![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Sasha sudah diperbolehkan untuk pulang, Dia diantarkan oleh Reynald. Sungguh, Reynald sangat peduli pada Sasha.
Sasha sedang berbaring tengkurap di kasurnya, Disampingnya juga ada Reynald yang berbaring sembari bermain gamenya.
"Rey, Lo tadi pagi gak berangkat lagi ya?" Tanya Sasha bingung. Sekarang malam hari.
"Iya" Jawab Reynald singkat, Dia masih fokus dengan gamenya.
Sasha mendengus kesal. Dia tidak suka dikasihani namun dia menghargai kepedulian Reynald.
Setelah itu keduanya terdiam, Mereka sama-sama fokus dengan handphone masing-masing.
15 menit kemudian.
Reynald sudah selesai dengan Gamenya, Dia menatap Sasha yang masih fokus dengan handphone miliknya. Reynald menyeringai, Dia menarik Sasha dan langsung melingkarkan tanganya di Leher Sasha.
"Rey" Pekik Sasha kaget. Dia mencoba melepaskan diri.
"Hukuman untuk kemarin" Reynald memperkuat tanganya dan menekanya ke leher Sasha.
"Gue kemarin reflek Rey, Lepas" Pinta Sasha memelas. Reynald tak melepaskannya.
"Rey, Gue baru pulih" Melas Sasha, Dia terus memberontak, Namun tak lama kemudian tenaganya habis sudah.
Reynald langsung melonggarkan tanganya secara perlahan, Dia mengusap lembut rambut Sasha dengan tangan kanannya, Sedangkan yang kiri melingkar di perut Sasha.
"Lo jahat" Ucap Sasha lemah, Reynald memang jahat namun juga bisa baik.
Reynald tersenyum tipis, Dia membawa Sasha ke dekapanya. Dia tidak akan kasar kalau Sasha penurut, Itu saja, tidak ada yang sulit bukan?.
Sasha memukul dada Reynald pelan, Oksigenya habis. Sasha kadang kesal, Namun Reynald kadang baik padanya, Sulit baginya untuk menyikapi itu semua.
Reynald sedikit terkekeh, Dia mengusap pelan rambut Sasha.
"Gak ada baik-baiknya, Heran" Kesal Sasha pelan. Reynald tersenyum tipis.
"Gue baik kalo Lo nurut Sha, Apa sulit?" Tanya Reynald. Sasha menggeleng pelan.
"Makanya nurut dan jangan pernah membantah" Peringat Reynald pelan. Sasha mengangguk patuh.
"Harusnya kemarin Lo gak bilang gitu ke.... Siapa namanya?" Tanya Sasha bingung, Dia tidak tau nama kakak kelas yang kemarin.
"Tantri" Jawab Reynald singkat. Sasha mengangguk mengerti.
"Ya, Harusnya Lo gak bilang gitu ke Tantri" Ucap Sasha kesal namun suaranya teredam oleh dada bidang Reynald.
"Emang kenapa?" Tanya Reynald santai.
"Ya nanti Gue yang dibenci dia, Kayaknya dia juga suka sama Lo" Jawab Sasha pelan.
Reynald melepaskan pelukanya dan menatap Sasha intens.
"Sejak kapan Seorang Sasha Margaretta memikirkan pandangan orang lain?" Ejek Reynald dengan senyum mengejeknya.
Sasha terdiam, Benar juga. Namun dia tidak ingin mempunyai musuh kakak kelas. Kalau Reynald sih, mungkin sudah di takdirkan menjadi musuh sejak awal.
"Sejak kapan Seorang Reynaldi Bagaskara mengetahui kalau Sasha tidak pernah memikirkan pandangan orang lain padanya?" Balas Sasha ikut mengejek. Reynald tersenyum tipis.
"Sejak saat pertama, Lo mengusik ketenangan Gue" Jawab Reynald tajam. Sasha meringis pelan.
