Broken Angel'S [COMPLETED]

Broken Angel'S [COMPLETED]
#8, BROKEN ANGEL'S



Hari ini, Hari sabtu.


Cepat sekali ya, Maap Author skip-skip😄


Sasha dan Fani sedang berada di Rooftop bersama Inti ADLER. Mereka membolos pelajaran. Sebenarnya Sasha tidak Ingin, Namun dengan ancaman maut Reynald dia akhirnya menurut.


"Kepala Gue kok suka pusing ya" Keluh Fino pelan. Farhan menjitak kepala Fino.


"Tuh kan suka pusing" Fino mengusap kepalanya pelan.


"Gak papa, Kalo Suka dipertahanin, Jangan ditinggal pas sayang-sayangnya" Jawan Farhan dengan watadosnya. Fino langsung menjitak keras kepala Farhan.


"Han" Panggil Zacky. Farhan menatap polos.


"Kepiting kalo dipotong jadi apa?" Tanya Zacky serius.


"Kepotong" Jawab Farhan singkat.


Yang lainya tertawa terbahak-bahak mendengar itu.


"Fiks, Besok Gue antar ke rumah sakit jiwa" Ucap Zacky menggeleng-gelengkan kepalanya.


Farhan mendelik kesal.


"Tunggu dulu, Gue mau nanya nih" Ucap Farhan kesal.


"Apa?" Tanya Fino.


"Apa benar kalo makanan lewat usus buntu dia muter balik?" Tanya Farhan serius.


Semuanya menatap datar Farhan.


"Beg*" Umpat Fino pelan. Dasar Farhan.


"Gue bingung Gaes, Kulkas di rumah Gue dingin banget, Eh Gue baru ingat kalo kulkasnya lagi marah gara-gara pintunya Gue banting kemarin" Curhat Fino dengan wajah sok nelangsanya.


Semuanya tertawa.


"Lo nya beg*" Ejek Farhan. Semuanya menatap Farhan bertanya.


"Ya, Lo beg*, Dimana-mana orang kalo nutup kulkas itu pelan-pelan, Cuma buat liat Lampunya nyala" Jelas Farhan tertawa terbahak-bahak. Yang lainya ikut tertawa.


"Lo lebih beg*" Ejek Fino dengan sisa tawanya.


Diksi, Sasha dan Reynald hanya tersenyum tipis, Mengingat sifat mereka yang terlanjur dingin. Namun tidak untuk Sasha dan Reynald, Saat mereka bersama, Hilang sudah sifat dingin mereka.


Sasha duduk disamping Reynald, Dia menatap Reynald saat satu pesan masuk ke handphonenya.


"Rey" Panggil Sasha pelan, Tatapanya seperti gelisah.


Reynald menatap Sasha bertanya. Sasha memberikan ponselnya, Biarkan Reynald melihatnya langsung.


Caca, Pulang sekolah ke rumah Nenek ya?!.


Begitulah isi pesannya, Sudah dapat dipastikan itu adalah nomor neneknya. Sasha bingung ingin menurutinya atau tidak.


"Terus?" Tanya Reynald bingung. Sasha menggeleng pelan.


"Gue belum siap" Jelas Sasha pelan. Reynald tau itu.


Reynald berdiri dan mengajak Sasha pergi. Sasha hanya mengikutinya. Reynald mengajak Sasha ke taman belakang. Mereka duduk di kursi berdua.


"Kenapa belum siap?" Tanya Reynald lembut, Dia mulai tau sedikit kesedihan Sasha.


Sasha menggeleng pelan, Dia duduk termenung. Sulit rasanya, Hatinya terasa tercubit saat mengingat hanya neneknya yang menganggap dia ada. Namun Sasha masih bersyukur tentang itu.


Reynald mengusap pelan kepala Sasha, Dia membawa kepala Sasha untuk bersandar di dada bidangnya.


"Nenek Lo pasti sayang banget sama Lo" Gumam Reynald pelan. Sasha mengangguk setuju.


