![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Maaf ya, kemarin sempet hiatus lagi😌 Tapi akhirnya aku bisa lanjutin novelnya sekarang, happy reading😄 Typo bertebaran!
*****
Di rumah keluarga yang terlihat sangat harmonis ini, meskipun hanya kelihatannya saja, dan kenyataannya banyak sekali yang disembunyikan oleh keluarga ini, terutama tentang anak perempuannya.
"Mah" Panggil seorang laki-laki muda, jika dilihat lagi, sepertinya laki-laki ini seharusnya masih SMA, namun entahlah.
Wanita yang dipanggilnya itu langsung menoleh ke arahnya dengan senyum mengembang, rasanya sangat bahagia melihat anak laki-lakinya sudah sembuh total dan dapat bergabung kembali di keluarganya.
"Iya, kenapa Vir?" Tanya Marina menghampiri Virgo yang kini duduk di sofa ruang keluarga. Virgo menatap Mamahnya itu dengan senyum khasnya.
"Virgo seneng bisa kumpul lagi sama Mamah dan papah juga" ucap Virgo penuh haru, Tak dapat dipungkiri terdapat banyak kebahagiaan yang kini meluap dari relung hatinya, namun tetap saja masih ada yang kurang.
"Mamah juga seneng kamu udah sehat dan kumpul lagi disini" jelas Marina memeluk anak laki-lakinya itu, Virgo pun turut membalas pelukan sang Mamah.
Oh Ya, Yang sedang kita liat saat ini adalah pemandangan di rumah keluarga Sasha, Hmm atau sudah bukan keluarga Sasha lagi? entahlah.
Marina yang terlihat bahagia, Virgo yang juga bahagia meskipun kesedihan masih tersisa dalam hatinya, karena satu alasan.
Fadli yang baru saja pulang dari kantornya ikut tersenyum melihat pemandangan di depannya ini, terlihat jelas kasih sayang yang diberikan keduanya.
"Kok Papah gak di ajak?" Celetuk Fadli berpura-pura merajuk, sontak saja keduanya melepas pelukan dan langsung menatap Fadli kaget.
"Papah" seru keduanya tertawa, Fadli pun ikut tertawa, Bahagia sangat sederhana. Atau ini hanya candaan receh saja?
"Asik banget kalian berdua, masa papah baru pulang kerja gak di sambut" masih dengan akting marahnya Fadli mengatakan kalimat itu.
Marina tersenyum simpul, ia tau kalau suaminya hanya berpura-pura. Sungguh, Dia merindukan kehangatan keluarga seperti ini.
"Yaudah, Selamat datang kembali Papah" sambut Marina terlambat, Dia hanya berniat membuat Fadli semakin kesal.
"Telat, Mah" Ucap Fadli dengan raut kesalnya, Marina malah tertawa melihat suaminya itu kesal. Virgo tersenyum simpul melihat kedua orang tuanya.
Namun tetap saja, bagi Virgo masih saja ada yang kurang. Yah, siapa lagi kalau bukan Sasha?! Jujur saja, Virgo sangat ingin Sasha disini bersamanya, bersama kedua orang tuanya, Bahagia.
Ingin sekali menanyakan tentang Sasha kepada kedua orang tuanya, namun Virgo belum bisa. Setelah dia keluar dari rumah sakit, semua kejadian telah di ceritakan oleh sahabatnya sekaligus sahabat Sasha, Tentu saja Fani dan Diksi.
Semua yang terjadi semenjak dirinya dinyatakan koma, lima tahun lalu. Hatinya terasa sakit saat sahabatnya menceritakan tentang kehidupan Sasha yang sangat berubah.
Bahkan, Virgo menyalahkan dirinya sendiri atas kehidupan Sasha yang hancur. Sasha yang tidak salah apa-apa harus menanggung semuanya, dan pada saat itu Virgo tak bisa membelanya.
"Mah, Pah" Selalu ragu ingin mengutarakan isi hatinya, tentang Sasha, kembarannya sekaligus adiknya itu.
Kedua orang tuanya menatap bingung dirinya. Virgo terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepalanya lemah sembari tersenyum simpul.
Virgo menghela nafas panjangnya, Ini tidak mudah! Mungkin dia akan menyelesaikan sendiri. Percaya pada waktu yang akan menyelesaikan semuanya.
*******
Empat bocah kecil kini tengah bermain-main di taman, Semuanya tampak bahagia dan tertawa lepas, menunjukan tidak ada beban sama sekali.
"Aku pengen cepet besar deh, nanti kita bisa sekolah bareng-bareng kan" Seru salah satu diantara mereka dengan senyum polosnya.