"Ya, Gue kan gak tau, Kalo Tau Lo ngeselin gini mendingan Gue gak ke kantin waktu itu" Jelas Sasha pelan.
Reynald menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Dia kembali menarik Sasha dan melingkarkan tanganya di Leher Sasha.
"Iya-iya, Lepas ini" Pinta Sasha cepat, Malas sekali, Baru saja dia kehabisan oksigen.
Reynald terkekeh pelan, Dia tidak melepaskan Sasha namun melonggarkan tanganya yang melilit leher Sasha.
"Sha" Panggil Reynald pelan.
"Apa?" Tanya Sasha pelan.
Reynald menatap Sasha serius, Mungkin dia harus melakukan ini agar Sasha mau terbuka dan Reynald dapat mengobati luka yanga Sasha rasakan.
"Gue mau tanya dan Lo harus jawab jujur" Ucap Reynald dengan nada mengancam.
Perasaan Sasha tidak enak sekarang.
"Ya tanyanya apa dulu?" Tanya Sasha balik. Reynald menggeleng tegas.
"Lo harus jawab jujur, Atau dapat hukuman" Ancam Reynald tajam.
Sasha menghela nafas, Kalau Reynald mengancamnya dia bisa Apa?. Tapi dia takut Reynald bertanya yang aneh-aneh.
"Apa hubungan Lo dan Diksi?" Tanya Reynald serius.
Sasha terdiam, Dia Ingin melepaskan tangan Reynald, Namun Reynald menahanya.
"Rey" Peringat Sasha pelan, Dia Ingin berbagi beban, Namun sulit baginya untuk menceritakan.
Reynald menahan Sasha, Dia Ingin mendesak Sasha, Namun sulit juga baginya.
"Oke Gue bakal Cerita tapi lepasin Dulu" Pinta Sasha pelan. Reynald melepaskannya secara perlahan.
Sasha beralih menjadi berbaring dan menjadikan perut Reynald sebagai bantal, Dia menatap langit-langit kamarnya dan menerawang kembali, kenamgan-kenangan dulu, Yang menyakitkan.
"Gue dan Diksi... Sepupu,Dia Sepupu terdekat Gue, Tapi itu dulu" Jawab Sasha lirih, Dia jujur. Hatinya sakit mengingat itu, Luka Yang dulunya ia ingin kubur sendiri, Kini harus di ceritakan untuk Reynald.
Reynald tertegun mendengar itu, Tapi kenapa Diksi selalu menatap Sasha dengan tatapan kebencian? Itu yang ada di pikiranya sekarang.
"Suatu kejadian Dulu, Membuat Diksi membenci Gue" Jelas Sasha pelan, Tak terasa setetes air matanya terjatuh.
"Bahkan bukan cuma Diksi yang membenci Gue, Tapi Keluarga Gue juga gak mau ketemu Gue lagi, Bahkan keluarga besar, Hanya Nenek Gue satu-satunya keluarga yang masih mau menerima Gue" Lanjut Sasha dengan air mata yang semakin mengalir.
"Lo pasti sering dengar nama Virgo dari mulut Gue?" Tanya Sasha pelan. Reynald mengangguk singkat.
"Dulu, Gue, Fani, Virgo dan Diksi sahabatan. Tapi semuanya berubah semenjak kejadian 5 tahun yang lalu, Fani sempat benci Gue, Tapi Akhirnya Fani meminta maaf dan sampai saat ini cuma Fani sahabat yang selalu ada disamping Gue Rey" Tangis Sasha pecah sekarang. Reynald menarik Sasha ke sampingnya dan memeluknya.
"Gak usah dilanjut" Ucap Reynald pelan, Dia tidak bisa melihat Sasha menangis. Sasha menggeleng samar, Dia Ingin melanjutkannya lagi, Namun tidak semuanya.
"5 tahun yang lalu, Gue pernah depresi, Disaat itu bahkan Orang tua Gue sama sekali gak peduli Rey, Diksi juga sama, Dia gak pernah peduli. Itu titik terendah Gue Rey" Jelas Sasha semakin menangis.
