![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
'*Brakk*'
Pintu tersebut terdobrak cukup keras, membuat orang yang ada di dalamnya terlonjak kaget sembari memusatkan perhatian di pintu tersebut.
Betapa kagetnya Reynald saat melihat Sasha terduduk lemah disebuah kursi, rambutnya yang kini tengah ditarik kencang oleh Nia, pipi yang penuh darah, namun bibirnya menunjukan senyum kecil saat melihat kedatangan Reynald.
Reynald juga melihat Kean disudut ruangan yang gelap tersebut, dengan keadaan yang tidak sadarkan diri.
"Nia!" Geram Reynald sangat marah melihat apa yang kini sedang terjadi tepat didepan matanya.
Nia yang tadinya membeku melihat kedatangan Reynald mencoba bersikap tenang. Nia memasang raut wajah layaknya seorang pemenang.
"Well, seperti yang lo liat, gue udah puas banget ngeliat orang yang lo sayang terluka" jelas nia sembari tersenyum kecil, senyum yang jahat.
Reynald mengepalkan tangannya.
"Beraninya lo Nia!" Sentak Reynald marah. Sentakan tersebut membuat nyali Nia menciut.
Reynald mencoba mendekat ke arah Sasha, namun sebelum dia melakukannya Nia lebih dahulu mengancam Reynald.
"Tantri!" Seakan tau apa yang ada dipikiran Nia, Tantri mengambil pistol yang ada di celananya dan memberikanya kepada Nia.
Nia langsung saja menodongkan pistol tersebut ke arah kepala Sasha, tepat disamping kepala Sasha, masih dengan rambutnya yang ia tarik kencang.
Sasha meringis kesakitan, namun sudah tak ada lagi tenaganya untuk melawan, semuanya sia-sia. Dia sudah bertahan sampai disini itu hal yang sangat hebat.
"KALO LO BERANI MENDEKAT, NYAWA DIA YANG JADI TARUHAN!" Ancam Nia serius, dia tak pernah main-main dalam ucapanya, dia memang sudah gila, bahkan sangat gila.
Semua yang ada dalam ruangan tersebut melotot tidak percaya, apakah Nia setega dan sekejam itu? Apakah semuanya belum cukup?
"Nia, lo yakin?" Tanya Tantri sebagai rekan nya yang juga tak menyangka. Perjanjian awal mereka hanyalah untuk membuat Sasha ataupun Kean terluka lalu tak akan mendekati Reynald lagi.
Bukannya ingin menghilangkan nyawa orang seperti sekarang ini. Ternyata memang permainan dalam kehidupan nyata lebih kejam.
"Gue yakin, gue peringatin sekali lagi, jangan mendekat atau peluru pistol ini meluncur" ancam Nia sekali lagi, dalam keadaan seperti ini Reynald tidak bisa melakukan apa-apa.
Reynald mencoba memikirkan sesuatu, apa yang harus ia lakukan disaat seperti ini?! Ayo berpikirlah Reynald.
"Oke, turunin pistol lo sekarang juga, gue gak akan maju" ucap Reynald mencoba untuk tenang, dia sedikit melangkah mundur untuk meyakinkan Nia.
Nia yang mulai percaya pun akhirnya menurunkan pistol tersebut. Sasha dapat bernafas lega sekarang.
"Sekarang apa mau lo sampai lo harus berbuat kaya gini?" Tanya Reynald serius dengan nada yang sangat datar. Untuk alasan apapun, dia tidak akan pernah bisa memaafkan Nia.
Raut wajah Nia berubah menjadi sendu, yang dia inginkan dari dulu hanyalah Reynald. Tapi kenapa dia tak pernah bisa mendapatkannya? Bahkan sampai sekarang.
"Gue cuma mau Lo Rey" jawab Nia lirih, kepalanya tertunduk. Ck, apakah mencintai seseorang harus sekejam ini?!
"Lo mau gue tapi lo sendiri yang bikin gue benci dan muak sama tingkah laku lo!" Sentak Reynald dingin, ucapanya tersebut bak pisau yang menghujam hati Nia.
"Gak ada cara lain Rey, dari dulu juga lo udah gak suka sama gue" jelas Nia menatap mata Reynald sendu, kalimat yang mengandung keputus asaan tersebut lolos dari mulutnya begitu saja.
"Lo udah tau dari awal terus kenapa masih berusaha deketin gue?" Tanya Reynald datar. Nia terdiam... itu semua karena dia bodoh atau sebenarnya Cinta lah yang menbodohi dirinya?!
"Kalo lo udah tau dari awal harusnya sadar diri" ucapan yang begitu menusuk, hatinya terasa sangat sakit saat Reynald mengucapkan kalimat tersebut.
"Lo gak berhak ngatur keputusan gue Rey, ini semua demi lo" jelas Nia dengan suara agak meninggi.