"Kita ke tempat nenek Lo ya, Gue ikut" Bujuk Reynald, Setidaknya Sasha akan merasakan kasih sayang dari keluarganya disana.


Sasha hanya mengangguk menurut. Sasha tersadar dan menatap Reynald bingung.


"Emang Lo di izinin sama orang tua Lo?" Tanya Sasha bingung.


"Tenang aja" Jawab Reynald santai, Dia sedikit di bebaskan untuk itu.


Sasha hanya mengangguk mengerti. Reynald selalu ada disampingnya, Setidaknya untuk sekarang, Ya Setidaknya.


Kring... Kring


Bel pulang sekolah berbunyi, Sasha dan Reynald langsung berdiri.


"Lo pulang dulu, Bawa baju ganti, Karena kita gak bakalan cuma satu haru" Suruh Sasha singkat. Reynald menganga, Berarti mereka menginap.


"Emang rumah Nenek Lo dimana?" Tanya Reynald bingung.


"Di Bandung" Jawab Sasha singkat. Reynald mengangguk mengerti.


Mereka berjalan ke kelasnya.


Mereka mengambil tas masing-masing, Dan pulang ke rumah masing-masing.


Sasha menyiapkan tasnya, Dia hanya membawa dua pasang baju Saja. Sasha Sudah siap dengan Celana jeans panjangnya dan Hodie merahnya. Di Bandung pasti berudara dingin.


Sasha juga membawa satu jaket, Dia lipat di dalam tasnya.


Bip.. Bip


Sasha langsung turun saat mendengar suara klakson mobil Reynald. Sasha menghampiri Reynald dan masuk ke dalam mobilnya.


"Lo udah izin kan?" Tanya Sasha memastikan. Reynald mengangguk singkat.


Reynald langsung melajukan mobilnya, Mungkin perjalanan ini akan terasa lama. Mengingat Jakarta-Bandung jaraknya lumayan jauh.


"Lo gak papa ikut nginap disana?" Tanya Sasha menatap Reynald yang sedang fokus ke jalanan.


"Gak papa" Jawab Reynald santai. Sasha mengangguk mengerti.


Sasha menyalakan musik di dalam mobil, Dia memutar lagu favoritnya. When The Party's Over- Billie Eilsh.


Don't you know I'm no good for you?


I've learned to lose you, can't afford to


Tore my shirt to stop you bleedin'


But nothin' ever stops you leavin'


Quiet when I'm comin' home and I'm on my own


I could lie, say I like it like that, like it like that


I could lie, say I like it like that, like it like that


Don't you know too much already?


I'll only hurt you if you let me


Call me friend but keep me closer (call me back)


And I'll call you when the party's over


Quiet when I'm comin' home and I'm on my own


And I could lie, say I like it like that, like it like that


Yeah, I could lie, say I like it like that, like it like that


But nothin' is better sometimes


Let's just let it go


Let me let you go


Quiet when I'm comin' home and I'm on my own


I could lie, say I like it like that, like it like that


I could lie, say I like it like that, like it like that


"Rey" Panggil Sasha pelan, Dia menatap kosong ke arah jalanan.


"Apa?" Tanya Reynald singkat, Dia menatap Sasha dan tersenyum tipis.


"Lo tau gak siapa penyanyi favorit Gue?" Tanya Sasha pelan, Dia menatap Reynald serius.


"Gak tau" Jawab Reynald menggelengkan kepalanya singkat.


"Billy Eilish" Jelas Sasha. Reynald menatap Sasha mengernyit.


"Kenapa Lo suka Billie Eilish?" Tanya Reynald bingung.


"Dia pernah kehilangan jati dirinya, Dan itu yang saat ini Gue rasain. Dia pernah mencoba bunuh diri, Gue juga pernah merasakannya. Tapi Dia bangkit lagi sampai sekarang sukses, Dan Gue juga harus bangkit untuk mencari kebahagian" Jelas Sasha tersenyum tipis, Semoga saja kebahagiaannya akan menjemput dia sebentar lagi, Ya semoga.