Reynald menjadi merasa bersalah, Dia memeluk Sasha erat.
"Jangan Nangis Sha" Pinta Reynald lirih, Hatinya sakit melihat Sasha menangis sepeti ini.
"Pembawa Sial"
"Pembunuh"
"Saya tidak mau merawat anak seperti kamu Lagi"
"Kami tidak akan bertemu Virgo agi sampai kapanpun"
Semua kalimat itu terngiang-ngiang. Hati Sasha semakin sakit saat mengingat semua keluarganya mencaci kakinya, Bahkan di depan orang tuanya sendiri. Dan saat itu orang tuanya tidak ada yang membelanya, Bahkan mereka ikut mencaci Sasha.
Sakit Hati Sasha semakin bertambah Saat dia dituduh pembunuh, Dia tidak berniat, Dia tidak sengaja.
"Gue pembawa sila Rey, Gue pembunuh" Gumam Sasha lirih, Tangisnya kembali pecah. Ribuan pisau menancap di hatinya.
Reynald menggeleng, Dia memeluk Sasha erat.
"Jangan Nangis Sasha, Udah ya gak usah dilanjut" Pinta Reynald lirih.
Sasha memeluk Reynald erat dan menangis sejadi-jadinya.
"Gue takut Rey, Gue takut semua orang yang Gue kenal bakalan membenci Gue" Gumam Sasha lirih.
Reynald menggeleng.
"Gue gak akan ninggalin Lo Sha, Itu janji Gue" Ucap Reynald pelan. Sasha mempererat pelukanya.
"Hiks" Isakan Sasha masih terdengar jelas, Hatinya sangat sakit sekali.
Reynald juga ikut merasakan sakit, Ternyata benar, Sasha memang malaikat yang kesepian. Reynald tidak akan melepaskan Sasha sampai kapanpun, Itu janjinya.
"Jangan dipikirin lagi Ya, Maaf udah buat Lo nangis" Ucap Reynald lembut, Dia merasa bersalah.
Sasha menggeleng.
"Ini buka salah Lo" Jawab Sasha dengan suara paraunya. Dia mendongak menatap Reynald.
Siapa yang menyangka, Sasha segampang itu menceritakan sebagian kisah hidupnya kepada sosok yang baru dikenalnya ini.
Reynald mengusap air mata Sasha menggunakan ibu jarinya, Dia tidak bisa melihat Sasha menangis lagi.
"Sekarang tidur Ya, besok sekolah" Suruh Reynald lembut.
Sasha mengangguk, Dia kembali memeluk Reynald. Kini hanya Reynald yang dapat ia jadikan tempat bersandarnya, Entah itu sementara atau selamanya.
Reynald mengusap kepala Sasha lembut agar Sasha cepat tertidur, Dia tidak ingin Sasha mengeluarkan air matanya lagi.
Tanpa mereka berdua sadari, Ada seseorang yang mendengar semua percakapan keduanya, mendengar keluh kesah Sasha.
Hatinya merasa sakit, Bahkan masih sangat terasa tanganya kemarin yang menampar pipi lembut Sasha. Dia sangat merasa bersalah.
"Maafin Gue Ca, Gue emang sepupu yang jahat, Bahkan Saat keadaan Lo terpuruk, Gue tetap gak ada di samping Lo" Perasaan bersalah menyelimuti hatinya, Dia sangat menyesal. Mengapa baru sekarang dia menyadarinya.
Orang itu melangkah keluar rumah Sasha, Dengan perasaan bersalah dan penyesalan yang mendalam, Dia menuju rumah sahabat Sasha, Fani. Dia akan berkeluh kesah padanya saat ini.
Mengapa dia tidak mengikuti nasihat Fani kemarin, Sungguh dia sangat-sangat menyesal. Tidak ada yang lebih besar dari rasa penyesalannya sekarang.
Diksi.