"Iya, dan kita bareng-bareng terus sampe besar" Jawab yang lainnya ikut tersenyum bahagia.
Namun itu hanyalah perkataan polos dari anak kecil yang belum tau apa-apa tentang kejamnya dunia yang sudah kotor ini.
******
Sasha mengakui kalau dunia memang sudah kotor, alasannya sangat terlihat di depan mata, Ataukah dunia memang seperti ini sudah lama?
Andai saja dia tau, bahwa menjadi dewasa adalah hal yang sulit, dan kalau bisa dia ingin selamanya menjadi putri kecil kesayangan Mamah.
Menghela nafas panjang untuk mengurangi beban dalam otaknya, tatapan gelisah yang terpancar kini memandang ke arah langit malam.
"Sha, ngapain diluar?" pertanyaan tersebut sedikit mengagetkan Sasha, dia langsung menoleh ke sumber suara, tak diragukan lagi itu suara Reynald.
"Apa sih? merenung bentaran" jawab Sasha ketus, perlu diketahui saat ini Sasha sangat sensi dengan Reynald.
Reynald menghela nafasnya, ya dia menyadari sifat Sasha akhir-akhir ini, namun dia tidak mengerti apa alasan Sasha, atau dirinya yang tidak peka?
"Kalo aku ada salah kamu ngomong biar aku ngerti" ucap Reynald lembut. Sasha yang mendengar itu hanya memalingkan wajahnya saja.
"Gak ada salah apa-apa" jawab Sasha ketus, Reynald sangat aneh melihat sifat Sasha akhir-akhir ini.
Sasha melangkah menuju sofa dan duduk disana, melipat tangan di depan dada dan memasang raut wajah cemberutnya. Tentu saja di ikuti Reynald yang kini juga duduk di sampingnya.
"Kenapa? kalo ada masalah cerita" ucap Reynald dengan nada lembut. Sasha tak bersuara dia hanya mengayunkan kedua kakinya.
"Gak ada" jawab Sasha setelah keterdiamannya. Reynald menghela nafas, lagi. Mungkinkah Reynald baru mengetahui tentang sifat Sasha yang sangat labil ini?
"Dasar kekanakan" Reynald mengacak rambut Sasha sebelum dirinya berdiri dan merebahkan dirinya di kasur. Sasha langsung saja mendengus kesal.
Sasha memperhatikan Reynald yang mulai fokus dengan handphone nya, ini yang ia tidak suka dari Reynald, sekarang Reynald lebih fokus dengan handphone dan membuatnya kesal.
Sasha yang semakin kesal pun melempar bantal sofa hingga mengenai wajah Reynald. Reynald menatap Sasha heran.
"Tadi cuek, sekarang malah nimpuk pake bantal? Kenapa sih? cerita kalo ada masalah" Reynald mengatakannya dengan nada sedikit kesal.
"Kesel tau gak?! dari kemarin yang sibuk sama HP, terus sering keluar itu siapa?" sindir Sasha ketus. Reynald tersenyum simpul, akhirnya Sasha mengatakannya.
"Nah gitu kek, bilang dari tadi susah banget" Reynald mengubah posisinya menjadi duduk menghadap ke Sasha.
"Jadi itu alasannya kenapa ketus mulu dari kemarin" lanjutnya dengan senyum simpulnya. Sasha mendengus kesal dan memalingkan wajahnya.
"Ya main HP kan wajar buat Chatting sama temen, Sha" Jelas Reynald tak sepenuhnya jujur, ya mungkin jujur atau bohong.
"Terus kenapa dari kemarin-kemarin keluar terus? Main sama temen juga?" tanya Sasha sedikit marah. Reynald terdiam sejenak.
Reynald memang sering keluar rumah belakangan ini, Bukan apa-apa tapi dia mempunyai urusan tersendiri, Atau bisa di sebut urusan pribadi.
Tapi, apa Reynald ingin menyembunyikannya dari Sasha? sebenarnya dia ingin memberitahukan, namun dia tidak ingin Sasha salah paham.
******
..."Terlalu fokus kepada kesalahan orang lain, sedangkan tidak menyadari kesalan dirinya sendiri, itulah manusia. Terlalu munafik"...
...... ~Note Someone~......
...... ****......
Oke, itu bukan kata-kata milik Gemini ya, karena aku minjem😄 Sekali lagi maaf karena sempat off beberapa minggu, Dan maaf baru bisa UP 1 Chap... kalo kalian mau minta Crazy Up silahkan komen, Akan aku usahakan😄