kemudian mengangguk. Tanpa berkata apa-apa lagi dia segera berjalan terlebih dahulu tanpa menunggu Nia yang kini mengumpat dalam hati.
*****
Diksi dan Fani, kini keduanya mengikuti Sasha dari belakang dengan mengendarai mobil milik Diksi, mereka mengikuti tanpa sepengetahuan sasha sendiri.
Bukankah Diksi disuruh mengantarkan bukan mengikuti? Namun dia memiliki rencana tersendiri.
“Mungkin ini saatnya” gumam Fani cemas, tanpa persiapan sama sekali, dan hanya berharap Sasha tidak akan shock.
“Semuanya harus selesai, siap tidak siap mereka harus menghadapi masalahnya” ucap Diksi yang mendengar gumaman dari Fani.
Fani membenarkan ucapan Diksi, namun tetap saja harusnya mereka mendiskusikan ini terlebih dahulu, apalagi mereka tidak memberitahukan Sasha.
“Kalo memang mereka berdua udah dewasa harusnya mereka bisa menyelesaikan ini” ucap Diksi lagi.
Mereka tau, masalah ini sudah sangat lama belum berakhir, bahkan sampai bertahun-tahun. Dan semoga, hari ini semuanya selesai.
Sasha merasa ada yang mengikuti, dia memperlambat langkahnya dan berwaspada, dia mulai mencuri pandang dengan ekor matanya.
Sasha melanjutkan langkahnya dengan biasa saja, berpura-pura tidak tau. Saat terdengar langkah kaki mendekat Sasha terburu memutar badannya.
Tepat di depannya, seseoramg bertubuh tegap berpakaian hitam, menggunakan masker.
“Kamu siapa?” tanya Sasha kaget, dia memundurkan langkahnya untuk berjaga-jaga.
Sosok di depannya ini hanya diam, namun terlihat dari matanya seakan penuh kerinduan, mata yang kini berkaca.
“Caca” satu kata itu, membuat Sasha tersadar siapa orang yang ada di hadapannya ini.
Suara tenang itu, yang membuatnya rindu. Suara yang menenangkan itu yang selama ini ia rindu.
“Virgo” lirih Sasha, dia menutup mulutnya tak percaya, matanya kini berlinang air mata. Siapa yang menyangka mereka akan bertemu secepat ini.
“Iya Ca, ini Virgo” ucap Virgo merentangkan tangannya. Tanpa aba-aba lagi Sasha langsung menubruk tubuh tegap itu.
Sasha mencurahkan semuanya lewat air mata, karena kata tak bisa mewakilkan segalanya.
“Virgo kemana aja? Caca tau Virgo udah sembuh lama, tapi kenapa Virgo gak nemuin Caca” ucap Sasha tersedu-sedu, menumpahkan semuanya.
Virgo... dia tak sanggup menjawabnya, lidahnya terasa kelu untuk saat ini. Dia berusaha menenangkan Sasha yang kini semakin tersedu.
“Virgo gak kemana-mana, Virgo kan selalu menemani Caca” jelas Virgo tersenyum tipis, meskipun matanya kini memerah menahan air mata.
“Virgo bohong, selama lima tahun Virgo gak ada di samping Caca” sanggah Sasha dengan nada marah, itu hanya luapan emosi semata.
Iya itu memang benar, Virgo merasa bersalah karena selama ini tidak menemani Sasha. Padahal Sasha sangat butuh kehadiran sosoknya.
“Maafin Virgo, Ca” Virgo mendekap Sasha erat, tangannya turut mengusap surai lembut milik Sasha.
Ucapan Sasha menyakiti hatinya, namun dia bisa apa karena itu memanglah kenyataanya.
“Caca tenang ya, sekarang Virgo udah ada disini sama Caca” jelas Virgo menenangkan Sasha. Namun Sasha masih saja menangis.
Virgo menumpukan dagunya di atas puncak kepala Sasha, dia akan membiarkan Sasha tenang terlebih dahulu.
Sementara itu di dalam mobil, Diksi dan Fani melihat kejadian di depannya itu dengan raut lega sekaligus haru.
Akhirnya mereka yang memang seharusnya bertemu sejak lama, kini bisa bertatap muka.
Sesaat setelahnya, Sasha terlihat sudah cukup tenang. Virgo melepaskan pelukannya, dia mengusap pipi Sasha yang dibasahi air mata.
Terlihat Sasha yang masih sesenggukan, namun dia berusaha menahan. Sasha menatap Virgo haru, dia masih tidak menyangka apa lagi percaya.
Akhirnya dia bisa bertemu sosok yang paling ia rindukan, sosok yang paling ia sayang.
“Udah tenang?” tanya Virgo lembut. Sasha mengangguk mengiyakan. Virgo tersenyum tipis.
“Sekarang Caca ikut Virgo dulu, biar Virgo bisa jelasin” ajak Virgo, dia segera menarik tangan Sasha. Sasha pun hanya ikut.
Diksi dan Fani menghembuskan nafasnya lega, namun akan ada badai yang datang lagi untuk keduanya, untuk Sasha dan Virgo.
Diksi menggenggam erat tangan Fani, dia menatap Fani untuk meyakinkannya.
“Semuanya akan baik-baik saja” ucap Diksi yakin. Fani mengangguk mengerti. Mereka berdua segera meninggalkan kawasan sana.
Tanpa mereka berdua sadari, seseorang berseragam yang sama dengan mereka ada yang melihat kejadian tersebut, dia tidak menyia-nyiakan nya.
Seseorang itu mengambil foto saat Sasha dan Virgo berpelukan. Siapa...?
*****
Mobil berwarna hitam itu kini terparkir tepat di pinggir jalan, dengan pengemudi yang kini berwajah dingin dan datar.
“Rey, kok berhenti sih?” tanya Nia bingung, ditambah lagi melihat wajah Reynald yang kini terlihat menyeramkan.
“Nia” ucap Reynald dengan nada dingin dan menusuk. Nia yang mendengar itu sampai bergidik ngeri.
“A-apa Rey?” tanya Nia terbata-bata. Reynald beralih menatap tajam Nia.
“Apa yang udah Lo lakuin ke Sasha?” tanya Reynald tegas, matanya masih menajam.
Nia meneguk ludahnya kasar, dia memalingkan wajahnya keluar jendela, berusaha untuk tidak panik.
“A-apaan sih Rey, G-gue gak ngapa-ngapain Sasha kok” sangkal Nia dengan tawa hambarnya, dia masih tidak berani menatap Reynald.
“Jawab jujur atau gue gak segan?!” peringat Reynald tajam. Nia semakin tak berkutik, dia kini kehabisan kata.
“Jawab!!!” Reynald sedikit menaikan nada bicaranya, namun tidak sampai membentak.
Nia menghembuskan nafasnya, percuma dia tidak akan bisa mengelak lagi.
“Iya, gue cuma ngunci Sasha dikamar mandi” jawab Nia pelan. Tangan Reynald mengepal kuat.
“Ulangi, Yang keras!” perintah Reynald marah, ingat dia tidak sampai membentaknya.
“Gue yang udah ngunci Sasha dikamar mandi” Ucap Nia keras, mau bagaimana lagi dia tidak bisa menyembunyikannya.
Nia terlalu takut dengan Reynald, dia baru pertama kali melihat Reynald semarah ini. Apakah Reynald sangat mencintai Sasha?
******
Update sesuai mood ya🙂
Jangan lupa like, komen and vote😊 Dukung Dedek Author biar semangat update😊