~Skip Besok~
Sasha terbangun dari tidurnya, Dia melihat Reynald yang sedang duduk di sofa kamarnya, Namun satu yang aneh. Reynald sudah mengenakan Seragam sekolahnya, Walaupun Tidak rapih, Lihat saja dua kancing teratas terbuka, Bahkan dia tidak menggunakan dasi dan gespernya.
Sasha mendelik dan langsung terduduk. Dia melirik ke arah jam dinding. Jam 6:10.
"REYNALD, KENAPA LO GAK BANGUNIN GUE? Teriak Sasha kesal, Dia langsung masuk ke kamar mandinya.
Reynald yang melihat itu hanya terkekeh geli, Dia bangun sangat pagi untuk pulang dan bersiap ke sekolah. Dan dia berniat menjemput Sasha, Namun melihat Sasha yang tertidur lelap membuatnya tak tega membangunkannya.
Reynald menghela nafasnya mengingat semalam Sasha menangis, Sedikit demi sedikit Reynald mengetahui sosok asli dari Sasha beserta kisahnya.
Sasha keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan seragamnya. Dia berjalan ke arah meja riasnya. Dia melihat ke cermin, Matanya sedikit sembab. Sasha menatap ke Reynald.
"Rey, Sembab Ya?" Tanya Sasha pelan, Dia menekuk wajahnya, Lucu.
Reynald sedikit terkekeh geli, Dia menghampiri Sasha dan melingkarkan tanganya di Leher Sasha dari belakang.
"Gak papa, Gak terlalu kelihatan juga" Jawab Reynald santai. Sasha mendengus kesal.
Sasha memakai bedaknya tipis, Dia juga mengoleskan glossy ke bibirnya agar tidak terlihat pucat. Hanya itu saja Sasha tidak terlalu suka make up.
Reynald menatap pantulan Sasha di cermin. Sangat cantik, Walaupun matanya sedikit sembab. Namun tidak akan terlihat dari jauh.
"Kenapa gak bangunin sih tadi?" Tanya Sasha kesal. Reynald tersenyum tipis.
"Lo tidurnya nyenyak, Gue gak tega buat bangunin" Jawab Reynald singkat. Sasha mendengus kesal.
Sasha mengambil tasnya, Dan merapihkan kembali rambutnya.
"Berangkat" Ajak Reynald melangkah keluar kamar, Di ikuti Sasha dari belakang.
BTW, Sasha baru menyadari bahwa jaket yang Reynald gunakan berbeda, Namun masih sama Jaket ADLER. Oh Ya!! Dia baru ingat, Jaket Reynald masih ada di Sasha, Dan dia belum mencucinya.
"Rey" Panggil Sasha pelan. Reynald menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang.
"Hmm?" Singkat Reynald.
"Maaf Ya, Jaketnya belum gue cuci" Jelas Sasha meringis pelan.
Reynald tersenyum tipis, Dia menyuruh Sasha mendekat dengan gerakan tanganya. Sasha hanya menurut saja, Dia mendekat ke arah Reynald.
Reynald langsung mengusap lembut kepala Sasha.
"Gak papa" Jawab Reynald sembari tersenyum manis.
Sasha tertegun, Astaga, Manis sekali. Jantungnya berdegub cepat.
"Eh" Sasha cepat-cepat tersadar. Dia melepaskan tangan Reynald dari kepalanya.
"Udah ah, Ayok berangkat" Ajak Sasha gugup. Dia langsung berjalan terlebih dahulu.
Reynald yang melihat itu terkekeh geli, Baru saja hanya senyum, Belum tawanya. Sasha sudah seperti itu.
"Pake mobil?" Tanya Sasha bingung. Reynald mengangguk singkat, Dia langsung naik ke mobil.
Di ikuti Sasha yang juga duduk disampingnya.
Reynald langsung melakukan mobilnya menuju ke sekolahnya.