Reynald terdiam, Dia menatap Sasha dengan tatapan yang sulit diartikan. Reynald tau betul apa yang dimaksud Sasha.


Reynald tersenyum tipis, Dia mengusap lembut rambut Sasha. Tak akan pernah Reynald biarkan Sasha pergi dari hidupnya, Bahkan sedetik pun Sasha menghilang, Dia akan mencarinya.


"Jangan pernah mencoba mengakhiri hidup lagi Sha" Pinta Reynald pelan. Sasha hanya diam.


Itu semua tergantung, Kalau Sasha sedang hilang kendali, Dia bisa saja memutuskan semuanya dengan sekali pikir.


"Kalo ngantuk tidur aja" Ucap Reynald. Sasha hanya mengangguk mengerti.


2 Jam setengah perjalanan mereka berdua nikmati, Tidak deng, Hanya Reynald, Karena Sasha kini sedang tidur. Udara disini sudah lumayan dingin, Karena ini di daerah pedesaan juga.


Reynald memasuki Area pedesaan yang benar-benar Asri, Suasana sejuk menambah kesan damai disini. Reynald terus melajukan mobilnya hingga sampai ke alamat yang dituju, Rumah neneknya Sasha.


Reynald menghentikan mobilnya di pekarangan rumah itu, Rumah yang sangat sederhana khas pedesaan, Namun sangat elegan.


Reynald menatap Sasha yang sedang tertidur. Dia mengusap pelan pipi Sasha.


"Bangun" Ucap Reynald, Mencoba membangunkan Sasha.


"Eunghh" Sasha menggeliat pelan, Dia mengerjakan matanya beberapa kali dan membenarkan posisi duduknya.


Sasha melihat rumah itu dengan tatapan redupnu, Perasaan bersalah kembali merasuk hatinya, Kenangan dulu bersama keluarganya terputar rapih dalam otaknya. Andai waktu dapat diputar, Sasha akan lebih berhati-hati, Dulu.


"Turun" Ajak Reynald, Dia lebih dulu turun dari mobilnya, Sasha juga ikut turun.


Sasha dan Reynald berjalan mendekati pintu rumah itu, Pintu yang sedikit rapuh, Namun masih terlihat bagus, Dengan ukiran tradisional di dalamnya.


Sasha menatap Reynald, Reynald mengangguk singkat. Sasha menghela nafas, Dengan ragu dia mengetuk pintu itu.


Tok...Tok...Tok.


Beberapa menit menunggu, Akhirnya pintu itu terbuka, Nampaklah seorang wanita tua dengan kulit yang sudah keriput, Ubannya juga sudah mulai tumbuh. Wanita bertubuh tidak terlalu kurus itu adalah nenek Sasha.


Sasha menatap haru neneknya itu, Matanya berkaca-kaca. Rasa bersalah kembali menyeruak masuk ke dalam hatinya. Jika dulu dia tidak ceroboh, Mungkin sekarang mereka sedang bersama-sama. Termasuk bersama..... Virgo.


Nenek Ina langsung memeluk Sasha erat, Dia sangat rindu dengan cucunya itu. Sasha juga membalas pelukan itu tak kalah erat.


"Caca" Panggil nenek Ina haru, Dia sangat menyayangi Sasha, Hanya saja kejadian dulu membuat mereka semua terpecah belah.


"Nenek" Tangis Sasha pecah dipelukan sang nenek, Hanya neneknya satu-satunya keluarga yang masih menganggap dia ada.


Reynald yang melihat itu tersenyum haru, Bukan pertama kali baginya melihat Sasha menangis. Namun, Masih terasa baginya kesedihan-kesedihan milik Sasha.


Nenek Ina melepaskan pelukanya, Dia menatap Reynald bingung. Siapa dia? Begitulah pertanyaan yang ada.