Apanya yang demi Reynald? Tidak ada yang menguntungkan Reynald disini, semuanya hanya merugikan.
Nia membisu, tak ada cara lain yang bisa ia lakukan, namun keinginanya membutakan mata, Nia tak bisa membendung rasa tersebut sehingga kini semuanya meluap, hanya ini yang bisa ia jadikan pelampiasan.
Tiba-tiba mereka semua dikagetkan dengan suara kegaduhan yang semakin terdengar jelas dari luar. Siapa lagi yang datang? Adakah bala bantuan?
Langkah kaki seseorang yang mendekat, tidak hanya satu orang namun terdengar sangat banyak. Ternyata sahabat Reynald ditambah satu orang yang tidak asing lagi.
Diksi dan Zacky langsung menangkap Nia dan Tantri, yang ditangkap pun memberontak, namun tenaga mereka jelas kalah dengan sang penangkap.
Reynald pun bergegas membuka tali yang mengikat Sasha, sedangkan Fino membuka tali yang mengikat Kean, ia pun langsung menggendongnya.
"Nia biadab, gak punya akhlak, anak orang main disekap-sekap aja" cerocos Farhan yang kesal dengan ulah Nia dan Tantri.
Nia berdecak kesal, sedangkan Tantri memalingkan wajahnya, kekalahan yang memalukan!
"Lo juga, ngapain ikut-ikutan?" Sentak Farhan kepada Tantri. Tantri mendengus kesal.
"Karena gue udah terlanjur benci sama dunia ini, dunia yang gak pernah memihak sama gue" jawab Tantri dengan nada yang seketika berubah menjadi dingin.
"Oh gitu, emang ya setitik kebencian bisa menutupi seribu kebaikan" jelas Farhan kesal. Kebencian seseorang terhadap dunia, seakan-akan dunia tidak pernah baik kepada kita.
Ditengah-tengah mereka, seseorang yang tidak asing lagi menatap semuanya yang ada disini dengan tatapan tidak percayanya. Ini semua bohong kan? Ini bohong?!
"Lo liat dia Faisal, dia udah kehilangan akal sehatnya" Ucap Farhan sembari menunjuk kedua pelaku yang kini menunduk dalam.
Faisal yang masih tidak menyangka semua ini adalah ulah Nia, perempuan yang dulu sangat baik. Namun sekarang berubah menjadi seorang iblis.
"Diem Lo!" Sentak Nia marah, dia menatap semua dengan tatapan benci.
"Kenapa Lo jadi gini?" Tanya Faisal ragu-ragu, ini seperti bukan Nia yang ia kenal. Nia termenung sekejap, terdiam membisu.
"Gue lakuin ini semua demi dia!" Jelas Nia dengan telunjuk mengarah ke arah Reynald yang tengah memapah Sasha.
"Dan gue gak pernah nyuruh Lo untuk melakukan ini semua!" Sentak Reynald marah. Lihatlah keadaan Sasha sekarang, semoga Sasha akan baik-baik saja.
Lagi-lagi Nia terdiam membisu, setitik air mata yang menggenang di kelopak mata, menciptakan bayangan saat melihat objek yang ada didepannya.
"Ya gue tau ini kemauan gue sendiri" ucap Nia lirih, perlahan dia mengangkat kepalanya dan menatap semua orang satu persatu.
Gerakan tanganya yang pelan tapi pasti mengangkat sebuah benda berbahaya.
"DAN GUE MAU SEMUA ORANG YANG LO SAYANG MATI!" Teriak Nia yang tanpa aba-aba menarik pelatuk pistolnya ke arah objek yang ada dihadapanya.
'*Dor*'
Namun bersamaan itu juga ada seseorang yang berdiri dengan merentangkan tangan nya demi melindungi seseorang yang berharga baginya.
Peluru tersebut berhasil mengenai bagian perutnya, darah yang tiba-tiba keluar dari sana dan juga mulutnya, tersungkur lemah diatas lantai.
Seketika semuanya membeku, waktu seakan berhenti berjalan, tak ada yang menyangka ini semua akan terjadi secepat ini.
"SASHA?!" Teriak semua yang ada disana, Terutama Reynald yang langsung mendekap tubuh yang terkulai lemas tersebut.
"Sha, bangun Sha" ucap Reynald panik.
Faisal yang melihat itu semua kini menatap Nia penuh benci, orang yang ia kenal dahulu sudah tidak ada, hanya ada orang yang penuh kebencian sekarang ini.
"Kalian semua bawa Sasha dan Kean ke rumah sakit, biar gue yang ngurus Nia" ucap Faisal dengan nada bicara serius, dia pun mengambil Nia dari tangan Diksi.
Meskipun Nia terus memberontak, namun Faisal tetap menahannya, dia tidak akan berbelas kasihan lagi.
******