"Rey, Gue baru nyadar, Ternyata Sekolah itu milik keluarga Lo" Ucap Sasha singkat, memang benar dia baru menyadari.
Reynald tersenyum tipis menanggapinya? Tapi tunggu.
"Berarti rumah sakit itu juga punya keluarga Lo dong?" Tanya Sasha bingung. Reynald mengangguk.
"Ya" Jawab Reynald singkat. Sasha mengangguk mengerti.
Setelah itu mobil Reynald sudah sampai di sekolahan, Reynald memarkirkan mobilnya.
"Istirahat, Lo ke kelas Gue" Perintah Reynald tegas. Sasha mendengus kesal dan menggeleng.
"Gak mau" Tolak Sasha tegas, Dia malas berurusan dengan kakak kelas yang kemarin.
"Gak boleh bantah" Perintah Reynald tajam.
Sasha mendengus kesal, Dia langsung turun dari mobil Reynald dan membanting pintu mobil dengan keras. Reynald sedikit terkekeh melihat itu.
Reynald ikut turun dan menyusul Sasha, Dia merangkul Sasha.
Reynald Menatap Sasha mengernyit.
"Kenapa?" Tanya Reynald bingung.
"Dia kayak gak suka gitu sama Gue" Jelas Sasha pelan. Reynald terkekeh dan mengacak rambut Sasha pelan.
Setelah itu mereka berdua sampai di depan kelas Sasha.
"Jangan lupa perintah Gue yang tadi" Ucap Reynald mengingatkan.
Sasha mengangguk dan cemberut. Reynald tersenyum tipis.
"Gak usah cemberut gitu, Biasanya juga muka datar" Ejek Reynald.
Sasha mendengus kesal Dan mengubah wajahnya menjadi datar.
"Sana ke kelas" Usir Sasha ketus. Reynald tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
Reynald langsung berbalik dan melangkah ke kelasnya meninggalkan Sasha yang kini tersenyum tipis.
Sasha langsung masuk ke kelasnya, Dan duduk disamping Fani.
"Ca, Lo nangis ya semalam?" Tanya Fani pelan.
Sasha tersenyum tipis dan menggeleng, Dia berbohong karena tidak ingin melihat sahabatnya khawatir padanya.
Fani tau Sasha bohong, Semalam Diksi menceritakan semua kepadanya.
"Jangan sedih lagi Ca" Pinta Fani dengan senyum manisnya. Sasha ikut tersenyum tipis.
~Skip Istirahat~
Sasha dan Fani di jemput Diksi untuk ke kelasnya. Sasha mendengus kesal, Ck, Reynald benar-benar menyebalkan.
Diksi Dan Fani berjalan di depan. Sedangkan Sasha hanya dibelakang mengikuti keduanya. Sebenarnya Diksi ingin meminta maaf, Namun dia ingin memilih waktu yang tepat.
Diksi, Fani dan Sasha dibelakangnya masuk ke dalam kelas Reynald. Tantri menatap Sasha sinis, Sasha tak menghiraukan itu.
Sasha menghampiri Reynald yang sedang duduk dan menepuk pundaknya. Reynald sedikit terlonjak kaget, Dia menoleh ke belakang, terlihatlah Sasha dengan senyum tipisnya.
Reynald bernafas Lega, Dia menarik tangan Sasha yang ada di pundaknya menjadi melingkar di lehernya.
"Eh" Kaget Sasha hendak melepaskan tanganya namun di tahan Reynald.
Diksi Dan Fani sudah duduk di depan Reynald. Farhan, Fino Dan Zacky juga duduk, Mereka dalam bentuk melingkar sekarang.
"Eh ada dedek gemes" Celetuk Farhan melihat kehadiran Sasha. Sasha hanya tersenyum tipis.
Reynald menarik Sasha untuk duduk disampingnya, Sasha hanya menurut saja.
"Pulang sekolah, LEON ngajak WAR" Ucap Zacky membuat semuanya terdiam.
"Terima or tolak?" Tanya Zacky.