"Dia Reynald Nek, Teman Caca" Jelas Sasha yang seakan tau isi hati neneknya.


Reynald tersenyum dan mencium punggung tangan nenek Ina. Nenek Ina membalas senyuman itu.


"Yaudah, Kalian masuk dulu yuk, Ini udah hampir malam" Ajak Nenek Ina kepada keduanya.


Reynald dan Sasha mengangguk, Mereka masuk ke dalam rumah Nenek Ina, Rumah sederhana namun luas.


Nenek Ina menyuruh mereka duduk di ruang tamu.


"Gimana keadaan nenek?" Tanya Sasha antusias, Dia sampai tersenyum lebar.


"Nenek baik, Kamu gimana?" Tanya Nenek bil. Sasha mengangguk.


"Caca baik nek" Jawab Sasha pelan, Dia baik- baik saja, Itu yang terlihat dari luar, Namun hatinya terlalu rapuh bahkan hanya untuk menampung debu.


"Kamu yang sabar ya, Cepat atau lambat Mereka pasti akan sadar Ca" Nasihat nenek Ina. Sasha mengangguk, Dia tau itu, Tapi sampai kapan?!.


"Oh ya, Kalian udah berteman berapa lama?" Tanya Nenek Ina.


Sasha menatap Reynald bertanya. Reynald mengerti.


"Baru sekitar satu bulan Nek" Jawab Reynald kikuk. Nenek Ina kaget, Sasha bukan tipe orang yang mudah bergaul.


"Oh Ya, Dan kalian sudah akrab?" Tanya Nenek Ina tak menyangka.


Sasha menunjukan cengiran khasnya, Dia mengangguk mengiyakan.


"Iya nek" Jawab Sasha. Nenek Ina tersenyum simpul, Dia sangat ingin Sasha kembali ke sosok yang dulu, Sosok Ceria.


"Jaga Caca baik-baik ya Nak Reynald, Caca sebenarnya anak yang baik dan ceria, Dia juga dulu manja" Ucap Nenek Ina, Dia tersenyum kepada Reynald.


Reynald mengangguk pasti, Janji adalah janji, Dia tidak akan mengingkari. Melepaskan Sasha? Itu sama saja dia membohongi diri sendiri.


"Sasha manja?" Tanya Reynald menyadari apa yang dikatakan nenek Ina.


"Iya, Caca sangat manja" Jawab Nenek Ina tersenyum menggoda ke arah Sasha.


"Nenek" Rengek Sasha mengerucutkan bibirnya kesal, Aibnya tersebar kepada musuhnya yang ada di sampingnya ini.


"Tuh lihat, Baru digituin udah merengek" Ejek Nenek Ina tertawa pelan.


Reynald juga terkekeh geli, Baru kali ini dia melihat Sasha yang manja dan merengek seperti itu.


"Oh ya, Nenek Sampai lupa, Nenek buatkan minuman dulu ya" Izin Nenek Ina sembari melenggang pergi.


Kini hanya tinggal Reynald dan Sasha diruang tamu.


"Manja" Ejek Reynald dengan senyum remehnya. Sasha mendengus kesal, RIP Aib.


"Diem deh" Ketus Sasha memutar bola mata malasnya.


Reynald terkekeh kecil, Dia mengacak pelan puncak kepala Sasha. Sasha mengerucutkan bibirnya, Selalu saja seperti ini.


Sasha kembali merapihkan rambutnya.


Tok...Tok..Tok


Ketukan itu membuat keduanya saling pandang.


"Caca, Tolong bukan pintunya" Ucap Nenek Ina sedikit berteriak dari dapur.


Sasha langsung berdiri dan melangkah mendekati pintu, Detak jantungnya berdegub lebih cepat, Dengan gerakan pelan dia membuka pintu itu.


Dia mematung saat melihat siapa yang datang berdiri di depan pintu. Mulutnya terasa terkunci.


"....."