"Terimalah, Mereka udah berani bikin Dedek gemes masuk ke rumah sakit" Sungut Farhan dan di setujui Fino.
Zacky menatap Reynald bertanya. Reynald hanya mengangguk Singkat, Dia juga tidak akan membiarkan Sasha terluka.
"Diksi, Siapin anggota sepulang sekolah" Perintah Reynald tegas. Diksi mengangguk patuh.
Diksi mengambil handphonenya dan mengirim pesan di Grub ADLER.
Pulang sekolah kumpul di SMA BRAMAWIJAYA!
Begitulah isi pesan yang dikirim Diksi.
Sasha mendekat ke arah Reynald.
"Rey, Ikut" Bisik Sasha pelan. Reynald menatap Sasha dan menggeleng. Sasha mendengus kesal.
"Bomat, Gue ikut" Ucap Sasha ketus. Reynald menghela nafas, Dia langsung menarik Sasha keluar.
Reynald membawa Sasha ke Rooftop. Reynald mendudukan Sasha ke sofa yang telah usang itu, Reynald juga ikut duduk disampingnya.
"Rey, Gue mau ikut, Gue juga mau balas mereka" Pinta Sasha kesal. Reynald menatap datar Sasha.
"Gak" Tolak Reynald tegas.
"Rey" Melas Sasha dengan anda putus asanya. Reynald menggeleng.
"Reynald, Plisss" Mohon Sasha, untuk pertama kalinya Sasha mengeluarkan Puppy eyesnya.
Reynald meneguk ludah kasar melihat itu, Sasha sungguh menggemaskan. Tanpa sadar Reynald mengangguk setuju.
Sasha tersenyum penuh kemenangan sekarang.
"Yess" Sorak Sasha senang. Reynald tersadar.
"Sialan" Umpat Reynald pelan. Sasha hanya tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya, Reynald melihat Tawa Sasha, Itu tawa seorang malaikat kesepian.
"Cantik" Gumam Reynald pelan. Sasha tersadar dan mengubah raut wajahnya menjadi datar.
Reynald merebahkan dirinya di sofa, Menjadikan paha Sasha sebagai bantal.
"Lo boleh ikut, Tapi Lo gak boleh keluar dari mobil, Lo cuma bisa melihat dari jauh" Ucap Reynald tegas.
Sasha mendengus kesal kemudian mengangguk pasrah.
"Emang kenapa sih?" Tanya Sasha kesal.
"Ya nanti Lo luka lagi Sasha" Jawab Reynald ikut kesal. Sasha terdiam, Kemudian dia menghela nafas.
Sasha menyisir pelan rambut Reynald menggunakan jari tanganya.
"Ke kelas ayo" Ajak Sasha. Reynald pun berdiri di ikuti Sasha.
Mereka berdua berjalan ke kelas Reynald, Berhubung semuanya masih berkumpul di kelas Reynald.
~Pulang sekolah~
Semuanya sudah berkumpul di Depan SMA BRAMAWIJAYA, Termasuk semua anggota ADLER. Fani dan Sasha ikut juga. Namun sepeti kata Reynald tadi, Sasha hanya diperbolehkan melihat dari jauh, Fani juga.
"Ingat Strateginya seperti biasa" Ucap Reynald, Semuanya mengangguk paham.
"Berangkat" Perintah Reynald.
Reynald masuk ke dalam mobil, Sasha disampingnya dan Fani dibelakang. Fani sebenarnya ingin bersama Diksi, Namun Diksi menyuruhnya untuk ikut Reynald saja.
Sasha menatap Reynald yang nampaknya kini sedang menahan emosinya. Sasha kembali menghadap depan.
Fani memperhatikan Sasha, Dia tersenyum tipis. Sepertinya sahabatnya itu mengkhawatirkan Reynald. Fani senang kalau Sasha senang.
Mereka sudah sampai di tempat yang dijanjikan. Reynald melepaskan seatbeltnya. Dia menghela nafas dan menatap Sasha.
Reynald mengusap pelan rambut Sasha.
"Jangan keluar dari mobil sebelum semuanya selesai" Peringat Reynald tegas. Sasha mengangguk patuh.
Reynald keluar dari mobilnya, Fani berpindah duduk di samping Sasha. Fani juga khawatir dengan Diksi.
"Udah siap kalah?" Remeh Farhan tertawa sinis.
Faisal menggeram marah, Dia menatap Reynald sinis.
"Gimana pacar Lo, Udah mati?" Sarkas Faisal dengan tawa remehnya.
"Dia gak selemah Pacar Lo" Jawab Reynald dingin, Dia mengeluarkan smirknya.
Faisal menatap Reynald tajam.
"SERANG" Faisal memberi aba-aba anggotanya untuk menyerang Geng ADLER.
Terjadi perkelahian hebat disana. Dua Geng yang dahulunya adalah sahabat kini betempur hebat, Tanpa menatap masa lalu, Yang mereka pikirkan adalah dendam. Dendam memang membutakan, Tak hanya mata namun juga hati.
Semuanya berbaku hantam, Saling menyerang dan balik menyerang. Yang mereka pikirkan hanya sekarang, Bukan masa lalu ataupun masa depan.
Reynald dan Faisal dengan serangan brutalnya, Ke empat inti Lainya juga saling menyerang musuh bersama. Terkadang solidaritas mereka juga di ukur dari sudut ini, Mereka yang saling membantu tanpa memikirkan diri sendiri dan mementingkan orang lain.
Ditengah perkelahian, Dua orang anggota LEON membawa Sasha dan Fani ke tengah-tengah.Tak ada tatapan takut dari Sasha ataupun Fani, Yang ada hanya kebencian dan keberanian.
Aktifitas mereka semua terhenti.
Inti ADLER mendelik kaget, mengapa mereka berdua bisa tertangkap?.
"Haha, Kenapa Lo gak mati aja sih?" Sarkas Faisal menghampiri Sasha dan mencengkeram dagunya. Sasha memalingkan wajahnya.
Reynald langsung maju selangkah, Namun di tahan oleh Faisal.
"Lo maju selangkah, mereka berdua celaka" Ancam Faisal tegas.
Diksi juga ingin maju, Namun ditahan Reynald.
Sasha menatap Fani, Fani juga menatap Sasha. Mereka berdua saling memberi sinyal untuk menyerang Anggota Geng yang membawanya kesini.
Sasha memelintir tangan anggota Itu, Fani melakukan hal yang sama. Sasha berbalik menyerang Anggota Itu, Fani juga. Mereka semua menatap kagum ke arah keduanya.
Sasha mematahkan tangan yang berani menyentuhnya itu. Sasha melihat Fani hendak diserang namun dengan cepat Sasha menendang keras orang yang menyerang Fani.
Kedua anggota itu tersungkur. Sasha beralih menatap tajam Faisal. Sasha menghampiri Faisal dan langsung memberi bogeman kepadanya.
"Buat Lo yang udah berani mencelakai Gue" Geram Sasha marah, Dia terus memukul Faisal.
Krekk
Bunyi patahan tulang tangan Faisal membuat mereka mendelik kaget, Itu keras sekali.
"Arggh" Teriak Faisal kesakitan. Sasha tersenyum smirk, Dia hendak memukul Faisal lagi.
Reynald menarik Sasha mundur dan memeluknya, menyembunyikan wajah Sasha di dada bidangnya. Reynald tau, Saat ini Sasha dikuasai jiwa Psikopatnya, Mengingat sudah berminggu-minggu dia menahannya.
"Tahan Sha" Bisik Reynald pelan. Sasha menggeleng pelan, Sangat susah sekarang untuk menahannya, sudah terlanjur keluar jiwa Psikopatnya.
"Sulit Rey" Jawab Sasha pelan. Dia mencoba menahanya sekuat tenaga.
"Kalian pergi atau bernasib sama kaya mereka" Ancam Reynald dingin sembari menunjuk semua orang yang sudah terkapar lemah itu.
Mereka atau Geng LEON yang takut pun akhirnya pulang.
"Kalian ke Markas duluan, Fan Lo ikut Diksi" Suruh Reynald.
Semuanya mengangguk patuh, Mereka langsung menuju ke Markas ADLER menggunakan motor masing-masing.
Reynald membawa Sasha ke mobilnya dan mengunci pintu mobil.
"Sha, Tahan Sha" Ucap Reynald tajam. Sasha menggeleng.
"Gak bisa Rey" Jawab Sasha dengan suara seraknya. Sasha mencoba membuka pintu mobil Reynald.
"Rey, Gue mohon, Gue butuh pelampiasan sekarang" Melas Sasha memohon. Dia tidak bisa menahanya.
Reynald menggeleng.
"Kendalikan Sha" Suruh Reynald dia membawa Sasha kepangkuanya.
"Gak bisa" Jawab Sasha pelan.
"Argghh" Reynald sedikit menggeram sakit, Punggungnya dicakar oleh Sasha, walaupun tidak sampai luka, Namun cakaran itu cukup sakit.
"Lepas Rey" Pinta Sasha lirih, Dia tidak bisa menyakiti Rey lebih dari ini.
Reynald tak melepaskannya. Mungkin Dulu Sasha hanya melukai orang yang jahat, Namun sekarang bisa saja Sasha melukai siapa pun, Karena dia sudah terlalu lama menahanya.
Sasha mulai memberontak.
"Rey, Please" Mohon Sasha pelan.
"Cukup Sha, Dengan Lo udah melukai Faisal dan anggotanya itu udah cukup" Peringat Perintah Reynald Tajam.
Sasha tidak bisa hanya Itu, Dia Ingin lebih dari itu. Reynald terpaksa menguras habis tenaga Sasha, Mengunci pergerakannya dan membiarkan Sasha memberontak itulah caranya.
Dan benar saja, Tubuh Sasha melemah dalam dekapan Reynald. Reynald bisa bernafas lega sekarang. Dia mengusap lembut rambut Sasha.
Reynald tahu, Pasti ada alasan di balik awal mulanya jiwa Psikopat Sasha muncul. Namun itu yang masih belum ia ketahui.
"Rey, Gue-butuh-pelampiasan" Lirih Sasha tersendat-sendat.
Reynald menggeleng, Dia melajukan mobilnya ke rumah Sasha, Dengan keadaan masih memangku Sasha.
"Fani dan Diksi bisa tau, Kalo Gue gak nahan tadi" Ucap Reynald pelan, Benar juga.
Sasha tersadar, Dia sudah sadar sekarang. Dia tadi sudah bertindak terlalu jauh di depan teman-temanya. Sasha menghela nafas lelah.
"Sakit gak bekas cakaranya?" Tany sasha lemah.
Reynald tersenyum tipis dan menggeleng. Sasha merasa bersalah, Dia mengusap pelan punggung Reynald.
Setelah sampai, Reynald langsung membawa Sasha ke kamar Sasha, Dia membaringkan tubuh lemah Sasha ke kasur nya. Reynald ikut berbaring disampingnya.
"Don't Lost control again" Gumam Reynald pelan, Reynald mendekap Sasha.
Sasha hanya diam, Dia tidak bisa berjanji. Karena itu diluar kendalinya.
"Rey" Panggil Sasha pelan.
"hmm?"
"Tahan Gue kalo Gue sedang hilang kendali" Pinta Sasha lemah. Reynald mengangguk.
Tanpa disuruh pun Reynald akan melakukan itu. Dia Ingin menyembuhkan Sasha, Namun kemungkinan terbesarnya adalah gagal. Reynald hanya bisa mengurangi intensitas membunuh Sasha, Bukan menyembuhkan Sasha.